TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
AKU TULUS PADAMU


__ADS_3

***BALI, INDONESIA***


Pembangunan Rumah Sakit sudah masuk tahap akhir, beberapa hari akan diresmikan. Pangeran Takeshi diajak meninjau bangunan megah nan modern ini. Selain desain yang modern dan ramah lingkungan. Pelayanan di Rumah sakit ini sudah setaraf Bintang 5. Hikashi yang sibuk mengurus pekerjaannya tidak sempat mengecek laporan dari Matsumoto mengenai kematian ayah Frayza dan percobaan bunuh diri Frayza karena kematian ayahnya. Hikashi sibuk mengadakan rapat pengisi jabatan dan menandatangi beberapa surat penting.


Takeshi menggunakan kunjungannya di Bali untuk berlibur. Daripada merayakan festival bunga sakura di Jepang. Hal inilah yang membuat Hiroshi semakin membenci Hikashi. Karena Takeshi lebih memilih bersama Hikashi, daripada merayakan kemeriahan Festival.


“Pangeran Takeshi, aku dedikasikan Rumah Sakit ini untuk dirimu.”


“Untukku?”


“Iya, aku ingin kau menikmatinya. Aku tahu kau mengalami trauma yang mendalam akibat kecelakaan. Jadi aku menyediakan pusat terapi trauma. Dan kau bisa belajar berjalan disini.”


“Aku sudah terima jika lumpuh.” Mengusap pahanya yang tak berguna.


“Kak Takeshi, selama ini kau yang mengajarkan aku untuk hidup bukan. Jika bukan karena aku, sekarang kau pasti sudah menjadi Pilot.”


“Hikashi, waktu itu aku yang memaksa bertukar kendaraan denganmu. Jadi ini sudah takdirku, kau mengerti.”


“Kak Takeshi, jika pada waktu itu aku yang berada di mobil itu. Kau tidak perlu menderita seumur hidup.”


“Penderitaanku tidak berarti, jika kau yanh berada di mobil itu. Apakah kau yakin bisa hidup sampai sekarang. Kau adalah keturunan Pangeran Naruhito satu-satunya. Dan aku sudah menganggap dirimu sebagai adikku sendiri.”


“Kak Takeshi,” memeluk Takeshi yang terdudk di kursi roda.


Rumah sakit yang digadang-gadang menjadi tempat terapi penyembuhan Takeshi ini. “Terimakasih karena kau sudah peduli denganku, aku bangga padamu.”


“Selama ini engkaulah yang sudah mengajari aku segala hal dan kehidupan. Ini sebagai wujud balas budiku, tolong diterima.”


“Terimakasih, terimakasih.” Takeshi tersentuh dengan niatna Hikashi ini.


Mereka mengadakan jamuan makan malam, usai peresmian Rumah Sakit. Para tamu undangan menikmati hiburan tradisional Bali yang tersohor.


“Rencana kembalike inggris kapan?”


“Dalam waktu dekat, oiya aku memiliki rumah di Swiss. Jika Pangeran Takeshi sudah bisa berjalan, ayo kita berduel diatas salju?”


“Oke, siapa takut!”


“Tolong, cepatlah pulih Pangeran Takeshi.”


“Iya, aku akan semangat dan berusaha.”


Ponsel Hikashi bergetar saat diletakkan diatas meja. Nampaknya dia baru ada waktu untuk mengecek ponselnya. “Tidak mungkin,” matanya memerah dan membanting ponselnya.


Hikashi sudah membaca berita yang Matsumoto kirimkan. Keadaan Frayza dan ayahnya sudah tidak baik lagi, karena terlalu sibuk dan fokus bekerja. Hikashi berpikir bila Frayza sudah bertemu Adam yang bersenang-senang. Tapi yanh terjadi adalah, Frayza menjadi depresi dan melukai tubuhnya sendiri. Hal ini dipicu karena ketidak adilan hidup yang ia alami. Matsumoto mengijinkan Dokter Kelvin untuk menyuntikkan penenang. Dan harusnya hal itu tidak boleh dilakukan terus, karena dapat membahayakan Frayza.


“Kau kenapa? Ada masalah apa, coba katakan?”


“Maafkan aku, sepertinya aku tidak bisa menemanimu lebih lama lagi. Ada hal penting yang telah aku abaikan, tolong jaga dirimu baik-baik Pangeran Takeshi.” Seolah menahan onak dalam batin, Hikashi berpamitan dihari peresmian.

__ADS_1


Tak ingin melewatkan jauh lagi, dia bergegas ke Singapura untuk melihat langsung kondisi yang sebenarnya. Hikashi menerima laporan demi laporan perkembangan kasus dan kondisi kejiwaan Frayza.


*


*


*


...---- SINGAPURA ----


...


Tubuhnya terikat oleh tali, serta tak mau bicara. Dia selalu menangis meratap ingin mati saja. Dokter Kelvin menjelaskan kalau kondisi Frayza hampir sama dengan Franda.


“Sembuhkan dia, atau aku akan membunuhmu!”


“Tuan Hikashi, aku sudah berusaha semampuku.”


“Apa kau mau aku membongkar aibmu?”


“Baik, aku akan kerjakan.”


Dibantu Matsumoto, Dokter Kelvin melakukan terapi. Tidak lagi menyuntikkan obat penenang, setelah melewati beberapa hari yang berat. Tatapannya kosong, dia tidak mau makan apapun. Hanya sesekali minum susu saat haus.


“Kau minta apapun akan aku beri, kau minta nyawaku pun akan aku beri. Tapi jangan minta nyawa ayahmu kembali, aku tidak mampu huhuhu.” Hikashi menangis mendapati kondisi Frayza yang sudah buruk. Kepalanya merasakan ada yang membelai, dan dia mendongakkan wajahnya.


“Tidakk, kau tidak boleh meminta mati padaku huhuhu. Aku mohon, hiduplah sampai tua bersamaku huhuhu. Fray, mintalah apapun yang kau mau. Akan aku kabulkan, asalkan jangan minta matihhh.” Hikashi memeluk erat tubuh kurus, kering kerontang Frayza. Ketika ia membelai rambut Frayza yang rontok. Hikashi semakin sedih, jika depresi Frayza ini semakin parah.


“Sayang, mintalah apapun padaku. Aku akan berikan untukmu, jangan minta mati ya. Aku sudah kehilangan mendiang orang tuaku. Kau adalah alasan hidupku terakhir. Aku mohoooonnnnnn!” Hikashi merendahkan harga dirinya dengan bersujud di kaki Frayza. Pria yang kejam dan dingin ini sedang memohon kepada manusia lain. Tak mudah bagi Frayza merelakan kematian ayahnya yang mendadak.


Padahal hari sebelumnya Hikashi meminta Kepala Sekolah agar Frayza mau mengambil pendidikan di luar negeri. Agar bisa bertemu dengan Adam, namun sayang. Rencananya gagal karena Adam keburu wafat dahulu sebelum hari pertukaran sandra ditentukan. Hingga akhirnya, Simon berhasil merenggut nyawa Adam karena cemburu.


Bersama Hikashi, Frayza diajak bertolak ke Swiss untuk memulihkan mentalnya. Dan Matsumoto dipercaya untuk menyelidiki kasus wafatnya Adam. Karena titik terang sudah mulai tampak, dibaju adam masih tertinggal sidik jari Simon. Serta di ruangan banyak sidik jari Barbara yang tertinggal.


“Kalian buntuti Barbara, dan selidiki aliran uangnya kemana saja.”


“Baik Ketua!”


“Dan kalian aku tugaskan menjadi pelayan di kediaman Simon. Awasi dan taruh alat perekam dibagian vitalnya. Jangan lupa laporkan semuanya, tanpa terkecuali”


“Siap Ketua!”


Usai membagikan tugas kepada anak buahnya, Matsumoto akan mengurus kepulangan Franda dari Inggris. Bukan tanpa sebab Matsumoto mengembalikan Franda secara cuma – cuma. Karena pihaknya sudah tahu kalau Adam sudah tiada, yang artinya Barbara tidak perlu mencari orang lain menggantikan Adam.


*


*


*

__ADS_1


Perjalanan yang ditempuh ke Swiss sangatlah panjang dan melelahkan. Dokter Kelvin terus memantau keadaan Frayza. Sepertinya dia terbantu dengan kehadiran Hikashi.


“Belum mau makan juga ya?”


“Menolak apapun Tuan Muda.”


“Pergilah, biar aku yang mengurusnya.” Dokter Kelvin meninggalkan Frayza.


Didalam pesawat ini, Frayza terus melihat keluar menatap awan dan langit yang biru.


“Sayang, cahayanya sangat terik. Pakai kacamatanya ya, biar tidak merusak kornea.” Memakaikan kacamata.


“Kau menangis?” pipi Frayza basah. Hikashi mengusap dengan jari jemarinya. Kemudian menciumi bekas lelehan airmata.


“Ada aku dan ayahmu disini,” memamerkan kalung yang memiliki liontin sperti batu yang langka. Frayza lantas melihat benda yang diperlihatkan Hikashi.


“Ini adalah darah dan abu kremasi ayahmu, aku sengaja mengagetkannya agar kau bersamanya setiap waktu.” Tangan frayza menyentuh ragu liontin aneh. Yanh konon terbuat dari darah dan campuran abu kremasi Adam.


“A-ayah...”


“Iya sayang, ini Ayah Adam.”


“Ayah,” berlinang airmatanya menatapa liontin.


“Ini milikmu, sekarang kalian tidak akam terpisahkan lagi. Kemanapun kau pergi, ayahmu akan bersamamu. Aku pakaikan ya,” mengalungkan dileher Frayza.


Dengan spontan Frayza memeluk Hikashi, “Terimakasih,” hanya sepotong kata yang terucap.


“Huhuhuhuhu,” Hikashi menangis, karena Frayza sudah melewati hidup yang berat.” Maafkan aku sayang, sudah menyengsarakanmu. Aku janji kita akan bersama-sama selalu, cup!”


Pesawat sudah melintasi beberapa negara dan benua. Mereka sekarang berada diatas awan, tidak ada lagi pengusik jahat.


*


*


*


Barbara ikut-ikutan dihantui Adam, setiap malam ia meminum obat tidur. Saat hendak menelan obat, pelayannya datang. Kalau Franda sudah tiba dirumah mereka. “Benarkah, putriku sudah kembali?”


“Benar Nyonya, sekarang Nona Franda ada dibawah menunggu anda dan Tuan.”


Sakinh gembiranya, Barbara menemui anaknya. Dia menuruni tangga dengan berlari kecil. “Franda... Franda... Kau pulang Nak?”


Franda bangkit dan berkata “Bu, pelan-pelan saja jangan tergesa-gesa.”


“Apa, kau si-siapaa?” terkejut melihat Franda yang sekarang menjadi gendut dan melar.


“Hahaha aku putrimu Bu, Franda.” Ditangannya ada camilan yang ia nikmati, mulutnya penuh berisi makanan. Bungkus camilan dan soda berserakan diatas karpet permadani mahal. Sunggun perubahan yang mencengangkan. Tubuh Franda yang kurus ramping, seperti kuda nil yang menggiling makanan tanpa henti.

__ADS_1


__ADS_2