TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
SABOTASE PEMILIK LAHAN


__ADS_3

Rutinitas setiap pagi Frayza ialah pergi ke Pasar. Dia mengayuh sepedanya dengan semangat. Ketika sedang berbelanja stok produk, dia melihat wajah Franda yang terpampang di baliho papan iklan. Betapa cantik paras adiknya itu, memakai baju dan perhiasan terbaik. Frayza membandingkan dengan dirinya yang tak terurus dengan baik. Jelang siang usai berbelanja, Frayza istirahat di kamar bekas milik Ramon. Karena hawa yang begitu panas menyengat. Dia mencari kipas angin di ruangan ini, beberapa kotak dia buka sembari mencari alat pemudar hawa panas.


“Apa ini?” menemukan buku dan beberapa potong foto yang sudah robek.


Dia menggabungkan sobekan foto-foto diatas kertas putih. Hal yang mencengangkan ia temukan, foto yang ia rangkai membentuk sebuah foto sekumpulan orang-orang. Dan yang paling tidak masuk akal ialah baju dan topi yang dipakai Ramon. Seperti tentara elit, bersama orang-orang yang nampak akrab. Berlatang belakang daratan timur tengah atau mungkin daerah gurun bagian entahlah. Frayza mencoba mengingat-ingat wajah orang-orang yang masuk didalam foto tersebut. Sulit sekali mengenali foto lawas tersebut. Dia mengenali Ramon karena punya ciri khas saat berfoto dengan mengacungkan jempolnya.


“Apa aku tanyakan pada Hikmal saja ya?” bergumam sendiri.


Frayza membawa foto tersebut dan mencari Hikmal berada. Ternyata Hikmal tengah berbincang-bincang dengan Bu Marta. Istri pedagang sate yang mulai akrab.


“Nak Frayza, kebetulan kau hadir. Ada berita yang ingin aku sampaikan.”


“Berita tentang apa Bu Marta?”


“Berita tentang wacana penggusuran lahan kosong.” Celetuk Hikmal.


“Sssttt... Sabar dulu napa kalau ngomong, enggak usah pake gas, rem blong. Ngejablak mulutnya kayak knalpot kapal.” Tegur Bu Marta.


“Heheheheh Hikmal memang begitu Bu, tumben Bu Marta tidak makai masker seperti dulu lagi hahahaha.”


Bu Marta tersipu malu kalau teringat kejadian dulu, saat dirinya mengantarkan pesanan sate. Karena kedai miliknya ramai pembeli, alhasil dirinya yang sedang memakai masker bengkoang mengantar ke Kedai. Dan saat mengantarnya juga dia lupa mengelupas masker diwajahnya. Biasa, emak-emak bila terburu-buru suka macet jalan pikirannya. Maka terjadilah adegan Hikmal mengira bila Bu Marta adalah setan penunggu Kedai. Padahal Bu Marta lupa mencuci wajahnya saja hahahaha. Singkat cerita sejak kejadian itu, Bu Marta sering datang ke Kedai. Dan mereka menjadi lebih akrab, tak jarang Bu Marta dan Frayza tukar-menukar makanan. Jadi begitu ceritanya, di Novel ini tidak ada unsur horor.


“Fray, Ibu tahu bisnis kedaimu ini sedang bagus-bagusnya. Tapi Perusahaan pemilik lahan ini sedang mengajukan gugatan di Pengadilan untuk menarik status lahan yang kita tempati ini. Semoga saja gugatannya tidak dikabulkan dan kita masih bisa berjualan disini.”


“Kenapa tiba-tiba sekali ada wacana seperti ini? Bukankah lahan mereka ada di Blok sana.”Frayza bingung.


“Apa Kak Frayza tidak paham juga, bahwa Perusahaan yang mengelola Pabrik akan mengekspansi usaha mereka. Rencananya akan dibangun pabrik-pabrik modern yang canggih. Nasib orang kecil macam kita ini ya beginilah.” Hikmal mengeluh tentang bocornya berita Perusahaan akan mengambil kembai lahan.


“Sudahlah, kami para serikat dagang juga sedang mengupayakan rundingan. Jika gugatan itu dimenangkan oleh Perusahaan. Maka kita semua akan pindah mencari tempat yang baru.” Ucap Bu Marta pasrah.


“Jika kalah?”


“Kak Frayza, mereka sudah mengantongi surat ijin resmi. Memang benar kami yang salah, karena percaya dengan omongan makelar. Mereka hanya memberikan kwitansi dan surat perjanjian. Tapi tidak pernah memberikan surat kepemilikan yang sah.”


Kemungkinan nasib pedagang yang menempati lahan milik Perusahaan akan terkena imbasnya. Selain bukti yang lemah, keberadaan pedagang kecil seperti mereka ini.


“Baiklah kalau begitu aku akan mencari tempat pindah saja, karena kekuatan hukum kita lemah.”


“Tapi sewa tempat di Batam sangat mahal Fray.” Bu Marta menasehati Frayza.


“Bu Marta, Kak Frayza tahu apa jalan yang terbaik kedepannya. Dia memilih untuk mencari lokasi baru Kedai kami. Pasti sudah mempertimbangkan posisi pemilik sah tanah ini. Jadi, aku setuju ide Kak Frayza.” Hikmal sepaham dengan Frayza.


“Aku hanya memiliki anggapan, duku kita hanya menyewa tanah ini. Bulan sebagai pemilik, dan Kedai ini juga baru ku rintis. Memang berat bila harus pindah lokasi. Setidaknya bila sewaktu-waktu digusur, kami sudah siap pergi.”


“Fray, Ibu ingin kau sebagai pionir yang melawan pemilik tanah ini. Kami sudah puluhan tahun berjualan, bahkan berkeluarga. Apakah kau tidak kasihan kepada kami?”


“Bu, tanpa mengurangi rasa hormatku padaku dan rekan-rekan penjual. Aku minta maaf tidak bisa membantu niatan kalian jika ingin bertahan disini. Tapi jika kekuatan hukum kita lemah, pada akhirnya kita juga yang harus pergi kan?”


Desas-desus tentang pengambil alih tanah sudah menjadi isu yang panas. Kadang mereka berjualan dilempari bom molotov. Bahkan tak segan-segan pula gerombolan Preman menakut-nakuti Pedagang yang berjualan. Kini Kedai Frayza sudah termasuk yang ramai pengunjung. Pemasukannya sudah mulai lumayan. Keteguhan Hikmal mulai goyah, dia merasa tidak perlu pindah. Dan harus melawan seperti bujukan Bu Marta, hal ini memunculkan perdebatan dengan Frayza. Hikmal mulai mengungkit-ungkit Frayza yang datang tidak mau ikut berjuang.


“Jika kau berpikiran sempit melalui satu pihak saja, maaf Hikmal kau masih terlalu naif. Jika kau ingin melihat kebenaran, sebaiknya melalui dua sisi yang berbeda itulah jawabannya. Aku memang pendatang disini, dan menghidupkan Kedai ini. Jika kau nilai aku tidak layak berada disini, sebaiknya kau tarik ucapanmu. Sebelum aku benar-benar pergi dari sini.”

__ADS_1


“Kau hanya membelas yang kaya, sedangkan nasib orang kecil tak kau hiraukan. Mereka hanya mencari makan untuk hidupnya beberapa hari, bukan mengeruk kekayaan untuk anak cucunya!”


“Hikmal, apakah harus aku perjelas lagi bahwa gugata di Pengadilan sudah memenangkan Pemilik resmi. Cepat atau lambat kita semua akan diusir, karena apa. Kau lihat sendiri bukan bila material pembangunan Pabrik sudah tiba.”


“Aku mulai membencimu Kak Frayza! Kau tidak mau berjuang bersama kami, kau lemah!”


“Hikmal cukup!”


Tak terima dengan bentakan Frayza, Hikmal mengobrak-abrik kamar yang sekarang ditempati Frayza. Hikmal benar-benar marah dan tak terkontrol. Saat Frayza hendak menghentikan kegaduhan ulah Hikmal. Tanpa sengaja kakinya terinjak pecahan kaca beling. Sebuah pertanda buruk kono katanya, akhirnya Hikmal pergi ke Kedai sate Bu Marta. Disana sudah terkumpul serikat Pedagang yang memperjuangkan nasibnya. Sudah hampir larut malam juga Hikmal berada disana guna mengumpulkan massa untuk demo besok. Ternyata ada Preman yang sudah mengintai kegiatan mereka. Dan saat mereka sibuk merencanakan demo, Preman bayaran itu memutuskan kabel listrik disebuah toko plastik. Sumber air mereka dimatikan, dan mereka menyiramkan minyak tanah pada atap. Dan tanpa sengaja salah satu Preman yang menyiram minyak tanah itu dipergoki Hikmal yang dalam perjalan kembali.


“Haiii berhenti kau!” preman itu berlari terbirit-birit.


Hikmal mencium jeligen yang masih separo minyak tanah tercecer. Dan Frayza yang sibuk mencuci perabotan di dapur mendengar keributan.


“Hikmal, kau sedang apa?”


“Lihat, ada yang mau mensabotase kita Kak.” Menunjukkan jeligen kosong.


“Astaga, baunya minyak tanah. Untuk apa ini?” Frayza kaget mendapati jeligen berisi minyak tanah.


“Sudah jelas kalau mereka mau mengusir kita seperti ini.”


Dari kejauhan terdengar keriuhan orang-orang berhamburan. Mereka berteriak ada kebakaran. Suara panik orang yang tengah dalam musibah ini menimbulkan kepanikan.


“Hikmal, aku mau mengambil berkas berhagaku didalam kamar.”


“Tidak boleh, kita haru membantu mereka Kak.”


“Hikmal, lepaskan tanganmu jangan mencegahku!”


“Didalam ada beberapa barang berharga, jangan menahanku. Kebakaran ini akan melahap habis pemukiman ini!” Frayza berusah melepaskan tangan Hikmal yang menarik tangannya.


Karena api cepat menjalar, Frayza terpaksa membanting tubuh Hikmal. Dengan jurus Aikido yang sudah ia kuasai. Dia lantas membuka laci dan memasukkan barang berhaga kedalam ransel. Frayza pandangannya mulai pedih karena asap yang masuk kedalam kamar. Dirinya mulai kesulitan keluar, ternyata api sudah berada di Kedai miliknya. Seharusnya Hikmal tak menahan dirinya begitu lama, kini Frayza dalam kesulitan api besar. Dia membasahi jaketnya dengan air, kemudian menerobos kobaran api yang membakar Kedai.


Frayza sudah tidak bisa lagi menemukan siapapun yang ia temui. Dirinya ikut mobil evakuasi, agar dipindahkan ke tempat penampungan yang lebih aman. Disinilah Frayza memeriksa kembali barang berharga yang masih bisa diselamatkan.


“Syukurlah, ternyata aku masih sempat menyelamatkannya.”


“Kak Fray?” Hikmal memanggil nama Frayza.


“Hikmal,” terkejut melihat tangan Hikmal yang terbungkus perban.


“Seharusnya aku menuruti nasehatmu, sekarang tanganku mengalami luka bakarrrr.” Dia menangis dipundak Frayza.


“Kenapa kau bisa terluka seperti ini?”


“Aku menyesal membantahmu Kak.”


Ternyata Hikmal mengalami kecelakaan ketika dia berusaha memadamkan air. Nasib naas menimpa dirinya, dia tidak tahu kalau kayu yang termakan api menimpa dirinya. Masih untung dirinya hidup dan tidak mengalami cidera parah. Frayza hanya bisa menguatkan Hikmal, dan menasehati agar kembali ke posko pengobatan. Namun Hikmal keras kepala dan ingin bersama Frayza.


“Kau sedang terluka dan aku bukan orang medis, salah besar jika kau ingin tinggal disini. Lebih baik sikap keras kepalamu ini memakai logika bukan perasaan.”

__ADS_1


“Aku takut Kak...”


“Jangan cemas, sekarang kita berada di Penampungan sementara.”


“Aku takut bila terjadi hal buruk, ijinkan aku bersamamu.”


“Kembalilah ke Posko kesehatan, jangan banyak membantah.”


Sebenarnya Frayza menaruh curiga kepada Hikmal yang menatap tajam tas ranselnya. Dia seolah mengincar barang yang berhasil ia selamatkan. Padahal yang dia bawa ialah dokumen pribadinya. Pada saat tengah malam, Frayza memutuskan untuk meninggalkan penampungan dan kembali ke Singapura.


“Semalam aku melihatnya disini!”


“Hay, jika kau berani mempermainkan kami. Maka kau akan habis riwayatmu!”


Ternyata Simon masih penasaran siapa Frayza sebenarnya. Dia mengirim anak buahnya untuk menangkap Frayza kembali. Tapi sayangnya, Frayza sudah kabur terlebih dahulu. Sebenarnya yang menjual informasi keberadaan Frayza adalah suami Bu Marta. Pria paruh baya itu memperoleh iming-iming hadiah imbalan bila berhasil menunjukkan keberadaan Frayza.


Simon curiga siapa Frayza sebenarnya, kenapa demi seorang gadis bisa membuat Matsumoto memaksa Franda melakukan negosiasi. Simon beranggapan bila Frayza ini bukan gadis biasa. Terlebih lagi dari cerita Julian, bahwa Frayza pernah memborong barang antik saat di Bali. Simon jiga ingat Franda pernah bercerita jika dia diculik oleh Hikashi. Dan ada perempuan lain, yang ciri-cirinya sama yaitu Frayza. Kejadian itu bermula ketika Franda hendak menjemput Julian di Bali. Dan Matsumoto juga terlibat urusan pelaporan atas pencurian yang melibatkan nama Frayza.


“Gadis itu, pasti dia membawa uangku sebagian!”


“Tapi bukankah Nyonya sendiri sudah mengakui kalau uang anda disita olehnya.”


“Apa kau tidak tahu, jumlah uang yang dibawa istriku itu masih separuh. Pasti gadis itu mencuri dari Julian. Tidak salah lag!”


Tuduhan Simon ini sangat tidak kuat terhadapa Frayza. Dia hanya memakai pemikirannya sendiri. Entah kenapa kebenciannya kepada Frayza begitu besar. Dia seolah dijebak oleh Frayza ketika bertemu di Rumah sakit, lalu Frayza menghasut Julian untuk membobol isi brangkasnya. Padahal yang sebenarnya Julian sendirilah yang menguras isi brangkasnya. Dan disembunyikan di Kondominium milik Franda. Dan ternyata orang yang membeli tanah bekas rumah mereka yang lama ialah Julian sendiri. Dia akan membangun rumah kenangannya itu kembali. Walaupun harus melibatkan Frayza dalam alibinya ini.


*


*


*


--- KENZO---


Frayza sudah tiba lagi ke Singapura, dia masih memiliki akses masuk ke Kondominium. Dan beruntunglah dia masih bisa masuk, karena kunci pin pintunya belum diganti. Saat dirinya tengah memasak di dapur, dia melihat vas bunga yang airnya aneh. Lantas ia mengganti air itu, ternyata ada bungkusan plastik yang didalamnya ada sepucuk surat. Setelah ia membaca isi surat itu, dia memperoleh nomor ponsel milik Kenzo. Dan dia mengabarkan keadaannya kepada Kenzo yang saat ini berada di Tokyo. Tak berselang lama, sekitar tiga harian Kenzo datang menemui Frayza. Kenzo prihatin dengan keadaan Frayza yang teramat kacau dan tak terurus. Selama tiga hari ini dia mengkonsumsi air saja, tubuhnya lemah. Dia tidak berani keluar Kondominium ini, takut orang-orang suruhan Simon mengejarnya. Beruntunglah Kenzo bisa merawar Frayza dengan baik. Dan tidak perlu dirawat oleh Dokter, karena dia sendiri yanh merawatnya.


“Kenzo, kau kah itu?”


Kenzo lalu memeluk Frayza yang masih lemah, dia sedih melihat Frayza yang seperti ini. Dia tidak menyangka bila selama ini Frayza bagai anak kucing liar yang terlantar. Kenzo membujuk Matsumoto agar mengizinkan Frayza dibawa ke Tokyo bersamanya. Matsumoto memperingatkan Kenzo, bila sekarang Hikashi orientasi suah berubah. Jadi besar kemungkinan bila Hikashi akan benci bila melihat Frayza. Karena Hikashi sudah sembuh dari penyakit paranoidnya. Kenzo menyetujui syarat Matsumoto dan membawa Frayza ke Jepang bersamanya. Dan keberangkatan mereka sudah dijadwalkan sesuai arahan Matsumoto.


“Kenapa Kenzo di Singapura?”


“Emmbb anu Tuan Muda, dia sedang mencari koneksi disana. Bukankah Perusahaan komestik kita sedang mencari wajah Asia untuk pemasaran iklannya?”


“Oh, siapa kandidatanya?”


“Sa-saya belum menerima sampel mereka, Kenzo sedang berada diperjalanan menuju Jepang.”


Mengulurkan tangannya dan memeriksa status penerbangan Kenzo, Hikashi melihat datanya. Dalam harinya, Matsumoto berharap agar Hikashi tidak melihat nama Frayza didalamnya. Semoga Dokter sudah menghapus ingatannya itu.


“Berikan saja tiga kandidat kuat, aku sendiri yang akan menyeleksinya.”

__ADS_1


“Baik Tuan Muda.”


Beruntungnya Matsumoto, Hikashi tidak banyak bertanya macam-macam. Sekarang dia mendampingi Hikashi pergi bekerja di pabrik pembuatan komponen elektronik.


__ADS_2