TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
GOOD BYE MAMA


__ADS_3

Tepat jam 5 sore, sopir itu sudah berada didepan gerai. Frayza keluar dengan wajah yanh nampak kelelahan seharian bekerja.


“Bisakah aku meminta waktu sebentar untuk kerumah sakit? Aku baru ingat jika hari ini jadwal kontrol.”


“Tentu saja Nona, silahkan masuk. Aku akan antar sampai rumah sakit.”


Rumah sakit yang sama, dimana Nathalie dirawat. Frayza mengambil antrian untuk menunggu panggilan kontrol. Ia merasa tubuhnya perlu dibersihkan sedikit, dan mendandani riasannya yang sudah luntur karena minyak.


Sopi pribadi tentu dengan jelas mengekor dengan jarak 2 meter. Orang-orang yang berpapasan dengan Frayza ketika kelar dari toilet aneh. Mendapati pria bertubuh tegap berdiri didepan pintu. Ada yang terkejut, menggerutu dan mencibir tentutnya. Frayza tak enak hati, jika seorang yang diperintahkan menjaganya direndahkan. Lantas ia bergegas keluar tanpa merapikan dandanannya.


“Apa kau sudah makan?”


“Belum Nona.”


“Giliranku masih lama, bagaimana kalau kita mencari kafetaria disini. Aku lapar hehehe.”


“Baik Nona.”


“Panggil Fray! Kau terlalu formal.”


Sebenarnya beban juga mendapatkan perlakuan seperti ini. Tapi ia sadar sebagai ibu dari anak-anak Hikashi. Tentu keselamatannya diprioritaskan juga, sekalipun dirinya sudah menjadi mantan ini.


Nathalie berjalan usai menjalani tes kejiwaan. Melihat sosok Frayza yang ceria bersama seorang pria berbadan tegap didepannya. Ia lantas masuk ke kafetaria ia dan menuju meja makan. Ia melihat barisan sendok dan garpu. Tangannya secara spontan mengambil garpu. Menggenggamnya kuat-kuat, dirinya ragu dan ketakutan berjalan.


Terus memantau Frayza yang makan, ia ingin menjadi satu-satunya wanita dihidup Hikashi. Walaupun mantan istrinya sedang bersama pria yang ia ketahui sebagai seorang pengawal pribadi yang menyamar sebagai sopir.


“KAU HARUS MATI! KAU HARUS BINASA! JANGAN PERNAH MUNCUL LAGI DIHADAPAN WILLIAM. MATI! MATILAH KAU!!!” Nathalie gelap mata menghujamkan pucuk garpu disekujur tubuh Frayza. Ia menindih tubuh Frayza agar tidak melawan serangannya. Darah mengalir dari sekujur tubuh Frayza.


Orang-orang yang melihat penyerangan Nathalie ketakutan, dan pengawal Frayza menghubungi pihak keamanan. Ia terluka bagian tangannya karea Nathalie menusuk lebih dulu pengawal yang duduk membelakanginya.


Sekarang Nathalie puas melihat Frayza tergolek lemas. Luka bekas tusukan garpu itu sangat efektif untuk mematikan Frayza. Sekarang Nathalie puas, walaupun ia sebenarnya ia takut kalau akhirnya dijatuhi hukuman berat oleh pihak kepolisian.


“Jjjaadeee-Sevvveeenn...” kalimat terakhir yang keluar dari bibir Frayza yang mengeluarkan banyak darah. Sudah berapa puluh tusukan garpu ditubuh Frayza. Bahkan wajah Frayza tak luput t dari serangan brutal Nathalie.


Keamanan dan media yang mendatangi lokasi kejadian langsung berhamburan. Sudah diperiksa denyut nadi Frayza yang berhenti. “Korban meninggal 10 menit yang lalu!”


Mata sebelah kanan Frayza terbelalak dan meneteskan air mata, sedangkan mata kirinya ditusuk brutal oleh Nathalie. Wanita Malang itu di akhir hayatnya hanya menyebut kedua putranya. Hati siapa yang tidak sedih, jika seorang ibu harus meninggal tanpa berpamitan? Padahal Jade sudah berdandan tampan menunggunya datang diteras rumah. Patrik menemaninya membawakan susu pun ikut menemani Jade. Bibi Fang yang kebingungan kenapa Seven menangis kejer. Biasanya Seven kalau diberi mainan ia akan diam. Tapi tangisan Seven ini seolah mengajak siapapun untuk keluar kamar.


“Tenang bayi tampan, sebentar lagi Mamamu datang. Sabarrr ya cup cup cup.”

__ADS_1


Bibi Fang pusing dan cemas, karena Frayza seharusnya tiba 2 jam lalu. Ia mulai berpikir macam-macam jika terjadi hal yang buruk.


“Patrick, sudah jam berapa?”


“Sudah jam 8 malam, ayo kita tunggu didalam.”


“Tidak Patrick, aku mau menungg Mama disini.” Jade duduk di anakan tangga teras utaman. Bocah itu termenung menyangga dagunya. Ia bernyanyi lagu bahasa Jepang, rencananya ia akan pamerkan pada ibunya.


Sebuah mobil berhenti tepat didepan Jade, senyum terkembang dibibir manisnya. Menyambut tamu istimewanya yang datang.


“Jade, Nak! Kau hars sabar ya!” Hikashi berhamburan keluar dari mobil memeluk putranya.


“Pppaappp-pa? Mana Mama!” pertanyaan ini sangat menyakitkan bagi seorang anak yang sudah menunggu lama.


“Jadeee hiks hiks hiks hiks, ayo kita temui adikmu Seven. Kita akan pergi temu Mamamu hiks hiks hiks.” Seorang Hikasih menumpahkan air matanya sambil berjalan.


Jade mengikuti Hikashi berjalan mencari kamar putra bungsunya. Patrick tampaknya sudah tahu, karena ditangannya ada ponsel yang aktif.


“Patrick, apa yang terjadi kepada Mamaku huhuhu.” Tenanglah Jade kau jangan panii dulu,ikutlah bersama ayahmu. Ayo temui Seven sekarang, maka kau akan bertemy ibumu.


“.....” Pria ini yang biasanya cerewet menutup rapat mulutnya dengan gembok.


Namun, Hikashi sudah lebih cepat masuk kamar menggendong Seven. Lalu menyambar Jade yang berdiri. Jadi kiri-kanan Hikashi menggendong dua buah hatinya.


“Kalian sayang sama Mama kan, kita akan temui Mama sekarang hiks hiks hiks.” Seorang ayah membawa dua anaknya yang bersedih karena sesuatu hal buruk terjadi.


Menemui ibu anak-anaknya, untuk apa? Biasanya wanita Malang itu selalu datang usai bekerja. Lalu ia pamit setelah kedua anaknya tidur pulas. Bahkan tengah malam kalau perlu Frayza jabanin demi bersama anaknya. Tapi kenapa, hari ini Jade diajak Hikashi pergi! Ia tidak mau menjemput ibuny, karena Jade ingin ibunyalah yang datang.


“Papa,” tanya Jade sekali lagi.


“Ssstttt, sabar ya Nak. Papa tidak mau banyak bicara.” Hikashi terus saja mengalirkan sungai matanya. Ia mengusap kepala anaknya. Sesekali menciumi kening mereka. Hatinya sangat sakit dengan kepergian Frayza yang mendadak. Baru saja ia sesumbar ingin merajut asanya kembali. Tapi Tuhan, berkehendak lain. Ia lebih ingin Frayza bersama Tuhan, daripada meminjamkan Frayza untuknya. Setidaknya sampai ia resmi menikah lagi dengannya. Karena penyatuan mereka kembali adalah kebahagiaan kedua putranya.


Jade rewel sepanjang perjalanan, membuat Hikashi semakin frustasi. Tangan mungil Jade menjulurkan jari telunjuknya. Untuk dimasukkan kedalam mulut Jade.


Nyoootttt...nyotttt... Nyooottt bayi itu mengenyot jemari Jade. Ternyata sudah haus minta asi, karena Frayza datangnya telat. Oleh sebab itu Seven rewel tiada henti.


“Steven, jangan rewel ya.”


Nyooottt...nyoottt.. Nyoottt bayi itu mengenyot jemari telunjuk Jade. Ya Tuhan, seperti apa luka batin Hikasih, jika kedua anaknya tahu. Ibunya telah tiada, ini sangat mengacaukan hidup mereka. Hikashi tidak bisa mengganti Frayza dengan apapun didunia ini. Begitu pula dengan kedua anak kecil ini, mereka tidak sanggup hidup tanpa ibunya. Baru sebentar saja, sudah begini parahnya. Apalagi kalau mereka tahu, bila ibunya pergi untuk selama-lamanya!

__ADS_1


“Dorrr! Fiuuuhh.”


“Kau?” baru saja dikagetkan ketika Matsumoto mengerjai menembak kepalanya.


“Serahkan benda setan itu!” Nathalie menyerahkan garpunya.


“Jangan kau pikir aku tidak tahu rencana burukmu itu. Mulai sekarang, aku akan terus memantaumu!


“Aku hanya ingin makan, kenapa kau bicara seolah aku berniat jahat?”


“Aku melihat tatapan dendam dari matamu, garpu ini memiliki tajam seperti paku. Jika dihujamkan ditubuh korbang sebanyak 30 kali, bisa game over!”


“Aku mau makan, makanya pakai garpu!” ngeles.


“Nathalie, aku tahu rencana busukmu itu.”


“Botak! Jangan sok tahu!”


“Nona Frayza ada disana, kau tak berhenti menatapnya penuh amarah. Mana ada orang makan salah memegang garpu, seprti pisau! “


“Nggggg...”


“Alibimu sangat terbaca jelas kepadaku! Kembali kekamarmu dan jangan buat ulah!”


Rambut Nathalie dijambak Matsumoto, pria bengis ini menggelandang pasien. Tampaknya Matsumoto lengah sedikit saat Nathalie bilang ingin beli minuman. Ternyata ia masuk di kafetaria dan memegang garpu.


Ia melihat sorot mata tajam dan tatapan kebencian ada didiri Nathalie. Adalah Natahlie memegang garpu berjalan mendekati Frayza makan. Sudah pasti, Nathalie berencana menghabisi Frayza. Karena sakit hatinya itulah, Natahlie nekat dan kehilangan akal warasnya.


Dan benar perkiraan Matsumoto, Natahlie memegang garpu untuk menjalankan aksinya. Akhirnya rencana jahat Nathalie untuk membunuh Frayza gagal. Dengan cepat Matsumoto datang, lalu menghalau segala kebengisan Natahlie.


“Aku mau pesan beberapa burger untuk Jade, kau lanjutkan makannya saja ya.”


“Baik Nona.”


Kaki Frayza menginjak benda, ia angkatlah sepatunya. Dan astaga sebuah garpu yang sedianya digunakan Nathalie untuk menghabisi nyawanya tadi.


“Maaf ini garpu milik kalian,” Frayza menyerahkan garpu kotor ini ke bagian kasir.


“Oh iya, terimakasih Nyonya.”

__ADS_1


Syukurlah yang tadi hanya khayalan Natahlie, eh tapi bisa aja lo jadi kenyataan. Enggak kebayang bijimane sedihnya kalau di Frayza koit duluan hiks hiks... Jangan lupa komen dan like nya ya, Terimaksih.


__ADS_2