
“Pangeran Hikashi, saya mau datang menjemput Dayang Frayza.”
“Dia masih tiduran diranjang,” mengancingkan lengan bajunya.
“Baiklah kalau begitu saya akan memaksanya keluar, permisi.”
“Biarkan dia istirahat, kenapa kau begitu kasar kepadanya?”
“Menurut aturan Istana, Dayang harus melapor ke humas kedisiplinan. Jika tidak...”
“Jika tidak apa?”
“Maka dia akan diusir dan dimasukkan dalam hitam karena tidak disiplin.”
Sepertinya Hikashi benar-benar harus memberi pelajaran kepada Bibi Aciko ini. Dia duduk dan berpikir ucapan apa yang harus ia lontarkan tanpa menyakiti perasaan wanita tua ini.
Sambil duduk di kursi dan menjentikkan jarinya dimeja, Hikashi menarik napas terlebih dahulu. “ Kau tidak perlu punya urusan lagi dengan Frayza. Karena hari ini juga dia akan keluar dari Istana ini.”
“Tapi dia harus menjalani hukuman atas ketidak disiplinannya sebagai calon dayang Istana, Pangeran.”
“Siapa yang berani menghukum istriku, maka dia akan aku tebas kepalanya! “
“Istri,”
“Yah, Frayza adalah istriku. Aku sebenarnya sedang salah paham, oleh karena itu kami bersiteru. Sekarang kau pergi dari Istanaku dan minta maaf kepada Istriku.”
“Maafkan saya, Pangeran. Tapi pernikahan tanpa ijin Istana dianggap tidak sah.”
“Sah atau tidaknya pernikahan kami sudah diakui oleh Negara. Dan sekali lagi kepuringatkan kepadamu, jangan besar kepala karena sudah bekerja puluhan tahun di Istana. Aku berjanji bila istriku kau lukai, maka seluruh keluargamu akan berurusan dengan Yakuza.”
Bibi Aciko mundur pelan-pelan karena ancaman Hikashi, walaupun dia tidak percaya soal Hikashi yang menyinggung pernikahan. Datanglah Aiko kembali ke Istana Hikashi, kali ini dia melakukan kunjungan seperti biasanya. Setelah beberapa hari ia tidak menampakkan Batang hidungnya.
“Sedang apa kau disini?”
“Saya sedang menjemput calon Dayang yang melayani Pangeran Hikashi.”
“Dayang? Apakah ria perempuan?”
“Benar Tuan Putri.”
“Fiuuuhh, ternyata aku sudah ketinggalan berita ya. Beberapa hari aku tidak melakukan kunjungan ada wanita menyusup masuk. Ku harap dia tidak menggoda Pangeran Hikashi.”
“Maaf jika saya lancang sebelumnya Putri Aiko, bukankah anda calon tunangan Pangeran Hiroshi. Untuk apa sepagi ini datang kemari? Bukannya Pangeran Hiroshi jauh lebih berhak mendapat perlakuan terhadap istimewa ini?
“Aku hanya mengantar makanan dan buah-buahan tidak lebih, kau pikir aku sedang apa.” Mengibaskan rambutnya seolah kepanansan.
Hikashi kesal karena dua orang wanita yang berisik ini mengganggu paginya yang cerah. “Haaaaiissssshh, pergi kalian semua dari sini. Pergi!” usir Hikashi. Kemudian ia masuk ke kamar dan menguncinya. Dia melihat Frayza terbangun hendak meraih air minum.
“Biar aku saja, kau jangan banyak bergerak. Ingat lukamu masih basah.”
“Terimakasih, diluar ara apa ribut sekali?”
“Hanya kucing berebut ikan di meja, jangan khawatir Sayang. Nanti kita akan meninggalkan tempat ini.”
“Kita mau ke Inggris?”
“Emmmhh tidak, kita akan pindah tempat tinggal.”
“Aku rindu Jade, kapan kita kembali ke Inggris?”
__ADS_1
“Rindunya ditahan dulu ya, Ayahnya Jade lebih rindu lagi kepadamu hemmb mengerti hehehe. “ menyatukan kening mereka berdua.
“Sayang, aku juga merindukanmu sepanjang waktu juga kok. Sekarang kita kan bersama, tapi Jade seorang diri dan masih bayi.”
“Ingat pesanku apa? Ketika bersama suamimu jangan pikirkan hal lain. Ketika kau tidak bersama suamimu, kau wajib ingat suamimu. Yaitu aku, prioritas utamamu adalah aku. Dan Jade sudah dibawah pengawasan Patrick. Aku tidak suka kau membahas hal lain, urusan kita disini lebih penting.”
Sepertinya Hikashi tidak peduli dengan ocehan istrinya, saat ini yang terpenting ialah pekerjaannya segera selesai. Setelah beberapa waktu lalu dia menundanya. Kenzo datang menjemput mereka ke kediaman baru. Setelah kejadian di taman labirin yang berdarah. Hikashi membeli sebidang tanah yang luas. Lebih tepatnya menjadi rumah peristirahatannya. Perjalanan ke pusat kota memakan waktu kurang lebih 1jam perjalanan.
“Aku pikir di Kota yang modern tidak dapat menemukan tempat seperti ini.”
“Kenapa? Kau heran?” mendengus manja di leher wanitanya.
“Tempatnya sangat Indah, banyak pepohonan dan asri. Seperti rumah masa tua.”
“Aihhh, kenapa kau bicara tua. Kita akan tetap muda selamanya. Tarik ucapanmu soal tua-tua itu. Dasar wanita, tidak membicarakan hal yang menakutkan kenapa.”
“Baiklah sayang, maafkan aku sudah menakutimu. Kita akan tetap menjadi orang tua yang awet muda untuk selamanya hehehe.”
“Aku senang mendengarnya Sayang hihihi.”
Seperti apa dulunya Hikashi? Seorang pria yanh memiliki raga yang Indah, tapi sifatnya buruk. Seperti apa Hikashi sekarang? Seorang suami yang mencintai keluarganya. Membuat iri banyak wanita.
*
*
*
Aiko dan Bibi Aciko masih terpaku usai kepergian Hikashi dari Istana. Aiko menuding Bibi Aciko sudah mengganggu kesenangan Hikashi. Sehingga tidak betah berada disana.
“Jika dia bersama Dayang ataupun Selir, biarkan saja. Apa urusanmu!”
“Apa kau pikir wanita dan Istana itu hal tabu lagi?”
“Kau terlalu berpikir bila Hikashi berseleea dengan seorang dayang? Oh ayolah Bibi Aciko, buka pikiranmu. Beda kasta tidak pernah diterima dalam bentuk apapun!”
“Saya tetap menaruh curiga, karena Pangeran Hikashi mengatakan bila sudah menikah di luar negeri.”
“Apa? Lantas kau percaya begitu saja?”
“Begitu ucapannya Pangeran Hikashi, jadi saya sedikit meragukannya.”
“Dengarkan aku baik-baik wahai Bibi Aciko. Tidak ada pernikahan yang resmi tanpa ijin Kerajaan. Pernikahan macam heh!”
Aiko terlihat kesal dengan bibi tua yang selalu ikut campur urusan penghuni istana. “Bisa-bisanya dia menfitnah Hikashi, bisa saja kan kalau Hikashi hanya bercanda sekedar menggertak Bibi tua itu. Dasar, pengganggu saja.”
Aiko keluar dari Istana Hikashi sambil. Mengomel-omel. Kekecewaan jelas tampak diwajahnya. Dia tidak melihat sosok Frayza yang dibawa keluar melalui pintu belakang. Sehingga baik Bibi Aciko dan Aiko terkelabui.
“Kalian bersihkan kamar Pangeran Hikashi cepat!” memerintahkan dayang-dayang istana.
“Bibi Aciko, semua barang milik Pangeran Hikashi sudah tidak ada. Dan ini baju Yukata milik Frayza tertinggal diatas ranjang.”
“Jadi mereka memutuskan untuk pergi, aku harus segera melapor ke Pangeran Hiroshi kalau begitu.”
Membawa bukti dan beberapa potong percakapannya dengan Hikashi. Bibi Aciko menemui Hiroshi yang sedang memberi makan burung kesayangannya.
“Ada hal penting apa membawamu kemari.”
“Tadi pagi Pangeran Hikashi keluar dari istana dan membawa pergi calon dayang.”
__ADS_1
“Kemana perginya?”
“Saya tidak tahu Pangeran, hanya saja ketika saya hendak menjemput calon dayanh baru itu. Pangeran Hikashi marah tidak berkenan dengan sikap saya. Beliau juga mengatakan sudah menikah dengan calon dayang baru itu. Seorang wanita liar yang tidak tahu aturan.”
“Siapa namanya?”
“Frayza, saya menemukannya di kantin Istana waktu itu. Dia pernah bekerja disini ketika menjadi petugas keamanan saat peringatan upacara kematian Ayahanda Pangeran Hikashi.”
“Apakah dia gadis pendek dan kurus itu?”
“Iya benar Pangeran.”
“Abikan saja, dia membawa pergi istrinya sendiri. Itu tidak masalah, tugasmu sudah selesai. Pergilah.”
“Apa? Jadi mereka benar-benar menikah?”
“Iya, Bibi sepertinya kau mengalami gangguan pendengaran pada telingamu sehingga aku harus mengulanginya lagi.”
“Baik Pangeran Hiroshi, saya mengerti.”
“Hemmb, enyahlah.”
------------------------------------------
RUMAH BARU HIKASHI,
“Hahahaha, kau tahu ekspresi wajah Bibi Aciko saat aku bilang sudah menikah seperti apa?”
“Hahaha, seperti apa?”
“Kertas putih, dia sangat pucat saat kita sudah menikah di luar negeri.”
“Sayang, itu terlalu berlebihan untuk wanita seusianya.”
“Biarkan saja, dia sejak aku kecil memang selalu usil.”
“Apakah Bibi Aciko pernah menikah sebelumnya.”
“Hemmmmbb tidak pernah, dia melajang sampai di usia senjanya.”
Dahulunya Bibi Aciko adalah seorang Dayang Istana yang paling cantik dan pintar. Bisa dikatakan keahliannya diatas rata-rata dan hampir sempurna. Sayangnya dia bukan dari keluarga bangsawan atau keturunan kerajaan. Ketika ayah Hikashi masih hidup, dia sudah menjadi pelayan yang terdekat. Bisa dikatakan bila Bibi Aciko teman dekat. Karena cintanya bertepuk sebelah tangan, akhirnya Bibi Aciko membelot dan mendukung Raja yang sekarang. Sikap Bibi Aciko kepada Hikashi seperti ibu kepada anaknya. Memperlakukan Hikashi dengan keras dan disiplin. Berbeda dengan Ibu Hikashi yang seorang wanita Inggris yang lebih santai dan hangat. Bibi Aciko membuat kebencian Hikashi tumbuh. Karena sering menghukumnya bila dianggap melakukan kesalahan. Sedang Ibu Hikashi selalu menemani Ayahnya saat melakukan kunjungan. Oleh sebab itu, Bibi Aciko tidak suka bila Hikashi mengambil keputusan tanpa seijinnya.
“Sayang, bila Bibi Aciko berniat jahat kepadaku bagaimana?”
“Tidak akan aku biarkan hal itu terjadi, kemungkinan terburuk darimu bila terjadi. Maka aku akan berakhir sama sepertimu.”
“Kau jangan berhalusinasi seperti itu, mana ada lelaki yang rela melakukan segalanya hanya untuk seorang wanita. Mereka akan memperoleh dan mencari gantinya dengan mudah. Apalagi kau tampan dan kaya.”
“Kau bicara seperti ini seolah takut aku jatuh dipelukan wanita lain. Dan ingin mengatakan kepadaku jika kau terharu mendengar ucapanku baru saja. Kau pasti tersentuh bukan dengan ucapanku baru saja. Karena tidak ada pria yang sepertiku lagi.”
“Ckckckck bangga sekali kau ini, heran.”
“Wanita lain dimulut, lain juga dihati. Cepat minum. Obatmu, aku akan pergi bekerja lagi. Mungkin beberapa hari ini aku tidak mengunjungimu.”
“Kau mau kemana Sayang?”
“Aku akan ke beberapa Negara seperti India dan Afrika, ada pekerjaan yang harus aku tinjau. Mungkin aku akan disana untuk waktu yang lama, jadi lekaslah sembuh agar aku segera kembali.”
“Kalau sudah waktunya sembuh ya sembuh, tidak usah menyuruhku untuk cepat pulih juga kan.”
__ADS_1
“Jangan menyiksaku terlalu lama, aku pria normal dan beristri. Sudah wajar jika aku butuh melakukan kegiatan biologisku.”