
--- MALAYSIA.
Rapat membahas tentang pembukaan ladang sawit dan karet secara besar-besaran sangat merugikan masyarakat dan kelangsungan ekosistem. Andreas meninjau lokasi yang akan dijadikan tambang mineral dan eksplorasi. Banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya disana dari hasil alam.
“Tuan Andreas karena ini bukan masalah kalangan tertentu. Tapi ini kelangsungan makhkuk hidup untuk generasi selanjutnya.”
“Setelah aku pikirkan dengan masak-masak, mereka seharusnya bisa membuat energi alternatif. Karena merusak alam artinya mempercepat kehancuran bumi. Aku akan segera mempelajari pilihan lain agar pemilik pihak yang terkait bisa bersinergi.”
Andreas merasa kasihan bila pemasok oksigen ini dirusak untuk diambil isi perut buminya. Sedangkan tekhnologi sudah dikembangkan begitu besar sebagai alternatif. Merangkul beberapa pihak yang berkompeten di Malaysia membutuhkan banyak lobi-lobi khusus. Serta memakan waktu yang lama. Jadwal kunjungan Andreas di Malaysia menjadi molor lebih lama dari yang ia perkirakan.
“Aku benar-benar merindukan tunanganku huft,” Andreas meniup rambutnya yang menutupi dahinya. Pria tampan dan tinggi ini sudah mulai lesu bekerja. Selain itu Frayza juga sibuk mengurus butik dan Seven.
“Apakah anda mau pulang beberapa hari dulu?” tanya asisten pribadi Andreas.
“Tidak, hufffffttt.” Lagi-lagi Andreas meniup rambutnya yang tak bersalah.
“Baiklah kalau begitu semangatlah Tuan Andreas.”
“Cici, apakah kau tidak rindu dengan kekasihmu saat bertugas diluar negeri?”
“Tentu saja tidak Tuan Andreas, karena anda lebih tampan dari pacarku jadi perjalanan ini tidak membosankan. Eh barusan aku bilang apa!” Cici menyadari jika kalimatnya dibalik yaitu Andreas bosan bersama Cici karena tidak secantik tunangannya.
“Aku benar-benar tidak semangat menyelidiki kasus ini hah!”
“Tuan kalau boleh aku bertanya, sudah berapa lama anda berkenalan dengan tunangan anda?”
“Dalam waktu seminggu aku sudah mengenalkannya kepada orang tuaku dan mengikatnya menjadi tunanganku. Dia wanita yang membuatku kalang kabut karena menolakku.”
“Waw hebat sekali.”
“Ia dia hebat sekali, sampai membuatku sakit karena patah hati.”
“Bukan dia, tapi anda Tuan. Dalam waktu sesingkat itu bisa membuat lelaki seperti anda bertekuk lutut. Hebat sekali kemampuannya menyihirmu.”
“Jangan bicara sembarangan terhadap tunanganku. Dia wanita yang aku kejar-kejar dan akhirnya kami bertunangan.” Andreas memamerkan cincin pertunangannya.
“Lalu kenapa tidak bersama dengan Meghan?”
“Meghan ? Hahahah dia itu seperti saudara lelakiku. Mana mungkin juga aku mengencani lelaki sepertiku. Walaupun dia seorang perempuan, tapi aku tidak suka wanita yang terlalu proaktif.”
“Oh jadi seperti itu ya, hemmmb.” Cici melajukan mobilnya yang memasuki kawasan perkantoran dan pemerintahan.
Agenda hari ini adalah menemui pejabat setempat yang memiliki wewenang atas proyek ini. Lalu diteruskan menerima jamuan makan bersama dengan penduduk setempat. Agenda Andreas masih padat untuk beberapa hari kedepan.
*
*
*
--- SINGAPURA,
Karena hubungannya dengan suaminya yang tidak kunjung baik. Rose mengintai butik tempat Julian bekerja. Nampaknya Julian sibuk mengurua keperluannya.
“Kak Fray, setelah mengantar pakaian ini. Apakah aku bisa langsung istirahat?”
“Tentu saja, antarkan dulu ya pesanan klien kita. Ingat jangan mengebut ketika dijalanan, oiya aku mau menaruh setelannya Andreas. Bisakah nanti kau antarkam aku?”
“Bisa Kak, sepulang kerja saja ya kita kesana bersama.”
“Baik,” Frayza masuk kembali ke butik.
Rose pergi karena Frank akan pulang makan siang bersamanya. Hari ini ia sudah cukup memantau Julian.
__ADS_1
Bukan perkara mudah pula bila Julian ingin lepas daei Frank. Ia mengantarkan setelan jas dan celana untuk Frank di kantornya. Rencananya baju ini akan dipakai untuk makan siang bersama Rose dan keluarga besarnya.
“Kenapa sekarang baju yang kau buat terasa pas dibadanku?”
“Aku memperbaiki beberapa pola dan menambahkan jahitan agar nyaman dipakai.”
“Oiya Julian, aku tambahkan tips untukmu pada rekeningmu.”
“Terimaksih Kak Frank,”
“Jangan sungkan kepadaku Julian, kau masih tetap ku anggap calon adik iparku. Terimakasih ya sudah mengantarnya ke kantorku. Karena hari ini aku akan memakainya.” Frank membuka pembungkus bajunya.
Julian ketika pergi oamit undur diri, dimeja Frank ia melihat photo Rose bersama anak kecil. Ia memperhatikan dengan seksama orang yang berasa didalam figura tersebut. Barangkali ia salah orang saja. “Dia itu istriku, namanya Rose dan gadis kecil diantara kami Cecilia.” Frank memperkenalkan keluarga kecilnya.
“Rose?” Julian mengulangi nama wanita yang beberapa waktu memberitahukan tentang anak biologisnya.
“Iya Rose, apa kau mengenal istriku sebelumnya?”
“Oh tidak, hanya saja namanya familiar ditelinga.”
“Namanya begitu pasaran ya hehehe. Tapi dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga kami tidak ada waktu untuk bersama.
Dalam hati Julian ingin berteriak kepada Frank bahwa istrinya sibuk mengejar dirinya. Bahkan anak yang diakuinya sebagai putrinya itu ternyata bukan darah dagingnya. Kali ini ia merasa sudah membalas telak kejahatan Frank kepada kakaknya Frayza.
“Kak Frank aku mau melanjutkan perjalananku mengantar pesanan klienku. Senang bertemu denganmu hari ini.”
“Hati-hati dijalan ya,” Frank seolah ingin mengatakan sesuatu tapi ia lupa. Karena Julian sudah keburu pergi. “Oh sial, harusnya aku bertanya apa ya kok sampai lupa. Hih!” meninju meja kerjanya kesal.
Diluar gedung area perkantoran Julian berpapasan dengan Rose yang hendaj masuk ke gedung perkantoran Frank.
“Hai...” tapi sapaannya diacuhkan Julian begitu saja seolah tak mengenalnya. Rose masih menoleh kearah Julian memarkirkan mobilnya dan pergi. Wanita itu kini mengerti bahwa cintanya Julian tak bisa ia dapati. Namun, Cecilia adalah hasil hubungan terlarang mereka.
Ketika Julian melihat Rose dari kaca spion dalam mobilnya, sebenarnya ia tak tega mengabaikan Rose. Karena ia juga kesal kepada Rose yang memilih menikahi Frank. Sedangkan dulu ia sempat suka kepada Rose. Namun, sekarang perasaan itu sudah sirna karena sikap egois Rose. Terlebih lagi sekarang Rose adalah istri dari mantan kekasih kedua saudarinya.
“Sekarang aku bisa ingin membalas kejahatanmu Frank. Akhirnya aku bisa mempermainkan takdirmu, sekian lama tiba juga giliranmu.” Julian menyerapahi Frank yang kejam kepada kedua Saudarinya.
“Apakah kalian sudah membuat makan siang?” Frayza mencopot kacamatanya yang terasa berat saat terlalu lama dipakai.
“Belum Kak, pekerjaan kami masih banyak dan menumpuk.”
“Baiklah, kalau begitu aku akan memasak untuk kalian di dapur.”
Karena dulunya butik ini adalah rumah, maka kamar tidur dan dapurnya masih bisa dipergunakan. Sebagian kamar tidur dipergunakan untuk istirahat bagi karyawan yang lembur. Didapur ini ada kenangan Frayza saat masih remaja. Dimana setiap hari sebelum ia mengawali harinya. Ia sibuk menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Bahkan ia mencuci baju seluruh anggota keluarganya dengan tangan hingga lecet.
“Kak, kau melamun ya?” Julian sudah datang masuk kedapur menyusul aroma gosong.
“Aduhhh ikannya gosong, sayang sekali.”
“Ahhh kakak pasti melamun, sudahlah aku pesan makanan antar saja. Kau tampak kelelahan sekali, tidurlah dikamarmu. Biar aku yang mencuci wajahnya.” Perintah adiknya yang sudah dewasa.
Frayza naik keatas dan mencari kamar tidurnya. Didalam kamar ini semuanya masih sama. Kenangan masa kecilnya seperti potongan fosil purbakala yang ia temukan lewat foto. Didalam gambar itu, Frayza memang tampak kumuh dan lusuh sendiri. Nilai ulangannya yang bagus ia pajang dilemari. Didalam lemarinya tersisa sedikit baju yang ada. Setelah puas mengabsen barang miliknya waktu kecil, sekarang ia merasa mengantuk dan tidur.
Julian memesan begitu banyak makanan karena hari ini dia bahagia. Yah, bahagia karena Frank mendapat karma atas perilakunya kepada Rose di masa lalu. Hari ini nafsu makannya menjadi lebih baik dari hari biasanya.
“Pelan-pelan makannya, nanti tersendak!” Frayza tidak suka Julian makan berantakan.
“Enak sekali Kak, hahahah.”
“Bos seperti bocah yang baru makan makanan enak.” Celoteh karyawannya.
“Kalau hati senang, makan apapun akan terasa enak.” Julian mengakuinya.
Usai tidur dikamarnya Frayza mendapati kenangan pahit dimasa kecilnya. Dimana ia selalu menjadi tulang punggung untuk dirinya sendiri dan adik-adiknya. Frayza banyak melamun mencoba mengulas kembali ingatannya.
__ADS_1
Sampai dijalan ketika hendak ke Griya tawang milik Andreas. Frayza baru buka mulut, “ Julian, katakan kepada kakak kenapa dulu aku dimarahi Ibu?”
Julian harus berbohong agar Frayza tidak merasa ditindas dimasa lalu.”Ah itu mungkin firasat kakak saja, kan anak sulung memang menjadi tempat amarah. Dan menjadi andalan keluarga hehehe.”
“Aku melihat ada anak gadis lain yang kau panggil kakak juga. Dia sangat cantik san memakai baju yang Bagus. Ayah dan ibu selalu memanjakannya, dan aku memakai baju rombeng dan sobek.”
“Kak, kita sudah sampai ayo kita turun.” Julian ingin berhenti membahasa masa lalu kakaknya yang kelam. Bagaimanapun juga ia terlibat dan tahu kejadian itu.
Beberapa stel baju milik Andreas dibawa oleh Julian, sedangkan Frayza menenteng tasnya saja. Ting, suara pintu lift terbuka dan pengguna lain juga masuk.
“Kak Franda?” Julian terkejut karena baru saja Franda masuk ke lift satunya lagi. Saat ia keluar dari liftnya, jangan-jangan Franda sudah tinggal kembali di kondominium miliknya.
“Hah, siapa Julian?”
“Kak Frayza, tadi kakak dengarnya apa? Tadi aku bilang Kak Frayza.” Kilah Julian agar tidak ketahuan sudah memanggil Franda.
Nampak Meghan berdiri didepan pintu kediaman Andreas, dia sedang menelepon seseorang.
“Sepertinya Meghan kesulitan untuk masuk ya Kak.” Julian melihat Meghan beberapa kali menekan pin salah.
“Meghan, kau mau masuk ya?” tanya Frayza yang berada disana juga.
“Iya Fray, tapi Andreas sudah mengganti pinnya. Jadi aku tidak bisa masuk kedalam.”
“Oh itu ya, dia memang sudah menggantinya. Sebentar.” Menempelkan jempolnya dialat pemindai sidik jari.
Dan pintu otomatis terbuka,”Wah hebat sekali, Andreas langsung mengganti password rumahnya ya. Aku bahkan tidak tahu tentang hal ini.”
“Dia yang memaksaku untuk mengurus rumahnya ini. Karena beberapa hari lagi dia akan pulang. Dan ada sedikit renovasi yang harus aku awasi.”
“Waw begitu ya, sepertinya aku mencium aroma orang akan ditinggal hidup sendirian.” Menyindir Julian.
“Apa kau!” bentak Julian kepada Meghan yang sengaja memancing amarahnya.
Frayza juga sudah hapal benar letak dan tempat benda yang seharusnya. Ia masuk kedalam kamar Andreas untuk meletakkan baju-bajunya yang baru. Dan Meghan memberikan dokumennya kepada Frayza untuk disimpan kedalam brangkas kerja.
Klik, Frayza paling akhir menutup pintu kediaman Andreas. Sedangkan Meghan dan Julian keluar lebih dulu. Mungkin Julian mengantar Meghan sampai diparkiran dan mengucapkan selamat malam.
“Kak,” Franda menjatuhkan ponselnya saat melihat Frayza berpapasan dengannya langsung.
Karena Frayza asing dan tidak mengenal Franda. Ia berjalan lurus tak bergeming sama sekali.
“Tidak mungkin, aku pasti salah lihat.” Tubuh Franda lemah seolah tak memiliki tulang menyokong tubuhnya.
Sampai Franda melihat Frayza masuk lift dan hilang dari hadapannya. “Tidak mungkin, ini pasti tidak benar.”
Kenzo yang tadi berteleponan dengan Franda keluar dan melihat Franda seperti melihat hantu. “Kenzo... Kenzooo ternyata Kak Frayza tinggal disini!” teriak Franda histeris.
“Masuk!” Kenzo menarik lengan Franda dan memasukkannya kedalam huniannya.
“Kenzo, baru saja aku melihat Kak Fray masuk kedalam Lift.”
“Aku akan segera menyelidikinya, kau kembalilah ke tempatmu. Ini tiketmu ke Inggris pekan depan, ambillah.”
Sebuah tiket perjalanan ke Inggris untuk Franda. Seperti janji Hikashi sebelumnya, jika Franda bersikap baik maka ia diperbolehkan menengok Jade sesekali. Franda senang sekaligus ragu untuk ke Inggris lagi. Pasalnya dia melihat Frayza dengan mata kepalanya sendiri dengan keadaan yang jauh lebih sehat.
Setelah mendapat informasi dari pihak pengelola keamanan gedung. Rekaman video itu digandakan Kenzo untuk dilaporkan ke pada Matsumoto. Namun, sayangnya ponsel Matsumoto sudah ditangan Hikashi. Rekaman Video itu memperlihatkan Frayza datang bersama Julian.
“Sepertinya mantan istriku sangat menikmati hidupnya sekarang ya.”
“Maksut Tuan?” Matsumoto belum paham ucapan Hikashi baru saja.
“Dengan tubuh dan wajah sempurna bagitu apakah dia menjual diri? Sekarang dia tinggal satu gedung dengan hunian Kenzo.” Melempar ponsel Matsumoto agar melihat sendiri aktifitas Frayza.
__ADS_1
“Mana mungkin Nona Frayza menjual diri hanya untuk tinggal disebuah hunian mewah. Sangat mustahil!” menggelengkan kepalanya.
“Apanya yang tidak mungkin, segala kemungkinan dapat terjadi. Sangat menjijikan!” Hikashi menghina Frayza yang sekarang tampil lebih elegan dan berkelas. Bahkan baju yang dipakainya masih sopan dan tertutup, tapi bagi mata Hikashi. Frayza serapat apapun membungkus tubuhnya tetaplah tak memakai apapun. Karena Hikashi sudah benci terhadap mantan istrinya yang kini hidup jauh lebih bahagia.