TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
KADO


__ADS_3

Slang... Prang... Pedang milik Frayza akhirnya tumbang dilantai.


“Huh... Huh... Huh...” deru nafasnya memacu degub jantungnya yang semakin kencang.


“Ambil lagi pedangmu!” perintah Hikashi dengan menghunuskan ujung pedangnya di wajah Frayza yang sudah tersungkur.


“Ahhh... Haku sudah lelah Tuanku,” jawabnya keletihan ketika Hikashi memaksanya bermain.


Tak! Hikashi melemparkan pedangnya dilanti juga. Lalu dia membuka helm pelindung kepala dan wajahnya. “Sekarang lawan aku dengan tangan kosongmu!” perintah Hikashi lagi.


Benar-benar keterlaluan orang ini, sudah dau jam aku disiksa latihan fisik seperti ini. Keluar dari mulut singa, masuk mulut buaya! Gumamnya dalam hati kesal.


“Hhhhhaaaaaasssshhhhhh!!!” dia menyerang tiba-tiba membabi buta terus meninju anggota badan Hikashi secara serampangan. Namun Hikashi dengan cekatan menangkis serangan Fryza yang dadakan. Hingga akhirnya Hikashi berhasil mengunci kaki dan tangan Frayza sekali gerakan.


“Hap!” menyingsingkan senyum curang.


“Aaaakkkkkhhh... Sssaasssaaakittt akhhhh ampun.”meronta tubuhnya sudah terkunci oleh tekhnik bela diri Hikashi.


“Bermain curang terhadap lawan yang pintar hanya berakhir sia-sia!” membisikkan pelan ditelinga Frayza.


Dengan sedikit melemahkan tenaganya, Frayza berhasil mengecoh Hikashi yang menduga Frayza lemas. Namun, sekali banting. Brakkkk, tubuh tinggi dan berotot Hikashi sudah terkapar diatas lantai.


“Tuannnn,” teriak Matsumoto khawatir mendekati majikannya.


“Ekhhh...” berusaha membangunkan tubuhnya kembali dengan bantuan Matsumoto.


Saat melihat dirinya berhasil membanting Hikashi, Frayza ketakutan kalau sudah mencederai Tuan besarnya. Dia lantas bersujud untuk memohon ampun atas perbuatan yanh baru saja ia lakukan.


“Maafkan saya Tuan Hikashiiiiiikkk akhhh...” tiba-tiba Frayza kehilangan kesadarannya secara mendadak.


Ternyata Matsumoto memukul bagian kepalanya belakang untuk membuatnya pusing. Dan akhirnya Frayza tumbang saat itu juga. Saat pingsan dia dibiarkan sendirian, hingga Ramon datang membopongnya membawa kekamar mereka tinggal.


“Kasihan sekali, kau harus menderita seperti ini. Seorang lelaki buas melawan gadis.” Ramon mengompres kening Frayza agar suhunya stabil.


Ia lantas duduk dan berjaga kalau-kalau Frayza siuman. Dan mencari keberadaannya, karena Ramon hanya memiliki Frayza saat ini. Namun ketenangannya sejenak terganggu, karena dia menerima pesan bahwa sudah saatnya mengantar gadis penghibur kembali. Dia lantas memakai jasnya kembali dan mengambil kunci mobil.


Tampak kedua gadis itu setengah mati berjalan tertatih kesakitan.


“Hati-hati Nona.” Menangkap tubub salah satu gadia yang ingin pingsan.


“Uhhh ttterimakasih, kepalaku sangat pusing.” Sambil memegangu pelipisnya.


Ketika Ramon membukakan pintu mobil, tiba-tiba kedua gadis itu pingsan semua. Maka tersibaklah kulit putih mulus mereka yang tertutup selimut. Dia perlahana memongdong dan memasukkan kedalam mobil. Kemudian memakaikan selimut itu kembali ke tubuh keduanya yang setengah tersadar kembali. Selama perjalanan kembali ke rumah asalany, mereka saling bertatapan penuh amarah satu sama lain. Bagaimana bisa wanita yang bekerja 1 profesi bisa saling dendam.


Kejadian tersebut Ramon simpan sampai dia kembali menemui Frayza lagi dikamarnya.


“Kau sudah bangun?”


“Hu’um.. Glekkk gleeekk...”menenggak air putih dalam gelas sampaih habis.


“Pelan-pelan minumnya, bisa sampai belepotan seperti ini. Seperti orang yang tidak pernah minum saja.” Mengelap area bibir Frayza yang masih basah karena air yang tumpah.


“Kau dari mana?”


“Mengantar wanita penghibur Tuan Hikashi,” melucuti dasi dan jasnya.

__ADS_1


“Hemmmm, ketempat kotor itu lagi, pergi mandi aromamu sangat Wangi karena parfum mereka yang menyengat.” Menutup hidungnya yang tertusuk aroma kuat parfum yang menempel di pakaiannya Ramon.


“Aku mau mandi, setelah itu kita makan bersama ya diluar.”


“Iya hehehe, kau yang traktir ya?”


“Iyayayaya, kalau makan dipinggir jalan tidak masalah.”


“Sekalian pergi ke Salon untuk memangkas rambutku ya, sepertinya sudah panjang.”


“Iyaaa cerewet!” menutup pintu kamar mandi.


*


*


*


KEDAI MAKANAN PINGGIR JALAN,


“Hai bisakah kau tidak mengambil jatah daging di mangkukku?”


“Aku seharian ini lelah, sudah banyak kehilangan energi. Ini ganti rugi yang harus aku terima hahahaha. Makan daging yang banyak adalah kebahagianku selain memiliki keluarga.”


Kletakk, sumpit makan Ramon jatuh dan tangannya lemas terkulai.” Aku mau mencari bir, makanlah semua daging ini. Kau bisa habiskan daging ini sepuasmu, jika masih kurang kau bisa memesan lagi untuk dibawa pulang.” Ramon buru-buru beranjak pergi dari kursi depan Frayza duduk.


“Kau marah padaku? Haii kau sensitif sekali, ini aku kembalikan dagingnya!” Frayza merasa tidak enak hati kepada Ramon yang sikapnya berubah.


“Makanlah, aku tidak apa-apa. Kau harus makan lebih banyak daging, karena kau sangat payah saat berlatih bela diri.” Ramon mengusap kepala Frayza seperti mengusap anak anjing.


Banyak orang yang tengah menikmati malam ini dengan hiruk pikuk kota Tokyo yang tak pernah tidur. Lalu Ramon menemukan sebuah toko yang berwarna merah muda. Banyak boneka dan mainan anak perempuan terpajang di etalase Toko. Senyum Ramon terkembang memperoleh ide yang menggemaskan. Dia membayar belanjaannya yang sudah dibungkus dalam kotak yang berwarna hitam.


“Semoga kau suka,” ucap Ramon saat kembali menuju tempat makan mereka tadi.


Ternyata Frayza benar-benar menghabiskan semua hidangan yang diatas meja. Yang masih tertinggal utuh ialah mangkuk milik Ramon dengan nasi putih.


“Arrrggghhhh kenyang sekali,” mengelus perutnya yang buncit kekenyangan.


“Wah kau ternyata monster juga ya.” Ramon kaget dengan porsi makan Frayza yang tidak kenal malu jadi rakus.


“Heheheheh,” menyisil sisa daging yang terselip diantara giginya.


“Hemmmb sepertinya aku sedang memelihara anjing rakus ckckckck.” Menggelengkan kepalanya.


“Apa kau bilang? Aku ini piarannmy dan anjing? Anjing apa hhhaaa, kau bilang tadi aku apa ulangi?” mengepalkan tangannya bersiap meninju.


“Hahahah ampunnnn,” mengangkat kedua tanganya.


“Hah apa ini?” menyerobot kotak hitam dari tangan kanan Ramon.


“Oh ketahuan deh,” menggosok tengkuk kepalanya yang tidak gatal, melainkan salah tingkah.


“Apa ini?” Frayza penasaran.


“Itu kado untukmu, bukalah!” dengan nada bicara sedikit ketus.

__ADS_1


“Ahhhh Romantis sekali kau Ramon, hahahah kau pasti merasa berdosa kan. Memang kau harus merasa berdosa karena sudah membuat aku mau mati pingsan.” Ledek frayza.


“Cepat buka dan pakai!” Ramon memaksa Frayza.


“Iii... Inikan ikat rambut?”


“Hesssssshhh merepotkan.” Ramon menjambak rambut Frayza dan mengikatkan kasar.


“Auwh... Auwhhh sakit... Pelan sedikit ah.” Pinta Frayza kesakitan dijambak kasar oleh Ramon.


“Kau ini terlalu cerewet, makanya biar aku saja yang pakaikan.”


Rambut yang biasa tergerai berantakan ini sudah sedikit rapi. Sudah lama sekali sejak menyamar menjadi lelaki Frayza hampir tidak memiliki rambut sepanjang ini.


“Kau tampak lebih baik, pakai terus ikat rambutnya! Awas kalau hilang, maka aku patahkan kakimu!”


“Hwooooohohohoho terimakasih Ramon.” Sikunya menowel tubuh bagian depan Ramon.


“Ishhh genit! Nanti dilihat orang, dikira kita ini pasangan sejenis. Jaga sikapmu! Ini tempat umum.” Ramon berdiri lagi dan meninggalkan Frayza.


“Woi tunggu aku,” mengejar Ramon yang berdiri di kasir pembayaran.


Sambil menoleh ke cermin, dia melihat wajahnya lagi yang menguncir rambutnya seperti ekor kuda. Dia menggerakkan kepalanya karena ada benda lucu dikepalanya.


“Aku yang memesan meja dipinggir jalan ujung sana, coba cek lagi. Mungkin anda salah meja, aku memang memesan semua makanan ini. Tapi aku belum membayarnya sama sekali?” Ramon mengeyel kalau dirinya belum membayarkan tagihan makanannya.


“Ada apa?”


“Tiba-tiba Bibi ini bilang kalau seluruh makanan kita sudah dibayarkan oleh orang lain. Padahal aku belum membayarnya sepeserpun.”


“Sudah, kalian memang tidak perlu ributkan hal sepele ini. Seluruh meja yang berada di Kedaiku ini juga dibayarkan gratis oleh orang yang sama.”


“Apakah Bibi mengenalnya?”


“Tidak sepertinya dia orang terpandang dan kaya, karena dia membayar semua pengunjung yang makan disini.”


“Ramon?”


“Aku tidak tahu! Jangan mencurigai aku!”


“Laku siapa coba,” Frayza masih bergeming.


“Bukankah baik jika kalian makan sepuasnya sudah ada yang membayarnya. Oiya ini ada beberapa porsi daging asap yang bisa kalian santap sampai dirumah.”


“Wah Bibi baii sekali kepada kami hehehe, terimaksih Bibi.” Dengan wajah polosnya Frayza mengambil kotak makanan berisi daging asap.


“Ini gratis pemberian Bibi untuk kami?” Cegah Ramon lagi ketika Frayza sudah mendekap bingkisan daging asap.


“Bukan, setiap pengunjung yang makan disini mendapatkan jatahnya untuk dibawa pulang. Orang yang sama lagi yang memberikan ini.” Tutur Bibi penjual.


“Sudahhh, namanya gratisan sudah pasti memang untuk kita. Ayo pulang, sepertinya aku sudah mulai mengantuk lagi hoaaammmmbbb.”


Ramon yang sedianya berat untuk pergi itu, akhirnya mau melangkah meninggalkan kedai makanan pinggir jalan. Perasaanya seolah ada orang yang sedang memperhatikan dirinya dari jauh. Ternyata benar, seorang lelaki yang memaki mantel putih panjang dan syal senada membalikkan tubuhnya. Berjalan cepat dan masuk kedalam mobil berwarna putih. Dirinya gagal mengejar pria misterius itu yang menurutp wajahnya.


“Kau mengejar siapa? Hampir saja daging asapku ini jatuh karena tertabrak orang. Kau ini kenapa harus berlari-larian sih, aku kan repot memegangi ini semua.”

__ADS_1


“Hessss, jangan pedulikan. Ayo kita pulang.” Ramon tak ingin Frayza ikut merasakan kejanggalannya baru saja.


__ADS_2