TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
MISI SUKSES


__ADS_3

Sudah hari ke 2,masih tersisa 1 hari lagi untuk menyelesaikan misi ini. Ramon terus berpacu dengan peserta lain, ketika panas terik matahari membakar kulit. Peserta lainnya sudah kehabisan bekal makanan, mereka harus bertahan hidup dengan mengkonsumsi apapun yang berada di hutan. Termasuk hewan liar dan tumbuhan.


“Percuma kau menangkap ikan, membuang waktu iya.”


“Lantas kita mau mati kelaparan disini?”


“Apakah dengan memakan dedaunan bisa mengenyangkan. Oh tentu saja tidak, lebih baik aku memasak ini!” membawa ular yang sudah dipotong kepalanya.


“Ramon, apa kau sudah tidak waras?”


“Daripada kita mati kelaparan lebih baik kita makan ini saja. Berapa peserta yang masih bisa bertahan di kompetisi ini?”


“Mungkin tinggal 5 orang termasuk kita, aku menghitung jumlah kembang api semalam.”


“Cepat kita makan daging ular ini, sebelum waktu kita semakin habis. Kita adalah pesaing, tapi bertahan hidup adalah tugas kita sebagai manusia.” Keduanya membakar daging ular dengan ranting dan dedaunan yang kering. Walaupun rasanya tidak enak dan sangat menjijikan.


Usai menyantap makanan yang tidak biasa, tenaga mereka sudah sedikit pulih. Mereka lantas berpencar mencari jalan yang tercepat untuk mencapai Wihara. Siang menjelang sore, peserta masih belum juga melihat Wihara suci berada. Mereka sepertinya mulai kelelahan dan putua asa di dalam hutan.


“Kalau memang di hutan ini ada Wihara suci, setidaknya ada pertanda sekecil apapun.” Ramon kelelahan bersandar di pohon besar sambil melihat ujung pohon itu sampai dimana.


Tukkk...Tukkkk... Tukkkk... Sayup-sayup mulai terdengar suara alunan orang memanjatkan doa-doa. Ramon menyusuri semak belukar yang rimbu. Dan terua menerobos rerimbunan seperti pagar yang menutupi bangunan. Mulai mencium aroma harum dupa yang dibakar, serta beberapa Biarawan yang berdoa. Ramon hanya menunggu hingga waktu gelap. Ternyata Wihara itu berada di sebuah Puncak gunung yang tertutupi rimbunnya pohon yang besar. Mungkin usianya sudah ratusan tahun, karena besar tanaman tersebut. Ketika malam tiba dan penghuni Wihara suci itu selesai melakukan ibadahnya. Mereka membasuh sebuah pedang yang dibungkus kain berwarna merah dan kuning.


“Itu pedangnya!” Ramon sudah yakin dengan penglihatannya

__ADS_1


Disekitarnya sudah 3x kembang api dinyalakan. Berarti kalau tidak salah hitungan tinggal 2 peserta yang masih aktif disini. Ramon menutup wajahnya dan menyelinap masuk di dalam wihara tempat pedang suci itu diletakkan. Ketika ia berhasil masuk, dia menunggu waktu yang tepat dan bersembunyi ditempat yang aman. Dan benar, seseorang masuk dan hendak mengambil pedang itu. Namun para biarawan mengetahuinya, maka terjadilah pertarungan yang sengit. Hingga seorang agen yang bertarung itu sudah terluka babak belur, Ramon hendak membantu. Namun ia urungkan, karena kalah jumlah yang banyak di Wihara. Sampai akhirnya para Biarawan itu menangkap agen tersebut dan mengurungnya. Tinggal 2 orang yang berjaga, ketika lengah. Ramon melumpuhkan 2 biarawan yang berjaga, kemudian ia mengambil pedang emas. Dan kabur keluar Wihara, ternyata temannya di kurung di sebuah kandang.


“Ssssstttt tolong lepaskan aku?” Ramon menoleh dan melihat agen yang tertangkap basah.


“Baiklah, tapi aku hanya akan melepaskan ikatan tanganmu. Setelahnya kau usaha sendiri untuk kabur!” Ramon akhirnya melepaskan ikatan tangan dan kaki agen tersebut.


Dia sengaja tidak membuka kandang yang sudah diikat tali pusing. Agar agen itu tidak bisa mengendus jejaknya. Kemudian merebut pedang yang sudah ia dapatkan. Setelah itu Ramon pergi dan bergegas menuruni hutan di gunung itu dengan bersemangat. Pedang sudah dia kuasai, saatnya menyerahkan kepada Hikashi agar memperoleh hadiah utama yang tak ternilai.


*


*


*


Dara barak penampungan peserta yang sudah kembali menunggu 2 orang yang masih berada di dalam hutan. Peserta yang keluar dadi sekapan itu keluar pertama. Lalu sosok Ramon yang diharapakan muncul ternyata tidak ada.


“Dia tadi sudak kembali terlebih dahulu, dan dialah yang menyelamatkanku dari kurungan para Biarawan.”


“Aku harap tengah hari esok dia kembali bersama kita.” Matsumoto mulai khawatir terjadi hal buruk di hari terakhir.


Mereka yang sudah berkumpul menceritakan pengalaman mereka masing-masing. Dan yang lebih menarik lagi ialah ada salah seorang agen yang terperosok masuk kedalam jurang. Dengan kaki terjepit dahan kayu, serta badan yang menggantung terbalik.


“Haaaccccuuuhhhhh,” Frayza bersin. Sekarang ia sudah terbangun dan menyadari bahwa dirinya sudah selamat. Ingatannya masih acak dan samar-samar. Selang infus dan kaki yang diperban pada kedua pergelangannya menjadi bukti pertaruhan nyawanya.

__ADS_1


“Bagaimana keadaanmu?” Hikashi masuk bersama beberapa pengawal yang membuntutinya dari belakang.


“Hormat Tuan Hikashi,” Frayza memberi salam kepada Tuan besarnya.


“Ternyata kau sudah bangun dari pingsanmu, karena kecerobohanmu. Aku menunda agenda penting dengan orang-orang berpengaruh.” Hikashi menyalahkan Frayza yang sudah ditolongnya.


“Terimaksih Tuan karena sudah berkenan menolong saya,” Hikashi mendekatkan wajahnya, sehingga terasa aroma nafas yang keluar dari hidung Hikashi yang segar aroma menthol.


“Kelak, aku akan meminta imbalanku.” Frayza berpikir, orang kaya yang memiliki banyak harta kenapa masih berharap imbalan dari orang miskin.


“Imbalan apa Tuanku?” Hikashi tersenyum dan memamerkan pedang suci yang diserahkan Ramon pada acara pelatihan. Frayza takjut melihat wujud pedang suci yang masih terbalut kain. Pedang yang sangat cocok untuk Hikashi yang dingin.


“Aku datang dan memberitahumu bahwa kau memiliki hutang nyawa kepadaku. Dan temanmu sudah berhasil mendapatkan hadiah utamanya. Ku harap kau tidak mengingkari janjimu untuk membayar imbalanku.” Hikashi menggigit bibirnya dan pergi dari kamar Frayza. Tampaknya Hikashi mulai berani gadis yang menyamar lelaki.


Betapa kagetnya Frayza melihat kamarnya sekarang banyak bunga di dalam vas. Aromanya Wangi dan menambah asri ruangan. Aneka ria hidangan sudah terjadi, tapi sayang kedua pergelangan kakinya harus diperban. Karena masih terluka dan butuh waktu lama untuk sembuh kembali. Dirinya menggunakan kursi roda untuk kegiatannya.


“Aku pulang,” Ramon sudah kembali dan tampaknya sangat kacau.


“Hai bangun, jangan tidur dilantai bodoh. Kau ini kotor dan bau, selama tiga hari tidak mandi sana pergi!” Ramon sudah tertidur tengkuran dilantai yang dingin dan nyenyak tidurnya sebab kelelahan.


Lantas Frayza membuka ponselnya dan membuka grup percakapan yang dibuat untuk para agen yang bekerja di kediaman Hikashi. Mereka membicarakan Ramon yang langsung kabur menemui Hikashi untuk menyerahkan pedang suci. Padahal mereka menunggunya berjam-jam. Sikap Ramon inilah yang membuat kesal Matsumoto dan rekan agen yang menunggunya. Kini latihan fisik sudah selesai, dan Frayza harus bersabar menunggu kesembuhannya.


Pada saat malam kejadian sebelumnya, di dalam Helikopter. Hikashi terus menghangatkan tubuh Frayza yang dingin akibat cuaca buruk. Dirinya tak ingin Frayza dirawat dirumah sakit, karena Hikashi sudah memiliki tim Dokter dan peralatan media yang setara dengan milik Rumah Sakit. Oleh sebab itu, Frayza tiba di kediaman Hikashi dan memperoleh pertolongan dengan cepat.

__ADS_1


“Frank...kenapa kau hadir dalam hidupku, kalau untuk menghacurkan masa depanku...” kalimat itu yang masih terngiang-ngiang di ingatan Hikashi ketika Frayza tak menyadarkan diri. Walau nada suara Frayza sangat pelan dan lirih, telinga Hikashi paham betul bila Frank adalah seseorang yang berperan penting dalam hidupnya.


Setelah urusannya dengan Ramon selesai, dia kembali melanjutkan urusan bisnisnya. Hikashi tidak langsung memberikan jawaban yang pasti, hanya saja dia perlu waktu berpikir. Karena minim bukti yang dimiliki oleh Ramon saat kejadian penyerangan di Pulau pribadi.


__ADS_2