
---FRAYZA,
Aku tidak pernah menyangka jika pelarianku ini berhasil ditemukan oleh pria ini. Iya, pria yang memiliki segalanya di bumi yang aku pijak. Bahkan aku tak memiliki keindahan ragawi para selir-selirnya. Bukannya ini patut dicatat dalam rekor sejarah. Jika wanita hina diangkat derajatnya oleh Kaisar William. Ah pekikku begitu naif, melihatnya mencintaiku dan mengejarku sungguh hal yang sangat romantis.
“Kau kenapa? Kontraksi lagi?”
“Oh tidak, sudah mulai reda kramnya.”
“Bayi ini benar-benar merepotkanmu saja, hai Nak kau yang berada didalam perut nyaman istriku. Sadar diri kenapa kalau kau sudah terlalu beruntung menjadi benih Cinta kami!”
“Suamiku, apa yang baru saja kau katakan. Kau sudah menakuti bayi kita,” mengusap perutnya agar bayi dalam kandungannya tidak marah.
“Matsumoto, kelak kalau bayi ini lahir langsung terbangkan ke Inggris menyusul Kakaknya Jade. Ini perintah!”
“Baik Tuan muda,”
“Dan kau,” menoleh pada Frayza.
“Aku kenapa lagi Sayang?”
“Sebagai ganti ruginya, aku mau bulan madu kita diulang.”
“Yang benar saja, wanita selesai melahirkan harus memasuki tahap pemulihan. Tentu saja tidak boleh.”
“Ini pasti akal-akalannya Dokter kandungan yang memeriksamu kan? Baiklah aku akan membuat perhitungan kepadanya; Matsumoto, pekerjakan kembali Dokter Kelvin bodoh itu. Rasa-rasanya tidak beres Dokter yang bekerja di Rumah sakit. Masak setelah keluar bayi tidak boleh bulan madu, aku protes hal ini!”
Sebenarnya yang salah ini siapa? Apa memang Hikashi yang terlalu polos ya. Ketika wanita usai bersalin kan memang kondisi lemah. Bukannya dia dulu pernah melihat Franda melahirkan betapa payahnya.
“Sayang, jika kau lelah mengandung kau boleh memindahkannya di perut Matsumoto.”
“Hhhaaaa, apa maksutnya memindahkan perutku?”
“Iya, perutmu kan semakin besar setiap hari. Aku jadi tidak tega melihatmu keberatan membawa bayi kita. Jadi aku memintamu serahkan saja beban beratmu kepada Matsumoto. Dia kan lebih kuat dan tangguh dari pada kau. Tubuhmu semakin hari semakin mungil, hanya beberapa bagian yang menonjol.”
Entah imajinasi apa yang didapat Hikashi, bisa-bisanya ia berkata demikian. Memangnya dia pikir ini perut hamil tempelan apa. Yang bisa di copot-pasang? Benar-benar kelakuan Hikashi ini, membuat kepalanya semakin pusing.
*
*
*
Patrick sudah tiba di Bali bersama Jade dan Franda. Kali ini Franda sudah patuh dan tidak membangkang lagi.
“Nona Franda, setelah tiba di Villa Tuan William jaga sikapmu. Terutama saat bertemu dengan Nona Frayza.”
“Baik Pengurus Patrick.” Dia ketakutan mungkin. Selama ini kakak yang ia benci dan nistakan hidupnya ternyata menjadi majikannya. Parahnya lagi, sekarang posisinya berada dibawah tekanan.
Franda masih memiliki semangat hidup demi bersama Jade, putranya. Melihat Jade yang hidup berkecukupan dan tumbuh dikeluarga terpandang. Franda tidak perlu khawatir tentang masa depan anaknya di tangan Hikashi dan Frayza. Sebenarnya Franda ingin melihat keadaan Frayza yang sekarang bagaimana. Usai kematian ibunya dan rentetan musibah membuatnya menjadi lebih dewasa dan bijak. Ia tak boleh iri dengan Frayza yang dipandangnya sudah bahagia. Karena dahulu, kebahagiaannya sudah dicurinya. Sekarang roda kehidupan berputar, Franda menjadi dibawah. Merasakan getir hidupnya yang pahit, semua yang ia petik tak lepas dari kelakuannya dimasa lalu.
__ADS_1
Matanya terbelalak melihat keindahan pesona alam Villa Hikashi. Bangunan ini berdiri tegak di rerimbunan pohon yang rindang suara kicau burung dan udara yang segar membuatnya dalam kedamaian. Hanya beberapa Pelayang yang menyambut mereka saat tiba. Jade sudah bersama Patrick, dirinya berada di kamar bersama asisten lainnya. Tampak para Pelayan yang sibuk menyiapkan jadwal harian mereka. Disini tidak ada orang santai kecuali ketika tidur. Mereka sudah sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan senda guraupun tak terdengar untuk basa-basi.
“Nyawa Villa ini adalah Tuan William Hikashi. Dia menyuruhmu kemari agar bisa menemani Nona Frayza. Walaupun kau tidak menyukainya, kau harus menunjukkan sikap ramah dan sopanmu. Jika ada laporan buruk tentangmu, penjara bawah tanah sudah siap menampungmu.”
“Pengasuh Patrick, percayalah aku tidak akan gegabah lagi.”
“Itu tergantung nanti, karena Nona Frayza dan Tuan Hikashi masih diluar kau harus mempersiapkan dirimu. Kita akan menyambut mereka. Aku akan mengurus Tuan Jade dahulu.”
Begitu besar dan luasnya Villa ini, hingga Franda merasa berada di istana khayalannya. Bunyi bel berdering, tanda pemiliki Villa sudah tiba. Franda bersiap menyambut kedatangan majikannya. Sayang sekali, Franda telar untuk hadir di lobi utama. Baik Hikashi dan Frayza sudah berada di kamar utama untuk beristirahat. Franda bertemu dengan Matsumoto diruang kerja.
“Tuan William ingin aku menggantikan kehamilan Nona Frayza. Mana yang akan aku pakai?”
Mata franda mengabsen benda-benda tak lazim diatas meja. “Jadi Ketua Matsumoto menanyakan benda mana yang cocok untuk menggantikan perut Nona?”
“Iya,” ketusnya.
“Heheheheh maaf aku harus tertawa lebih dahulu.”
“Pelayan Franda!”
“Oh iyaya, maaf aku tidak bisa menahan tawaku Ketua Matsumoto.” Sembari melepaskan korset diperut. Matsumoto juga menambalnya dengan bantalan kecil, alhasil Matsumoto perutnya buncit.
Matsumoto melihat Franda yang melepaskan korset diperutnya, nampaknya ia diam-diam mengagumi wajah cantik Franda. Wajarlah jika Matsumoto memperhatikannya. Franda sendiri kan terkenal cantik dan menjadi artis.
“Jika kau melepaskan korset ini bagaimana bisa aku menggantikan kahamilan Nona Fray!”
“Jadi aku tidak perlu kewalahan memakai barang tidak berguna ini?”
“Hu’um,” mengangguk. “Itulah sebabnya, dulu aku menjadi wanita pengganti Nona Frayza mengandung Tuan Jade.”
“Oh begitu ya, jadi kau merasakan kepayahan dan kelelahan seperti Nona Sekarang?”
“Iyap, betul sekali. Memang Nona hamil sudah berapa bulan?”
“Sekitar segini.” Tangannya membuat lengkungan didepan perutnya.
“Aissshh, pasti Ketua Matsumoto tidak paham ah. Yang aku tanyakan berapa usia kehamilannya sekarang?”
“Memang hamil ada ulang tahunnya? Memakai hitungan usia berapa?”
“Ya Tuhan, ampun... “ menggeplak kepalanya.
Franda menjelaskan pelan-pelan tentang proses terjadinya pembuahan hingga terjadi kehamilan. Sampai proses persalinan dan merawar bayi. Matsumoto yang ngilu-ngilu sedap melihat proses melahirkan menutup matanya. Tak tega melihat wanita kesakitan terluka saat meliahirkan.
“Jadi yang dikatakan Dokter Kandungan itu benar dong?”
“Memang Dokter berkata apa saja kok bisa benar?”
“Nona menolak ajakan Tuan Hikashi untuk bulan madu usai melahirkan. Karena kondisi paska melahirkan sangat lemah, kadi luka ini ya yang menjadi penyebabnya.”
__ADS_1
“Astaggaaaahhh Tuan William Hikashi, keterlaluan sekali ia. Apakah dia tidak tahu sakitnya melahirkan anak itu seperti apa. Berani-beraninya ia mau mengajak Nona untuk bulan madu lagi.”
“Kami para pria tidak ditakdirkan untuk hal serumit ini. Awalnya aku mengikuti perintah Tuan, tapi ternyta salah kaprah.”
“Hahahahhaa lucuuu... Ini benar-benar lucu sekali asli hahahah.”
“Sudah puas tertawanya?” memicingkan satu alisnya keatas.
“Senaif ini kalian terhadap wanita, pantas saja kalian semena-mena ya. Menyiksa dan seenaknya saja terhadap kaum wanita, ternyata Hemmmbb harus benar-benar dikasih pelajaran Reproduksi.”
“Franda, jangan main-main kepadaku.” Matsumoto memperingatkan Franda agar tidak melebihi batas bicara tidak sopan. Matsumoto mendorong tubuh Franda hingga Mentok ditembok. Tubuh merepat saling menempel, wajah Matsumoto menatap tajam mata Franda. Yang kemudian mengalihkan pandangannya.
“Permisi dulu Ketua Matsumoto, aku harus bekerja lagi.”
“Oh...” mundur dan mengibaskan tangannya menjadi kipas.
Franda pergi, sempat sedikit menoleh ke Matsumoto. Dan Matsumoto juga melihatnya, dan menunduk lagi.
*
*
*
Hikashi bersama Frayza berjalan ditaman dengan mendorong kereta bayi Jade. Keduanya berbincang-bincang ringan membahas nama calon anak mereka.
“Kau ini, tidak bisakah memberikan nama anak dengan naman yang baik?”
“Apa salah dengan nama Steven?”
“Salah lah, ganti!”
“Ganti Abraham?”
“Apalagi itu Abraham, ya ampun Istriku. Kita saja masih belum tahu jenis kelamin bayi kita. Ya kalau lelaku, nah kalau perempuan bagiamana?”
“Oh iya juga ya, kan tidak nyambung juga jika perempuan bernama lelaki. Jadi bagaimana kalau kita periksakan jenis kelaminnya?”
“Aku sudah tahu jenis kelaminnya, tugasmu hanya mengandung dan melahirkan.”
“Eh kenapa bisa begitu, kenapa kau curang Suamiku!!!” mencubit kedua belah pipi suaminya.
“Fray, apa aku begitu menggemaskan bagimu? Aku ini suamimu, apa sopan seorang istri bertindak seperti ini barusan?”
“Upsss...” ketahuan bersalah. Frayza ketakutan dan berjalan mundur.
“Tidak apa-apa Sayangku,” ucap Hikashi kala memeluk Frayza dari belakang.
Franda melihat Hikashi memperlakukan Frayza dengan baik. Pria yang kejam dan arogan itu menjadi lemah lembut dan penyayang bagi wanita lain. Dia ingat dulu Frayza disia-siakan Frank. Saat dirinya disanjung dan dipuja, tapi kakaknya yang menderita. Mungkin ini adalah karma baik dari masa lalu.
__ADS_1