TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
PERTEMUAN YANG DITUNGGU


__ADS_3

Hari ini Julian baru saja membayar uang muka untuk apartemen dari penghasilannya. Orang pertama yang ia kunjungi adalah Bibi Fang.


“Bibi Fang... bibi Fang, kau ada dimana? “ Julian berlarian mencari keberadaan pengasuh Seven.


“Ada apa? Seven baru saja tidur, kau teriak-teriak seperti menang lotre.” Keluar dari kamar.


“lihatlah,” memamerkan kwitansi dan surat kepemilikan hunian baru.


“Wah selamat ya, lalu kau akan tingg bersama siapa?”


“Kami akan pindah kesana, pekan ini.”


“Kami?” Bibi Fang belum menangkap dari ucapan Julian baru saja.


Perlahan Julian mengatakan kepada Bibi Fang, bahwa ibu kandung dari bayi yang ia rawat ialah Frayza. Sebenarnya ia sudah merubah jati dirinya.


“Jadi, dia mengalami banyak kejadian dan hal buruk ya selama ini?” tertegun.


“Iya,” mengangguk mengiyakan.


Bibi Fang kemudian terduduk memegangi kepalanya yang pusing. Julian menyiapkan teh panas untuk meredakan stres dari Bibi Fang yang sudah berumur.


“Minumlah Bi,”


“Bagaimana kau bisa senakal ini, menyembunyikan hal penting selama ini. Nakal kau, nakal!” memukuli Julian yang masih memegang secangkit teh.


“Bi~~~~ tenanglah, perlahan aku akan ceritakan. Jangan berisik, kasihan Seven.”


“Frayza, ternyata masih hidup dan selama ini kau menyembunyikannya dariku!”


“Bi, semuanya sangat rumit. Aku sendiri saja tidak pernah menyadarinya. Dia sangat cantik, dan aku pernah menyukainya. Hahaha betapa bodohnya aku.” Menggaruk kepalanya karena malu.


“Ck, dasar!” mengemplang kepala Julian.


“Bi, aku minta jangan menanyai hal macam-macam dan menceritakan hal yang tidak penting. Akibat kejadian buruk yanh dialaminya, ingatannya terhapus sebagian.”


“Gadis yang malang.”


Julian menceritakan kisah perjalanan Frayza hingga menjadi sekarang. Sambil mengemasi barang-barang milik Seven. Rencananya Julian akan mengambil Seven jika Frayza sudah berlabuh di Singapura.


“Apakah Frayza dan kau akan tinggal bersama?”


“Tentu saja, dia keluargaku.”


“Lalu, apakah aku masih bisa menengok Seven jika rindu?” bertanya dengan nada yang ragu.


“Bibi Fang, Kak Frayza memang kehilangan sebagian ingatannya. Tapi dia tidak kehilangan jati dirinya. Kau sudah merawat Seven dengan baik, tak terbayangkan jika dulu aku merawatnya sendiri.”


“Kau sudah membiayai hidupku selama ini sudah cukup bagiku. Hanya ini yang bisa aku lakukan diusia senjaku, Julian.”


“Bibi Fang, seandainya saja Ibuku masih hidup dan memiliki separuh kemurahan hatimu. Mungkin keluarga kami tidak akan tercerai-berai hancur seperti ini.”


“Julian, jangan bersedih. Mulai sekarang kau anggap saja aku sebagai ibumu ya. Katakan pada Frayza juga, rumah dan tanganku akan selalu menerima kalian.”


“Terimakasih Bibi Fang, aku sudah selesai mengemasi barang-barang milik Seven. Sisanya aku tinggalkan untuk keperluannya disini. Aku mau ke Supermarket dulu mencari kebutuhan pindahan kami.”


“Pergilah, dan hati-hati ya dijalan.”


“Baik Bi, sampai jumpa.”


Julian menenteng dua tas berukuran besar, ia memasukkannya kedalam bagasi mobilnya. Ketika ia hendak berputar tubuhnya, berdirilah seorang wanita yanh berpakaian rapi menghampirinya.


“Rosssseee,”


“Lama tidak berjumpa, apa kabarmu?” menjabatkan tanganya.


Julian membalas jabatan tangan Rose sebagai tanda persahabatan. “Aku baik, bagaimana denganmu Rose?” Julian sedikit kaku dan grogi bertemu dengan Rose yang sudah berubah.


Rose memakai baju yang mahal dan dandannya lebih glamor. Badannya nampak lebih berisi, mungkin efek usai melahirkan. “Apakah kau ada waktu untuk kita berbincang-bincang?”


“Emb... Bisa, tapi tidak untuk sekarang Rose. Aku sedang sibuk, kau bisa datang ke Butikku kapan pun kau mau. Saat ini waktuku sedang sempit.” Menunjuk jam tangannya.


“Baiklah, aku akan datang ke Butikmu kalau begitu.” Rose nampak begitu kesal karena Julian tak menunjukkan kegembiraan kalau bertemu lagi. Dia melihat mobil Julian melaju meninggalkan parkiran Apartemen.


“Jadi, dia menyimpan wanita dan bayinya disininya rupanya.” Rose mengenakan kacamatanya dan pergi masuk kedalam mobilnya. Seorang sopir pribadi membukakan pintu untuk dirinya.


Kepada sopirnya, Rose mengatakan agar merahasiakan kedatangannya kemari dari suaminya. “Aku tidak mau suamiku marah, dan akhirnya membuat masalah lagi. Dan jika hal ini bocor, ku pastikan mau akan bermasalah dengan hukum karena tidak bisa menjaga privasi majikan. Mengerti!”


“Baik Nyonya,” jawab sopir Rose yang ketakutan. Sopir yang sudah berusia tua renta ini mendedikasikan separuh usianya untuk Rose karena berhutang budi.


Ketika Rose hamil, dia membuat ancang-ancang rencana jika Julian tidak bisa bertanggungjawab. Akhirnya ia memutuskan kembali kepada pacarnya dan membuat alibi. Seolah mereka melakukannya dan membuat Rose hamil. Suami Rose sekarang ialah Frank, mantan kekasih Frayza juga.


Waktu Frank berada di penjara, Rose sempat ikut bersama Julian membesuk ayahnya. Saat itu tanpa sengaja, Frank menabrak Rose yang kesasar mencari kamar kecil. Saat itu, Frank memperoleh jaminan sebagai tahanan kota. Berkat uang dan kekuasaan orang tuanya. Dan Frank menyukai Rose karena dandanannya yang tombi mirip Frayza. Mengingatkannya pada Cinta pertamanya yang penuh luka. Akhirnya Rose dan Frank tanpa sengaja bertemu disebuah restoran yang sudah diatur keluarga mereka. Alih-alih untuk melakukan perjodohan dan akhirnya mereka sepakat untuk berpacaran.


Rose menjadi menantu orang kaya yang memiliki harta yang berlimpah. Walupun ayahnya sudah tiada, ibu dan adiknya masih bisa hidup nyaman dari tunjangannya. Sebagai istri resmi dari Frank, tentu Rose tidak begitu saja menjadi Ratu. Terkadang sifat arogan Frank kambuh, ketika bayinya rewel. Dan kemarahan Frank berujung pada makian dan pukulan. Sehingga membuat Rose susah lupa dengan Julian yanh baik dan lembut. Namun sayangnya Rose tidak sabar menanti reaksi Julian. Bahkan ia tak mengatakan bila dirinya hamil.


*

__ADS_1


*


*


Kapal pesiar mewah sudah bersandar di pelabuhan. Para penumpang sudah mulai menuruni kapal. Beberapa kendaraan sudah siap mengantri untuk mengantarkan mereka ketempat tujuan selanjutnya.


“Hissssshhh, kepalaku pusing sekali.” Frayza mengernyitkan dahinyanya.


“Kau terlalu memaksakan diri dalam bekerja, jadinya begini kan; Pak Sopir, tolong antar kami ke Rumah sakit.”


“Baik Nyonya,”


“Tapi aku sudah dijemput seseorang, dia sudah menungguku.”


“Tidak ada alasan, suruh dia menemuimu di rumah sakit juga. Kondisimu sangat memprihatinkan begini masih saja keras kepala. Siapa sih orang yang kau istimewakan itu?”


“Adikku,”


“Oh,”


“Oh apa?”


“Oh adik, kalau pacarmu awas!”


“Helena, kenapa kau membenci lelaki begitu dalam? Apakah kau melajang karena trauma dengan lelaki?” pertanyaan ini tanpa sengaja menusuk hati Helena yang sensitif.


“Aku penyuka sesama jenis, buat apa aku menyukai lelaki. Aku adalah manusia yanh modern.” Kilah Helena berbohong.


“Waduh, aku jadi takut ya jatuhnya.” Bicara nada pelan.


“Hai, aku mendengarnya!” matanya melotot.


“Hehehehe...”terpaksa tersenyum agar Helena tidak tambah marah.


Sudah tiba di rumah sakit dan melakukan pemeriksaan secara detil.


“Apakah anda keluarga pasien?”


“Bukan Dokter, tapi aku Bosnya. Memang ada apa?”


“Maaf, sebaiknya saya bicara langsung dengan keluarga pasien. Karena ini sifatnya rahasia, jadi saya berikan resep. Obatnya saja untuk ditebus, dan tolong jangan biarkan pasien tertekan. Setelah obat ini habis, saya sarankan agar pasien cek kontrol lagi.


Helena merasa ada yang tidak beres dengan Dokter yang baru saja menangani Frayza. Jika memang sakit kepala Frayza biasa, kenapa Dokter bicara seperti itu? Helena terdiam dan masih menahan pertanyaannya. Sambil merangkul Frayza yang memegangi kepalanya. Helena berpikir apakah sebaiknya Frayza dirawat saja.


“Kaaaaakk,” seorang pria tampan memakai baju yang sepadan. Tubuhnya ideal dan tinggi, serta potongan rambutnya begitu pas dengan wajahnya yang oriental. Dialah Julian, mantan atlit dan model yang sekarang duduk sebagai perancang busana.


“Julian.” Frayza lalu kembali segar dan berhamburan memeluk adiknya, sontak hal ini menjadi pusat perhatian orang-orang di lobi rumah sakit.


“Kakak juga, maaf ya aku memintamu berubah menjemputku kemari.”


“Heheh tidak apa-apa, apa kau sakit?”


“Kepalaku pusing sekali, mungkin kurang tidur hehehehe.”


Mata Helena terus mengagumi tubuh ideal Julian yang berdiri didepannya. Dari atas kebawah lagi, dan begitu trus hingga ia sadar. Bahwa ia sudah menemukan calon model untuk baju rancangannya.


“Ehheeeemmmb,” dehem Helena karena diacuhkan.


“Oiya, aku sampai lupa. Perkenalkan, dia adalah bosku Helena; Dan Helena, ini adalah Julian adikku.”


“Helena,”


“Halo Bibi Helena, aku Julian.”


Aaappppaaaa, Julian memanggil Helena dengan sebutan bibi? Ini artinya ia sudah tua didepan mata pria yang ia kagumi. Sungguh benar-benar pelecehan untuk Helena yang merasa dirinya masih muda.


“Frayza, katakan kepada adikmu untuk lebih sopan memanggilku!” memasang wajah masam.


“Panggil dia Helena saja, panggilan bibi itu terkesan tua dan kejam.” Bisik ditelinga Julian.


“Oooo.” Membulatkan bibirnya baru paham.


Setelah berkenalan dan basa-basi, Helena pergi bersama sopirnya ke Hotel. Dan selanjutnya Julian membawa Frayza ke Apartemen hunian baru mereka.


“Taraaaaaa...kejutan.” membuka penutup mata Frayza.


“Hwaaahhh indah sekali,” melihat ruangan apartemennya yang masih kosong melompong.


“Kak, hanya ini yang bisa aku berikan. Berkat bukumu ini yang aku temukan, aku membuat baju rancanganmu. Dan inilah hasil penjualan dari baju rancanganmu.” Merentangkan tangannya menunjukkan apartemen baru.


“Sepertinya aku harus bekerja lebih keras lagi, untuk mengisi perabotannya ya hemmmb.”


“Benar sekali, aku sudah membayar uang mukanya. Dan bagian kakak yaitu mengisi ruangan ini dan memberiku makan hehehe.”


“Dasar adik nakal, tahu begitu ku mintai ganti rugi kau sudah mencuri karyaku.”


“Hahaha ampunnn... “ Julian berlari keluar apartemen.

__ADS_1


Frayza seperti kembali menjadi anak kecil, ia terpancing untuk mengejar adiknya. Sampai akhirnya mereka berkejaran disebuah taman dengan pohon besar.


“Kak, kau kedatangan tamu istimewa.” Jarinya menunjuk arah wanita mendorong kereta bayi.


“Seeeee-sevennn kah?” matanya berkaca-kaca dan lututnya kaku. Kakinya terasa berat dan jantungnya berdegup kencang. Didalam hati, Frayza bertanya-tanya seperti apa wujud dari wajah buah hatinya.


Bibi Fang mendorong kereta bayi semakin mendekat, hingga akhirnya Frayza berlutut kakinya di rerumputan. Tak kuasa dengan pertemuannya dengan bayi kecilnya.


“Dia adalah darah dagingmu kak, Steven Lee (Panggilan bayinya Seven) anak yang selama ini kau rindukan.” Julian menuntunnya berjalan.


“A-anakku,” air matanya sudah membasahi pipinya dan bibirnya bergetar.


Saat bibi Fang mengangkat bayi tampan itu, tercium aroma segar khas bayi. Tatapan mata bayi Seven begitu polos, wajahnya mirip dengan Hikashi.


“Bayikuuuu,” begitu teriak Frayza memanggilnya.



\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tiaaarrrrr, tangan Hikashi tanpa sengaja menyenggol gelas yang berada diatas mejanya.


“Tuan muda, apa kau sedang memikirkan sesuatu?”


“Tidak, akhir-akhir ini aku merasa sedikit susah berkonsentrasi dan sulit tidur.”


“Ini adalah gelas ketiga untuk hari ini,” Matsumoto menghitung jumlah gelas yang pecah setiap harinya.


“Sudah beberapa hari ini, dadaku terasa sesak.”


“Apakah anda kesulitan bernapas?”


“Tidak, tapi aku merasa ada yang aneh dalam tubuhku.”


“Selama setahun terakhir ini Tuan Muda bekerja terlalu keras. Sebaiknya anda mengambil jatah cuti dan beristirahat dengan baik.”


“Tidak, mungkin aku melupakan sesuatu. Kapan ulang tahunnya Jade?”


“Sebulan lagi Tuan muda,” jawab Matsumoto.


“Oh kalau begitu mungkin aku harus menyiapkan kado dan pesta untuknya. Malam ini aku tidak pulang ke kastil, ambilkan baju untukku besok. Malam ini aku mau tidur di griya tawangku lagi.”


“Tuan muda, jika kau tidak nyaman dengan keberadaan Nona Franda. Saya akan mengaturnya agar dia tidak bersliweran saat anda di rumah.”


“Tidak, biarkan saja. Sudah tugasnya demikian, dia adalah ibu asuhnya Jade.”


“Baiklah, kalau begitu. Saya akan meminta Patrick menyiapkan keperluan anda.”


“Oiya Matsumoto, aku mau rapat ditunda satu jam. Aku mau tidur sebentar, beritahukan hal ini pada para staff.”


Hikashi memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya pada bantalan kursi. Tiba-tiba dialam bawah sadarnya ia mengejar seorang wanita di persimpangan jalan yang ramai.


“Franda... Hei berhenti ini berbahaya!” Hikashi mengejar wanita berambut panjang yang warnanya seperti warna rambut Franda.


“Hahaha... “tawa renyah gadis itu beda dengan nada tawa Franda.


“Siapa kau!” Hikashi berteriak memanggil wanita yang berlarian didepannya.


“A____ku cintamu___hahahahaha... “ belum sempat menoleh dan menampakkan wajahnya, Hikashi terbangun dari mimpinya.


Tok... Tok... Tokk... Ketukan pintu terdengar membangunkannya. “Tuan muda, rapat akan segera dimulai. Apakah anda sudah bangun?”


“Oh iya, aku akan menuju tempat rapatnya.” Hikashi menyeka matanya yang masih pedih.


Hatinya semakin tak tenang dan kepikiran siapa gerangan wanita yang ia kejar-kejar dalam mimpinya. Sepanjang rapat berlangsung, ia tak memperhatikan staffnya. Dia memalingkan kursinya dan menyangga dahinya. “Rapat cukup sampai disini,” Hikashi beranjak dari kursi kebesarannya dan mengancingkan jas.


Matsumoto keheranan melihat tingkah aneh Hikashi baru saja, terlebih lagi rapat belum selesai. Staff yang sedang mengikuti rapat terperangah karena tidak biasanya Hikashi pasif.


“Tuan muda, apa anda ada masalah?”


“Setelah 3x24 jam buat Franda meninggalkan Kastil. Dan cari pengasuh untuk Jade, segera ganti interior rumah dalam waktu seminggu. Tidak boleh ada sedikitpun jejak Franda disana mengerti”


“Apakah Tuan muda berencana memisahkan anak dan ibunya?”


“Franda bukan ibunya Jade, dia adalah pengasuh. Cangkam itu!”


“Maafkan saya tuan muda sudah lancang, akan saya kerjakan perintah anda.”


“Jangan ikuti aku, malam ini aku akan bersenang-senang sendirian.”


Hikashi ingin mendatangi tempat hiburan dimana banyak wanita cantik berada. Dia bersama teman-temannya mengadakan pesta disebuah klub. Dan melakukan kegiatan hiburan untuk menghilangkan penat. Lagi-lagi Hikashi merasa dadanya berdegup kencang, lebih kencang lagi. Dalam. Keadaan mabuk ia sempoyongan berjalan keluar klub yang sudah padat pengunjung.


“Tuan, bangunlah.” Perkataan itu terus terulang.


“Dimana aku?”


“Anda pingsan.” Ucap petugas klub yang memapahnya.

__ADS_1


Baru saja Hikashi tersadar, lagi dan lagi ia bermimpi wanita berpakaian serba putih dengan rambut yang lurus panjang. Ia menghunuskan pedang ke jantung Hikashi. Saat bermimpi dadanya terasa begitu nyata sakitnya tertusuk pedang. “Dia adalah milikku!” ucap wanita berambut panjang. Sepertinya dia adalah wanita yang sama dengan yang ia mimpikan tadi siang.


Inilah pertanda dari Tuhan jika, Hikashi selama ini tak menyadari bahwa ia sudah kehilangan jiwanya. Wanita yang datang di mimpinya ialah Frayza. Dan pedang yang menusuk dadanya adalah Seven. Anak yang belum ia ketahui keberadaannya.


__ADS_2