
#LANJUTAN,
“Maaf Tuan Hikashi, tanpa mengurangi rasa hormat dan terima kasihku. Tolong jangan bersikap kekanak-kanakan. Aku kemari ingin menjengukmu dan menawarkan ganti rugi atas luka yang diakibatkan temanku Ramon. Sebelum aku mengenalnya, Digna adalah segalanya. Gadis itu mengidap penyakit kangker stadium akhir. Sebagai kekasih, Ramon bekerja apapun untuk kesembuhan Digna. Termasuk menebus obat secara Ilegal, dan semua usaha itu hampir saja membuahkan hasil. Tapi naasnya Digna meninghal lebih awal ditangan suruhan Nona Damora. Aku berada di Pulau yang sama waktu itu, dan telat menyelamatkan Digna. Pintu kamarku diganjal kursi dari luar. Aku melihat betapa hancurnya Ramon saat Digna tewas,dia menangis dalam hati setiap harinya.”
“Apakah kau berusaha mengingatkan hal yang aku alami saat tahu kematianmu, Fed!” Hikashi langsung menyebut nama lain Frayza.
“Fred?”
“Apa kau tahu betapa frustasinya aku ketika Damora datang membawa catatan katianmu? Apa kau tahu usahaku menyembuhkan kebutaanmu menyamar menjadi Fujiro?” Hikashi menyerang Frayza balik.
“Aku Frayza, bukan Fred.” Memalingkan wajahnya.
“Kau lupa malam aku menyekapmu? Aku mengambil sampel rambutmu ternyata palsu, dan aku beranikan diri mengambil rambutmu saat kau sakit ternyata hasilnya sama. Kau buta, aku yang menjadi mata dan kakimu. Aku tahu semua keinginanmu tentang hidup. Kau menceritakan soal kematian dan kehidupan kembali. Apa kau tahu, aku hampir gila menerima kenyataan pria yang suka main Games dan masuk kejurang ternyata seorang perempuan Asia!!!”
“Tuan Hikashi,” Frayza dilucuti habis oleh fakta yang dimiliki Hikashi.
“Saat pergelangan kakimu hangat di malam hari, siapa lagi kalau bukan aku yang mengobatinya. Ketika kai diculik James dan Frank, siapa yang pasang badan di depan. Aku!”
“Tuan Hikashi, aku memang pengawalmu yang tidak berguna. Hukumlah aku.” Frayza akhirnya berlutut merasa berhutang Budi banyak.
“Sekarang kau berani datang kepadaku berterimakasih atas pertolonganku kemarin malam. Aku tidak butuh! Yang aku mau, kau jauhi Ramon. Sampai aku membawanya pergi ke Belanda dan mengejar pembunuh Digna agar kau terhindar masalah dari Damora. Apa susahnya menjadi baik-baik saja hah!”
“Ramon adalah orang yang memungutku ketika aku terbuang. Dan ramon jugalah yang menampungku saat aku jadi gelandangan. Aku memohon ampunan kepadamu karena dia sudah menembakmu Tuan Hikashi. Dia sudah pergi jauh, tolong jangan jebloskan dia dipenjara. Hidupnya sudah banyak menderita.”
“Aku yang sebenarnya menderita, Ramon mengubahmu menjadi serdadu perang. Menjadikan kekasihnya umpan pria untuk menggali informasi. Dia memperkaya dirinya sendiri. Aku tahu dia memiliki Pulau pribadi. Kekayaannya sangat banyak, namun dia merahasiakan dari Digna. Sebenarnya Digna tidak sakit, Ramonlah yang sudah menanamkan bibit penyakit itu ke tubuh Digna. Kalau Digna melakukan Kemoterapi, maka kesembuhannya akan cepat pulih. Tapi Ramon tidak mau hal itu terjadi, karena Digna selain pintar. Digna bisa dimanfaatkan untuk memperdayai lawan musuhnya dengan paras rupawan.”
“Tuan Hikashi, jangan mengarang cerita. Aku tahu kau sedang sakit, mungkin ini halusisanasimu.”
Hikashi marah tak terima dengan ucapan Frayza, dia melempar botol-botol obat di tembok. Tiiiiiiaaaaaaaaarrrrr... Suara riuh dalam kamar pasien ini terdengar dari luar. Kenzo yang berjaga dari luar masuk dan melihat Hikashi berhadapan dengan Frayza. Mereka sepertinya semakin dekat, emosi mereka tak lagi ditutupi lagi. Wajah gadis yanh berdiri dihadapan Hikashi itu ketakutan dan gemetar. Pria tinggi dan gagah itu menangkup wajahnya yang kecil kemudian membenakam dalam pelukannya. Ternyata Kenzo melihat Hikashi memeluk wanita yang diselamatkannya dengan agresif. Dia lantas menutup pintu kamar pasien lagi dan membuka boto minuman agar tenang. Melihat adegan berpelukan yang baru saja ia lihat.
“Kalau tahu dia merebut wanita milik Ramon. Lantas untuk apa dia diperebutkan wanita lain. Sungguh pekerjaan mencintai manusia itu merepotkan.” Kenzo bergumam sendiri.
Hikashi masih belum mau melepaskan pelukannya. Dia tidak tahu kenapa berani memeluk Frayza.
“Jangan berontak, atau aku akan menciummu lagi.”
“Apa lagi?”
“Ketika aku selesai mengobati pergelangan kakimu, keselimuti tubuhmu agar agar hangat. Dan ku usap kepalamu dan mendoakan mimpi indah. Terakhir aku biasanya mencium pipimu.”
“Pipi?” Frayza tak menyangka jika Hikashi melakukan hal mustahil itu pada dirinya.
“Maaf, aku sedang di tahap mencium pipi. Aku akan belajar mencium lagi, supaya kau tidak kecewa kepadaku. Aku janji akan memuaskanmu.” Jantung Frayza semakin tak beraturan berdetak.
“Ketika kita bertemu di Bandara, kau cuek dan acuh kepadaku. Tidak seperti kebanyakan wanita yang mengejar dan memujaku. Aku penasaran dengan kepribadianmu yang dingin.”
Hikashi jatuh hati dengan kepribadian Frayza yang dingin? Yang benar saja Hikashi. Kau tidak tahu saja, jika Frayza itu trauma dan patah hati. Hidupnya sudah berat dan hancur sebelumnya. Sampai akhirnya dia melarikan diri dan pergi sejauh mungkin. Tapi, takdir hidupnya yang gelap mempertemukan dirimu dengan Frayza orang yang mengejar harapan.
“Tuan Hikashi terimakasih, tapi terimalah ganti rugi ini sebagai pengganti rasa sakit yang disebabkan Ramon. Ini adalah berkas asli tanah yang sedang diperebutkan James. Aku mengambilnya dari Ramon ketika kita hendak pergi ke Amerika. Rencananya aku mau memakai ini agar kau tidak memperkarakan masalah penembakan. Tolong terima.” Pinta Frayza.
__ADS_1
“Apa kau menyukai Ramon dan berusaha untuk membujukku?”
“Tidak, aku hanya sebatas rekan kerja tidak lebih. Aku ingin membalas budinya, aku tidak ingin memiliki hutang budi kepada Ramon.”
“Baik, aku terima. Sekarang kau bisa beritahu Ramon, aku mau berdamai dengannya.”
Hikashi menyimpan surat berharga tersebut, dan membuka laptopnya. Dia sibuk bekerja dan sesekali mengangkat telepon dalam berbagai bahasa untuk bicara. Frayza merasa sudah cukup urusannya dengan Hikashi, dia anpa pamit keluar dari kamar dan menemui Kenzo.
“Wanita, urusanmu sudah selesai?”
“Sudah, jangan panggil aku wanita. Namaku Frayza, aku mau ucapkan terimakasih karena kau sudah baik padaku.”
“Sama-sama, lalu kau akan kemana?”
“Aku tidak punya tempat tinggal disini jadi aku akan meninggalkan Negara ini secepatnya.”
“Apakah kau akan menyusul Ramon ke Amerika?”
“Emmmbb tidak, aku mau tinggal dan menetap saja.”
“Kau punya keluarga?”
“Teman dan sekaligus keluargaku adalah Ramon. Sampai saat ini aku belum tahu dimana Ramon sekarang mendarat pesawatnya. Jadi aku memutuskan untuk mencari tempat yang layak untukku tinggal.”
“Frayza, semoga kau berhasil dimanapun kau tinggal.”
“Terimakasih agen Kenzo, kau teman baikku.” Lagi-lagi Kenzo terenyuh akan hal ini.
“Tuannn mudaaaa...” Matsumoto khawatir keadaan hikashi yang usai menjalani operasi.
“Sssttttt...” Suruh diam Kenzo.
Hikashi tampak sibuk dengan pekerjaannya. Pria yang konon ceritanya habis tertembak itu bekerja dengan baik dan segar. Seolah tak terjadi apapun.
“Kenapa berisik, apa kau tidak melihat aku sedang bekerja.”
“Maafkan saya, Tuan Muda. Saya mendengar kabar dari Kenzo kalau anda tertembak dan usai menjalani operasi. Oleh karena itu saya kembali secepatnya dari Singapura.
“Selain dirimu, suruh mereka semua keluar dari ruangan ini.” Hikashi akan bicara rahasia.
Setelah semuanya berada diluar, pintu kamar dikunci oleh Matsumoto. Dan percakapan mereka dimulai.
“Aku tidak sedang sakit apapun, mulai sekarang aku mau bekerja dan berpacaran. Mengenai organisasi kau bisa mengelolanya dengan baik. Ini berkas surat berharga tanah yang akan aku bangun menjadi Rumah Sakit. Kau pelajari semuanya, aku mau seminggu lagi kau pertemukan dengan kontraktor yang baik. Dana yang aku siapkan bisa kau ambil dari Bank Swiss.”
“Jadi berita itu?”
“Aku hanya bersandiwara, tidak ada bekas luka apapun bukan.” Memamerkan roti sobeknya yang masih mulus.
“Lalu Tuan Muda yakin akan berpacaran dengan Franda. Artis yang ramai menjadi buah bibir itu?”
__ADS_1
“Bukan, dia masih terikat hubungan dengan Frank. Aku tidak berminat dengan gadis berwajah Asia. Dia ada disini bersama Kenzo. Aku sudah merencanakan setahun ini berpacaran sambil bekerja.”
“Lalu siapa? Diluar tidak ada wanita, semuanya lelaki.” Hikashi meloncat dari bangsal dan mencari keberadaan frayza. Pengawal yang melihat gelagat kebingungan Hikashi bertanya-tanya. Apa yang terjadi dengan Bos mereka.
“Katakan, dimana dia?” menarik kerah kemeja Kenzo.
“Su-sudah pergi Tuan Muda.”
Hikashi berlari ke lift, namun sayang penuh. Dia lalu menuruni anak tangga. Pengawal dan Matsumoto ikut menuruni anak tangga. Mengikuti hal yang sama Hikashi lakukan.
“Tuan muda, dia sudah pergi dua jam lalu.”
“Apa, berarti dia pergi tanpa berpamitan denganku?”.
Matsumoto memerintahkan anak buahnya memeriksa sosok gadis itu melalui pusat rekaman data Rumah Sakit. Dan sudah didapatkan gambarnya. Diketahui, jika Frayza sudah lepas landas ke Singapura. Ke kampung halamannya, seperti yang Frayza ceritakan. Dia ingin menetap dan tinggal di tanah kelahirannya. Hikashi melucuti perban yang membelit badannya. Dia memutuskan hari ini juga keluar dari Rumah Sakit. Dan mengerahkan pengawal yang asih berada di Singapura untuk mencari keberadaan Frayza berada. Kenzo ditunjuk untuk pergi lebih awal ke Singapura. Dan Matsumoto berada di Bali bersama Hikashi. Untuk mengurus proyek pembangunan Rumah Sakit.
*
*
*
#SINGAPURA,
Ada perasaan takut dan rindu bergelayut dalam diri Frayza. Disini keluarganya tinggal dan kenangan hidup tertanam di pohon sejarah dirinya. Dia datang seorang diri membawa koper kecil yang dia seret. Dia membuka ponselnya mencari tempat hunian yang biayanya terjangkau. Tiba-tiba dari belakang ada seseorang menyodorkan minuman kepadanya.
“Tarrrrraaaa...”
“Dokter Kelvin,” Decak kagum Frayza.
“Tidak aku duga ternyata gadis imajinasiku kemari. Sedang apa kau disini?” merebut ponsel Frayza yang membuka gambar hunian tempat tinggal.
“Hemmmb jelek, ini jelek, ini kumuh, ini sempit, ini murah, ini terpencil, ini rawan kriminalitas dan ini semua tidak layak huni. Ayo ikut aku saja.”
Dokter Kelvin sejak di Rumah Sakit sudah mengawasi Frayza. Dan diam-diam juga ia mengikuti Frayza naik ke pesawat sampai ke Singapura. Ketika Frayza sudah di Bandara sendirian. Tampaknya tak memiliki tujuan selanjutnya. Dokter Kelvin meminta bantuan Hikashi agar memberikan fasilitas tempat tinggal di Singapura untuk Frayza. Hal ini langsung disetujui Hikashi, karena Frayza akan aman ditangan Dokter Kelvin. Dan sebuah hunian di Apartemen elit disiapkan Hikashi. Pria itu mentransfer uang di akun Rekening Dokter Kelvin untuk pelunasan dan kepemilikan.
Hikashi memberikan Kondomonium dengan sistem keamanan terbaik. Setelah urusan pembayaran dan surat dokumen selesai. Hikashi mensuplai kebutuhan hidup Frayza selama di Kondominium. Dirasa tugasnya sudah cukup, Dokter Kelvin beralibi harus pergi berdinas lagi ke luar Negeri.
“Aku titip tempat tinggalku ini ya, jangan bawa tamu masuk.”
“Laku uang sewanya bagaimana?”
“Cukup rawat saja tempat ini dengan baik, dan hiduplah dengan normal. Jangan bertindak aneh-aneh, karena kau adalah mahakaryaku yang menjadi kenyataan.”
“Terimaksih Dokter Kelvin.” Ucap frayza sambil tersenyum manis.
Hikashi yang memperhatikan keadaan Frayza dari pantuan jarak jauh itu tersenyum senang. Frayza dalam keadaan selamat dan baik-baik saja. Dia masih bekerja disiang dan malamnya. Jika mengantuk dia olahraga kecil agar otot-otot tubuhnya kelas kembali. Dan rencananya seminggu di Bali harus molor lebih panjang. Dan artinya dia akan bertemu Frayza lebih lama lagi. Kenzo yang baru tiba di Singapura mendapat tugas tinggal di Kondominium sebelah milik Frayza. Dia disana akan menjadi penjaga Frayza dan mengawasi kemanapun Frayza perginya nanti.
“Dan aku harus menyukseskan kehidupan Asmara Tuan Mudaku yang paranoid ini huft.”
__ADS_1
#Terimakasih sudah membaca Novel ini, semoga kalian selalu merindukan kelanjutan cerita ini sampai akhir. Selamat berakhir pekan, dan tetap semangat jangan mau lelah. Hehehehe