TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
MENANAM BENIH KETURUNAN


__ADS_3

*** MALAYSIA ***


Direktur pemilik perkebunan serta pabrik minyak kelapa sawit ini sedang mengalami kebangkrutan akibat bermaim judi. Hutangnya sudah banyak, sedangkan harga yang ditawarkan begitu tinggi.


“Aku tahu kau bermain judi di klub judiku di Macau, jika kau tidak ingin bunganya semakin membengkak. Aku hanya memiliki solusi jual dengan lunas hutangmu. Atau beli sesuai harga yang kau minta tapi aku naikkan bunga pinjaman hutangmu, bagaimana?” desak Matsumoto kepada Jack Direktur perusahaan.


“Bos, aku mohon beri waktu aku setahun lagi. Aku akan melunasinya, jika kau melebur habis hutangku. Maka aku tidak memiliki apapun lagi?”


“Selama ini kau menahan gaji karyawan mu, mereka kadang kelaparan. Sedangkan kau bisa hidup mewah di Macau? Apakah yang menderita karena lebih banyak? Coba pikirkan bila aku mengambil alih Perusahaanmu kemudian kau bisa pergi dari kejaran anak buahku? Ingat, aku tidak bisa berbesar hati untuk kali kedua. Aku sedang ada minat dengan Perusahaanmu!” Jack berpikir keras usai Matsumoto menjelaskan desakannya.


“Aku akan membicarakan hal ini dengan istriku dulu.”


“Istrimu yang mana? Kau membohongiku lagi? Istrimu sudah pergi kabur karena penagih hutang mendatanginya, sekarang dia hidup menggantung di saudaranya.”


“Bos, sejak kapan kau tahu hal ini?”


“Jadilah orang yang pintar dan berawawasan luas agar mudah langkah hidupmu!” menepuk pipi Jack.


“Bos, tunggu!” Jack mulai berubah pikiran.


“Aku tidak suka basa-basi, jika kau tidak mau menyerahkan aset. Maka hutangmu akan semakin mustahil untuk dilunasi.” Sedikit menekan Jack.


“Aku ambil surat-suratnya di rumah, tapi apakah aku bisa mendapatkan sisa uang dari hari penjualannya?”


“Kau menunggak gaji karyawan yang mengabdi kepadamu selama setahun. Apakah aku harus merugi lagi?”


“Baik, aku mengerti.”


“Mobil yang kau pakai itu, aku tidak minat. Itu yang bisa aku berikan kepadamu.”


“Terimakasih Bos,” jawab Jack senang.


“Setelah aku menerima berkasnya, kau bisa angkat kaki selamanya dari sini.”


Itulah Matsumoto, pengikut setia Hikashi yang dapat diandalkan. Hubungan Adamson dan Barbara saja mampu ia kuak. Sedangkan Simon suaminya tidak tahu-menahu, bila selama ini istrinya masih menaruh hati pada Adam. Sayangny, Adam miskin dan yatim piatu. Pria yang tidak memiliki keberuntungan sepanjang hidupnya. Disaat sore, Adamson biasanya berada di kebun sayur miliknya. Sambil memberikan pakan ikan peliharaannya. Selama ini dia memiliki hobi yang bisa menyelamatkan kelangsungan hidupnya. Selain gaji kecil yang ia tidak terima selama setahun ini. Dari hasil hobinya inilah ia mampu bertahan hidup. Pria ini begitu sederhana. Bahkan bajunya yang menempel pada tubuhnya hanya beberapa potong. Dia hidup sendirian dan sebatang kara. Terkadang teman kerjanya datang untuk meminta bantuannya. Adam adalah pria yang baik dan pendiam. Matsumoto mengawasinya dari kejauhan bila Adam sering melamun. Dia duduk diteras kursi bambu, sambil mendekap foto bayi Frayza. Yah, perasaan ayah mana yang tidak hancur. Buah hatinya sudah mati terlebih dahulu. Adam pernah bercerita bila dia memiliki satu hari saja. Dia ingin membelikan putrinya baju dan kembang gula di taman hiburan. Hal yang tak pernah Frayza dapatkan selama hidupnya. Mungkin ikatan batin Adamson sangat kuat kepada darah dagingnya.


“Tuan Adam, apakah anda mau menyanyangi gadis ini?” Matsumoto datang dan menyodorkan foto Frayza yang cemberut.


“Aku tidak mengenalnya.” Menggelengkan kepalanya.


“Gadis ini seusia Putri Barbara yang sulung, namanya juga Frayza. Dia adalah teman dekat sekaligus sahabat putrimu yang sudah wafat. Dia akan menceritakan semua tentang putrimu. Sifatnya juga sama, bahkan anda akan merasa ada jiwa putrimu dalam tubuhnya.”


“Jadi namanya sama putriku ya ‘Frayza’ kebetulan sekali. Tapi dia sangat cantik, apakah dia Putri konglomerat?”


“Hoh bukan... Bukann. Begini Tuan Adam, aku jelaskan sedikit ya. Nona Frayza ini adalah gadis Tuan Hikashi. Dia adalah putra mahkota kerjaan, namun lengser. Sekarang dia tinggal di Inggris, karena ibunya masih memiliki silsilah bangsawan Alexander. Konon untuk menikahi gadisnya ini, Tuan kami meminta kami untuk mencarikan wali. Jadi apakah kai bersedia?”


“Kenala harus aku?”


“Karena kau adalah ayah dari sahabatnya yang telah tiada. Dan dia harus memiliki orang tua untuk identitas ya yang baru. Tuan muda kami masih keturunan Bangsawan dan Kerajaan. Bila riwayatnya sebagai anak yatim-piatu, dikhawatirkan suatu hari nanti dia tidak memiliki hak. Dan Tuan Muda Hikashi akan memberikan imbalan atas kesediaan anda menjadi Ayah walinya.”


“Hah imbalan, kenapa ada imbalan. Aku tidak mengharapkan imbalan apapun. Gadis itu yatim-piatu dan sahabat putriku, kenapa kau menilaiku matre? Benar aku miskin tapi hatiku berlapang dada menerimanya. Katakan kepada gadis itu dan Tuan Muda Hikashi kalau aku bersedia menjadi Ayah wali bagi Frayza.”


Tak disangka, pekerjaan Matsumoto di Malaysia berlangsung mulus dan lancar. Sepertinya ia akan lebih awal pergi ke Inggris. Setelah menjelaskan tentang tugasnya nanti, Adam juga mulai belajar tentang mengelola Perusahaan yang benar. Matsumoto mengabarkan kepada Hikashi bahwa Adam ayah Frayza tidak keberatan.


“Tuan Adam, anda tidak perlu lagi membawa apapun. Karena nanti seluruh keperluan anda sudah disiapkan. Anda hanya perlu beristirahat untuk perjalanan besok ke Inggris.”


“Kalau begitu, aku ingin membelikan oleh-oleh untuk Frayza.”


“Tidak perlu, yang Tuan Muda kami harapkan dari anda sudah lebih dari cukup. Anda tidak perlu melakukan hal apapun kecuali ikuti arahan saya.” Matsumoto mengladi resik Adam sebelum berangkat.


Gubuk tua milik Adam mulai dihancurkan. Selanjutnya akan dibuatkan hunian yang layak tinggal. Memiliki halaman yang luas dan pekarangan yang sudah tertata rapi. Tujuannya agar Adam bisa menikmati masa tuanya dan fokus menjadi salah satu pemilik saham. Hikashi tidak memberikan seluruh saham Perusahaan, tujuannya agar ia bisa mengendalikan dan memiliki andil yang lebih besar.


Hikashi : Apakah calon mertuaku merepotkanmu?


Matsumoto : Tidak sama sekali Tuan Muda.


Hikashi : Baiklah, kalau begitu kau atur pertemuannya dengan Putrinya. Aku tidak bisa menjamunya dulu, karena harus melakukan program bayi tabung.

__ADS_1


Matsumoto : Baik Tuan Muda, segera saya laksanakan.


Berat rasa hati Hikashi melakukan ini, tapi dia ingin memiliki keturunan yang meneruskan garisnya. Hal yang tidak mungkin Frayza berikan adalah anak. Jadi Hikashi merelakan dirinya ini untuk memiliki anak dari rahim perempuan lain.


*


*


*


------ INGGRIS ------


Sebuah rumah sakit dipilih untuk melakukan program bayi tabung ini. Dokter Kelvin sudah tiba lebih awal untuk mengecek kesiapan pembuahan. Dari hari laborat Franda dinyatakan sehat dan subur. Hal ini disambut baik oleh Hikashi yang antusias akan memiliki anak. Keduanya melakukan pembuahan secara medis. Awal-awal hari terapi Franda menurut, karena Hikashi memperlakukannya dengan baik dan sopan. Sepanjang waktu mereka habiskan bersama. Tak jarang juga Franda memberikan perhatian kepada Hikashi. Awalnya Hikashi canggung dengan Franda yang memperhatikannya. Karena selama ini dia dingin dan kaku.


“Sore hari paling nikmat minum teh dan biskuit, ayo istirahat sejenak kerjanya. Upssss!” air dalam cangkir beriak mengenai tangan Hikashi.


“Hisss... Aku kan sudah bilang berulang kali kau kau tidak perlu mengurusku. Ada pelayan yang bisa melakukan perintahku. Kau hanya perlu mengurus dirimu sendiri dan jangan mengusikku!” Hikashi marah karena tangannya kepanasan.


“William, aku hanya ingin akrab denganmu. Karena kita tinggal bersama, kau seperti robot yang dingin. Apakah kau tidak bisa bersikap lebih baik kepada wanita yang meminjamkan rahim untuk calon anakmu! “


“Kau ini kenapa sih, akhir-akhir ini sikapmu keterlaluan manjanya. Aku mana bisa berbuat lembut terhadap wanita lain. Aku sudah...”


“Tidak perlu kau jelaskan, aku sudah tahu. Karena kekasihmu itu tidak bisa mengandung bukan?”


“Jaga bicaramu,” memalingkan wajahnya.


“Seharusnya kau bersikap baik kepadaku, karena aku yang akan mengandung benihmu. Dia sebenarnya acuh kepadamu karena tidak menyukaimu. Sedangkan aku rela menyerahkan raga dan jiwaku. Tidakkah sulit bagimu untuk memilihku saja sebagai wanitamu?”


“Minumlah obat dan jangan bergerak, sudah hampir 2 bulan aku menghabiskan waktu disini tapi kau tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Ini karena ulahmu yang banyak bergerak, jika ini gagal maka aku akan membuangmu ke laut!”


Ucapan Hikashi ini tak menyulutkan keberanian Franda. Dia berjalan dan memeluk Hikashi erat, dia tak mau melepaskan tubuh pria yang jijik dipeluknya. “Jangan sentuh aku, aku tahu kau sudah dijamah oleh Frank.”


“Tapi aku masih gadis dan perawan, kau bisa mencobanya. Aku tidak bohong!” tegas Frayza.


“Aku tidak bisa menghianati wanitaku, sebaiknya kau kembali ke kamarku. Biarkan aku pergi, jauhkan tanganmu dari tubuhku!” pelukan Franda semakin kuat.


Lalu datanglah Dokter kandungan wanita memeriksa keadaan Franda. Setelah diperiksa, sekarang ini Franda sudah hamil 1bulan. Artinya 8 bulan lagi Hikashi akan memiliki bayi kecil.


“Kalau begitu aku bisa menemui Frayza secepatnya.” Ucap Hikashi yang sudah rindu tak bertemu.


“Tapi bagaimana denganku?” Franda bertanya.


“Kau? Bukannya sudah jelas jika kau hamil dan tinggal disini.”


“Jika kau mau pergi menemui wanitamu, maka kau harus mengunjungiku juga. Karena aku mengandung anakmu!”


“Sejak kapan aku jadi budakmu? Ingat, di sini yang berkuasa itu aku. Ayahmu sudah menyetujui surat perjanjian ini.”


Mata Franda berlinang airmata kala membaca isi perjanjian yang menyatakan kesediaan dan persetujuan atas dirinya mengandung anak Hikashi.


“Jadi, kau membeli rahimku ini?”


“Hemmmbb,”


“Tapi kenapa kau dulu bilang akan menikahiku! Jika aku tahu ini hanya jebakan, aku tidak akan sudi melakukannya!” Franda memukul-mukul tubuh Hikashi.


“Nona, berhenti jangan menyakiti Tuan Muda!” Matsumoto menarik tangan Franda yang menyerang bertubi-tubi.


“Ikat dan kurung di kamar!” perintah Hikashi yang kesal karena ulah Franda.


“WILLIAM... KAU PRIA KEJAM, SUATU SAAT KAU AKAN MENYESAL DAN BERLUTUT KEPADAKU!!!” umpat Franda yang tak terima diperlakukan bak boneka.


Dokter kandungan sudah mewanti-wanti agar emosi Franda tidak meledak. Karena dapat berpengaruh terhadap janin. Atas saran Dokter kandungan dan beberapa pertimbangan. Akhirnya Franda diijinkan untuk ikut tinggal di Kastil milik Hikashi. Hal ini bertujuan agar Franda tidak mogok makan atau mengamuk. Hikashi juga mulai bersikap baik dan ramah. Sesekali Hikashi tersenyum kala Franda menyodorkan perutnya. Dalam hati, Franda berharap agar dirinya menjadi istri resmi Hikashi. Bukan wanita mandul yang tak bisa memberikan keturunan. Beberapa kali Hikashi harus kecewa tidak bisa menemui Frayza. Kedatangan Adam ke Inggris membuat waktunya tersita habis. Frayza banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja dan bermain bersama ayahnya.


“Paman, walaupun aku bukan Putri kandungmu. Tapi aku mohon perlakukanlah aku seperti putrimu.”


“Tentu saja, Paman akan menyayangimu. Entah kenapa, saat aku bertemu denganmu kau tidak asing bagiku.”

__ADS_1


Ikatan darah tak akan pernah tergantikan. Frayza sangat senang dan bahagia bisa bersama lagi dengan ayahnya. Walaupun dirinya harus mengaku menjadi orang lain. Ini lebih baik daripada mengatakan hal yang sebenarnya. Setiap berangkat dan pulang kerja di Sekolah bela diri tempatnya bekerja. Frayza selalu dijemput oleh Adam, lalu mereka berdua pergi ke taman bermain, danau dan ke Panti Asuhan.


“Katakan kepada Frayza, aku sudah menunggunya lama. Dan besok aku akan menjemputnya.”


“Baik Tuan Muda.” Jawab pelayan di Rumah Frayza.


Sudah beberapa kali ini Hikashi kesulitan menemui Frayza. Dia benar-benar merasa diabaikan dan tidak dicintai. Padahal ia sudah merencanakan pesta lamaran. Namun, lagi-lagi Hikashi harus menelan kekecewaan yang pahit. Malam harinya saat dirinya memeriksa kesiapan berkas pernikahannya dengan Frayza. Franda mendatanginya dan mengatakan jika perutnya kram. Lalu Hikashi paham jika bayinya ingin diusap memakai tangannya. Perlahan-lahan Franda akan memiliki Hikashi seutuhnya. Karena dirinya yang paling berhak daripada wanita lain. Rencana lamaran mewah Hikashi ini bocor dan sampai ke telinga Franda. Lalu mengatur strategi untuk menggagalkannya.


“Tidak akan kubiarkan wanita lain mengganggu rencanaku. Anakku tidak boleh memiliki ibu lain, selain diriku. Hikashi hanya milikku seorang!”


Franda mengatur siasat dan segera menyusul Hikashi. Walaupun harus memakai bantuan Ibunya, Barbara. Mereka akhirnya berhasil membuntuti Hikashi yang berada di Pelabuhan bersama Frayza. Lalu disusul Adam yang keluar dari mobil yang sama. Mulut Barbara terkunci rapat, karena dia menebak mungkin orang yang kebetulan mirip saja.


Kapal pesiar mewah sudah mulai berlayar ke lautan lepas. Frayza tampaknya melihat segerombolan ikan lumba-lumba yang berenang mengiringi kapal.


“Awas, nanti kau bisa terjatuh.” Ucap Hikashi.


“Aku melihat lumba-lumba, mereka lucu ya.”


“Jika kau mau, aku akan menangkapnya.”


“Memang boleh?”


“PENGAWAL TANGKAP LUMBA-LUMBA ITU!” teriak Hikashi memerintahkan penjaganya.


“Hssss jangan, aku tidak serius. Biarkan mereka hidup ke alam bebas. Aku takut dia akan mati jika terkurung.” Wajahnya murung seolah tahu rasanya hidup terkekang.


“Baiklah, lain kali jangan memuji apapun didepanku. Karena aku tidak bisa menolak keinginanmu.”


“Kau ini hehehehe.”


“Peluk aku,” merentangkan kedua tangannya. Mempersilahkan Frayza untuk memeluk tubuhnya. Dari dek atas Franda melihat Hikashi meminta pelukan. Perasaan cemburunya tak bisa terelakan lagi, dan Barbara membisikkan rencana.


Awalnya Frayza berat dan sungkan memeluk Hikashi. Karena dia tidak merasakan perasaan spesial. Karena Hikashi sudah membawa ayahnya ke Inggris. Maka sebuah pelukan ia hadiahkan kepada Hikashi. Disaksikan Franda dan Barbara, kedua sejoli itu berpelukan tanpa rasa malu.


“Apakah kau sangat merindukan ayahmu, sampai-sampai aku kau abaikan?”


“Hemmmmbb... Tidak.”


“Hai, sekali saja katakan rindu kepadaku. Apakah Pelayan di rumahmu tidak menyampaikan pesanku?”


“Aku tahu, tapi aku sibuk bersama ayahku hehehe.”


“Berhentilah bekerja, agar kau memiliki waktu luang lebih banyak. Aku sudah terlalu bersabar karena kau tidak bisa membagi waktu.”


“Apa kau marah?”


“Jika kau menciumku, aku akan memaafkanmu!”


“Hai Tuan Muda, sekarang ini aku memelukmu. Apakah masih kurang?”


“Kurang lebihnya kau akan tahu nanti di kamar hehehe.”


“Kau!” mencubit Hikashi.


“Auhh sakit, awas kau nanti akan menyesal.”


“Hahaha ampun Tuan Muda...” Hikashi menggendong Frayza masuk kedalam kamar. Dia melemparkan tubuh Frayza diatas ranjang Hikashi. Ini artinya tubuhnya harus digunakan untuk memuaskan pria yang melepaskan kancing kemejanya. Batin Frayza masih bergejolak untuk menerima Hikashi. Ada trauma masa lalu, terkadang wajah Frank sepintas mengusiknya. Padahal Hikashi tengah mencubunya, dirinya ingin berontak dan berhenti melayani Hikashi. Namun, tenaganya tak cukup kuat untuk melawan. Sudah beberapa jam dibawah kungkungan Hikashi yang tak berhenti. Matanya mulai pedas dan mengantuk akibat permainan yang lama.


Setelah ia bangun dan membersihkan tubuhnya. Ia membaca pesan dari ponselnya. Dilihatnya Hikashi yang masih tertidur pulas tengkurap memeluk guling. Frayza keluar dari kamar untuk mencari ayahnya. Rencananya mereka nanti mau memancing. Tapi Frayza harus kecewa, ayahnya tidak ia temukan. Dia mulai panik dan bertanya-tanya kepada orang-orang.


“Nona, seluruh kapal sudah aku geledah. Namun, anak buahku belum berhasil mencari.”


“Ketua Matsumoto, aku mohon carilah ayahku.”


“Apa sebaiknya kita beritahu Tuan Muda saja?”


“Jangan, biar aku cari sendiri kalau begitu.” Barbara dan Franda tersenyum licik melihat kepanikan Frayza.

__ADS_1


__ADS_2