
Sejak Seven dinyatakan sakit, dan mengharuskan rawat jalan. Kondisi kesehatannya tidak memungkinkan untuk kembali ke sekolah asrama. Sekarang ia mengikuti pelajaran dari rumah. Agar tidak ketinggalan materi pelajaran. Dengan demikian, waktu yang dicurahkan kedua orang tuanya maksimal. Frayza sekarang jarang berangkat bekerja, kecuali untuk membahas materi. Sesekali ia datang menemui klien untuk membahas konsep rancangannya.
Rutinitas Hikashi menjadi lebih sibuk sejak terjun lagi kedunia bisnis. Ia banyak memberikan arahan memeriksa keuangan. Karena masing-masing perusahaannya sudah dikendalikan orang kepercayaan. Ia tinggal mencari perusahaan untuk melakukan investasi. Pada kesempatan makan siang inilah Hikashi, Takeshi dan Hiroshi makan siang disebuah restoran. Mereka membahas keadaan ekonomi Negara yang kacau.
“Sayang, maaf ya. Siang ini aku makan bersama saudara sepupuku. Nanti pulang kerja aku jemput. Ingat, jangan terlalu banyak makan buah masam!”
“So sweet muachh!” celetuk Takeshi mengganggu Hikashi yang menelepon istrinya.
“Apaan sih kau ini, mengganggu saja.” Mematikan sambungan panggilannya.
“Takeshi memang begitu, abaikan saja.” Bela Hiroshi.
“Makanya menikah, apa salah satu dayangmu tidak ada yang menarik?”
“Huft mereka tidak seperti istrimu. Aku tidak selera.”
“Jaga bicaramu Takeshi, Frayza istri saudara sepupu kita!”
“Ah aku kan hanya memberikan gambarannya saja. Bukan meminta istrinya Hikashi, kau ini.”
“Jika kau mau wanita seperti istriku, apakah kau yakin?” tiba-tiba Hikashi memotong perbincangan mereka.
“Kenapa?” jawab keduanya serempak.
“Istriku memang wanita yang sempurna dan tidak ada duanya. Huft tapi sayang,” mendengus.
“Kenapa?” tanya keduanya lagi.
“Kalian tahu tidak, setiap aku ingin bermesraan dengan istriku. Kedua putraku selalu datang mengganggu.”
“Jadi itu alasannya mereka pindah di sekolah asrama?”
“Itu jalan yang terbaik, aku sebal dengan kedua putraku yang manjanya berlebihan.” Nada kesal.
“Kalau kau mau bercumbu, aku bisa mengirim selir datang padamu. Dan menikmati pelayananya, Hikashi.”
“Dasar murahan!” adiknya menimpali omongan Takhesi.
“Kenapa, memang benar kan. Apa bedanya barang milik wanita? Sama saja kan, Cuma tampilannya saja yang berbeda. Apa aku salah?”
“Kau jangan menyamakan istri sah dengan jalan tolol!”
“Hiroshi, semua pria di dunia ini pasti pernah berselingkuh. Itu benarkan Hikashi, iyakan benar?”
“Kepalamu salto!”
“Hahahaha, Bagus Hikashi.”
“Barangku ini istimewa tahu! Aku menyerahkan keperjakaanku kepadanya. Mana mungkin aku membaginya dengan sembarang wanita. Merendahkan martabat saja!”
“Yah, mungkin kau lupa. Diantara kita bertiga yang banyak selirnya kan dirimu. Betulkan Hiroshi?”
“Dibanding Hikashi yang sebelum menikah, aku lebih khawatir lagi denganmu Takeshi! “
“Kenapa? Aku kan masih perjaka juga, walaupun pada akhirnya di Bali aku main banyak wanita. Huft. “ akhirnya mengaku juga kalau seorang petualang wanita.
“Takeshi, aku beritahu ya. Sekalipun aku berniat selingkuh atau dekat dengan wanita lain. Bukan berarti aku berhenti khawatir kalau Frayza akan dibawa kabur orang.”
“Memang istrimu yang hobi kabur itu ada rencana melarikan diri lagi?”
“Kurang ajar kau!” melempar sumpit ke meja Takeshi.
“Hei kenapa marah!”
“Jelas dia marah, selama ini yang mengejar-ngejar kan Hikashi.”
“Owh aku hampir lupa akan hal itu hehehe.”
“Keparat kau memang Takeshi!” hujat Hikashi.
“Sebenarnya aku juga ingin memiliki istri seperti istrimu Hikashi, eits jangan marah dulu.”
“APAA!” melotot tajam pada Hiroshi.
“Aku suka sifatnya yang keibuan dan penyayang. Bukan parasnya, aku punya standar sendiri kalau tentang itu.”
“Awas saja kalau kau berani!” ancam Hikashi.
__ADS_1
“Pffftttt.” Takeshi menertawakan tingkah konyol adiknya.
“Setidaknya aku ada calon istri tunggal, kau jangan cemooh aku. Dasar kau jomblo mengenaskan! “
“Siapa?”
“Kau!”
“Siapa yang tanya hahahaha.”
“Keparat kau!”
“Dasar otak cabul, mesum dan kotor!”
Keakraban ketiganya tak berhenti sampai Afrika saja. Sekarang mereka lebih sering bertemu untuk bertukar pikiran. Sesekali membahas masalah pribadi.
“Bagaimana kehidupan seksmu?”
“Hhrrrrggghhh!” menggertakkan giginya.
“Ups maaf, aku hanya bercanda heheh.”
“Kehidupan **** ku kacau, terlebih anak bungsuku sakit. Aku sudah lama tidak mendapatkannya. Mencium aroma tubuhnya membuatku frustasi. Aku kekurangan **** arrrggggg!”
“Sabar Hikashi, nanti culik istrimu lagi ya cup cup cup.” Menepuk punggung Hikashi.
“Anakku belum sembuh total, aku tidak bisa menculiknya hoh.”
“Apa nanti malam kau ajak dia mampir di Hotel saja bagaimana? Satu jam saja mungkin cukup.”
“Yah menurutmu cukup, setelah itu aku setres semalaman karena ingin tambah tak bisa huh sial!”
“Ckckckc itulah sebabnya aku mengoleksi selir-selir. Supaya aku tidak kekurangan asupan wanita.” Menaikkan satu alisnya.
“Dasar pria rendahan!” cicit Hiroshi.
“Aku pria modern, tinggiku 185 cm. Sedangkan kau!”
“Moralmu yang rendahan, jika ayah dan ibu tahu. Mereka pasti akan menikahkanmu lebih dahulu. Tapi sayangnya, akulah putra mahkota. Terpaksa menikah lebih awal daripada dirimu.”
“Jujur aku mulai bosan dengan Putri Aiko ini. Aku rasa ia belum sepenuhnya menyerahkan dirinya padaku?”
“Kau sudah mengajaknya tidur?”
Plak! Pukul kepala Takeshi dari belakang “Dasar mesum!”
“Awh sakit Hikashi!”
“Seharusnya pria ini dipukul pakai raket. Otaknya sudah tidak bersih lagi.”
“Enak saja, disini aku yang paling tua. Jangan kurang ajar!”
“Apa kau tertarik kepada wanita lain?”
“Hemmbbb.” Menghentakkan jemarinya di meja.
“Awalnya aku pikir derajatku lebih tinggi tidak akan tertarik gadis biasa. Sampai akhirnya aku datang ke Butih Frayza.”
“Tuh kan benar kan, kalau si Hiroshi ini naksir Frayza. Nah lo kena kau, dasar PEBINOR!” sambil menunjukkan wajah Hiroshi.
“Ngawur!” Bantah Hiroshi.
Krakkkh, gelas itu retak di genggaman Hikashi. Matanya menggelap dan rahangnya mengeras kaku.
“Hikashi, aku menyukai Yuki. Asisten pribadi istirmu di Butik.”
“Hmmbh.” Mendengus kesal.
“Aku serius, kami sudah dekat lewat pesan singkat. Ini aku tunjukkan.” Memperlihatkan layar ponselnya yang berisi balasan pesan.
“Kejarlah wanita manapun, tapi jangan istirku!”
“Nah dengarkan itu Hiroshi, camkan baik-baik itu. Iya kan Hikashi, omonganku betul kan?”
“Dan kau juga!”
“Ihiiwwwk.” Terpekik suaranya.
__ADS_1
Suasana makan siang itu tak ubahnya menjadi medan gladiator para pria. Beberapa kali sempat terjadi ketegangan karena salah menyampaikan sudut pandang. Mengenai sosok istri yang cocok, padahal mereka sebenarnya sudah memiliki kandidat. Seperti apa pasangan ideal mereka, yang selalu didambakan.
Matsumoto membawa makan siang yang dipesan Hikashi agar dikirim ketempat kerja istrinya. Sebagai bentuk perhatian, ia jadi ngeri jika istrinya makan bersama teman kerjanya. Oleh sebab itu, Matsumoto dikirim ke Butik. Sekaligus mengecek apakah betul-betul berada disana.
“Selamat siang Nyonya.”
“Matsumoto, ada angin apa yang membawamu kemari?”
“Mengantarkan bekal makan siang untuk anda.”
“Aku sudah memesan makanan lewat kurir kok hehehe.”
“Permisi, paket pesanan Nonan Lee sudah tiba.” Suara kurir pengantar makanan.
“Ah itu dia.”
Tap tap tap... Nuruni tangga bergegas mengambil pesanan makanannya. Kurir itu ternyata masih muda. Tubuhnya tinggi dan ideal. Rambunya lurus, walaupun memakai topi. Wajahnya juga enak dipandang dan kulitnya kemerah-merahan karena tersengat panas terik. Kurir itu memberikan senyumannya dengan manis. Saat Frayza mengambil paket makanan pesannya.
“Nona Lee?”
“Iya benar.”
“Ini pesanan Anda, selamat menikmati hidangan dari Restoran kami.”
“Terimakasih hehehe.”
“Senang berjumpa dengan anda Nona Lee. Perkenalkan namaku Ryul,” menjabarkan tanganmua.
“Namaku Muslimin Matsumoto, senang berjabat tangan dengan anda Mas Kurir ‘ganjen’.”
Krekeett... Remasan tangan Matsumoto ini membuat Ryul meringis ngilu. Ia kebahkam tangannya dan pamit pergi.
“Dasar brondong ganjen.”
“Jangan begitu lagi Matsumoto, dia sudah 3x kemari.”
Brakkk! Menggebrak meja makan, langsung berdiri.
“Hai kau kenapa Hikashi, mengagetkanku!” beriak isi kuah soup Takeshi.
“Kau mulas ya, mau kentut?” pikir Hiroshi.
“Kurang ajar, ada seorang kurir makanan berani menggoda istriku!” napasnya menderu.
“Sabar... Sabarrr.... Orang sabar ususnya lebarr, yuk makan lagi ayukkk.”
“Sini tak suapin sini akhhh...”
“Hiaaah kalian ini apasih, macam aku ini bayi apa!”
“Sudah duduk lagi ayo kita lanjutkan makan kita. Biar di urus Matsumoto ya, kamu tenang-tenang saja temani kami makan. Cup cup sabar-sabar jangan pake emosi nanti cepat mati.”
“Iya kalau kau mati, kami siap menjadi ayah sambung Jade dan Seven. Sudah... Jangan marah, atur napasnya. Hirup dari mulut uppsss aahhh, keluarkan lewat hidung huuufffhhhh.”
“Apalah ini kau Takeshi, kebalik!”
“Iyayaya salah-salah maaf, aku ulangi lagi ya. Tarik napas dari hidung, lalu keluarkan dari...”
Tuiiiittttt brottthhh... “Ups meledak, maaf.”
“Memalukan, seorang putra mahkota makan sambil kentut? Aib Kerajaan!”
“Hehehe damai itu toleransi kan.”
“Aku tidak nafsu makan, semuanya aku bayar.” Nadanya lemah meletakkan cek di meja.
“Wah, Hikashi kenapa?”
“Leluconmu tidak lucu Takeshi.”
“Kentutmu itu yang bauk!”
“Apa mengatai kentutku! Kau sendiri yang memprovokasi soal ayah sambung, cepat mati dan...”
“DIAM!”
“I-iya, kami diam.”
__ADS_1