TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
WANITA SULIT MELUPAKAN


__ADS_3

Pelayan yang membersihkan kamar Jade menemukan amplop surat resmi dari sekolah.


“Tuan-Nyonya akan pergi kemana?”


“Hari ini aku ingin memakan masakan istriku, ada apa?”


“Saya ingin menyerahkan ini, surat pemanggilan wali murid.”


“Biar aku saja yang baca.” Melihat isi surat yang terlampir didalamnya. Sedikit mendengus dan menarik napas lebih dalam.


“Sayang, apa isinya?”


“Hmmmb hanya konsultasi terhadap wali murid di kelas Jade. Aku masak untukmu ya Suamiku Sayang.” Ia mengalihkan topik pertanyaan Hikashi.


Hikashi merasakan aura pengantin baru hidup berdua dengan istri cantiknya yang pandai memasak. Dimulai dari mandi bersama, dipakaikan baju, menyisir rambut, mengoleskan krim dan menyemprot wewangian. Pria itu seperti tersihir oleh pelayanan istrinya. Dagunya ditopang kedua telapak tangan. Matanya tak lepas dari pantauan gerakan istrinya. Sesekali ia harus tersipu malu saat ketahuan mencuri pandang. Dan hatinya semakin berdenyut kencang, saar Frayza mengerucutkan bibirnya dan berdecit ‘muach’ ciuman jauh untuknya.


“Sayang apakah nanti aku akan disuapi?”


“Memang tanganmu sakit?”


“Ehhhmmmbb tidak.”


“Lalu apa yang terjadi? Apakah sudah rematik?”


“Hush kau ini!”


“Hehehe iya Suamiku nanti aku suapi ya.”


“Duduk dipangkuanku ya, nanti aku peluk.”


“Hehehe begitu ya konsepnya.”


“He’em.” Mengangguk seperti piaraan yang menurut dengan majikan.


Patrick keluar membawa perlengkapan yang diperintahkan Frayza. Bahkan membawa 2 unit sepeda untuk mereka gunakan nantinya. Sepertinya harapan Hikashi berkemah di alam terbuka akan segera terwujud. Mengingat kedua kecebongnya sudah diungsikan di Villa.


*


*


*


VILLA,


Tatapan tidak senang terpancar dari bola mata kecembongnya ini. Kehadiran ayah mereka disambut tidak antusias oleh anaknya sendiri. Sedangkan Hikashi dengan acuh datang memamerkan alat pancingnya.


“Seven kenapa Papa kemari?”


“Iya, kenapa ia kemari. Saat semua makanan sudah matang ia datang.”


“Aku yakin Papa kekurangan makanan dirumah. Dan disuruh pergi Mama, makanya ia kemari.”


“Aku rasa Kenzo yang memberitahukan kita makan besar, Jade.”


“Iya, aku rasa juga begitu. Sejak tadi ia sibuk bermain ponsel bilang ‘Oke Bos’ ternyata Papa.”


“Hufftt.” Sebal


“Sudahlah Jade, kita pura-pura antusias saja. Kasihan Papa kalau tahu sebenarnya kita khawatir ia menghabiskan jatah kita.”


Hikashi mengeluarkan seluruh isi bagasinya. Tentu saja dirinya tinggal memerintah Kenzo dan menyapa kecebongnya.


“Hai Nak, Papa boleh ikut bergabung dengan kalian kan?”


“Iya Pa, silahkan.”


“Papa ada angin apa kemari?”


“Ayolah Jade, jangan buat Papa marah. Mama tidak ada disini, tidak ada yang bisa mengatasi Papa.”


“Aku sebal, Dik.” Bisiknya pelan.


“Uhuk, kau panggil apa baru saja tadi ‘Dik’?”


“Hai anak-anak kenapa kalian saling berbisik didepanku. Apa kalian tidak suka Papa ikut bergabung kemari?”


“Kami hanya membahas porsi makanan kami yang pas untuk 4 orang saja Papa.”


“Oh Jade, kau jangan khawatirkan hal itu. Tadi pagi Mama mu sudah memasak untuk bekal Papa kemari.”


Aroma menyeruak keluar ketika tutup panci dibuka. Hidangan berkuah ini menjadi lebih terlihat menggoda daripada daging bakar mereka.


“Kalian bisa menikmatinya bersama Papa.”


“Jade, ayo kita icipi.”


“Tidak, aku tidak tertarik dengan bakso.”


“Slruppp ah.”


Tesh, air liur Jade menetes melihat Seven menyerutup kuah gurih daging. Awalnya ia acuh tak acuh dengan makanan yang asing. Tapi matanya terus mengarah pada makanan yang terhidang diatas meja.


“Kenzo, sisakan ini untuk Frayza kalau nanti datang.”


“Baik Tuan.” Semangkuk penuh bakso berisi kuah dan iga akan disimpan.


Kedua putranya heran, tidak biasanya ayah mereka bisa lepas dari ibunya. Apakah kedua orang tuanya sedang tidak rukun? Pikiran anak hanya bisa menebaknya saja. Menjelang sore tiba, Hikashi pergi bersama Kenzo ke sungai untuk memancing. Jade dan Seven ikut melihat aksi ayahnya.


Didirikanlah tenda untuk mereka bermain didalamnya. Karena bosan dan menunggu Hikashi selesai mancing. Kedua anaknya tertidur didalam tenda. Sampai akhirnya malam pun tiba, kobaran api unggun sudah dinyalakan. Tenyata Hikashi tidak buruk juga dalam memancing ikan. Aroma ikan segar yang dibakar itu menyusup masuk kedalam tenda. Membuat perut keduanya keroncongan lagi. Liburan ini di isi makan dan tidur.


“Mama...” teriak Seven.


“Hah Mama!” Jade menyusul keluar melihat apakah ibunya benar-benar datang.


Ternyata benar, wanita cantik dan lembut itu sudah duduk disebelah ayahnya. Kesempatan memeluk ibunya didahului oleh Seven. Ia hanya duduk disebelah seorang wanita beruban berambut cepak. Ialah Helena, yang ikut serta bersama Frayza. Dan tunggu sebentar, pria botak yang mengenyot permen lolipop ikut juga. Waw, ternyata Matsumoto dan Helena mengantar ibunya ke Villa. Sekalian mengajak berlibur juga kemari. Jade memang cocok dengan Matsumoto daripada dengan Kenzo. Setidaknya nanti ia tidak akan bosan disini. Ada teman bicara dan bercerita.


“Jade, ada yang Mama ingin tanyakan kepadamu.”


“Baik Mama.”


“Kemarilah Jade.” Perintah ibunya.


“Sayang, kenapa kau memanggil Jade saja? Lalu aku?”

__ADS_1


“Ehmmb baiklah, kau ikut juga kalau bagitu kita bicara didalam tenda bertiga.”


Orang-orang yang berada diluar tenda asik membakar makanan yang ada. Seven bersama Bibi Fang pasti aman tanpa ibunya sejenak. Ia tidak perlu khawatir jika ingin sesuatu, sudah ada pengasuhnya. Sementara itu Jade di dalam tenda tengah disidang.


“Pertama-tama Mama ingin minta maaf kepadamu Jade. Karena sebelumnya Mama sibuk mengurus Seven adikmu yang sakit. Apakah kau bersedia memaafkan Mama, Nak.”


“Iya Mama.”


“Baiklah, kalau begitu kedepan Mama akan lebih memperhatikanmu lagi Jade. Dan tadi Mama datang menemui Kepala Sekolah. Katanya kau berkelahi dengan teman sekelasmu ya?”


“Jade!”


“I-itu...” terbata-bata.


Hikashi langsung bereaksi dengan mengepalkan tangannya. Tapi ditahan Frayza agar tidak gegabah terhadap putranya.


“Sayang, tenang dulu. Kau jangan membuat Jade takut. Duduklah dengan baik dan biar aku yang bicara dengannya.”


“Hemmmb baiklah Sayang.” Menerut juga si bapak-bapak bucin ini juga sama pawangnya.


Kembali ke jade yang duduk kaku menundukkan kepalanya. Ia sudah prediksi hal ini pasti ketahuan oleh orang tuanya. Berarti surat pemanggilan dari pihak sekolah sudah sampai ditangan orang tuanya.


“Nak,” mengusap kepala anaknya dengan pelan. Tapi mata Hikashi melotot melihat istrinya yang tidak langsung marah dan memaki.


“Mama, aku mohon jangan pukul bokongku.” Bersimpuh dipangkuan ibunya.


“Tidak Nak, Mama hanya ingin menasehatimu saja. Bukannya tadi Mama sudah bilang maaf sebelumnya. Jangan ulangi lagi melakukan kekerasan terhadap orang lain.”


“Tapi dia mengejekku! Dia mengataiku saat kunjungan orang tua dikelas Mama.”


“Oh jadi itu ya awal mulanya.” Hikashi baru sadar jika beberapa waktu lalu Matsumoto bilang ada undangan wali orang tua. Tapi ia abaikan karena sibuk dan menganggap hal itu bisa diwakilkan.


“Kenapa kau berkelahi kalau begitu?” mengusap kepala anaknya yang ketakutan bila dihukum.


“Karena, karena dia mengejekku Mama. Selama ini yang datang kesekolah bukan Papa atau Mama. Aku benci karena Mama dan Papa lebih sayang kepada Seven. Mereka menertawakan aku, mengatakan sebagai anak pungut. Padahal di undangan jelas ditulis nama Papa tapi yang datang Sekertaris Papa huaaaa hiks hiks.”


“Cuph cuph Nak, maafkan Papa dan Mama mu ini ya. Kami benar-benar sibuk, dan mengabaikanmu waktu itu.”


“Lalu apa yang kau lakukan pada anak yang mengejekmu?”


“Aku tinju pipinya.”


“Berdarah?”


“Tidak.”


“Giginya copot?”


“Tidak.”


“Lalu?”


“Ah Hikashi, kau ini ayah tipe apa sih kok tanyanya begitu. Anak kita meninju teman sekelasnya.”


“Ya kalau aku dikatai begitu, sudah aku lempar kursi. Setelah itu, aku siram bensin ku bakar hidup-hidup...”


“Papa sadis!”


“Kau ini psikopat ya!”


“Benarkah!” sindir Frayza.


“Ehheee.” Menggaruk kepalanya.


“Mama, aku tidak mau berangkat sekolah. Aku mau sekolah dirumah seperti Seven saja.”


“Jade, Mama sebenarnya sakit hati ada yang mengataimu anak pungut. Kamu adalah anak kandung Papa dan Mama. Selain itu kamu adalah Cinta pertama Mama-Papa.”


“Dengarkan itu baik-baik Jade, camkan perkataan Mama mu!”


“Baik Mama, aku dengarkan.”


“Huh dasar, seharusnya kau lempar bola kepala temanmu itu.”


“Hikashiii.” Menegur suaminya lagi.


“Aku tidak terima anakku dikatai anak pungut. Apa salah kalau aku memberikan saran kepada Jade?”


“Itu salah Sayang, kau ini mendidik anak menjadi preman ya?”


“Hehehe anak laki kan tidak seperti perempuan Istriku sayang.”


“Kau ini jadi ayah tidak beres, beri contoh yang baik apa. Malah mengajari hal yanh buruk!”


“Hehehe jangan marah Sayang, aku diam.”


“Papa kenapa takut sama Mama sih?”


“Eh itu anu, aku baru ingat mau bakar ikan diluar. Aku ikut gabung mereka saja ya, lanjutkan saja percakapan kalian.”


“Dasar ayah yang aneh!”


“Papa yang aneh!” decit Jade mengikuti ibunya.


“Baiklah Jade, pekan depan Mama akan datang ke festival olah raga sekolahmu.”


“Darimana Mama tahu acara itu?”


“Tadi Mama mendatangi rumah kepala sekolahmu. Dan ia mengatakan jika orang tua akan diikutsertakan dalam perlombaan.”


“Berarti tadi Mama langsung kerumah kepala sekolahku?”


“Iya, kenapa?”


“Kenapa tidak disekolah saja.”


“Karena kau prioritas Mama putraku Sayang.” Memeluk erat kepala Jade.


“Mama.” Terenyuh.


“Untukmu Mama akan melakukan apa saja, termasuk mendatangi rumah kepala sekolahmu. Jangan pakai kekerasan ya Nak, karena orang tuanya bisa melaporkanmu ke Polisi. Mama tidak mau hal buruk mencoreng nama keluarga kita. Ingat Jade, jangan membalas perkataan buruk dengan kekerasan.”


“Iya Mama.” Jade berpikir tentang perbuatannya yang sudah salah.

__ADS_1


Tiba-tiba kepala Hikashi masuk kedalam tenda memberitahukan kalau sudah matang. Dan saatnya makan bersama mengelilingi api unggun. Mereka saling menceritakan lelucon untuk mengakrabkan satu sama lain. Tanpa disadari Helena tersipu malu saat Matsumoto menceritakan pengalaman. Sepertinya Matsumoto tengah menarik simpati Helena. Ia menceritakan kehebatannya agar wanita itu kagum dengan dirinya.


“Sepertinya kita akan menerima undangan pernikahan Sayang.” Bisik Hikashi.


“Tidak mungkin, jarak usia mereka sangat jauh Sayang.”


“Tapi mereka masih bisa kan, buktinya sekarang itu.”


“Matsumoto kan memang begitu Sayang sejak dulu.”


“Aku rasa Matsumoto sudah melupakan Dannis.”


Tanpa disadari Hikashi, ia baru saja menyebut wanita yanh menjadi duri dalam hati Frayza. Ia merasakan sakit hatinya jika mendengar nama Dannis. Teringat kembali semua hal-hal yang pernah Hikashi lakukan bersama gadis itu.


“Makan tuh!”


“Eh kau kenapa Sayang? Fray, kau mau kemana Sayang?”


“Bodo’ amat ah!”


“Sayang, woi kau mau kemana? Ini sudah malam lho!”


“Bukan urusanmu!”


“Fray! Hai kembali kesini Sayang, kau kenapa? Ayo jawab aku!”


Akhirnya Frayza berhenti berjalan ditepi sungai, ia berjongkok dan mengambil kerikil kecil. Plung! Kerikil kecil dilemparnya ke sungai yang berarus.


“Fray lihat aku ada masalah apa Sayang?”


“Pergi kau!”


“Kau gila ya, sudah malam begini kau menyuruhku pergi. Oh tidak Fray, ini berbahaya. Aku tidak akan pergi meninggalkanmu seorang diri disini. Ayo kita kembali ke tenda, udaranya semakin dingin Sayang.”


“Lepaskan aku!” ia meronta karena Hikashi mengangkatnya.


“Tidak begini Fray caranya kalau berulah!” Hikashi membopong istrinya agar menjauhi tepian sungai.


“Turunkan aku! Turunkan aku!”


“Pukuli saja badanku, aku tidak peduli. Pokoknya kembali ke kemah bersamaku!”


“Aku benci kau Hikashi, aku muak dengan dirimu! Turunkan aku!” meronta-ronta ingin diturunkan.


Walaupun kedua tangan Frayza digunakan memukuli Hikashi. Tetap saja itu tidak berasa sakit. Ada perkara apa sehingga Frayza merajuk dan mengatakan benci.


“Dengarkan aku, kau boleh mengatakan hal buruk tentang diriku. Tapi kau harus mencintaiku!”


“Aku membencimu Hikashi!” kali ini Frayza berkata terang-terangan.


“Coba ulangi sekali lagi Fray!” menurunkan tubuh yang dipanggilnya perlahan.


“AKU BENCI PADAMU! DASAR TUKANG SERONG TIDAK SETIA!” mendorong Hikashi mundur menjauhi dirinya.


Tak terima dengan pernyataan istrinya, Hikashi memerah maik darahnya ke ubun-ubun. Ia mengejar Frayza yang langkahnya kalah cepat. Plak! Ia memukul bokong Frayza yang sudah dipanggulnya lagi. Ditengah gelapnya malam, tak peduli Frayza meronta minta diturunkan. Hikashi memanggulnya dipundak berjalan mencari tempat yang sunyi.


“Kenapa kau bicara tidak sopan!”


“Kau yang mulai lebuh dulu!”


“Aku?” menunjuk hidungnya.


“Malas berdebat denganmu.” Nyelonong kabur. Tapi berhasil diraih kembali.


Hikashi menempelkan tubuh Frayza pada sebuah pohon yang besar. Ia memegang leher Frayza seperti mau mencekik. “Kau tidak boleh membenciku! Tidak boleh!” memperingatkan istrinya yang mengatainya.


“Kau pantas untuk aku benci Hikashi!”


“KENAPA!” tidak tahu apa yang kurang darinya lagi.


“Karena kau menyebut nama Dannis, apa kau masih menyukainya? Jika kau suka padanya, katakan saja sejujurnya!”


“Frayza Lee, aku suamimu!” meninggikan suaranya.


“Apa kau pikir aku buta dan tuli Hikashi!”


“Jangan bicara konyol Frayza!” mencengkeram leher istrinya erat.


“Tanpa kau sadari, alam bawah sadarmu sudah terikat dengan Dannis. Kau menyebut namanya didepan anak kita. Kau menyedihkan Hikashi.” Perlahan tangan Hikashi menurun dari leher Frayza.


Jadi ini penyebab Frayza bersikap dingin dan jual mahal saat berhubungan badan dengannya. Ternyata Frayza belum sepenuhnya ikhlas atas kehadiran Dannis dalam rumah tangganya.


“Fray, bohong bila seorang pria tidak tertarik wanita lain dalam pernikahannya. Sekuat tenaga aku menjaga keutuhan rumah tangga kita dari kehancuran. Membangunkan rasa Cinta yang mulai hambar. Apakah ini balasanmu?”


Frayza berhenti berjalan mendengar ucapan Hikashi. Telinganya mendengar pengakuan dari mulut pria yang sudah membuatnya cemburu. Sembari memejamkan matanya, Frayza menahan agar air matanya tidak tumpah.


“Baiklah, kalau pernikahan ini adalah beban untuk setiap. Kau boleh menyerah, biar aku jalani rumah tangga ini sendiri.”


“Lalu aku bagaimana?”


“Kau bilang pria bisa menyukai wanita lain dalam pernikahan. Mungkin kau sudah jatuh Cinta kepadanya.” Ia berbicara membelakangi Hikashi. Rasanya ia tak sanggup menatap wajah suaminya dengan mata yang sudah memerah.


“Dalam agama yang aku anut sekarang, menikahi wanita lebih dari satu orang diperbolehkan.”


“Jika kau berniat menikahinya, aku mundur.”


“Ya sudah mundurlah.”


“Hikashiiii!” ia berbalik dan secepat kilat bibirnya sudah beradu panas kecupan.


“Aku hanya mencintaimu seorang, camkan itu. Lalat dan tikus berwujud bidadari pun tidak akan menggerogoti hatiku padamu. Cemburulah padaku, karena aku mau kau jujur dengan hatimu. Bahwa aku layak untuk kau pertahankan Fray!”


“Hiks hiks aku benci merasakan sakit hati didadaku! Aku benci dirimu menyebut nama wanita lain!” memukuli dadanya sendiri.


“Husssstt cup cup Sayang, maaf. Aku memperalat dia agar kau perhatian kepadaku. Setiap hari kau sibuk bekerja dan mengurus anak. Seharian penuh pekerjaanku kadang tidak beres. Aku setres berat Fray saat kita tinggal dirumah petak itu. Sangat tersiksa bagiku kau abaikan selama setahun itu. Makanya, aku memakai cara kotor dan rendahan itu untuk menarik perhatianmu lagi. Jangan terlalu gengsi bila takut kehilanganku. Karena aku mencintaimu melebihi anak-anak dan diriku sendiri. Aku bersumpah! “


“Tapi aku sudah terlanjur sakit hati hiks hiks.”


“Iya Sayang, maaf... Maafkan aku Sayang, aku janji tidak akan ada wanita disekitarku lagi. Tapi aku mohon jangan bilang benci dan muak padaku. Aku bisa marah dan berbuat nekat, mengerti Cintaku?” menangkuo wajah yang sudah basah karena derai air mata.


“Aku sebal kepadamu!” menjewer telinga Hikashi.


“Iya, jewer saja telingaku. Pukul tubuhku bagian mana yang kau mau. Mau pake tangan apa kayu silahkan Sayang. Tubuhku ini sudah jadi milikmu, mau kau apakan terserah maumu. Aku pasrah mau kau apakan saja. Silahkan lakukan semua yang ingin kau perbuat. Aku rela jika kau yang melukaiku, tidak masalah.” Menyodorkan tubuhnya secara sukarela. Karena ia juga bersalah, sudah kelewat batas menguji kesabaran istrinya.

__ADS_1


Maaf telat up date, sekalian babnya panjang hehehe.


__ADS_2