TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
AKU SUDAH TAHU ALASANNYA


__ADS_3

“Fray, Sayang...kau ada dimana?” Hikashi tidak mendapati Frayza trrbaring disebelahnya. “Frayza, kau dimana?” Hikashi kebingungan mencari Frayza. Penghuni Villa tidak ada yang melihat, akhirnya Hikashi menyuruh Patrick datang ke Swiss.


Beberapa hari frayza menghilang dari kediaman, Hikashi sedih dan murung. Dia meminta Matsumoto untuk menunda urusannya di Singapura sementara. Dan ia ikut diterbangkan ke Swiss juga. Sudah hari ketiga ini Frayza menghilang, pihak Kepolisian akhirnya dilibatkan untuk melakukan pencarian. Ternyata Frayza berada disuatu perkebunan anggur milik petani lokal. Perkebunan ini sudah ditinggalkan pemiliknya, Frayza ditemukan pingsan di gudang penyulingan anggur.


“Sayang, kau sudah siuman?” Frayza mengangguk saat Hikashi bertanya.


“Tuan Hikashi, kenapa kau baik kepadaku?”


“Baik?” heran dengan pertanyaan Frayza.


“Iya, kenapa kau baik kepadaku? Sudah jelas jika Ayahku wafat, dan aku mengalami goncangan mental.”


“Mustahil, ingatanmu sudah kembali.” Hikashi salah prediksi jika pengaruh hipnoterapinya bertahan sebentar saja.


“Tuan Hikashi, aku sudah bisa menerima kenyataan bila Ayahku tiada. Terimakasih sudah mengobatiku,” memeluk Hikashi erat.


“Sayangku... Akan aku lakukan semuanya apapun untukmu. Tidak sulit bagiku memberikan segalanya untukmu. Asal jangan kau minta mati dan pergi dariku yah?” pria itu melinangkan airmata.


“Tuan Hikashi, aku pergi tidak ingin merepotkanmu lagi. Diriku menjadi beban untukmu, semua yang telah kau lakukan padaku dimasa lalu. Banyak kekecewaan yang sudah aku lakukan padamu. Maafkan aku, Tuan Hikashi.


“Tidak apa-apa Sayangku, hiks hiks aku memaafkanmu kali ini. Jangan ulangi lagi hal bodoh seperti ini. Aku sangat panik mendapatimu tiada disebelahku. Hidupku jauh lebih berat dari yang kau alami. Aku ingin kau berada untukku sudah cukup. Tiada yang bisa melebihi sayangku kepadamu, aku rela berbohong kepadamu. Asalkan kau tidak sedih lagi. Karena kesedihanmu adalah nestapaku.” Hikashi memeluk erat Frayza seolah tak ingin dipisahkan lagi.


“Tuan Hikashi, kapan aku bisa pulang?”


“Kenapa tiba-tiba ingin pulang? Pulang kemana?”


“Kerumah kita, yang ada bayi dan Kenzonya.”


“Oh itu ya Sayang, aku pikir dimana. Kita tunggu Dokter Kelvin dulu ya, dia akan memeriksamu lebih rinci lagi. Kau istirahatlah dulu, selama tiga hari ini kau pasti kelelahan dan tidak cukup makan. Aku akan menjagamu, jangan khawatir.” Menggenggam erat tangan Frayza yang dingin.


“Tuan Hikashi, kenapa...”


“Sstttt, diamlah. Apapun yang aku lakukan untukmu adalah untukku juga. Yang harus kau ketahui, kau bukan Frayza Putri dari Barbara dan bagian keluarga Xi Huang lagi. Kau adalah Putri Adamson Lee.”


“Aku mau bertanya, pada malam hari sebelum aku pergi. Kau ingin mengajakku kemana?”


“Oh itu, sudah 2kali kau melakukannya. Aku jadi ragu untuk melakukannya lagi.”


“Apa?” penasaran.


“Tidak usah dibahas lagi, aku tidak nafsu membahas hal yang sama. Kau menggalkannya lagi, aku sudah bosan membuat kejutan itu.” Frayza tersenyum kecil menggigit bibirnya.


“Hai kau menggodaku ya dengan menggigit bibirmu heheheh?”


“Aku rindu padamu Tuan Hikashi,” kemudian mereka berpelukan lagi dan saling mencintai satu sama lain.


Setelah sehari dirawat di Rumah Sakit, Frayza kembali ke Villa. Dia melihat Kenzo tengah berjemur dengan bayi JD. Namun, Hikashi melarang Frayza mendakati bayi JD karena alesan dari Rumah Sakit. Tampak Patrick menyiapkan kudapan segar diatas meja.


“Dialah Patrick, pengurus rumah tangga kita sekarang.”


“Selamat datang kembali Nona Frayza, senang berkenalan denganmu.”


“Dan kau tidak lupa kan siapa dia?” pria plontos yang sibuk berbicara lewat ponsel.


“Tuan Matsumoto, majikanmu bukan hahahaha.”

__ADS_1


“Nakal! Dia pengawalku, aku pura-pura menjadi pegawainya. Akulah Bos disini, catat baik-baik itu.”


“Tuan Hikashi, aku hanya bercanda kok cuph.” Mencium pipi Hikashi spontan.


“Apa barusan ini?” mengusap pipinya.


“Terimakasih sudah membohongiku, hehehe.” Bergelayut dilengan kekar Hikashi.


“Manjanya kau ini Sayangku ckckckckck.” Hikashi senang dengan sifat manja Frayza ini. Sikapnya menjadi lebih manis dan penurut. Setelah hilang beberapa hari dirinya kalut dan sedih.


Selesai berbicara lewat ponsel, Matsumoto memberitahukan tentang kemajuan kasus kematian Adam.


“Tuan Muda ternyata di baju yang dipakai terakhir kali Pak Adam ada sidik jari Tuan Simon.”


“Simon?”


“Iya, ayah tiri Nona Frayza.” Matsumoto mengatakannya dengan hati-hati takut menyakiti perasaan Frayza.


Lengan Hikashi merasakan remasan tangan Frayza yang tampak geram. “Aku akan menyelidikinya Sayang, kau jangan ragukan aku. Semoga Ayahmu bahagia disurga, jangan kau penuhi hatimu dengan amarah dan dendam. Itu tidak baik, mengerti.”


“Hiks.. Hikss... Tapi Ayahku sudah tiada.”


“Sssstttt, sudah biarkan Ayahmu pergi dengan tenang ya. Sekarang kau sudah punya keluarga baru. Ada aku dan bayi kita yang lucu.”


“Maksutmu anakmu dan Franda begitu!”


“Frayz, hffftttt (mengambil napas menahan emosi) dengarkan aku. Ketika aku tahu kau pernah hamil dan keguguran, Dokter sudah memvonismu sulit mengandung. Dan satu-satunya wanita di keluargamu yang masih satu ibu yaitu Franda. Aku butuh dirimu, tapi aku juga perlu garis penerusku.”


“Kau berselingkuh?”


“Lalu kau meniduri adik tiriku bukan!”


“Dia meminumkan racun penggugur kandungan pada kucing yang hamil. Aku tidak mau kehilangan bayiku, Fray. Jalan satu-satunya yaitu aku harus melakukan hal itu secara terpaksa. Dan kau melihatnya, lalu pergi mencampakkanku tanpa sempat memberikan aku kesempatan.”


“Hiks... Hiksss jadi kau sudah tahu semuanya tentang masa laluku yang hitam? Kenapa kau tidak pernah jujur sejak awal?”


“Nona Frayza, ijinkan aku menjelaskannya.” Matsumoto menengahi pembicaraan.


Hikashi pergi masuk ke kamar dengan amarahnya yang memuncah. Frayza seolah tidak mau mengerti tentang keadaan dirinya.


“Ketika Tuan Hikashi di kamar Franda, dia meminum anggur yang sudah diberi campuran obat perangsang. Otomatis Tuan melakukan pembuahan itu secara biologis. Sedangkan pada waktu itu Adik anda Franda sudah hamil jalan 2bulan. Itu artinya Tuan Hikashi sudah menyelamatkan nyawa calon bayinya. Beliau membeli rahim Nona Franda dengan sangat mahal. Karena Tuan Muda tidak mau menikahi wanita lain. Sedangkan Nona sendiri sudah tidak bisa memiliki anak lagi. Maafkan aku jika lancang dan ikut campur. Sebaiknya Nona Frayza pikir lagi, untuk apa Tuan Muda melakukan semuanya ini. Jika ia memiliki selir banyak dan jauh dari diri anda?” Frayza terpukul mendengar pengakuan Matsumoto. Dirinya sudah merendahkan Hikashi yang dulu pernah khilaf.


“Lalu pada malam itu apa yang sebenarnya ingin ia lakukan?”


“Baik pada malam pesta kembang api maupun malam terkahir saat anda paginya kabur. Tuan Hikashi sudah menyiapkan lamaran dan pengukuhan hubungan kalian. Seharusnya cincin dan buku nikah ini sudah menjadi milikmu. Nona, kau sudah mengecewakan pria yang berjuang.”


“Jadi dia serius kepadaku?”


“Tidak ada istilah permainan dalam kamus Tuan Muda Hikashi. Dia melihat kecelakaan dan kematian yang merenggut ayahnya. Serta ibunya yang diperlakukan buruk di Istana, hingga meninggal karena tekanan batin. Sejak kecil Tuan Hikashi sudah kehilangan keluarga, bahkan tahta Putra Mahkota yang sudah ia sandang sejak kecil harus ia relakan. Perlakuan buruk Bibi dan Pamannya membuat kebenciannya menjadi penyakit mental yang sulit disembuhkan. Sampai kau hadir datang menyamar menjadi pria. Sempat aku berpikir bila ia penyuka sesama jenis. Ternyata dia normal, dan kau perempuan yang seutuhnya. Nona, jagalah sikapmu dengan baik, seorang pria keturunan kerajaan dan berdarah bangsawan menyukaimu bukankah keistimewaan?”


“Huhuhuhu...” menangis pilu karena dirinya bodoh menyimpulkan keadaan.


“Jika Nona ingin pergi dari Tuan Hikashi, aku pastikan sulit mencari gantinya. Tuanku orang yang memiliki sisi kelam dan buruk, tapi karena cintanya kepadamu lah. Dia relakan hidup dan matinya untuk membahagiakanmu seorang.”


Perkataan Matsumoto ini membuat Frayza malu untuk mengakui kesalahannya yang sudah menuduh Hikashi yang tidak-tidak. Dia awalnya ragu untuk menyusul Hikashi berada. Kedipan mata Matsumoto mendorongnya untuk lekas menemui Hikashi yang sedih.

__ADS_1


Tok... Tokk... “Tuan Hikashi, bolehkah aku masuk?” Frayza tak menunggu jawaban dan langsung masuk.


“Untuk apa kau kemari!” dia bertelanjang dada berdiri menghunuskan pedang kelantai.


“Menerima hukumanku, aku sudah lancang kepada Tuanku Hikashi.” Frayza berlutut dan membuka bajunya. Hal yang serupa dilakukan para selir-selir untuk disiksa. Frayza membungkukkan tubuhnya seperti bersujud. Tanpa sehelai benangpun menempel di kulitnya.


“Cih!” enteng Hikashi.


“Silahkan hukum hamba Tuanku,” ucap Frayza agar Hikashi menyiksanya.


“Pergilah kemanapun kau hendaki, kau sudah merendahkan perasaanku. Aku tidak akan memandangmu lagi, kau bebas mulai sekarang.” Hikashi melemparkan pedangnya begitu saja. Dirinya sudah lelah dengan semua hal konyol ini. Dia akan menjadi dirinya yang dulu. Melanjutkan hidup tanpa Frayza.


“Tuan, jika kau membuangku ijinkan aku memperbaiki kesalahanku sebelum pergi.”


“Kau sudah kehilangan hak istimewa dariku. Jadi, jangan pernah muncul dihadapanku.” Tampaknya hikashi sudah terluka dan kecewa.


Frayza mengambil pedang dan menghunuskannya didepan perutnya. Ketika pedang itu hendak diayunkan menghujam perut Frayza. Hikashi merampas pedang hingga tangannya berdarah. “KAU!”


“Aku mencintaimu sampai akhir hayatku, tubuhku bisa hidup dan pergi jauh. Tapi ragaku sudah menjadi milikmu Tuan. Daripada aku hidup tapi mati rasa lebih baik aku matikan diriku.”


“BODOH!” melemparkan pedang itu kesembarang tempat.


“Tuan Hikashi,maafkan aku yang sudah menyakitimu. Ampuni aku,” Frayza bersujud lagi dan memohon ampunan.


Hikashi sudah menetikkan airmatanya,dia melihat kesungguhan Frayza pada dirinya. Akhirnya gadis itu mau mengakui bahwa dirinyalah Cinta sejatinya. “Bardirilah,” menutup tubuh Frayza yang polos dengan selimut.


“Tidak, aku mohon ampuni aku tuan muda hiks hiks...”


“Obati dulu lukaku, tanganku berdarah.” Tangan Hikashi meneteskan darah segar yang mengucur derah.


Ketegangan ini terjadi untuk mengurai benang kusut rentetan peristiwa dimasa lalu. Akhirnya Frayza mau menerima alasan Hikashi. Yaitu Franda mengandung anak Hikashi. Dan sebenarnya dulu Hikashi dijebak Franda karena sudah dalam pengaruh obat-obatan. Dan hal itu akhirnya terjadi tanpa kesadaran penuh.


Sekarang tangan Hikashi sudah terbalut perban menutupi lukanya. Sejak peristiwa tersebut, Frayza banyak mengurung diri dikamar. Sesekali dia menemui Jade (nama bayi tersebut) untuk melatih kemampuannya mengasuh bayi dari Kenzo. Kenzo lebih berpengalaman dan luwes daripada Frayza. Perubahan ini tak serta merta membuat Hikashi mau bicara dengan Frayza, ia sibuk bekerja dibantu Matsumoto diruangan kerjanya. Terkadang Hikashi pergi hingga beberapa hari untuk keperluan rapat dan undangan.


“Tuan Muda, sampai kapan anda bersikap dingin kepada Nona?”


“Sampai dia bisa menerima Jade sebagai anak kandungnya.”


“Ku lihat Nona ingin menyapa anda, tetapi sikap anda masih enggan.”


“Aku sudah memaafkannya sejak ia ingin menghujamkan pedang ke tubuhnya. Sebenarya aku ingin tertawa, ternyata dia bisa berbuat nekat juga hahahaha.”


“Jika Nona tahu anda sengaja acuh, mungkin sekarang dia anak meloncat dan menggigit anda Tuan, hahahaha.”


“Rahasiakan ini,” memperlihatkan sepasang cincin kepada Matsumoto.


“Jadi Tuan akan...”


“Ssssstttt... Jaga rahasia ini sampai aku tiba dirumah. Aku ingin lihat kepatuhannya sebagai wanitaku, huftt. Sudah lama rasanya tidak mencumbunya, mungkin dia rindu belaianku hehehe.”


“Sama,eh keceplosan.”


“Kau punya kekasih?”hikashi menangkap tabiat aneh Matsumoto.


“Aku sebenarnya sudah berkencan dengan Kenzo.” Malu-malu mengakuinya.

__ADS_1


“Kau dan Kenzo pfffffftttttt hahahahahahahahaha. “


__ADS_2