
Setiap hari Ramon banyak menghabiskan waktunya di atas pusara Digna. Botol alkohol menjadi teman curhatnya meratapi kesendiriannya di dunia ini. Kepergian mendadak Digna menyisakan luka dan dendam yang mendalam. Dari dalam Benteng, lewat jendela Kelvin dan Frayza melihat kondisi buruk Ramon.
“Aku khawatir jika dia seperti itu terus.”
“Biarkan saja, dia butuh waktu berkabung lebih lama. Lelaki lebih nyaman berdiam diri daripada menceritakan kepedihan hatinya.”
“Andai aku seberuntung Digna.” Kelepasan.
“Digna mati lebih awal, kau bilang beruntung. Jika Ramon mendengar ini, dia bisa tersinggung.”
“Digna meninggal dalam keadaan dicintai seorang pria yang Setia. Sedangkan aku harus mengubur masa laluku dan menjadi orang baru, sakitnya lagi kekasihku tak pernah meratapi kepergianku.”
Dia kemudian meninggalkan jendela dan duduk di kursi goyang, melipat kedua kakinya diatas kursi. Matanya dipejamkan membayangkan bila dia pergi dan ditangisi oleh orang yang dikasihinya.
“Kau harusnya mengerti jika pelarianmu ini adalah usaha Tuhan untuk memperbaiki hidupmu. Jadilah perempuan yang seutuhnya, jangan menyamar menjadi pria lagi.”
“Bagamana bisa Dokter berkata demikian?” terperanjat.
“Buat apa kau menyamar menjadi pria, sedangkan perasaanmu masih seutuhnya wanita.”
“Ramon tidak akan setuju!”
“Aku hanya berpendapat bukan menyarankan.”
Lalu Ramon masuk dengan berjalan kepayahan karena mabuk. “Aku tidak setuju Fred menjadi wanita lagi. Biarkan dia menjadi pria dulu, aku mau balas dendam atas kematian Digna.” Sahut Ramon.
“Balas dendam?”
“Pelakunya saja kita tidak tahu, kau mau menuduh orang yang mensabotas keadaan ini hah?” Gertak dokter Kelvin.
“Salah satu cara memulainya ialah kita cari perlindungan orang yang memiliki kekuatan.” Ujar Ramon.
“Siapa orang itu?” Frayza penasaran.
“Kembali bekerja dengan Matsumoto, Tuan Hikashi adalah orang yang kuat. Tapi, ada kendalanya.”
“Apa?” tanya Dokter Kelvin.
__ADS_1
“Dia sangat membenci wanita Asia, itu karena trauma masa kecil. Jika aku membawa Fred kembali ke identitas aslinya maka dia akan disiksa seperti wanita yang sering diundangnya.”
“Kau gila! Fred sudah menderita sekarang hendak kau jadikan umpan di sarang mafia?” Dokter Kelvin menarik kerah Ramon.
“Dengarkan aku Dokter Kelvin, kita tidak bisa melepaskan Fred sendirian. Bagaimanapun juga, dia adalah orang yang aku pungut. Jadi dia harus ikut bersamaku untuk menjamin keamanannya.”
“aku tidak setuju, itu terlalu berbahaya.”
“Aku setuju, Dokter Kelvin. Walaupun harus masuk di lingkungan pria paranoid itu, akan aku lakukan asal pembunuh Digna bisa ditemukan.”
“Kalian sudah tidak waras semua.” Kecewa dengan keputusan Ramon.
“Apa kau tidak takut ikut bersamaku Fred?”
“Tidak, kau sudah memberikan hidup kedua. Jadi sudah saatnya aku memberikanmu kehidupan kedua tanpa Digna.” Meyakinkan ramon.
“Aku berjanji aku menangkap orang dari dalang ini semua.” Mengepalkan tangan.
“Aku akan mendukungmu Ramon.” Menepuk pundak Ramon.
Paginya, sebuah kapal datang menyurvei Pulau pribadi ini. Keputusannya, yaitu agar Pulau ini disewakan saja supaya Ramon bisa leluasa berziarah di makan Digna jika ia sempat. Sejumlah uang yang besar sudah masuk di akun Bank mereka.
“Kini saatnya kita berangkat,” memakai kacamata.
“Aku tunggu di helikopter dulu, kuberi waktu kau berpamitan dengan Digna sebelum pergi.” Kelvin menuju Helikopter memegang kemudi.
“Apa kau tidak ikut berpamitan?” menanyai Frayza.
“Aku tidak ingin mendengar pembicaraan rahasia kalian, aky akan di helikopter bersama dlDokter Kelvin.”
Hanya beberapa puluh menit digunakan Ramon untuk berpamitan dengan Digna yang sudah di Sukabumi (dikuburkan).
“Fred, ketika kau bekerja dengan Matsumoto jangan mencolok menjadi perempuan, jadilan acuh.”
“Terimakasih nasehatnya Dokter, lalu anda akan kemana?”
“Seperti biasa, aku akan menciptakan penumuan mutakhir untuk dikembangkan. Senjata kimia sangat diminati didunia. Aku ingin menguasai dunia lewat ciptaanku.”
__ADS_1
“Sejak kapan seorang Dokter menjadi ambisionis?”
“Sejak aku tahu, dunia ini tidak ramah dengan penindasan.”
Mereka cukup mengakrabkan diri satu sama lain, tanpaknya percakapan mereka cukup mbuat nyaman dan mengenal karakter masing-masing. Ramon berjalan diantara rerumputan yang tersibak oleh angin dari baling-baling. Saatnya mengucapkan selamat tinggal untuk Pulau yang menjadi peristirahatan Digna.
“Kita akan menziarahinya,” Frayza mengatakan kepada Ramon.
“Setelah misi kita selesai saja, aku malu bila kembali dalam keadaan gagal.” Wajahnya sedikit sembab.
Pulau itu semakin mengecil dan tak terlihat lagi, hanya hamparan air laut yang terbentang luas. Mereka pergi ke arah yang sudah ditentukan oleh Dokter Kelvin. Hingga beberapa jam perjalanan udara, mereka mendarat diatas gedung tinggi.
“Disini kita akan berpisah, semoga kalian secepatnya berhasil.”
“Terimaksih atas tumpangannya,” Ramon menjabat tangan Kelvin.
“Aku yang harusnya berterimakasih kepadamu, kau harus tabah tanpa Digna.”
Kedua lelaki itu saling menguatkan, Frayza tak tahu harus mengucapkan apa. Tapi yang jelas dia tak ingin salah bicara, karena dia adalah anggota peretas komputer dan pembajak elektronik.
Diperjalanan selanjutnya, Ramon membawa Frayza menuju Bandara umum. Mereka berdua meninggalkan koper besar berisi barang penting yang sudah dimasukkan di brangkas sebuah Bank.
“Rambutmu sepertinya sudah panjang?” Ramon menarik ujung rambut Frayza di tengkuknya.
“Nanti aku akan memotongnya,” menepis tangan Ramon.
“Jangan dipotong, biarkan saja gondrong.”
“Agar apa?”
“Agar bisa dikuncir, lebih baik gondrong daripada cepak. Pipimu terlalu tembem tahu!” komplen Ramon.
“Aku kan memang menggemaskan, hehehe.” Memuji dirinya sendiri.
“Dasar setres!” Ramon mengacuhkan Frayza.
Keduanya pergi meninggalkan kursi tunggu, disebelahnya ada pria yang tengah menyamar menjadi lansia. Keberadaan mereka dibuntuti lagi, sepertinya Frayza mulai masuk dalam lingkaran pengejaran yang berbahaya.
__ADS_1