TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
KITA MAINKAN SEKALI LAGI SANDIWARANYA


__ADS_3

#KEDIAMAN KELUARGA XI HUANG,


Sejak dirilisnya kabar kematian Adamson. Barbara menjadi sosok pendiam dan jarang pergi bekerja. Pegawainya sering lembur untuk menyelesaikan pameran. Sedangkan Simon menyibukkan diri dengan pergi berpelesir ke Bali untuk menenangkan diri.


“Pelayan, tambah lagi makanannya,” perut dan mulutnya seolah tiada kenyang. Pelayan yang melayani Franda pun keheranan, kenapa kembali dari Inggris nafsu makannya seperti ternak.


“Maaf Nona, anda sudah terlalu makan terlalu banyak.”


“Aku masih laparrrrr, beri aku makannnnn!!!”


Ketenangan Barbara terusik, padahal kantuknya sering datang ketika hari terang. “Ya Tuhan, suara berisik apalagi ini!”


Melihat Franda makan rakus, Barbara mual dan kepalanya pusing. Ini karena dirinya bergadang setiap malam dan minum alkohol saja.


“Ibu ayo sarapan bersamaku!” ajak Franda yang belepotan karena sisa makanan.


“Ti-tidakkk hhuuu... Hueekkk.”Akhirnya Barbara muntah air saja.


“Pelayan bantu Ibuku, dia muntah!” Franda tak mau beranjak dari kursi guna membantu ibunya. Karena dia mengandalkan pelayan dirumahnya.


“Nona, tidakkah kau ingin memanggil ambulans?”


“Oh tidak bisa, tanganku masih memegang makanan. Kau saja yang lakukan itu, aku masih lapar dan melanjutkan sisa makananku.” Terus dan terus menelan sampai habis.


Beruntunglah Barbara tidak perlu dibawa ke Rumah Sakit atau Dokter datang. Kesadarannya mulai kembali dan melihat keadaan dirinya lemah terbaring.


“Hubungi Julian, katakan padanya kalau aku sedang sakit.”


“Baik Nyonya,”


Kebetulan Julian sedang di rumah lama yang sudah selesai tahap pembangunannya. Jarakanya tidak begitu jauh dari rumahnya sekarang. Dan putra bungsunya datang untuk melihat kondisi ibunya. Julian nampaknya hilang simpati kepada Ibunya.


“Kenapa kau sepertinya tidak tulus datang kemari?”


“Jika Ibu sakit kenapa tidak pergi ke Rumah Sakit? Kenapa justru Ibu dirumah saja?”


“Ibu hanya kelelahan.”


“Apa ibu khawatir soal biayanya?”


“Julian kenapa kau bicara lancang padaku? Dimana letak sopan santun dirimu?”Aku ini Ibumu!”


“Ini adalah karma yang akan ibu tuai karena sudah menyiksa orang. Kenapa Ibu menyiksa dirumah lama kita!”


“Gosip dari siapa?”


“Aku berada disana Bu, dan aku juga membuntuti Ibu menjenguknya di Rumah Sakit. Ibu sakit jiwa ya, sudah menyiksa orang. Lalu merayunya, apa Ibu lupa kalau sudah memiliki Ayah dan anak!”


Plak! Tamparan melayang ke pipi Julian. Murka Barbara terlupakan sudah kepada anaknya. “Diam, dan jangan ceritakan hal ini kepada siapapun. Termasuk Ayahmu, mengerti!”


Julian pergi dan mengingat tamparan yang baru saja mendarat dipipinya. Ia mengemas barang-barangnya untuk dibawa minggat. “Adik, apa yang kau lakukan?”


“Siapa kau berani memanggil aku Adik, kau pencuri makanan ya!” melihat Franda mengapit toples berisi biskuit dan krupuk. Julian tak segan menyeret keluar Franda.


“Hai, apa kau tidak mengenaliku?”


*


*


*


Melihat nafsu makan Franda yang seolah tiada habisnya, Julian memberikan makanannya kepada Franda. “Kau serius memberikannya kepadaku?”


“Makanlah,” menyodorkan mangkuk berisi penuh sup.


“Kau tahu saja, aku memang lapar hehehehe.”


“Kak, sejak kapan kau menjadi begini? Ini bukan dirimu, bukan?”


Menghentikan kegiatan makanannya, hiks hiks hiks tangis terdengar dari mulut Franda. “Selama aku di Inggris, hidupku terjamin. Mau makan apapun semuanya disediakan, sampai berat badanku tidak terkontrol. Dan setelah aku melahirkan dan menyusui nafsu makanku semakin bertambah. Aku tidak bisa menolak semua makanan yang ada, tubuhku seolah selalu lapar dan ingin makan selalu. Kau jangan menyalahkan aku ya,”


“Tapi Kak, kau kan artis dan model. Kau selalu merawat tubuhmu seperti emas. Kenapa kau sekarang menjadi acuh dan begini. Lihatlah, sedot lemak sekalipun tidak akan berhasil karena sudah setebal ini.”


“Aku tidak ingin menjadi Artis lagi, kalian sudah menerima uang pengganti rahimku dengan jumlah yang banyak. Untuk apa aku bekerja.”


“Kak, darimana kau berkhayal seperti itu.” Julian semakin bingung dengan keluarganya.


“Apa kau tidak tahu, bahwa karir ayah, pinjaman lunak perusahaan Frank, Butik Ibu dan karirmu. Itu semua kau dapatkan dengan mengedipkan mata saja? Akulah yang menjadi tumbal kalian.”


“Tumbal?”


“Iya, Ayah dan Ibu sudah menandatangani surah jual beli rahimku ini kepada Tuan William. Orang awam tahunya aku berkencan dengam bangsawan. Tapo ternyata, aku hanya menjadi mesin pencetak anak.”


“Lantas dimana anakmu sekarang?”


“Aku tidak tahu, aku cukup setres dengan bayi sialan itu. Setiap hari aku mual dan mau muntah mencium popoknya. Belum lagi kalau dia meminta susus. Dan tidurku selama ini kurang nyenyak karena tangisan rewel bayi terkutuk itu.” Melanjutkan makannya lagi.


“Kau berbeda dengan Kak frayza, saat aku tahu dia hamil muda. Dia sangat menjaga kandungannya. Walaupun Frank pada akhirnya menggugurkan bayi tak berdosa itu. Itu atas perintah Kakak bukan?”


“A-aku tidak pernah menyuruhnya begitu, it-itu bukan urusanku. Makanannya enak, tambah lagi sana!”


“Kak, aku akan berikan kau makanan lebih banyak. Tapi Kakak juga harus membantuku.”


“Tapi kau tidak boleh ingkar janji lo ya.”


“Iya, aku janji.”


“Dan kau harus ingat, aku selalu lapar. Kau harus memberikan aku makan.”


“Tapi Kak Franda harus bersedia menjawab pertanyaanku. Kenapa dulu kau mai berselingkuh dibelakang Kak Frayza?”

__ADS_1


“Awalnya aku tidak menyangka bila Frank orang yang mesum dan nekat. Dia memiliki fotoku saat berganti baju, dia mengancamku akan menyebar luaskannya jika tidak menurutinya. Awalnya aku menolak menerima cintanya. Aku terus memerintahkan ia menjadi pria yang kaya. Agar memiliki pria yang bisa aku andalkan. Saat itu Kak Frayza masih menjadi pacar Frank, sebenarnya aku tidak tega melihat Kakakku menjadi budaknya Frank. Tapi kalau aku menolak Frank, maka dia akan menyiksa dan memutuskan Kak Frayza. Kau tahu bukan bahwa Kak Frayza sangat mencintai Frank. Dia bisa saja depresi karena aku merebutnya.”


“Jika Kakak sudah tahu Frank tidak benar, kenapa tidak bercerita kepadaku atau anggota keluarga yang lainnya?”


“Saat itu aku masih labil, dan takut.”


“Dan sekarang kalau kau kembali, apakah Kak Frank mau menerimamu dengan kondisi sepeti ini?”


“Ingat Julian, dia hanya menyukai dan memuja ragaku. Hatinya masih milik Frayza!”


“Jika kau tahu posisimu sudah salah kenapa kau masih melanjutkannya Kak? Akibat ulahmu itu, Kak Frayza pergi karena sakit hati. Dan tak berselang lama kemudian dia tiada. Aku tidak percaya kalau Kak Frayza meninggal seperti cerita karangan Frank. Aku sempat datang ke Batam dan ingin membongkar makamnya. Tapi aku urungkan, itu sama halnya mengusik ketenangan Kak Frayza.”


“Aku turut prihatin atas nasibnya. Dengan kondisiku yang begini, semoga Frank tidak mengejarku lagi.”


“Makanlah, kau harus bahagia dengan caramu. Aku tahu kau pasti banyak menderita ketika di Inggris.”


“Terimakasih Julian,” menatap wajah adiknya yang berpaling menahan air mata.


“Kak, kenapa keluarga kita menjadi begini. Kak Frayza meninggal, kau dijual dan Ibu berselingkuh.”


“Ibu berselingkuh?” Franda kaget.


“Iya, dia menyembunyikan pria itu dirumah lama kita. Yanh sekarang aku rombak, aku melihatnya ia membawa pria bersama Frank. Saat mereka melukai pria itu sampai sekarat. Diam-diam aku membuntutinya sampai ke Rumah Sakit. Selama pria itu dirawat, Ibu selalu berkunjung kesana. Dan kulihat pria itu menolak semua dari Ibu.”


“Siapa pria yang berani menggoda Ibu?”


“Dia sudah tiada, tidak perlu membuat perhitungan dengannya.”


“Maksutmu sudah meninggal begitu?”


“Iya, dia meloncat dari gedung Rumah Sakit.”


“Siapa namanya, dan bagaimana wajah pria binal itu?”


“Ini dia,” memperlihatkan foto Adamson.


“Ya Tuhan, huuubbbbhhhh.” Menutup mulutnya rapat-rapat.


“Kau kenal pria ini?” Franda mengangguk.


Benang kusut dari kisah ini terurai, ternyata Ibunyalah yang menculik pria yang bersama Hikashi dan Frayza di Inggris. Pria yang hilang dari kapal, ternyata Ibunya dan Frank berkomplot dibelakangnya selama ini. Apakah Barbara memiliki rencana lain bersama Frank? Sepertinya Franda harus mengorek informasi lebih banyak lagi, tentang jati diri pria inu. Karena ini sangat kebetulan sekali. Pasti orang ini penting sehingga berada di lingkaran dirinya. Ibunya menyimpan banyak rahasia selama ini.


“Aku penasaran kenapa Ibu mengurung diri dikamar. Sedangkan Ayah berada di Bali, sejak aku pulang.”


“Lebih tepatnya sejak kematian Adamson itu.” Jawab kesal Julian.


“Kita harus mengungkap siapa dalang semua ini, karena aku sudah diperlakukan tidak adil. Kau mau ikut denganku?”


“Baiklah, ayo kita bongkar sama-sama.”


Julian dan Frayza pulang, tapi mereka memarkirkan mobilnya diluar pagar. Ketika dia masuk ke halaman rumah ada mobil Frank yang terparkir. Sepertinya Frank sudah mendengar kabar kepulangan Franda dari Inggris. Ternyata Frank masih menyimpan perasaan khusus pada Franda. Ini sungguh melenceng dari apa yang Franda tadi pikirkan. Dia berniat masuk kedalam rumah dan menyelinap. Ketika dia melihat pelayan membukakan pintu untuk Frank ke kamar Ibunya. Franda berjalan agak berat, mungkin Frank lupa letak kamarnya sebelah mana. Makanya dia salam masuk kamar.


“Kenapa Frank berani masuk kamar Ibu ya Kak,”


“Tapi apa pelayan dirumah kita ikutan bodoh membukakan pintu kamar Ibu?”


“Mungkin Frank ingin menjenguk dan melihat keadaan Ibu sekarang. Kau kan tahu ibu sedang tidak stabil. Mungkin Frank ingin menghibur Ibu, karena Ayah tidak berada dirumah.”


“Oh begitu, yasudah ayo kita masuk dan menyapanya.”


*


*


*


Julian sudah menindih Frank yang babak belur dihajarnya. Mulutnya mengeluarkan darah akibat bogem mentah yang melayang dari mantan atlit basket. “Pria rendahan, teganya kau mengganggu Ibuku. Apa kau sudah hilang akalmu, kalau dia pernah akan menjadi Ibu mertuamu. Kau ini gila apa memang hobi merusak keluarg hah!”


Frank sudah tak sanggup melawan karena dirinya kalah telak dengan Julian. Barbara dibantu Franda memakai bajunya lagi. Ibunya nampak sedih karena Frank berbuat cabut kepadanya yang sedang berduka. “Dasar tidak berguna, keluar dari rumahku! Apa belum cukup kau memiliki kedua putriku. Sekarang kau mau mencoba merayuku!” ucap Barbara yang menyerapahi Frank.


“Julian, seret manusia binatang itu keluar rumah kita. Beruntungnya aku dulu tidak menyerahkan tubuhku. Sudah hancurkan kakak sulungku, sekarang kau mau menodai Ibuku!”


“Puihhh,” meludah darah dari mulutnya. Tubuhnya sempoyongan digelandang Julian yang tinggi besar itu. Dia seperti binatang yang tak layak diperlakukan dengan baik.


“Mulai sekarang dan selamanya, jangan pernah ganggu keluarga kami lagi!” usir Julian.


Setelah menenangkan Ibunya, dan memberikan obat tidur. Franda menjaga Ibunya sedang sakit. Dilihatnya kamar milik Ibunya ini berantakan dan penuh sampah. Dia iseng-iseng membersihkan barang-barang yang berserakan. Terdengar pesan masuk di ponsel Barbara. Tertera nama Frank.


“Pria ini tidak ada kapoknya, sepertinya memang bakat menjadi penjahat wanita. Emb tapi tunggu, inikan file gambar. Coba aku buka dulu (tanpa ijin Barbara ia membuka ponsel Ibunya)”


Franda keluar kamar Ibunya dan menangis sejadi-jadinya. Dia pergi membawa ponsel Ibunya untuk ditunjukkan kepada Julian.


“Aku tidak percaya.” Menggelengkan kepalanya.


“Berarti sejak dulu Ibu yang berada dibelakang Frank hiks hiks hiks.”


“Jika benar, Frank menjadi simpanan Ibu. Lalu Kak Frayza artinya?”


“Dia menjadi objek penyiksaan, parahnya aku baru tahu jika Frank mau berpacaran diam-diam dengan Ibu kita.” Franda memukul-mukul kepalanya pusing.


Semua isi percakapan dan galeri foto dari ponsel Barbara sudah dikloning ke ponsel mereka masing-masing untuk dipelajari. Sebelum Barbara bangun, Julian mengembalikan ponsel Ibunya ketempat semula.


*


*


*


---- SWISS----


Didalam pesawat sebenarnya Dokter Kelvin sudah menghinoterapi Frayza. Karena trauma kehilangan ayahnya begitu mendalam dan menyiksa batin. Hikashi mengarang cerita bila mereka sudah menikah dan memiliki bayi. Karena proses melahirkan yang prematur. Makan Frayza mengalami guncangan jiwa hebat. Dan memorinya teracak bahkan hilang.

__ADS_1


“Tuan Muda, tapi ini tidak lama.”


“Aku tahu, terimakasih atas bantuanmu.” Mengusap pundak Dokter Kelvin.


Pesawat sudah mendarat dengan sempurna, hawa yang sejuk dan pemandangan sudah terjadi memanjakan mata. Hikashi membangunkan Frayza yang tertidur selama diperjalanan.


“Sayang, kita sudah pulang ke rumah.”


“Ekhhhh hoaaahhh ups,” menggeliatkan tubuhnya.


“Nanti lanjutkan lagi ya tidurnya diperjalanan.” Frayza mengangguk.


Sebuah mobil sedan sudah bersiap menjemput kedatangannya. Mobil itu melaju menuju suatu pemukiman yang jarang penduduk.


“Sayang, rumah kita sudah dekat. Apa kau tidak mau melihat gunung es dan hamparan hijau?”


“Hemmbb, mengantuk.” Menelusupkan tangannya melingkar ke pinggang Hikashi.


“Lanjutkan saja tidurnya, kau pasti lelah cuph.” Mencium kening.


Sebuah rumah berlantai 3 yang memiliki halaman paling luas inilah yang akan mereka tinggali.


“Yuhuu...” seseorang memakai caping melambaikan tangannya.


“Siapa dia?”


“Oh itu Kenzo, pengasug anak kita.”


“Anak?”


“Iya sayang, kita sudah memiliki seorang anak berjenis kelamin laki-laki.”


Kereta bayi itu semakin mendekati mobil yang tiba. Kenzo mendalami perannya sebagai pengasuh bayi. Begitu luwes menggendong dan memberikan susu.


“Apakah aku boleh menggendongnya?”


“Jangan sekarang, kita harus berganti pakaian. Kita baru saja menempuh perjalanan jauh, takutnya kita membawa virus atau bakteri. Lebih baik kita mandi dan istirahat sebentar. Biar kenzo yang mengurus bayi kita.”


“Hihihi percaya padaku hihihi.” Batin frayza sedikit linu melihat senyum Kenzo yang centil.


Kenzo tampak mencari sesorang lain lagi. “Eh Dokter Kelvin, dimana Ketua Matsumoto?”


“Dia tidak ikut, kau kecewa ya?”


“Fiuh kenapa harus kau yang datang, menyebalkan.”


“Suitt suiit...” Dokter Kelvin menggoda Kelvin dengan bersiul.


“Jangan menggodaku, aku orang yang Setia!” mengacungkan jari tengahnya.


“Uhukkkk,” tersendak kaku lehernya.


Didalam kamar Hikashi bingung harus memulai apa dulu. Dia tidak tahu akan melakukan apa terlebih dahulu sekarang.


“Sayang, dimana kau menaruh baju ganti?”


“Oh ini,” menunjukkan koleksi pakaian.


“Astagahhh,” terperanjat kaget dan kagum.


“Ke-kenapa?”


“Semua bajunya berpasangan, lucu hihihi.”


“Itu, itu dulu aku yang membelinya. Supaya kita terlihat serasi, ma-maaf kalau seleraku norak.” Bertingkah konyol.


“Ini keren sekali sayang, selama dan kaos. Bahan yang lembut dan lentur, ini sesuai dengan gayaku.”


“Be-benarkah?” hatinya lega karena frayza menyukai baju kesukaannya.


“Sayang, ini semua tiruan bukan. Karena kau bilang bekerja sebagai Sekertaris Tuan Matsumoto?”


“I-Iya sayang, aku membeli yang tiruan hehehe.” Sebenarnya itu semua asli, tapi apa daya iyakan saja. Karena dia mengaku sebagai karyawan biasa dengan gaji pas-pasan.


“Sayang, kenapa kau canggung? Aku siapkan air hangat dulu ya untuk kita mandi?”


“Ki-kita?” kaget bukan main, karena selama ini Hikashi tidak pernah mandi bersama.


“Kenapa sayang, aku akan menggosok punggungmu pelan-pelan. Rambutmu akan aku pijit setelah dikramas. Kau akan kembali segar setelah kita mandi hehehe.” Perkataan Frayza ini benar-benar menggoda sesuatu yang terpendam untuk naik kepermukaan.


“Cuph... Cuphhh... Cuppphhh,” ciuman itu semakin merata dileher Frayza. Hikashi mengunci kedua tangan dan menaikkan keatas kepala.


“Sayang, apa kamu tidak capek. Ini masih pagi, nanti malam saja uhhh...” melenguh kecil.


“Sudah tidak tahan sayang, cuph cuph cuph muaachhh.” Terakhir ia mencium bibir Frayza.


“Aku bantu buka bajumu,” Hikashi mengangguk memperbolehkan. Lalu Frayza membuka bajunya juga, dan menyusul Hikashi yang sudah masuk ke bak berisi air hangat.


“Kemarilah,” ia mendudukan Frayza membelakanginya dan menempatkan miliknya agar terpasang pada tempatnya secara tepat.


“Ahhhh,” desah Frayza merasakan sesuatu yang memenuhi dirinya.


“Baru separuh sayangghhhh ehhh ehhh... “ Hikashi membenarkan pinggul Frayza hingga habis kedasarnya.


“Ssssaaaa.. Sangattt ahhhhh,” mulai meracau kerasukan pedang.




...***Astagfirullah... Puasa-puasa kok malah Babnya bikin nakal. Author potong separoh yakkk, kagaknnahan soalnya kalau dilanjutin. Bawaannya pengen aja tapi jomblo hahahahaha. Selamat berpuasa bagi umat muslim. Semoga ntar malam Author yang ganteng dan imut ini bisa setor bar lanjutan. C U Guys.... Hahahahah aku prank dulu yakkkkk di bab ini***.

__ADS_1


...


__ADS_2