
Di dalam kamar villa terdapat taman yang Indah dan sebuah kolam ikan. Gemericik suara air yang memberikan ketenangan, serta aroma bunga yang bermekaran. Keadaan yang tenang dan damai inilah yang dicari Hikashi.
“Ijinkan aku melihat jasad suamiku, aku dan putraku ingin melihatnya!” pinta wanita berkebangsaan Inggris yang hendak menerobos barikade penjagaan.
“Ayahhhhh, ayahhh...” teriak Hikashi kecil yang meronta-ronta.
“Kalian kejam!!! Kalianlah pembunuh suamiku!!! Jika kau ingin kekuasaan jangan mengambil nyawa orang!!!”
Sekelumit bayangan masa lalu tersirat kembali dalam memori ingatannya. Ketenangannya beryoga goyah seketika, keringat keluar bercucuran dan matanya terbuka nanar merah.
“Tuan muda?” tanya Matsumoto yang berada tak jauh dari tuannya.
“Ambilkan aku air, cepat.” Sambil mengusap dadanya.
Dari dalam lemari pendingin sebotol air mineral diberikan kepada majikannya yang tampak resah.
“Apa yang perlu saya lakukan tuan muda?”
“Panggilkan wanita bayaran seperti biasanya, katakan padanya kalau aku akan berikan upah yang banyak jika mau menuruti perintahku.”
“Apakah ada kriteria khusus tuan muda?”
“Wanita Asia dan wanita barat, itu saja. Selesai aku mandi, mereka harus siap.”
Perintah itu segera dilaksanakan Matsumoto untuk mencari wanita penghibur kelas atas. Yang tahu cara menyenangkan klien dengan sempurna.
“Kau berjaga di depan pintu kamar tuan muda, aku akan keluar sebentar menjemput tamunya.” Perintah Matsumoto kepada Ramon yang sedang menelepon Digna.
“Oh iya kepala pengawal,” sambil menutup speaker suara ponselnya.
__ADS_1
“Saat bekerja, matikan ponselmu. Karena seluruh jiwa raga orang yang kau sayangi akan ditanggung tuan muda. Jadi, totalitaslah dalam bekerja.”
“Ba-baik kepala pengawal.” Lalu mematikan ponselnya.
Pelayan villa sibuk silih berganti meladeni Hikashi mandi, mulai menyiapkan air, bunga dan aromaterapi. Serta melakukan pijatan-pijatan pada tubuh Hikashi yang mulai kaku. Baju ganti sudah disiapkan diatas kursi panjang. Beberapa pelayan lelaki yang bertugas memakaikan baju Hikashi. Dan mata pelayang perempuan disana terpejam agar tidak mengintip tubuh Indah seorang putra mahkota yang terasingkan.
Tap... Tap... Tap.. Degup... Degup... Degup... Seiring langkah kaki Hikahsi melangkah, jantung pelayan wanita ikut berdetak dengan kencang. Brukk, salah satu pelayan pingsan bersimpuh di lantai dengan keadaan mata tertutup.
“Biarkan dia,” ucap pelayan pria yang memakaikan baju ketubuh Hikashi.
“Pecat wanita itu, dan usir jauh-jauh!”
“Baik Tuan muda, saya mohon maaf atas insiden ini.”
Usai memakai baju tidurnya dan mengenakan jubah berwarna hitam, dengan aksen benang emas. Pria rupawan bangsawan itu menikmati kudapan diatas nakasnya. Sambil melihat langit yang kala itu terjadi hujan meteor.
“Tuan muda, pesanan sudah tiba; Kalian berdua masuk.”
Sesuai keinginan Hikashi yaitu dua gadis muda berdarah oriental dan berdarah barat. Keduanya mengagumi Hikashi yang memakai topang di wajahnya agar tidak dikenali oleh wanita tersebut.
“Aturannya adalah ini,” beberapa alat bantu kekerasan hubungan badan di pertunjukkan oleh Matsumoto.
“Hah untuk apa alat-alat mengerikan ini?” ungkap wanita bermata sipit.
“Dasar amatiran, ck.” Sahut gadis berambut pirang.
“Aku tahu ini alat untuk pemuas bagi orang yang mengalami kelainan seksual. Tapi bagaimana caranya memulainya?”
“Sudah, kalian jangan saling berdebat. Cepat pakai pakaian yang sudah ada, sekarang!”
__ADS_1
Keduanya menuruti perintah Matsumoto karena mata pengawal itu melotot. Setelah selesai mereka berlomba mendekati Hikasi duduk.
“Mau apa kalian?” Hadang Matsumoto.
“Melayani pria yang memesan kamilah, dia sudah membayar mahal.” Jawab gadis berambut pirang.
“Kau yang akan berpatner dengannya, gunakan alat ini.”
“Hah apa? Dia perempuan sepertiku, kenapa aku harus melakukannya. Sedangkan ada pria yang ingin aku rasakan keperkasaannya.” Serka gadis berambut pirang.
“Jika kau menolak maka, kau akan kami laporkan kepada germo kalian. Dan harus mengganti rugi, apa kau mau?” gadus berambut pirang itu menerima cambuk dari kulit yang disodorkannya.
“Jadi, aku yang menjadi resesif dan dia menjadi dominan, Tuan aku tidak mau disiksa. Lebih baik aku melayani lima orang pria daripada tubuhku yang mejadi aset ini hancur hiks hiks hiks.”
“Tenanglah, aku tambahkan ini.” Melempar beberapa Batang logam emas mulia.
Gadis berambut pirang itu terbelalak dan menyambar batangan emas dilantai tanpa menyisakan satu pun. Dan dengan sigapnya dia menjambak rambut gadis oriental dengan kasar. Cambukan demi cambukan terus menyambar, hingga akhirnya suara teriakan kesakitan itu terdengar dari luar pintu.
“Ada yang minta tolong,” Ramon menunjuk pintu kamar Hikashi.
“Sssttt...” pengawal lain mengatupkan jari depan bibirnya memberi isyarat agar diam.
“Tapi kalau dia mati?”
“Mati ya di kubur kan, masak di panggang hahaha.”
Jawaban nyeleneh pengawal lain menimbulkan seribu tanda tanya dalam benak Ramon. Sudah mengundang dua wanita cantik-cantik tapi buka desahan dan lenguhan tapi suara teriakan dan benturan.
“Akkkkhhhh...” teriak kencang gadis diruangan berakhir.
__ADS_1
“Hufttt... Huh huh huh.”
Alat-alat yang tersusun rapi itu sudah berserakan dan ada yang patah usai digunakan. Gadis berambut pirang itu seperti kerasukan setan membabi buta manghajar gadis bermata sipit itu. Dengan membelakangi mereka, Hikashi merasa puas mendengar jerit kesakitan. Seperti yang pernah ibunya rasakan dulu. Dulu, Hikashi kecil tidak mampu menolong ibunya yang sudah tiada. Dengan cara seperti inilah Hikashi membalaskan rasa sakit yang pernah dialami ibunya.