
Klak... Saklar lampu dinyalakan, Jade yang menatap jam tangan menciduk gadis yang baru saja memasuki apartemen.
“Telat Dua jam Tiga belas menit!”
Hasley terkejut, ia diciduk Jade didalam huniannya. “Sedang apa Kau kemari, kenapa Kau bisa masuk?”
“Waktumu Lima menit dari sekarang untuk berdandan, hidangan dimeja sudah dingin.”
“Tapi Aku sudah kenyang, makam malam membuatku semakin gemuk.”
“Aku tidak memberimu makan, duduk dan temani Aku saja!”
Perintah adalah perintah, begitulah Jade memonopoli Hasley. Kali ini entah ada keperluan apa, Jade mendatanginya. Sudah lama sekali ia tidak melihat Jade, sejak Sava minta di comblangkan.
Hesley mulai melucuti pakaiannya, ia membasuk dari pucuk kepala hingga kaki. Ia membersihkan dirinya secara seksama, wajahnya yang alami tanpa polesan kosmetik. Ia bersiap menyisir rambutnya didepan cermin, tapi Jade sudah berdiri dibelakangnya.
“Pakai, hanya pria yang wajahnya tanpa polesan!”
“Tapi Aku tidak bisa.”
“Apa perlu Kau memakai topeng?”
“Sunggu, Jade. Aku tidak memakai barang-barang ini.”
__ADS_1
“Jangan mengecewakan Aku, kau pakai atau terima siksaanku!”.
“Kenapa? Apa masalahmu Tuan muda Alexander. Kenapa kau tidak mencari Sava, bukankah kalian berkencan sepanjang waktu!”
Plakkk... Sebuah tamparan mendarat dipipi kiri Hasley, panas dan perih rasanya.
“Aku muak bicaramu!” Jade memakai jubahnya dan meninggalkan apartemennya. Ia tampak kesal sudah dicecar perkataan Hasley baru saja.
Tak bisa dibenarkan perlakuan Jade yang main tangan ini. Walaupun Hasley hanyalah budak bahi Sava, tapi melakukan tindakan kasar terhadap wanita.
Begitu frustasinya, Jade pergi ke pusat hiburan malam orang dewasa. Disana ia menghabiskan banyak uang untuk bersenang-senang. Banyak teman kuliahnya yang datang menemani minum. Dan tidak ketinggalan wanita cantik nan centil merayu. Jade benar-benar kesal dengan ucapan Haslet baru saja. Rasanya ia tidak suka disangkut pautkan dengan Sava. Walaupun Jade ingin menolak, tapi semua orang sudah tahu. Jika ia tengah didekati Savakrov.
“Rumor dengan mahasiswi Rusia sangat cepat merebak, apakah kau berniat serius berkencan?”
“Kau pikir?” delik Jade.
“Aku seorang Alexander yang tidak. Bisa terikat oleh seorang wanita mana pun di dunia ini. Jadi camkan secara baik-baik!”
“Ayahmu, ia begitu terikat dan menempel dengan Ibumu. Apa aku bisa percaya dengan ucapanmu?”
“Luis Angelo, minum dan diamlah!” perintah Jade.
“Cih!”
__ADS_1
Disisi kanan dan kiri sudah ada wanita cantik yang memberikan sentuhan. Tapi Jade tak menggubris wanita yang menebar pesonanya. Ia kacau, nama Sava begitu racun dikepalanya. Selalu terngiang-ngiang ditelinganya nama Sava itu. Intinya malam ini, Jade harus bisa membuang nama Sava dari kepalanya. Jika masih teringat, ia bisa jatuh Cinta parahnya.
"Masukkan semua tagihannya, biar Aku yang bayar!"
"Kau mau kemana?"
"Entahlah, awalnya Aku lapar. Tapi kenapa berada di Pub ini."
"Jade, kau baik-baik saja kan?"
"Tidak tahu, seharusnya Aku pulang dan tidur saja. Perutku bisa diganjal besok pagi sarapan,hilang seleraku sudah."
"Aku temani Kau pergi, jangan tak tentu arah seorang diri."
"Louise..."
Awalnya Jade menolak, tapi akhirnya ia mengiyakan saja. Keduanya melajukan mobil menuju Restoran yang menyediakan makanan cepat saji.
"Jangan beri Aku makanan sampah ini Angelo!"
"Percayalah Jade ini enak sekali."
"Ini makanan tidak sehat dan cepat saji, Patrick tidak akan mengijinkan Aku menyentuh makanan itu."
__ADS_1
"Kau tidak usah ceritakan detail kita makan ditemat ini."
"Sebenarnya Aku tidak mampu berbohong, hanya saja Aku sudah terbiasa jujur saja."