
#SEBELUMNYA.
Setelah pindah ke kediaman barunya di Griya tawang. Hikashi memangkas pengawal di Jepang. Dia masih merahasiakan kedatangannya dari Jerman. Isu kembali ke Inggris hanya pengalihan agar Damora kembali pulang.
“Tuan Muda, saya sudah menyiapkan semuanya.”
“Bagus.” Jawab Hikashi singkat.
Ia mulai membenahi penampilannya menjadi orang lain. Setiap malam jadwalnya diluangkan untuk ke Rumah Sakit dimana Frayza dirawat. Dia menyelinap sebagai petugas kebersihan rumah sakit agar bisa merawat Frayza kala gadis itu terlelap. Hingga pagi datang dia bekerja seperti pengusaha sibuk.
“Tuan Muda, ini surat pemutus kontrak yang sudah disetujui. Dan uang ganti rugi sudah dia cairkan.”
“Selanjutnya dia tinggal dimana?”
“Ternyata Dokter Kelvin menampungnya di sebuah Apartemen hunian kecil. Sementara itu yang dapat saya sampaikan.”
“Buat sibuk Dokter Kelvin dengan pekerjaan di Rumah Sakit, berikan dia jabatan eksekutif. Selanjutnya rekomendasikan terapis mata agar dia tertarik.”
Menerima tawaran yang menggiurkan serta jenjang karir yang menjanjikan. Lantas membuat Dokter Kelvin menjadi sibuk dan mendapat undangan berbagai seminar kesehatan baik di Jepang maupun di luar negeri. Hal ini jugalah yang membuat Dokter Kelvin sedikit melupakan keberadaan Frayza. Namun, saat itu jugalah kesempatan memindahkan Frayza di Apartemen yang memang disediakan untuk Dokter Kelvin.
Matsumoto menyamar sebagai terapis di siang harinya. Sedangkan ketika malam giliran Hikashi yang menjenguk Frayza. Biasanya Hikashi datang saat larut, ketika usai bergelut dengan pekerjaannya. Sampai suatu hari dimana Matsumoto membawa Frayza keluar jalan-jalan. Hikashi yang sedang rapat memutuskan menyusul karena cemburu bila Matsumoto terlalu dekat dengan Frayza. Hingga terjadi percekcokan menyebabkan Frayza tercebur kedalam sungai. Hikashi lah yang menolongnya lebih dahulu, bukan Matsumoto yang menyamar Fujiro. Saat Frayza berhasil diselamatkan di daratan, Hikashi lah yang membuat nafas buatan. Sedangkan Matsumoto memantau ketakutan bila terjadi hal buruk pada Frayza akibat percekcokan dengan dirinya sebelumnya.
Karena khawatir Frayza kenapa-kenapa lagi. Hikashi berinisiatif memboncengnya naik sepeda sampai pulang. Dan dikawal mobil dari belakang. Setibanya di Apartemen, hanya Hikashi dan Frayza yang masuk kedalam. Sedangkan Matsumoto diijinkan berjaga diluar. Dan penglihatan Frayza sdah kembali, dia melihat Fujiro palsu. Yang memakai wig dan kacamata untuk menyempurnakan penyamarannya selama ini.
“Hummpsss... tuan Hikashi! “
“Ekh ...” matanya terbuka mendengar serau suara mengagetkan tidurnya.
Hikashi lantas terbangun dan sudah mendapati Frayza menutup mulutnya. Dirinya tidak menyadari kalau mata Frayza sudah pulih dari kebutaan.
“Kau!”
“Tuan Hikashi, apa yang kau lakukan disini?”
Waktu ini Hikashi masih belum menyadari kalau wignya sudah dilepas Frayza. Dia gelagapan dan kebingungan karena telah terciduk lebih awal.
“Aku Fujiro bukan Hikashi!”
“Bagaimana bisa Tuan Hikashi menyamar sebagai Kak Fujiro. Sedangkan rambut palsumu sudah aku copot.”
Kali ini Frayza diuntungkan karena kecerobohannya. Sekarang dia tahu bahwa Fujiro adalah Hikashi, namun Frayza tidak tahu jika Matsumoto yang menjadi Fujiro di siang harinya. Jika Frayza tahu bahwa Matsumoto siang Fujiro pasti perkelahian yang terjadi. Karena Matsumoto dan Frayza adalah orang yang saling bertentangan.
“Kau salah paham, aku disini hanya numpang tidur. Rumahku sudah aku ratakan, jadi sekarang kau menampungku!”
“Hhhhaaaaa.”
Mendengar ucapan Hikashi yang baru saja terlontar membuat otak Frayza tak bekerja dengan baik untuk berpikir.
“Tuan muda, kau mau kemana? Urusan kita belum!”
“Aku sesak nafas, bau mulutmu sangat mengganggu!”
__ADS_1
“Aku ikut,”
“Fred, kau bau. Aku mau sendiri cari udara, jika kau paham. Pergi mandi dan berdandanlah sebagai pria yang baik. Lihat rambutmu sudah tak terurus, kusut dan lusuh!”
Usai mengatakannya, Hikashi keluar dari Apartemnya Frayza. Didepan para pengawal yang sedang siaga kaget melihat wujud Hikashi tanpa penyamaran.
“Tuan muda, kenapa lupa berdandan Fujiro?”
“Gara-gara kau, aku ketahuan oleh Fred.” Dengan nada kesal melimpahkan marahnya kepada Matsumoto.
“Masak ketahuan sih? Yah...”
Mereka mengikuti Hikashi yang kalan kabut di taman.
“Haisssshhh,” mengumpat dan melempar kacamatanya.
Sepertinya Hikashi meluapkan kekesalannya dengan berdiam diri di taman terlebih dahulu.
“Tuan muda, Dokter Kelvin terlihat memasuki area parkiran.”
“Bukankah dia seharusnya lusa kembali?”
“Sepertinya Fred mengabarkan kalau dia bisa melihat. Dan Dokter Kelvin kemari ingin mengecek kondisinya.”
“Kalau begitu, kau yang menyamar sebagai Fujiro. Aku mau ke Griya Tawang saja.”
Didalam Apartemen, Frayza sudah menunggu Fujiro kembali. Berharap mendapat penjelasan mengenai Hikashi.
“Bagaimana mungkin kabar baik ini aku tunda, awalnya aku berpikir akan mencari donor mata untukmu saja.”
“Lalu?”
“Sepertinya Terapis yang direkomendasikan okeh Rumah Sakit sangat bagus.”
“Iya bagus, sangat bagus hehehe.”
“Aku mau mandi dulu, setelah itu kita rayakan kesembuhanmu. Bagaimana?”
“Emmb, bagaimana ya hehehe. Aku mau menunggu seseorang saja.”
“Siapa? Lelaki atau perempuan?”
“Dia terapis Fujiro, mana lagi yang dekat denganku hehehe.”
“Fray, dia tidak tahu kalau kau perempuan bukan?”
“Tidak hehehe.”
“Jaga sikap manismu itu, aku tidak suka jika pria lain melihatnya.”
“Apakah aku harus memasang wajah cemberut begitu? Seperti dirimu ketika hasil penelitianmu gagal hahaha.”
__ADS_1
“Kau mengejekku hemmmb, awas kau.”
Ketika Matsumoto masuk, dia melihat Dokter Kelvin mencubit pipi Frayza dengan gemas.
“Kalian?”
“Ini ya Fujiro yang kau bicarakan tadi?”
“Iya hehehehe,”
“Sepertinya wajahnya aneh, tidak sama dengan di formulir yang pernah aku baca.”
“Mungkin itu wajah saya ketika masih miskin, Dokter. Sekarang saya sudah bekerja dan hidup dengan baik.”
“Apa yang dikatakan hidup dengan baik?”
“Emb, begini Dokter Kelvin, sejak kau sibuk dengan karirmu. Aku memintanya untuk tinggal bersamaku disini.”
“Kalau lelaki begini harusnya tidak aku terima dulu, pasti dia macam-macam.”
“Jangan salah paham Dokter Kelvin, aku hanya satu macam saja.”
“Awas saja kau kalau macam-macam dengan sepupuku ini.” Merangkul tubuh Frayza.
“Jangan keterlaluan, Kak Fujiro orang yang baik. Berkat dia juga aku bisa sembuh dengan cepat.”
“Iya-iya...” menginjak kaki Matsumoto karena di bela Frayza.
“Jiaaaaaaakkkkkk,” menjerit kesakitan.
“Kau tidak apa-apa Kak Fujiro?”
“Tidak sakit, tapi ngilu diinjak kakiku.” Frayza tersenyum kecil Matsumoto dikerjai Dokter Kelvin.
Hal lain di lakukan Hikashi di kediaman Griya Tawang. Dua orang gadis berambut hitam dan panjang tengah berlutut dihadapannya. Didepan mereka ada gunting dan pisau.
“Jika kalian suka rela memangkas habis rambut secara sukarela. Makan aku akan membayarnya seberat timbangan perhiasan.”
Keduanya melihat helaian rambut panjang miliknya. Amat sayang sekali kalau di potong begitu saja. Perhiasan yang mewah dan cantik ini harganya bukan main, bila dibanding dengan rambut mereka. Karena hanya ada satu gunting, maka wanita kedua tidak mau kalah memotong rambutnya dengan pisau.
“Aku tidak keberatan membantumu memotong rambutmu.”
“Benarkah Tuan?”
Pedang suci diambil Hikashi, dan perempuan itu disuruh terlentang dalam keadaan rambut tergerai. Clang, Hikashi memangkas rambut itu sekali tebasan.
“Akkkkhhhhh...” jerit wanita itu ketakutan bila kepalanya yang salah tebas.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Maaf ya pembacaku, jika bab ini kurang menarik. Karena Author sedang sibuk dan kurang fit. Jangan lupa kasih ide untuk kemajuan cerita ini.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=