TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
MENINGGALNYA MARGARETHA


__ADS_3

“Fray, apakah hari ini kau akan mengajar?”


“Iya, aku sedang mempersiapkan murid-muridku untuk ikut kompetisi Nasional. Dan juga aku belum membuatkan mereka seragam baru.”


“Jangan khawatir hari ini aku cuti khusus untukmu.”


“Kau seperti seorang suami yang siaga, ketika istrinya hamil.”


“Pfffftttt fiuhhh suami ya, kau mau berselingkuh denganku? Ya ayo saja kalau begitu, aku dengan lapang dada siap.”


“Hissss kau ini Dokter cebol!”


“Fray, kalau sedang mengajar kenapa kau tidak memakai tabir Surya. Bisa terbakar kulitmu!”


“Oh aku lupa, lagipula aku sudah terlambat bila naik kereta.”


Sroooooottttt (menyemprotkan pelembab kulit wajah Frayza) “Ini adalah salah satu usahaku menarik perhatianmu, awas kalau jatuh cinta kepadaku!”


“Iya, aku akan ingat perhatianmu...”


“Mobilku sudah siap, hari ini aku akan jadi sopir sekaligus selingkuhanmu. Silahkan masuk Nona Frayza.” Sikap Dokter Kelvin ini sangat flamboyan membukakan pintu mobil.


“Aku duduk dibelakang, kan kau sopirku hahahah.”


“Ahhh siitttt... Aku salah bicara, baiklah Nona hari ini kau majikanku. Besok aku jadi teman hidupmu, ingat itu.” Frayza mengangguk di kursi belakang.


Isi tas Frayza dikorek-korek untuk mencari ponselnya. Ternyata dia lupa menaruh ponselnya yang masih menyala ketika ia mandi. Kebiasaan Frayza ini tak hilang, yaitu mandi tanpa mendengarkan musik.


“Dokter Kelvin, stop disini saja. Ponselku ketinggalan dirumah, aku akan mengambil sebentar.”


“Aku putar balik saja ya mobilnya?”


“Tidak usah, aku akan berlari kerumah.”


Dokter Kelvin melihat keadaan sekitar tidak ada yang mencurigakan. Sepertinya wanita asing yang datang hanya salah alamat. Dirinya menyalakan TV untuk hiburan dalam mobil.


Dengan tergesa-gesa Frayza keluar dan mengunci rumahnya kembali, alangkah terkejutnya dia saat seseorang berdiri dihadapannya.


“Hastagaaaahhhh kau mengagetkanku!” mengusap dadanya.


“Aku mohon, jauhi Ramon!” tangan wanita itu meraih lengan baju Frayza.


“Kau siapa?”


“Aku...” mengusap pipinya dan tertunduk.


“Kau siapa?” Frayza mendekati agar jelas apa yang tengah disembunyikan wanita bertudung.


“Aku adalah Bibinya Digna, Margaretha.”


“Ya Tuhan, wajahnya kenapa rusak?” Frayza ngeri melihat wajah Bibi Margareth yang rusak.


“Temui aku di dibawah jembatan sore ini, aku mohon.”


Frayza tidak mengiyakan dan menolak, bisa jadi ini sebuah jebakan dan sabotase. Pekerjaan Ramon sebagai pengawal kerajaan sangat riskan akan resiko keamanan. Terlebih lagi Frayza belum lama bersama Ramon. Suara klakson mobil berbunyi, tandanya Dokter Kelvin ingin dirinya segera datang.


“Maaf menunggu lama, tadi aku kebelet pipis hehehe.”


“Owh, aku khawatir kau lama kembali. Tadi tidak menemui siapa-siapa bukan?”


“Eheeeemmm,” menggelengkan kepalanya.


“Oiya Fray, nanti siang aku harus ke Rumah sakit. Ada uji klinis obat yang akan aku periksa, apa kau ada acara pergi-pergi?”

__ADS_1


“Aku mau memancing, katanya ikan salmon disini sedang masa migrasi.”


“Bersama siapa?”


“Murid-muridku hehehehe.”


“Jangan pergi sendirian, akhir-akhir ini aku sering gelisah bilau jauh darimu. Mungkin aku mulai tertarik padamu, atau perasaan yang Ramon tinggalkan tumbuh dihatiku.”


“Ckckckckck Dokter Kelvin kau jangan menggombal lagi.”


Usai mengantar Frayza pulang ke rumah, Dokter Kelvin lantas pergi Ke Rumah Sakit. Dia berpesan untuk mengunci dan mengaktifkan alarm jika pergi memancing. Didalam gudang bawah tanah, Frayza tengah merakit senjata yang terpasang pada alat pancingnya. Dia menyelipkan pistol kecil di punggungnya. Kemudian menggerai rambutnya untuk menutupi sempurna permukaan.


“Saatnya aku menemui Margaretha.”


Frayza pergi dengan menggunakan sepeda kayuhnya, dia datang sendirian. Tidak bersama murid-muridnya, itu hanya alibi agar Dokter Kelvin pergi. Setelah menyusuri sungai dan beberapa jembatan, Frayza tidak melihat orang. Hanya beberapa anak-anak yang bermain bola.


“Sepertinya orang itu bohong,” dia mengeluarkan teropong untuk memantau kolong jembatan lebih jelas.


Setelah ia perhatikan secara cermat, ada kerumunan orang dipinggir sungai. Frayza menuruni anak tangga sungai, dia penasaran dengan temuan orang-orang.


“Sepertinya dia hanyut tak busa berenang.”


“Wajahnya ngeri sekali, seperti bekas luka sayatan.”


“Mayatnya tanpa identitas, sepertinya bukan orang Jepang. Mungkin Gaijin (orang asing) yang ilegal.”


Orang-orang mengomentari Margaretha yang sudah tak bernyawa. Frayza telat menemui wanita paruh baya itu. Seharusnya dia datang lebih awal, mungkin nyawa Margaretha bisa diselamatkan. Namun sayang, ajal menjemputnya lebih dahulu. Dirinya lantas pergi dan meninggalkan lokasi kejadian. Karena ia juga membawa senjata tajam dan api, bisa bahaya kalau anjing pelacak mengendus.


“Kau dari lokasi ditemukan mayat bawah jembatan ya?” Dokter Kelvin menanyai Frayza yang baru datang.


“Dari mana kau tahu?”


“Aku sudah curiga sejak kau lama mengambil ponselmu, ternyata kau tidak mengindahkan nasehatku.”


Keberanian Frayza menodongkan pistol ke tubuh Dokter Kelvin sepertinya tidak main-main. Saat Dokter Kelvin hendak bicara, tiba-tiba ada bel berbunyi. Ternyata beberapa Polisi yang sedang melakukan penyisiran sekitar lokasi kejadian. Dokter Kelvin keluar dan menyerahkan tanda bukti dirinya, sedangkan Frayza bersembunyi dilonteng atap rumah. Dokter Kelvin bicara bahwa dirinya tinggal disini karena pemilik rumah sedang di luar negeri. Setelah berbincang-bincang cukup lama. Polisi akhirnya pergi dan Frayza kembali turun.


“Kenapa kau berbohong tentang keberadaanku!” sambil menodongkan pistol lagi.


“Letakkan pistol itu, kau membuatku takut!”


“Katakan padaku!”


Dengan terpaksa, Dokter Kelvin mengakui bahwa dia mengenal Margaretha. Sebelumnya Margaretha adalah pasien yang ia tangani di ruang operasi karena beberapa kalo mengancam orang. Untuk mengantisipasi kecurigaan Polisi dalam penyelidikan, akhirnya Dokter Kelvin membawa pergi Frayza ke Bangkok, Thailand untuk mencari tahu siapa sebenarnya Digna dan Margaretha. Kepergian mereka dirahasiakan dari Ramon. Namun, kepergian mereka dari Bandara ternyata sudah dipantau orang.


*


*


*


---THAILAND---


Dokter Kelvin langsung mencari tahu lewat Dinas kependudukan menanyakan perihal Margaretha. Ternyata Margaretha adalah mantan pelayan di keluarga Jenderal. Dia diusir karena pernah lalai menjaga Putri Jendral yang hilang diculik.


“Sudah, kita usah mencari tahu tentang Digna dan Margaretha lagi. Lagipula mereka sudah meninggal dunia, jika memang Ramon jahat. Pasti aku sudah berakhir sejak dulu dan tidak mendapat kesempatan kedua untuk hidup bukan?”


“Tapi kita sudah mendapat alamat rumah Margaretha, Fray. Sedikit lagi kita akan tahi tentang Margaretha.”


“Sudah, ini masalah antara Ramon dan masa lalunya. Aku tidak mau terlibat karena mencari tahu tentang omongannya tempo hari. Jika aku memang ditakdirkan mati, pasti ditangan Ramon nyawaku sudah berakhir. Selama ini dia selalu membantuku, tidakkah Dokter Kelvin sadari jika Margaretha dan Digna ini adalah orang dimasa lalu Ramon?”


“Kau benar juga, lalu kita mau ngapain disini?”


“Berwisata hahaha.”

__ADS_1


Dan sudah diputuskan kalau mereka akan menikmati liburan di Thailand. Siang hari menikmati keindahan alam, dan malam harinya menikmati hiburan malam. Perjalanan mereka sangat mengasikkan hingga tanpa sengaja Julian yang sedang berlibur bersama keluarganya berpapasan dengan Frayza. Hatinya berdebar kencang, mulutnya terkunci rapat tak kuasa menelurkan kalimat ‘Hai,’ untuk Frayza yang tengah tersenyum karena cadaan Dokter Kelvin.


“Julian, bawa belanjaanku ini cepat!”


“Wanita ini begitu merepotkan,” Akhirnya Julian menenteng tas belanjaan Franda.


Sepanjanh perjalanan kembali di Hotel dia berpikir keras agar bisa bertemu dengam Frayza lagi. Setibanya dia di Hotel, Julian meminta bantuan kepada Matsumoto yang serba bisa untuk mencarikan Frayza.


“Apa?” Matsumoto terkejut karena keinginan calon adik ipar Bosnya.


“Aku mohon, dia bersama pria berkacamata dan mulutnya lebar. Dia gadis yanh rapuh dan tak berdaya, aku mohon Ketua Marsumoto. Kau kan oernah menolongnya bukan, jadi kau lah betul kalau dia selalu dalam bahaya.”


Bukan perkara bahaya atau tidak, jika Matsumoto ketahuan mencari tahu keberadaan Frayza takutnya Hikashi berubah pikiran lagi. Padahal Dokter Kelvin diam-diam ponselnya dipasangi alat pelacak oleh Hikashi. Jadi kemanapun dia pergi atau berkomunikasi bila masih disekitas ponselnya bisa dideteksi.


“Berikan ini kepada Julian, katakan jika anak buahmu yang memperolehnya!” Hikashi memberikan secarik kertas alamat Kostel tempat Frayza berada.


“Tuan Muda sudah tahu?”


“Aku tahu ini akan terjadi, anggap saja aku memberikan hadiah kepada calon adik iparku. Sepertinya gadis impiannya sangat menarik.”


Perasaan Matsumoto mulai tidak tengan saat Hikashi memberikan komentar tentang Frayza yang sudah dihapus dari ingatannya. Jadi Hikashi sudah tahu lebih dahulu bila Frayza dan Dokter Kelvin di Thailand. Pantas saja, dihari yang hampir bersamaan Hikashi tiba di Bangkok juga. Ternyata Hikashi masih penuh kejutan dan misterius. Matsumoto berpikir bila Hikashi datang untuk memberikan kejutan kepada Franda, tapi ternyata niat lain Hikashi tidak ada yang tahu.


“Sayang, terimakasih ya sudah menemuiku. Maaf ya jika aku manja memintamu kemari, padahal kau sedang sibuk-sibuknya.” Franda memeluk dari belakang.


“Iya, aku rindu padamu makanya aku datang.” Hikashi menahan tangan Franda yang meraba-raba dadanya.


Berbalut kemeja putih, dua kancingnya dibuka menampakkan dada bidang Hikashi yang melemahkan iman Franda. Gadis itu memeluk Hikashi sambil menciumi punggung pacar barunya itu. Hikashi enggan berbalik dan memeluk balik Franda. Dia masih nyaman membelakangi Franda yang nyaman memeluk dirinya.


Setelah mengantongi alamat tempat menginap Frayza. Julian bergegas menuju kesana, dia menemukan Frayza yang tengah tertawa terbahak-bahak karena melihat atraksi badut jalanan. Kini Julian tidak lagi pria lusuh yang hilang percaya diri. Sekarang dia orang yang memiliki aura sebagai pria seksi dan model. Dirinya memberanikan menyapa Frayza yang duduk disamping Dokter Kelvin.


“Apakah bulan sedang bersinar cerah seperti bola matamu yang berbinar?”


“Heee apa? Anda sedang bicara dengan siapa?” Frayza tidak mengenali Julian yang sudah mengubar tatanan rambutnya.


“Dari di Bali sampai disini, kau melupakanku?”


“Hhheee siapa?”


“Julian,” akhirnya dia memberanikan diri memperkenalkan secara resmi.


“Oh Julian, apakabar hahaha. Aku hampir tidak mengenalimu.” Langsung memeluk adik lelakinya yang sudah berubah total.


“Hai! Jangan berpelukan di tempat umum!” Dokter Kelvin melerai pelukan Frayza yang memang rindu pada Julian.


“Apa dia pacarmu? Dia jelek dan tidak tampan.” Cibir Julian.


“Hahahaha lucu sekali kau ini, dia tidak jelek. Kau ini kejam sekali menilai orang.”


“Jadi dia dia bukan pacarmu ya?”


“Bukan, tapi calon selingkuhanku hahaha.” Canda frayza lagi.


“Woiiiii kenapa masih calon, kandidat pacarmu!” protes Dokter Kelvin.


“Kalau begitu aku jadi sainganmu karena aku juga kandidat pacarnya!” tantang Julian tak mau kalah.


“Kalian baru bertemu kenapa sudah berseteru?” Frayza bingung berada ditengah-tengah pria yang memperebutkannya.


Atas seijin Hikashi pula, Matsumoto mengantar Julian dan ternyata itu Frayza bersama Dokter Kelvin. Sekarang Matsumoto takut bila dua orang yang sudah saling melupakan akan bangkitkan ikatan perasaan yang mati suri. Bagaimana bisa Frayza tertawa lepas dihadapan pria lain, jika Hikashi masih menaruh hati. Maka kedua pria yang memperebutkannya pasti akan diacak-acak. Tapi sekarang Hikashi sedang bersama Franda. Mungkin kedua orang dewasa itu sedang memadu kasih, karena akan melangsungkan pernikahan.


-------AUTHOR-------


Sebenarnya Author pengen banget nyatuin Hikashi dan Frayza. Tapi Author mau Frayza merasakan cinta kepada Hikashi. Namun, sayangnya keduanya harus menghapus kenangan buruk. Semoga Hikashi bisa bahagia bersama Franda yang memiliki wajah hampir mirip Frayza sebelum melakukan operasi. Dan Frayza bisa merelakan Franda bersama Hikashi, bila suatu hari dia tahu bahwa Hikashi memiliki kelainan mental. Terimakasih sudah membaca novelku ya.

__ADS_1


__ADS_2