TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
SI BODOH YANG PINTAR


__ADS_3

“Maaf aku tidak bisa menjamu kedatangan kalian dengan baik, ternyata aku diterima bekerja di Istana.” Memeluk Rose yang akan naik pesawat.


“Tak apa Kak, bagiku sebentar tak aap karena Julian juga tidak memberikan respon yang baik kepadaku. Aku pikir pertemanan kami bisa menjadi cinta,huft.” Kesalnya.


“Perlahan sentuh hatinya dan menarik perhatiannya. Dilingkungan pekerjaannya banyak wanita yang cantik, bisa jadi dia ada teman istimewa. Atau bisa saja dia memiliki calon yang disiapkan oleh orang tuanya. Kan ayahnya anggota Dewan.”


“Kau benar kak, kalau begitu aku pamit dulu ya. Terimakasih sudah mengantarku sampai di Bandara.”


“Sama-sama, tiba di Indonesia segera kabari aku ya.”


Usai mengantar Rose, Frayza mencari toilet. Ditengah perjalanannya dia bertabrakan dengan Julian. Ternyata Julian berangkat di pesawat berikutnya. Dia mengatakan untuk kembali ke Jepang bersama keluarganya untuk berlibur.


“Dan satu hal lagi, kau masih ingat Kak Franda bukan. Dia akan segera kembali ke Singapura.” Frayza kaget, artinya Franda akan membawa Hikashi dan bayinya.


“Kapan?”


“Dalam minggu ini, makanya aku kembali lebih cepat.”


“Apakah Tuan William ikut juga?”


“Emmmbbb tidak, Franda tidak menikah dengan pria brengsek itu. Dia hanya memacarinya, ternyata dia pandai berdusta.” Frayza sedikit heran dengan petunjuk dari Julian. Seolah Hikashi sudah selesai dengan Franda. Padahal kan mereka sudah melakukan itu.


“Kau bergegaslah, aku mau berdinas lagi. Hati-hati ya.” Melambaikan tangannya.


Kakinya merasa menginjak sesuatu, setelah digeser ternyata gelang naga yang sama persis dengan yang ia beli dahulu. Ia memungutnya dan menyimpannya kedalan saku celana. Perasaannya mulai tak karu-karuan mengingat jelas benda yang pernah hilang kini bisa kembali lagi padanya. Frayza berhentikan sepeda motornya dibawah jembatan. Kemudian ia memeriksa gelang naga itu, ternyata ada inisial ‘F’ kepanjangan dari nama Frank. Dia tak ingin menyimpan benda dari masa lalunya. Lalu ia melemparnya ke sungai dan hanyut tenggelam ke dasarnya. Ia mengendarai sepeda motor dan menuju Istana untuk melakukan persiapan upacara.


Para Dayang istana dan Pengawal tengah berbenah. Mereka melakukan penyisiran dan pengamanan. Tampak Pangeran Hiroshi berkeliling memantau persiapan didampingi Ramon.


“Apakah persiapan uparan peringatanan Paman Naruhito sudah siap?”


“Sejauh ini sudah 90% Yang Mulia Pangeran.”


“Undang kakak sulungku juga, bukankah adik tercintanya Hikashi hari ini tiba.”


“Rombongan dari Bandara menuju Istana sudah dalam perjalanan. Pangeran Hikashi hanya tiba bersama pengawal setianya Matsumoto.”


“Cih budak itu, masih tidak bisa membedakan mana emas dan perak. Siapkan upacara ini sekhidmat mungkin. Jangan mengundang banyak orang, aku tidak ingin mereka bersimpati kepada Pangeran Hikashi. Setelah itu, adakan pesta bunga Sakura besar-besaran yang meriah di Istana. Terbuka pula untuk masyarakat dan undangan.”


“Baik Yang Mulia, akan saya kerjakan.”


Dari bawah tangga Frayza mendengar pembicaraan yang baru saja ia dengar. Ternyata Pangeran Hiroshi cemburu dengan Hikashi. Karena Pangeran Takeshi lebih menyayangi Hikashi yang yatim-piatu. Dirinya pergi usai memeriksa kesiapan tempat diselenggarakannya upacara. Frayza kembali ke Istana Pangeran Takeshi yang sedang bermain anak panahan.


“Ck anak panahku sudah habis, pengawal ambilkan lagi.”


“Tuan, sudah saatnya mencoba pakaian duka cita.”


“Oh iya, aku hampir lupa.”


Kelumpuhan Takeshi ini membuat dirinya membutuhkan bantuan orang lain untuk mengenakan baju. Walaupun Takeshi cacar secara fisik. Dia tidak pernah mengeluh tentang kondisinya. Walaupun pernah menjadi kandidat putra mahkota, tapi Takeshi tidak tertarik dengan jabatan. Karena jabatan itulah dirinya harus lumpuh seperti saat ini.


Prookkk... Prokkk... Prokk Hikashi memberikan tepuk tangan kepada Takeshi yang memakai baju duka cita.


“Waw luar biasa sekali, adik sepupuku masih mau menjengukku di gubuk reot ini.”


“Bagaimana bisa aku melupakan guruku. Apakah kau tidak bosan berada di istana ini?”


“Yah mau bagaimana lagi, kakiku lumpuh. Memakai baju saja butuh bantuannya.” Yaitu Frayza yang berdiri membelakangi mereka.


“Oh pengawal baru lagi ya.”


“Yah sejauh ini dia yang sabar merawat pria lumpuh sepertiku. Dan kemampuan memancingnya sangat buruk hahaha.”


“Benarkah, bukannya wanita itu lebih mudah memancing perhatian pria.” Hikashi mendekati Frayza yang tak kunjung berbalik arah.


Semakin dekat ia berjalan ditempat Frayza berdiri, semakin penasaran siapa pengawal wanita payah ini.

__ADS_1


“Kau!” Hikashi tercengang melihat Frayza yang berdiri dihadapannya.


“Saya sudah selesai, maaf mengganggu!” Frayza buru-buru keluar dan berlari.


Melihat gelagat aneh pengawalnya Takeshi sedikit tergelitik untuk menanyakannya langsung.


“Sejak kapan kau mengenali wanita, aku dengar kau memiliki selir banyak. Jangan sampai kau tertarik karena wajahnya yang cantik.”


“Kak Takeshi, sejak kapan dia disini?”


“Jika kau penasaran dengannya tanyakan langsung padanya. Dia tinggal dibelakang istanaku bersama dayang-dayang.” Hikashi tahu tempat yang dimaksut Takeshi itu.


Tempat yang dulunya menjadi langganan petak umpet ketika kecil. Dia berlari dan berhasil meraih jas bagian belakang Frayza. “Penghianat!” memaki Frayza dengan kata kasar.


“Hassss,” berputar kemudian mendorong tubuh Hikashi agar tak menjangkaunya.


“Aku akan membuat hidupmu menderita!” berhasil menarik tangan Frayza dan menggelandangnya menghadap pangeran Takeshi.


Heran melihat Hikashi menyeret paksa pengawalnya. Takeshi takut bila Frayza akan disiksa seperi selir-selir Hikashi sebelumnya.


“Kak, aku minta dia sebagai milikku. Dan Matsumoto akan mencarikan gantinya Pengawal yang lebih Bagus dari wanita ini!” menatap tajam wanita yang sudah jadi buronannya.


“Tapi apakah dia bersedia untuk melayanimu?”


“Dia akan menyetujuinya, karena ayahnya ada ditanganku!”


“Saya bersedia sukarela,” jawab Frayza cepat.


“Tapi kenapa raut wajahmu seperti ikan tanpa sisik (pucat)?”


“Dia terlewat bahagia karena akan berjumpa dengan ayahnya.” Sahut Hikashi yang masih menggenggam pergelangan tangan.


Akhirnya Takeshi mengijinkan Hikashi membawa Frayza di Istananya. Istana yang berwana hitam dan memiliki pagar tinggi.


“Ahhh,” merintih kesakitan tubuhnya terpelanting dilantai.


Hikashi mengambil cambuk yang tergantung ditiang. Dia mencambukkan dilantai yang hampir mengenai kaki Frayza. Gadis itu berangsut mundur takut dengan kemarahan Hikashi.


“Selama ini aku pikir tidak akan menemukanmu. Tapi aku salah, kau berada di kandangku sendiri hahahaha.” Frayza berdiri dan berlari menuju pintu.


“Lepaskan aku, lepaskan aku! Tolong siapapun yang berada diluar, bantu aku!”


“Sssstttt kau berisik, bagian tubuh ayahmu akan aku kirim kemari!”


Setega itukah Hikashi dengan Frayza, rela menyakiti Adam yang sudah tua.


“Aku mohon, biar aku yang menebus dosaku. Jangan sentuh ayahku,” berlutut dan memohon belas kasihan kepada Hikashi.


“Heh, sekarang kau takut kepadaku. Seharusnya dulu kau tidak bermacam-macam denganku, Frayza!” mengangkat wajah gadis yang sudah pesrah nasibnya.


“Ampuni aku Pangeran Hikashi, ampuni aku!”


“Adikmu menjebakku, ibumu menfitnahku dan kau mempermainkanku. Padahal aku sudah mengangkat derajat ayahmu, jangankan tubuh. Nyawamu saja sudah tidak berharga lagi untukku!”


“Baiklah, dengan menebus semua dosa-dosaku. Aku akan menuangkan darahku sebagai persembahan.” Frayza mengeluarkan belati dan hendak memotong urat nadi lehernya. Telat sedetik Frayza sudah tewas kehabisan darah. Hikashi membuang belati yang sudah berlumuran darah.


“KAU SUDAH MAU MATI! MATILAH DITANGANKU, JANGAN KAU KOTORI TANGANMU! “


“Tuan Muda Hikassshiii hiks hiksss ampuni aku huhuhu,” bahunya berdarah karena ujung belati yang tajam.


“BODOH! BODOH! BODOH! KENAPA KAU TOLOL BEGINI, AKU HANYA MENAKUTIMU. AKU MERINDUKANMU FRAY,” Hikashi menangkup wajah gadis yang telah lama ia cari. Dan akhirnya Matsumoto meredupkan lampu sepaya temaram.


Diatas ranjang miliknya ini, kini Hikashi sudah memeluk tubuh wanita yang benar-benar diinginkannya. Frayza tak bisa menahan airmatanya yang menetes, dia mengatakan bila ingatannya masih jelas. Saat Hikashi mencumbu Franda saat di Kapal Pesiar.


“Aku yang salah, dia menaruh obat perangsang. Tapi aku membayangkan dirimu bukan dia.”

__ADS_1


“Maafkan aku, dulu aku terpaksa berbohong menampik perasaanku karena aku tidak layak untukmu Pangeran.”


“Kau layak, sangat layak. Aku hanya mengingkan anak darinya karena kau tidak bisa hamil. Franda mengancam meminum obat penggugur kandungan. Bila aku tidak melakukan pembuahan secara alami. Dan aku tidak mau kehilangan calon anak kita.”


“Anak kita?”


“Saat pesta kembang api berlangsung, sebenarnya aku hendak melamarmu. Tapi semuanya kacau, ayahmu hilang. Franda menjebakku, dan kau kabur bersama Ramon. Sakit hatiku bertambah ketika kau memakai cincin dari Ramon.”


“Kami bertunangan palsu, aku butuh suaka tinggal disini untuk mencari pekerjaan. Aku tidak pernah bertunangan serius, Pangeran.”


“Benarkah, nanti kamu bohong lagu biar aku nyesel sudah khilaf sama Franda hemmmbbb?”


“Kau menyebalkan!” teriak Frayza melempar bantal.


“Hai, kau melempar bantal dengan sengaja ke anggota tubuh keturunan Raja. Mau dipasung apa? Matsumoto ambilkan alat pemasung!”


Padahal Matsumoto sedang berada halaman membakar ubi bersama anak buahnya.


“Ketua, Pangeran Hikashi berteriak.”


“Heleh, alibi lagi. Ayo tambahkan arangnya agar cepat matang ubinya. Rasanya pasti enak kalau dimakan dengan kopi hehehe.”


“Lalu dengan Pangeran bersama wanita didalam kamar bagaimana?”


“Ya bagaimana lagi, bila sepasang kekasih yang saling merindu kalau bertemu mau bagaimana lagi. Lagipula Pangeran Hikashi sudah dewasa bukan, bukan anak-anak?”


“Yah benar juga kan, apa mereka sedang melakukan itu lagi saat di Thailand ya hihihi.”


“Pikiranmu kotor tapi benar, aku suka tapi jijik!”


Saat membakar ubi, terdengar suara kesakitan Frayza dan bentakan Hikashi. Para pengawal yang berada diluar hanya senyam-senyum mendeskripsikan kegiatan didalam sana.


“Ahhhh sakit, pelan sedikit. Kalau tidak bisa biar aku saja!”


“Aku kan sedang berusaha untuk pelan-pelan menyentuhnya. Kau ini saja yang manja, sudah diam dan pejamkan matamu biar aku yang bekerja!”


“Aishhh ahhhh sakit Hikashi!!!” menggeplak paha Hikashi.


“Aih kau berani memanggil namaku saja!”


“Iya Hikashi, William, Alexis apa lagi. Sudah hentikan biar aku saja, makin luka leherku ini hih.”


“Haih kalau aku bilang diam ya diam, jangan membantah. Aku akan menutup lukamu dengan plester warna merah muda. Makanya jangan sok-sokan main belati, beginikan akhirnya. Dasar wanita bodoh, tidak berguna muuuuuaaachhh.” Setelah mengumpat lalu dicium juga bekas luka yang tertutup oleh plester.


“Kenapa aku dicium?” kaget mengusap pipinya.


“Malam ini aku tidak bisa memuaskanmu, karena besok upacara peringatan wafatnya Ayahku. Aku tidak boleh berhubungan badan dimalam duka. Bisa berakibat sial.”


“Owh begitu ya, hehehe.”


“Kenapa tersenyum! Aku tidak menyuruhmu tersenyum, kau harusnya merengek karena aku tidak menjamahmu. Aku hanya bisa menciummu saja, kenapa kau tertawa bodooooohhhh!”


“Aku ini salah terus ya, kalau begitu besok aku akan tidur saat upacara peringatan!”


“Iya, aku ijinkan wanita bodoh seperti dirimu untuk tidur seharian. Karena malam harinya ku buat tidak bisa tidur semalam. Oh iya bahkan kalau perlu kau aku bawa pergi. Gayamu mau melawanku, apa kau lupa hah yang suka menggigit tanganku kalau sudah kalah!”


“Pangeran Hikashiiii kenapa kau begitu mesum!!!”


“Kau yang mesum, kenapa tubuhmu punya ini, ini, ini dan ini. Itukan menggoda dan seksi sekali, makanya jadi perempuan itu jangan bodoh ya bodooohhh!!”


“Keterlaluan mengatai aku bodoh, kalau tahu aku bodoh. Berarti yang lebih bodoh siapa?”


“Ya kau lah, semakin aku sering bersamamu kepintaranmu akan menular. Kalau kau berjauhan dariku, ya begini jadinya bodoh, bodoh, bodohhhh! “


Mereka bertengkar tak ingat waktu, padahal Matsumoto dan anak buahnya mendengarkan ocehan mereka sambil memakan ubi bakar. Seperti siaran langsung cerita radio.

__ADS_1


__ADS_2