
--- THAILAND ---
Pesawat tempur yang membawa Ramon kembali ke tanah airnya sudah mendarat di pangkalan udara.
“Jendral, aku tidak percaya kau masih hidup.”
“Apa begini memperlakukan Jendral dengan tangan terborgol seperti ini?”
“Maafkan kami, Jendral. Jika membuatmu tidak nyaman, ini perintah atasan.”
Ramon digelandang masuk ke militer yang membesarkan namanya. Dia dikembalikan ke negara asalnya agar tidak melanglang Buana kepenjuru dunia lagi. Sebanarnya alasan Ramon pergi dari tugas dan tanggungjawabnya karena ia kecewa. Beberapa fase kehidupan dan dipertemukan dengan kejadian sehingga penyesalan menjadi trauma.
“Ayah anda sudah menunggu di kantornya.”
“Untuk apa dia mengakuiku sebagai anak, aku pikir dia sudah merayakan kematianku dengan suka cita.”
“Jendrallll, jangan begitu. Dia amat merindukanmu selama kau pergi tanpa kabar. Ayolah, berdamai sejenak.”
“Raf, aku peringatkan jangan menjadi juru damai antara kami. Hubungan kami sudah berakhir saat ia mencopoti pangkatku!”
“Kita sudah hampir dekat, sebaiknya kalian berdiskusi dengan baik saja.” Raff membuka pintu. Disana ada seorang pria berambut putih yang duduk menatap jendela dengan mendengarkan musik patriotisme.
“Lapor, Jendral Ramon sudah tiba.”
“Hemmmb,” kibaskan tangannya.
Ramon enggan berjalan maju dan mempertahankan kakinya agar tetap diposisi ia berdiri.
“Ayolah, maju sedikit dekati dia.” Bisik Raff.
“Ck,” berdecit kesal.
Kemudian Raff keluar yang menutup pintu rapat-rapat agar kedua orang pria ayah dan anak ini bisa berbicara secara leluasa. Nasib Ramon akan berlanjut lagi di Thailand tanpa Frayza dan Dokter Kelvin. Kali ini dia benar-benar sendiri tanpa tim.
*
*
*
---- SINGAPURA ----
Pesawat jet pribadi milik Hikashi yang dibawa kabur sudah siap landas terbang. Kenzo yang sudah membawa Frayza dipastikan akan ikut diperjalanan ini.
“Sebelum kau membawamu pergi, ada satu keinginanku.”
“Nona, kau sudah cukup banyak membangkang Tuan muda.”
“Aku tidak akan meninggalkan tanah kelahiranku jika tuntutanku tidak dipenuhi.”
“Nona, ini sudah perintah. Urusanmu disini sudah ditangani oleh Ketua matsumoto. Aku pastikan musuh-musuhmu akan masuk penjara dengan hukuman gang berat.”
“Bukan itu, sebelum aku dibawa pergi. Ijinkan aku untuk berbela sungkawa atas kematian Ibuku. Aku ingin memberikan penghormatan terakhir untuknya.”
“Nona, apa bisa menjamin sesuatu yang bisa ku percaya?”
“Borgol saja tanganku dan pasang alat pelacak ditubuhku. Kemana pun aku pergi kau bisa menemukannya.”
“Emmmmb,” Kenzo iba karena ini adalah upacara penghormatan untuk ibu Frayza. Dia meminta ijin kepada Matsumoto untuk syarat Frayza sebelum dibawa pergi.
“Aku berjanji, akan menjadi tawanan kalian.” Frayza sudah bermuka datar karena ia berusaha membujuk Kenzo yang keras.
Karena keinginan keras Frayza kepada Ibunya yang telah meninggal. Akhirnya Matsumoto memberikan tambahan kelonggaran jam. Selain kesempatan terakhirnya memberikan penghormatan kepada Ibunya. Frayza ini memberikan sesuatu barang penting yang dia miliki.
__ADS_1
Rangkaian bunga karangan memenuhi badan jalan. Beberapa orag keluar dengan wajah yang tidak biasa. Mereka berbisik-bisik seolah mengomentari akhir hidup Barbara. Kenzo memberikan pengawalan ketat selama penghormatan. Sehingga para tamu yang datang sedikit keheranan siapa wanita yang datang ini.
“Hiks... Hikss... Bu, maafkan aku sudah melibatkanmu dalam masalah kematian Ayah. Huhuhu... “ bercucuran air mata Frayza melihat jasad ibunya yang sudah terbaring.
“Nona,” Kenzo memberikan sapu tangan untuk menyeka air mata.
“Bu, sekarang kau bisa bersama Ayah (meletakkan kalungnya yang berasal dari abu kremasi Adamson) dammm-damailah bersama Ayah, Bu huhuhu... Bu, sejak aku kau asuh pernahkah kau bangga memiliki Putri sepertiku? Aku ingin kau hidup sekali lagi dengan mencintaiku seperti kau mencintai adik-adikku hik hiks hikssss...” perlahan suaranya ia ucapkan, Kenzo berkaca-kaca bola matanya mendegar rintihan pilu Frayza. Dia sesekali mengalahkan kepalanya agar airmatanya tidak ikut menetes.
“Nona, aku turut belasungkawa sedalam-dalamnya.” Kenzo akhirnya duduk bersimpuh berada di belakang Frayza.
“Terimakasih Kenzo, tolong jangan bawa aku pergi cepat-cepat. Ini adalah kesempatanku terakhir. Aku ingin menatap lebih lama wajah Ibuku?” Kenzo mengangguk mengijinkan.
Kedatangan Frayza ini yang tidak biasa menjadi buah bibir para pelayat. Sampai berita ini terdengar ketelinga Franda. Dia penasaran dan ingin melihat siapakah orang yang menjadi pusat perhatian ini.
“Maaf, ada hubungan apa anda dengan Ibu kami?” tanya Franda dari belakang Frayza.
“Aku, “ Frayza tak tahu harus menjawab jujur atau berbohong lagi. Dia menoleh ke Kenzo dan menggelengkan kepalanya (artinya Kenzo tidak mengijinkan Frayza membuka identitas aslinya).
“Terimakasih karena anda mau mendoakan Ibu kami yang malang, atas nama keluarga saya sangat tersentuh dengan ketulusan Nona.” Franda berbicara sopan karena ia belum melihat wajah Frayza. Orang yang paling ia benci.
Julian hafal betul perawakan siapa ini, dia mendekati Frayza dari arah samping. “Ya, Tuhan...” ia tertegun seolah melihat hantu. Padahal sebelumnya dia melihat sendiri jika Frayza dikunci dan dibakar didalam gedung. Saat Franda mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Frayza yang masih duduk bersimpuh. Uluran tangan Franda segera Julian tepis karena dia tidak ingin Franda kaget. Jika Frayza masih hidup.
“Eh Kak, nanti kita sala lagi tamunya. Sebentar lagi kau akan pidatk mewakili ayah didepam lara pelayat.”
“Oh baiklah,” Franda menuruti keinginan Julian.
Akhirnya Frayza bisa bernapa lega tidak menjadi bulan-bulanan Franda. Dia bangkit kemudian menyelesaikan doanya.
“Kenzo, sekarang aku menyerahkan diri. Terserah kau mau membawaku, terimakasih sudah memberikan kesempatan untukku memberi penghormatan terakhir kepada Ibuku.”
“Nonaaa,” Kenzo terenyuh mendengar ucapan Frayza yanh melankolis.
“Ayo berangkat,” Frayza berjalan.
Tuk.. Tuk... Julian mengetuk kaca jendela. “Kak... Kakakkkk buka pintunya.”
“Buka saja Nona, mungkin adik anda ingin bicara penting.” Kenzo mendorong Frayza agar membuka kaca jendelanya.
“Haaaahhh ini benar kau, eh maksutku Kak Frayzaku?”
“Hu’um,” Frayza mengangguk mengiyakan jawaban Julian.
“Terimakasih Kak, karena kau sudah berkenan datang di upacara kematian Ibu. Aku senang melihatmu selamat dari kebakaran itu. Kak, maafkan aku sudah banyak membuat salah dan kejam kepadamu.”
“Kakak sudah memaafkanmu Adikku Julian, kemarikan kepalamu.”
“Kenapa?” dia membungkuk.
“Jangan nakal ya, lekaslah menjadi dewasa. Jaga Franda baik-baik ya, tolong rahasiakan keadaanku sekarang dari siapapun. Aku pamit pergi dulu, mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita.” Mengacak-acak rambut adiknya.
“Ka~~~~k kenapa kau bicara begitu,” Julian merengek.
“Maaf Nona, waktu kita sudah tidak banyak lagi.” Kenzo memotong obrolan mereka berdua.
“Kakak pergi dulu ya, selamat tinggal.”
Julian sedih dia harus mengalami masa sulit dan kehilangan yang bertubi-tubi dalam hidupnya. Dadanya sesak karena ibunya tiada, ayahnya masuk penjara dan Frayza yang dibawa pergi entah kemana. Tak terasa ia menitikkan air mata dan menyekanya dengan jari telunjuk.
Dari kejauhan Matsumoto sudah berada di mobil Polisi. Rencananya hari ini akan ada penangkapan untuk Franda. Tapi melihat kepasrahan Frayza menyerahkan diri, ia menahan diri dulu. Biarkan Franda mengurus pemakaman ibunya sampai selesai. Baru akan ditangani pihak berwajib untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya.
“Untuk kasus ini tolong jangan libatkan si bungsu.”
“Baik Tuan Matsumoto.”
__ADS_1
Dan Matsumoto pergi berlalu, Polisi batal menggelandang Franda. Agar terfokus untuk mengurus jenazah Barbabara sekarang. Sekarang ini Matsumoto juga bersiap menyelesaikan tuntutan hukum. Para tim pengacaranya dipersiapkan untuk perang di pengadilan.
“Kau darimana saja, aku sekarang sendirian.”
“Maaf Kak, tadi aku mencari pengisi daya. Ponselku batrenya habis hehehe.”
“Oh,” membulatkan bibirnya.
“Kak, kedepan biar aku menjagamu ya.”
“Kenapa kau bilang begitu kepadaku, ada angin apakah hai Julian?”
“Karena kau Kakakku tersayang,” memeluk Franda sambil membayangkan jika itu Frayza yang dipeluknya.
Suatu kelegaan mengetahui Frayza masih hidup kembali dari 2 kematian yang hampir merenggut nyawa. Sekarang Julian memiliki tugas berat, setelah ujian ini. Di dalam hati, Julian mendoakan agar arwah ibunya bisa tenang dan bahagia. Biar kehidupan ini berlanjut sebagaimana semestinya kehendak Tuhan. Walaupun rencana manusianya tinggal wacana saja.
*
*
*
Frayza tampak lesu, sepanjang perjalanan ia melamun dan sesekali meneteskan air mata. Dia membayangkan andai saja ibu dan ayahnya bersatu. Mungkin nasib buruk ini tidak terjadi padanya. Namun, kenyataannya bahwa Frayza menikahi Hikashi. Yang memiliki anak dengan Franda. Itu artinya dia seolah mengulang kisah yang sama seperti orang tuanya. Frayza pergi meninggalkan Hikashi dengan tujuan agar Franda bisa bersatu dengan Hikashi. Namun, semuanya salah tidak seperti dugaannya. Franda malah ikut terlibat konspirasi penculikannya bersama Damora.
“Nona, apakah kau membutuhkan sesuatu?”
“Tidak, hehehe.” Menyimpulkan senyum kecil.
“Tunggu sebentar,” Kenzo turun dan masuk ke toko. Dan tak lama kemudian dia keluar membawa kaleng minuman dingin.
“Eh apa ini?”
“Soda, saat perasaanmu sedang sedih busa soda dalam tenggorokan akan memecah kesedihanmu heheheh.”
“Kau bisa saja, terimakasih.” Bersulang.
“Nona, tidakkah kau sedikit saja memikirkan Tuan muda Hikashi?”
“Hehehe dia adalah pria terkuat dibumi ini, tidak ada yg ia takuti. Jadi untuk apa aku khawatir.” Tanpa disadari bibirnya tersenyum tapi air matanya menetes sedih. Dia benar-benar merasa bersalah kepada orang-orang yang disulitkannya.
“Nona, sebenarnya ini rahasia yang tak boleh aku beritahukan. Karena ini menyangkut nama baik Kerajaan. Tapi kondisi kesehatan mental terganggu dan kambuh lagi.”
“APA?” Frayza menjatuhkan kaleng sodanya kagetnya menerima kabar buruk suaminya. Dia semakin bersalah dan takut melihat keadaan Hikashi.
“Sebenarnya Tuan Muda sangat terpukul karena kejadian itu. Dia terus-terusan bersedih sehingga pihak Istana memutuskan untuk merawatnya di Jepang. Nona, engkaulah penyebab semua penderitaan Tuan Hikashi sembuh. Jika kau mau menebus kesalahatan terfatalmu, seluruh nyawa anggota keluargamu tidak akan termaafkan. Termasuk Jade, putra kandung Tuan Hikashi.”
Gigi Frayza bergerak, dia kali ini ketakutan mendengar penuturan Kenzo yang mencengangkan. Kondisi Hikashi diperburuk dengan tekanan mentalnya. Bahkan obat bius menjadi alternatif menenangkan emosinya saat tinggi.
“Nona, jika bisa waktu diputar kembali. Sebenarnya aku kemari atas perintah tuan Hikashi agar kasus kematian ayahmu dibuka untuk disidangkan. Beliau tidak ingin anda tahu ia mengungkap fakta dibalik kematian Tuan Adamson. Karena beliau ingin agar anda fokus berumah tangga, karena sejak kecil Tuan Hikashi haus kasih sayang dan berperangai dingin. Setelah anda datang, kemudian membuatnya terpesona. Seolah tersihir olehmu, sampai dia melanggar etika saat itu menyukaimu yang menyamar menjadi lelaki. Sampai hal tergila yang aku tahu kau menjadi sempurna seperti sekarang hehehe, ini sungguh gila.” Komentar kenzo yang getir.
“Maafkan aku,” nada pelan dan lembut.
“Kata maaf tidak cukup Nona, apalagi kesalahan fatal.”
Pesawat sudah bersiap terbang ke Jepang, Frayza kakinya bergetar hebat. Dia merasa takut akan bertemu Hikashi yang konon katanya memburuk keadaanya.
“Nona, pesawat akan lepas landas. Jangan terlalu lama berjalannya.”
“Aku... Aku ingin kabur saja, dan biarkan aku mati seperti Hikashi yakini.”
“Maaf, kau sudah terlambat Nona.” Kenzo menghalangi Frayza dengan tangannya.
“Aku takut bertemu dengannya, dosaku terlalu banyak hihihihi hiks hikssss.”
__ADS_1
“Masuk dan duduklah dikursi, perjalanan kita sudah memakan waktu yang banyak.” Kenzo menekan mental Frayza secara terus-menerus agar Frayza tahu bila Hikashilah yang menjadi korban cintanya.