TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
HUJAN MEMBAWAMU PERGI


__ADS_3

“Urungkan saja niatmu, jangan ganggu kebersamaan mereka.” Matsumoto menghadang laju Franda.


“Aku... Aku hanya ingin menyapa Nona Frayza.”


Menggelengkan kepalanya yang plontos, “Ckckckck, tidak lihat disana ada siapa?” maksutnya Hikashi.


“Iya tahu, siapa tahu dia melunak karena aku menyapa Nona Frayza.”


“Berhentilah merengek, karena kau bukan anak kecil lagi. Bersikaplah lapang dada dan jangan iri melihat kebahagian orang lain. Sudah porsimu sekarang menjadi begini.”


Franda memegang kalung besi yang terpasang dilehernya. “Iya, aku tahu konsekuensinya. Oleh karena itu, terimakasih sudah mengingatkan aku.” Franda mengurungkan niatnya dan memutar balik. Matsumoto selalu mengawasi gerak-gerik Franda yang mencurigakan. Terlebih lagi, karena Frandalah salah satu otak rencana pembunuhan.


Masih ditempat yang sama, yaitu taman Villa pribadi milik Hikashi. Tiba-tiba ponsel Hikashi berdering. “Sayang, tunggu sebentar Kenzo meneleponku.” Hikashi mencari jarak yang tidak terdengar kan oleh Frayza pembicaraannya.


Sambil mencari kursi untuk duduk, Frayza membuka kereta dorong Jade. “Hai Nak, apa kau senang berada di Bali?” hanya tawa lucu yang diberikan Jade. Kakinya bergerak menendang-nendang aktif. Tangan Frayza memainkan boneka gajah kecil, sesekali ditempelkan pada pipi Jade.


Tampak Hikashi beberapa kali mencuri pandangan matanya kearah anak dan istrinya. Untuk memastikan keadaan keduanya aman. “Kalau urusannya sudah selesai, sebaiknya kau menyusul saja di Bali. Mari berlibur bersama-sama, ada Matsumoto juga disini.” Tutup Hikashi memotong pembicaraannya. Dia berjalan kesebuah Batang pohon Yolanda yang hanya beberapa jam mekarnya. “Pasti ini Bagus untuknya.” Batin Hikashi membawa sekuntum bunga ditangan.


Ia menyelipkan bunga ditelinga istrinya,” Luar biasa, di photo sebentar ya Sayang buat kenang-kenangan di Bali.” Mereka berphoto keluarga dengan harmonis.


*


*


*


Matsumoto tidak begitu saja melepaskan Franda dengan mudah. Dia menarik tangan Franda hingga memutarkan tubuhnya. “Ahh sakit,” pekiknya.


“Sekali aku lihat kau mencoba menggangu Tuan dan Nona, ku ledakkan kepalamu!”


“Aku minta maaf dan tidak akan mengulanginya lagi Ketua Matsumoto.”


“Simpan mimik wajah polosmu, hatimy busuk seperti iblis!”


Pertengkaran ini dilihat Hikashi yang memasuki ruangan. “Ada masalah apa?” tegur Hikashi mendorong kereta bayi.


“Maafkan kami Tuan,” jawab keduanya.


“Franda,” nada lirih Frayza. Ia tidak salah lihat atau sedang berhalusinasi bukan? Kenapa Franda berada disini, kenapa Hikashi membawa ibu kandung Jade, apakah Hikashi menaruh hati kepada adiknya? Mungkinkah Franda akan menjadi perebut lagi, seperti yang pernah ia lakukan? Oh Tuhan yang benar saja, memalukan sekali jika dihancurkan kedua kali oleh wanita yang sama. Frayza pergi meninggalkan tempat ini dan berlari pergi tanpa ijin Hikashi.


“Fray!” teriak Hikashi untuk menghentikan laju istrinya.


“Biar saya saja Tuan,” Matsumoto mengejar Frayza.


Hikashi langsung menatap benci Franda yang menjadi sumber pelarian Frayza pergi. “Panggil pengurus Patrick!” perintah Hikashi agar Franda segera pergi.


“Saya, Tuan.” Patrick muncul.


“Bawa Jade kekamarnya,” Patrick membawa pergi kereta dorong.


Sekarang tinggal Hikashi dan Franda ditempat ini, Franda ketakutan setengah mati. Hikashi mulai merentangkan jari-jemarinya. Dari dalam jam tangannya ia menekan tombol remot kontrol. Klik, remot itu terhubung dengan kalung Franda. Lehernya terasa sakit karena tersengat aliran listrik yang terpasang pada kalung.


“Akh~~~” tubuhnya kejang dan bergetar, tergeletak dilantai.


Hikashi berjongkok didekatnya, “ Bagaimana sensasinya hemm?” nada melecehkan.


Napasnya tersengal-sengal kala tersetrum aliran listrik dilehernya. “Ampuni aku, Tuan Hikashi.”


“Pengawal, disiplinkan wanita ini dipenjara bawah tanah.” Serdadu pengawal itu datang dan memasukkan Franda kedalam penjara.

__ADS_1


Franda mungkin perlu diingatkan, bila dahulu dia lebih kejam. Setidaknya dengan begini, Franda bisa menyesali perbuatannya dimasa lalu. Hikashi tidak mau membunuh Franda, dia ingin membuat Franda menderita seperti yang ia rasakan. Hanya pelajaran kecil yang ia berikan.


“Tuan Hikashi, Nona Frayza sudah berada didalam kamar.”


“Aku akan segera kesana.”


Hikashi berjalan bergegas menuju keberadaan istrinya, belum sampai menarik gagang pintu. Terdengar suara mobil berkecepatan tinggi. Kemudian disusul petir yang keras disertai hujan. Hikashi keluar bertanya kepada pengawalnya yang berjaga.


“Siapa yang mengendarai mobil tidak sopan?” tanya Hikashi.


“Nona melemparkan aku dari dalam mobil, dia bersikeras menyetir Tuan.”


Hujan turun dengan derasnya diiringi suara gemuruh di langit. “Apa yang kau tunggu, cepat ambil mobilnya!”


“Siisssiiaapp,” berlari ke garansi mengendarai mobil.


Didalam mobil, Hikashi tak bisa tenang dan was-was memikirkan Frayza. Ia mengebut mengendarai mobil dalam keadaan cuaca buruk. Lalu lintas yang ramai ini membuat sulit untuk mengejarnya. “Cepat sedikit!” Hikashi menendang kursi sopir.


“Jalannya macet Tuan, didepan terjadi penumpukan kendaraan. Orang-orang keluar dari mobil dan berkerumun.


Tak terima alasan bertele-tele, ia segera keluar memakai jaket dan menyalakan senter dijam tangannya. “Kerahkan Pengawal untuk mencari Nona!”


Hikashi sudah kebasahan kuyup menerobos kerumunan orang-orang yang menutupi badan jalan. Ternyata ada mobil yang terparkir dijalan. Mobil itu sepertinya mogok, karena orang-orang berusaha meminggirkannya.


“Ada apa dengan mobil itu?” Hikashi bertanya kepada salah seorang pria yang mengabadikan kejadian.


“Tadi ada perempuan membantu menyeberangkan Pemulung sampah untuk lewat Zebra cross. Namun, naas mobilnya yang mogok itu ditabrak pengendara truk muatan ayam. Truknya kehilangan kendali, karena rem blong dan emang hobi ugal-ugalan.”


“Wanitanya hamil?”


“Tidak tahu Tuan Keren, hanya saja ia mengenakan mantel panjang menuntupi tubuhnya. Tapi, yakin deh tu cewek cakep banget kayak artis turun dari pesawat.”


“Sudah jelas itu mobil yang dipakai Frayza, ada stiker emblem kepemilikanku.” Bicara sendiri.


“Kau tahu kemana wanita itu perginya?”


“Setelah berhasil menyeberangkan Pemulung tua itu, dia bersama sopir truk ayam dibawa ke Pos Polisi terdekat.”


“Dimana?”


“Sana,” menunjukkan Pos Polisi yang berjarak 50 meter dari lokasi kejadian.


“Oke,” Hikashi langsung berlari menerjang hujan dan malam. Dia berharap tidak terjadi hal yanh buruk pada Frayza dan bayinya.


Setibanya di Pos Polisi, hanya ada sopir truk yang sudah di hakimi massa. Hikashi tak melihat sosok Frayza disana, “ Maaf Pak, sedang mencari siapa?” tegur salah satu Polis.


“Saya mencari wanita yang mengendari sedan warna hitam.”


“Anda siapanya, kok ganteng-ganteng main air hujan. Sini ngopi dulu biar anget.”


“Oh tidak, saya tidak suka kopi. Tapi saya suka nyusu,” Tolak Hikashi halus.


“Yah enggak suka kopi, sukanya susu yah pantes putih tinggi. Bedalah sama kaum kopikers, yang item dan pendek. Slrrruuuppp ah.”


Percuma saja bertanya pada orang-orang di Pos Polisi ini. Mereka tampaknya santai-santai saja. Hikashi melihat kiri dan kanan, mana tahu ada Frayza. Hujan sudah mulai sedikit reda, tampaknya jarak pandang sudah mudah.


Diseberang jalan nan jauh Frayza masuk kedalam kedai kopi dan roti. Dalam saku jasnya dirogoh tidak ada sepeser uang. “Kenapa Suami tidak punya kontan dalam sakunya,” ia begitu kedinginan dan mulai lapar. Frayza masih berdiri didepan toko. Dari dalam toko, pemiliknya melihat wanita yang berdiri terhalang kaca bening.


“Sepertinya aku tidak salah lihat bukan, walaupun lewat setahun. Tapi aku yakin kalau dia.” Nimas keluar dari toko miliknya.

__ADS_1


Wanita cantik memakai jubah hitam besar itu nampak basah kuyup. Rambutnya yang lepek serta wajahnya yang pucat putih. “Nona Frayza, benarkah ini kau?” Namira datang mendekatkan dirinya untuk memastikan.


“Nimas, kau masih ingat padaku?”


“Tentu saja aku masih ingat, kau orang yang memiliki tempat penting dihidupku. Masuklah,”


“Tidak, aku tidak membawa uang.”


“Toko dan kedai ini milikku, ayolah masuk. Diluar dingin nanti kau bisa sakit.”


Nimas mendirikan tempat usahanya ini untuk menjadi tumpuan hidupnya. Perilaku James yang buruk, membuatnya harua mengakhiri pernikahannya. Sebagai ganti rugi, ia memperoleh uang dari hasil perceriaanya.


“Hai cantik,” seorang pria datang menyapa menghampiri Frayza yang menggigil kedinginan.


“Bos, sepertinya dia tuli. Sayang sekali, cantik-cantik tuli.”


“Hemmbb, walaupun sekarang dia sedang kumuh begini. Tapi kalau dilihat menarik juga. Dan jas yang ia kenakan merk mahal ckckc. Siapa kau gadis cantik? “


“Hai jawab, namamu siapa?”


“Cih,” umpat Frayza tak nyaman diganggu begundal.


Nimas yang sudah hapal kelakuan Wayan kepada pengunjung di Kedainya ini sangat mengganggu. “Tidakkah kalian sudah menerima uang setoranku hari ini, pergi!” usir Nimas.


“Wowowowowow, ada betina ayam marah suittt suiiitttt.” Ledek wayan.


“Wayan, kau pergi dari sini.”


“Kalau aku tidak mau kenapa?”


“Wayan aku peringatkan secara baik-baik.”


“Nimas, gadis ini tersesat dan memiliki wajah yang cantik. Jika aku membawanya menjadi penghibur di klub malam uangnya bisa jadi modal judiku hahahahaha.”


“Ayo cantik, ikut denganku kau akan bersenang-senang.”


“Lepaskan... Lepaskan tanganku ahh.” Terjatuh dilantai karena berontak tangannya ditarik paksa.


“Bos lihat ada darah keluar dari itu,” kepanikan terjadi.


“Bodohnya kalian ini, wanita ini sedang hamil kenapa kalian siksa.” Nimas membantu Frayza untuk bangkit.


“Gawat, kita bisa dalam masalah. Ayo kita tinggalkan tempat ini!”


Nimas mengejar mereka bertiga yang kabur tidak menolong Frayza. “Tolonggg... Tolonggg...ada wanita wanita yang pendarahan!” Nimas mencoba menghentikan taksi atau kenderaan apapun tapi tak berhasil.


Teriakan Nimas ini terdengar sampai ke telingan Hikashi, “Kalian, segera kesana semua!” memerintahkan pengawalnya untuk ketempat wanita yang meminta pertolongan.


“Tuan, Nona pendarahan!” teriak pengawalnya.


“Fray!” Hikashi memeluk istrinya dan membopongnya keluar kedai. Mobil pengawalnya sudah terpakir didepan.


“Awhhh sakittt Hikashi, sakittt.” Rintih Frayza.


“Siapa yang melakukan ini?”


“Tuan,tadi ada berandalan yanh bersikap kasar kepasa Nona ini.” Sahut Nimas.


“Kurang ajar, beraninya menyentuh wanitaku.”

__ADS_1


“Tuan Hikashi, anda segera bawa Nona ke Rumah sakit. Biar kami urus berandalan itu.”


Nimas tentu saja membantu menjelaskan ciri-cirinya. Karena selama ini Wayan sudah keterlaluan memerasnya. Nasib baik tengah berpihak kepadanya, ia berharap agar Wayan bisa masuk penjara. Sudah banyak uang yang ia gelontorkan untuk lelaki tak berguna itu.


__ADS_2