
HALTE BIS,
Sembari menunggu Bis datang, Frayza asik memainkan Games on line. Dia sangat menggemari permainan anak lelaki, sedangkan Ramon mengecek ponselnya.
“Kenapa kau mencopot kuncirmu?” protes Ramon melihat rambut Frayza tergerai.
“Hooo, kenapa?” melongo menata Ramon yang berdiri, sedangkan dia duduk.
“Mulai sekarang pakai saja!”
“Kalau ketua Matsumoto komplen kita akan dihukum, lebih baik aku memakainya saat dikamar. Terlalu riskan berurusan dengan tua itu, sudah lajang, tua dan menyebalkan pula.”
“Hush, jaga bicaramu.”
Akhirnya Bis yang akan membawa kembali pulang tiba. Walaupun sudah larut malam, tapi penumpangnya masih banyak. Didalam Bis keadaan salin berdesakan antar penumpang.
“Kemarikan tubuhmu!” Ramon meraih pinggang Frayza agar berada didepannya.
“Tta.. Tapi aku tidak nyaman dilihat orang.”
“Disini sudah umum pasangan sejenis, lagipula kau pikir dirimu perempuan.” Frayza tersipu malu kalau sekarang dia menyamar menjadi laki-laki.
Sepanjang perjalanan Ramon terus mendekap tubuh mungil Frayza. Goncangan dalam Bis membuat semua penumpang saling bertumbukan dan terjadi kontak fisik tanpa disengaja.
“Ahhh kau menyentuh bokongku, kurang banjirrr!!!” teriak perempuan menggeplak lelaki yang setengah mabuk berdiri dibelakangnya.
__ADS_1
“Ahhhaaakkuuu tidak sengaja Nona, mamamaaaafff.” Terus memegangi pipinya yang masih terasa panas.
Pria yang dalam kondisi teler itu terus berjalan sempoyongan, hingga tepat berada di dekat Ramon dan Frayza berdiri sekarang. Cekiiiiiittttt jjjesss, suara rem Bis berhenti mendadak disebuah Halte.
“Awas!!!” Ramon mendorong tubuh Frayza hingga menempel di jendela kaca Bis. Tubuh mereka sudah saling menempel satu sama lain.
Brrrruuuggg, tubuh pria tadi terjatuh tersungkur. Ternyata pria mabuk itu sudah benar-benar kehilangan keseimbangan diri.
“Rrraaa... Ramon, tubuhmu berat sekali. Bisakah kau membenarkan posisimu lagi?”
“Iya,” Ramon dengan kaku mengembalikan posisi tubuhnya.
“Setelah Halte ini tempat pemberhentian kita bukan?”
“Iya,” menjawab dengan wajah disembunyikan dibalik lengannya yang memegang gantungan tangan.
Mereka berdua seperti orang asing yang tidak saling mengenal. Hanya bisa mencuri pandang saja, sesekali menyeringai senyum malu. Dan tibalah di Halte tujuan mereka. Ketika menyusuri jalanan menuju kediaman Hikashi. Jalan masuk menuju kediaman Hikashi ini lumayan jauh, dan sisi kiri-kananya.
“Brrrrr dinginnnn,” Memang benar malam sudah larut dan hampir Fajar menyingsing. Udara disekitaran taman ini semakin terasa lembab, mungkin embun.
“Dasar lemah, pakai jaketku.” Membelitkan jaket yang dia pakai sebelumnya.
“Aku tidak memintamu untuk memakaikan jaketmu, ini aku kembalikan.” Mencopotnya lagi.
“Haissshhh,” membelikannya di tubuh Frayza lalu merangkulnya dengan erat.
__ADS_1
“Kenapa jadi beginiiii,” tidak terima dengan perlakuan Ramon yang tiba-tiba aneh.
“Dengan begini kau tidak akan banyak protes lagi kepadaku.” Sambil berjalan beriringan mereka kembali.
Dari sorot lampu terlihat kedekatan mereka terekam kamera pengintai yang terhubung dengan kediaman Hikashi. Seseorang tengah melihat kedekatan Ramon dan Frayza, seolah akrab tak ada batasan. Pria itu memegang cangkir berisi kopi hitam panas. Sepanas tatapan matanya melihat kedekatannya dua orang yang kembali dari libur kerjanya.
*
*
*
BALI,
Ditengah masa liburannya, Julian membongkar barang dalam kopernya. Dia mencari sesuatu barang yang berharga miliknya.
“Dimana ya?” terus mengorek-ngorek isi tasnya.
Hingga barang-barangnya berhamburan bertebaran. Dirinya duduk dilantai meminum bir, agar emosinya terkendali normal. Kepalanya mulai berat mencoba mengingat-ingat kembali dimana dia menyimpannya.
“Oiya, apa di Pantai tadi ya saat aku bermain papan seluncur. Oh tidak mungkin aku kesana, cuaca sedang hujan badai. Pasti sangat berbahaya untukku mencarinya di bibir pantai.” Julian mengurungkan niatnya untuk mencari benda berharganya. Sampai kondisinya kondusif.
*
*
__ADS_1
*
Seorang gadis berambut sebahu berdiri didepan pintu Villanya, sembari menggenggam barang dalam tangannya. Dia dekap di dadanya, kemudian memejamkan matanya hingga menitikan manik air matanya. Seorang gadis yang tengah terluka batin karena kejamnya kehidupan yang menyiksanya. Villa yang dihuni oleh orang kaya dan kalangan atas ini seperti penjara bagi siapa saja yang terenggut kebahagiannya. Termasuk gadis berambut sebahu, dan mengenakan baju ada Bali. Dengan bunga Kamboja warna putih ditelinganya. Dia memilih pergi meninggalkan tempat yang biasa dia jadikan melamun.