
Dari dalam kamar mandi, Frayza menggunakan alat pencukur rambut milik Ramon. Dia mencoba merapikan rambutnya yang sudah tumbuh panjang.
Tok... Tok... “Fred, apa kau berada di dalam?”
“Iya, aku sedang mencukur rambutku.”
“Apakah perlu bantuan untuk merapikannya?”
“Tidak usah, aku mencukurnya plontos. Ini mudah sekali kok, sebantar lagi aku selesai.”
“Hohh baiklah, aku akan mengemas barang-barang.”
“Huum,” membabat habis rambutnya sampai cepak.
Memang tak bisa dipungkiri lagi, wajah Frayza lebih tampan saat menyamar menjadi lelaki. Digna saja betah karena perawakan Frayza yang manis dan maskulin.
“Kau kenapa mengemasi barang banyak sekali, apa kau akan pindahan?”
“Tidak Fred, Ramon mengajak kita berlibur keliling menggunakan kapal pesiar selama satu bulan penuh.”
“Oh jadi aku sendirian saja nich dirumah?”
“Alah kau cemburut saja, tentu saja kau ikut serta. Karena kau pria, pasti barang bawaanmu tidak sebanyak milikku bukan.”
“Benarkah apa yang katakan tadi, sering kali kau membodohiku. Kemaren kau bilan bahwa garam rasanya asin. Ternyata baking soda yang kau tapi kau tukar wadahnya, bukan?”
“Hahaha Fred, kau sangat perasa sakali sih.”
“Emb dan satu hal lagi, kau menyuruhku membeli es krim saat hujan deras. Akhirnya leleh diperjalanan juga, belum sempat dalam dinikmati. Kali ini aku tidak akan percaya bualan wanita yang berbulu mata palsu.”
“Eh sejak kapan kau perhatikan wajahku Fred, kenapa kau bisa tahu aku memakai bulu mata palsu sambungan? Fred, apakah kau sudah menyadari bahwa aku wanita yang menarik hahaha?” goda Digna bergelayutan di tubuh Frayza.
“Jauhkan tanganmu, aku bukan Ramon. Pergilah, aku mau menikmati kesendirian ini dengan belajar menjadi mata-mata.”
“Ayolah Fred, kita tidak ada misi pekerjaan lagi. Ramon sudah bekerja dengan orang yang royal. Lihatlah?” menampakkan foto Hikashi yang sedang menunggangi kuda.
__ADS_1
“Bukankah dia pria yang kau cari tahu data identitasnya?”
“Benar sekali Fred, Tuhan sangat baik mengirimkan aku di bumi ini dikelilingi pria-pria tampan. Rasanya aku ingin memiliki anak dari mereka masing-masing. Tak disangka, pria yang aku temui itu ialah bosnya Ramon.”
“Selamat ya aku ucapkan,” Frayza mengacuhkan ocehan Digna.
“Fred, cepatlah berkemas!”
“Tidak! Aku lebih nyaman begini. Pergilah, aku lebih senang melakukan kegiatan didepan komputer.”
“Hai tolil! Apa kau mau Ramon menyeretmu?”
“Untuk apa dia menyeretku?”
“Dia tidak akan membiarkanmu disini sendirian, apa kau lupa bahwa Ramon sangat menjagamu.”
Sejenak Frayza berpikir kalau selama sebulan kepergian Digna dan Ramon kejadian apapun bisa saja terjadi. Setelah mempertimbangkan usulan digna, akhirnya dia mengemasi beberapa stel baju saja. Kalau-kalau dia berubah pikiran dan ingin kembali ke Apartemen.
“Cih, seharusnya Ramon sudah tiba. Kenapa sudah sejam dia belum menampakkan Batang lehernya?”
“Sabarlah, dan nikmati waktu menunggumu dengan bersantai. Bukankah menunggu adalah kesempatan melakukan kegiatan lain yang tertunda.”
“Hai kembalikan?”
“Cium dua kali dipipi!” menunjuk pipinya.
“Jangan macam-macam atau kalian berdua aku masukkan kedalam Aquarium!”
Kedatangan Ramon mengagetkan kedua orang yang sudah lusuh menunggunya. Mobil sedan berwarna hitam dan jam tangan mahal di pergelangan tangannya.
“A-apakah kau pacarku?”
“Kau pikir siapa lagi? Selama kau tinggal dengan Fred, apa kau sudah melakukan kontak fisik tanpa sepengetahuanku?”
“Bertanya apasih kau ini sayang, jelas-jelas Fred itu lebih pendek darimu.”
__ADS_1
“Walaupun aku pendek, tapi pipiku sangat cium-able. Buktinya dia kecanduan mencolek pipiku yang kenyal ini!” Frayza berjalan menyelonong masuk kedalam mobil.
Dalam hatinya, Frayza merasakan aneh saja. Masak kursi mobil mahal kok keras, tidak ada empuk-empuknya. Dan digerayangilah dudukan mobil itu dengan seksama. Kenapa keras dan padat, setahu Frayza mobil di penjuru dunia memiliki kursi penumpang yang nyaman.
“Apa kau sudah puas menggerayanginya?” toleh pria yang duduk di kursi sebelah kemudi.
Pelan-pelan Frayza menolehkan kepalanya, dan ternyata Hikashi yang memamngkunya. Dasarnya ceroboh, masuk mobil asal masuk tidak lihat kalau ada penumpang lain didalamnya.
“Turun!” bentak Matsumoto.
“I-iyaaa,” kepalanya terbentur kap mobil.
“Kau membuatnya kaget,” ucap Hikashi menatap tingkah panik Frayza.
“Maaf tuan muda, saya akan berbicara lebih lembuh.” Sesal Matsumoto.
Rasa malu sudah tak bisa ditutupi lagi karena dipangku pria asing. Dibentak orang asing sudah biasa, tapi ini sudah diluar dugaan dan nalarnya.
“Maafkan teman saya, tuan muda.” Sambung Ramon.
Hikashi yang duduk di mobil tidak bergeming, dan kepala Matsumoto sedikit menjulur kebelakang. Mendengarkan perintah langsung Oleh Matsumoto.
“Kau ini tidak bisa sopan apa!” bentak Digna juga.
“Huft,” Frayza bernafas sesak oleh tingkahnya.
“Sssstttt berisik!” tegur Ramon.
Ketiganya berdiri di depan mobil yang ditumpangi oleh Hikashi. Dan beberapa saat setelahnya Matsumoto keluar dari mobil mengatakan kalau Hikashi sudah memaafkan kejadian yang tidak disengaja.
“Karena kau bersikeras mau menjemput kekasihmu dan mengajaknya ikut berpelesir. Maka tuan muda ikut datang kemari, karena dia ingin melihat orang terdekatmu. Ternyata Tuan muda tertarik dengan dia.” Tunjuk Frayza yang terntunduk.
“Wah wah enak sekali Fred, aku yang bersemangat berangkat. Kenapa Fred yang ceroboh disukai tuan mudamu?” protes Digna kepada Ramon.
“Aku tidak tahu selera tuan mudaku, lebih baik kau diam saja.”
__ADS_1
Ramon mengajak Digna masuk kedalam mobilnya. Sedangkan Frayza berada di dalam bersama Matsumoto dan Hikashi. Mereka menggunakan percakapan dengan bahasa Jepang. Karena memang Frayza masih sedikit hafal kosakata bahasa Jepang.
Sebelumnya Digna dan Frayza menunggu di halte dekat Apartemen tinggal mereka. Diam-diam Hikashi membuntuti Ramon pergi. Dari dalam mobil, Hikashi sudah menatap tajam Frayza yang bermain game konsol. Dia melihat pria muda yang ceria dan mengabaikan dunia. Namun sibuk dengan dunianya yang kecil ditangannya.