TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
MISI SELESAI


__ADS_3

“Sayang, katika aku pergi jangan buka pintu ini.”


“Sayang, apa kau akan mengurungku di Kota yang Indah ini?”


“Aku tidak pernah merasa segelisah ini sebelumnya, seolah kau akan pergi jauh dariku.”


“Jangan banyak bergerak, aku mau mengikatkan dasimu. Nanti ada yang kusut, kesan orang ketika melihat suamiku ialah sempurna hehehe.”


“Kau istriku yang paling istimewa. Cuph.” Hikashi mencium pipi Frayza yang tengah sibuk memakaikan dasi dilehernya.


Hari ini Hikashi akan pergi menghadiri rapat dengan para petinggi pemegang saham korporasi Perusahaan besar tingkat Dunia. Hari ini akan menjadi ahri yang sibik bagi Hikashi dan Matsumoto. Ini artinya dia memiliki celah kesempatan untuk keluar menemui Ramon. Tapi sialnya, Frayza tidak bisa keluar dari kamar Hotel. Dirinya terkunci didalam, dan terpaksa menyuruh Ramkn datang untuk menyamar sebagai Petugas kebersihan kamar. Itupun masih diawasi oleh anak buah yang berjaga. Ramon tidak memiliki kesempatan untuk berbincang-bincang lama dengan Frayza. Terpaksa ia membekap mulut Penjaga dengan obat tidur. Setelah itu Ramon dan Frayza bicara ditangga darurat yang tidak dilewati orang.


“Waktuku tidak banyak, aku sudah putuskan untuk ikut rencanamu.” Melihat jarum di jam tangannya.


“Fray, besok malam ketika ada peragaan busana kau pakai baju anti peluru ini. Dan pada pistol ke 3 ialah berisi peluru karet. Kau tahu bukan artinya kesempatanmu hanya 2x untuk melumpuhkan korban.”


“Aku mengerti,”


“Fray, aku sudah berhenti menjadi Ketua pengawal Pangeran Hiroshi. Demi keadilan Ayahmu dan dirimu, aku bersedia membantumu sampai akhir.”


“Ramon,” terenyuh.


“Aku tidak ingin kau menyesali hidup ini dengan mati secara sengsara. Setidaknya kau harua bahagia tanpa mengorbankan perasaanmu. Kau tidak ditakdirkan untuk Hikashi, kau harus mencari jati dirimu Fray.”


“Aku hanya ingin menagih hutang nyawa dan luka terhadap orang-orang dimasa lalu.”


“Baik kau pergilah, pasanglah alat pendengar ini. Akan aktif jika kau memakainya. Langsung terhubung denganku.”


“Baiklah, kalau begitu kita bertemu pada besok malam.”


Frayza dan Ramon berpencar, saat hendak kembali ke Kamarnya. Dua orang Pengawal sudah tidak ada, mungkin mereka sadar dan mencari keberadaan Frayza. Lalu ia masuk kedalam kamar, dan bersikap seolah tidak terjadi apapun.


“Hemppp.... Hemmmmppp,” Frayza dibekap dari belakang. Kepalanya terkungkung kain hitam. Ternyata dirinya dibawa pergi ke suatu tempat. Setelah tersadar dia melihat beberapa orang pria berbadan tegap dan besar. Ternyata Frayza dibawa disebuah gudang yang lama tak terpakai dipinggir laut. Belati tajam terasa dingin dipipinya kalau seorang wanita menempelkan.


“Hai Penggoda, wajahmu yang cantik ini sebentar lagi akan rusak!”


“Hemmmmbbbb...hummmmbbb...hummmbbb,”Frayza berontak dan menghentakkan kakiknya di tanah.


“DIAM!” bentak Damora.


Frayza tidak menyangka jika Damora yang menculiknya. Lantas apa tujuan utama Damora melakukan itu? Tak berselang lama Julian datang ditemani Franda.


“Lihat dia Kak, wanita yang sudah merebut bayimu!”


“Hemmmbbb... Hemmmbb,” Frayza tak bisa membela diri dan menggelengkan kepala.


“Frayza, nama yang sangat familiar di telingaku. Kau memiliki tatapn mata yang sama dengan mendiang kakakku. Sebentar lagi kau akan menemuinya di neraka hahahaha.” Menyiramkan bensin diseluruh tubuh Frayza.


“Kak, apa kau berencana membakarnya. Ini suatu kriminal Kak!”


“Diam kau Julian, aku dan Nona Damora udah sepakat untuk menghabisi nyawa wanita ini!”


“Kak jangan menjadi pembunuhan untuk anakmu kelak!”


“Berisik adikmu ini, mengganggu saja!” Damora merebut jerigen berisi bensin dan menuangkannya di sembarang tempat.


“Hahahaha kau sekarang disini seorang diri Fray, menangislah dengan damai. Karena kau akan mati sebentar lagi hahahah.”


Rencana awalnya menculik Frayza ialah menukarnya dengan Jade. Lalu Frayza menanda tangani surat gugatan perceraian dengan Hikashi. Ini adalah kesepakatan awal yang Julian ketahui bahwa Franda akan mendapatkan bayinya. Dan Damora memperoleh Hikashi lagi. Karena satu-satunya penghalang bagi mereka ialah Frayza.


Julian menelepon Frank secara diam-diam dan mengirimkan lokasi penyekapan. Saat itu Frank tengah bernegosiasi dengan Hikashi mengenai saham yang ingin ia rebut kembali. Karena Franda dan Damora akan membakar Frayza hidup-hidup. Frank tidak mau Franda menjadi pembunuh, apalagi dia sudah memiliki anak. Jika sampai Frayza mati dan pembunuhnya Franda. Makan amarah Hikashi tak bisa terelakan lagi, dirinya juga akan terkena imbasnya. Frank lebih memilih untuk mengakiri dan membatalkan pertemuan dengan Hikashi. Ia buru-buru menuju lokasi dimana Frayza disekap. Hikashi yang usai rapat sedikit heran dengan gelagat aneh Frank yang berani membatalkan agenda rapat dengan dirinya. Padahal dia tahu Frank sengaja dari Singapura demi meminta sahamnya kembali.


“Matsumoto, aku rasa ada hal yang mencurigakam dengan Frank. Kau ikuti dia!”


“Baik Tuan Muda,”


Perasaan hati Hikashi mulai gusar, ia berpikir tentang Frayza yang seolah-olah mengisyaratkan hal buruk. Beberapa kali tangannya menjatuhkan pena saat rapat. Hatinya tak tenang dan menuju ke Hotel. Dalam hatinya semoga istri yang amat ia kasihi semoga masih berada didalam kamar.


“Tuann maafkan kami, Nona diculik.” Ucap pengawalnya yang menghampiri Hikashi di lobi Hotel.


Plakkk... Plaakk plakkk tamparan keras itu mendarat di kepala Pengawalnya. “CARI ISTRIKU!”


Seluruh petugas Hotel harus berjibaku dengan pencarian Frayza. Tak ada rekaman peristiwa karena sudah disadap oleh peretas bayaran Damora. Hikashi meminta bantuan Polisi setempat, tapi Polisi belum bisa memprosesnha dengan cepat. Kini Hikashi sudah kalang kabut mencari keberadaan istrinya berada. Ramon yang membaca koran di pinggir kolam renang mengetahui kejadian ini. Dia mengaktifkan mikro chips yang terpasang di alat pendengar Frayza. Ia melacak koordinat tempat keberadaan Frayza. Lalu ia mengebut dengan mobil memecah kemacetan hingga dikejar Polisi lalu lintas. Pelacaknya mulai aktif dan Ramon mendengar semua ucapak Franda dan Damora.


“Aku akan segera datang Fray, kau harus bertahan hidup.” Ramon menginjak gas mobilnya dengan kecepatan tinggi agar tiba di lokasi kejadian.


Mobil Matsumoto yang membuntuti Frank disalip mobil Ramon yang paling belakang munculnya.


“Ketua, bukankah itu Agen Ramon?”


“Apa kau tidak salah lihat?”

__ADS_1


“Aku sangat ingat, dia tidak memakai kacamata dan hari ini dia sudah bebas tugas dari Pengawal Kerjaan.”


“Ada apa dia berbuat onar disini?”matsumoto berpikir bila ini tidaklah kebetulan semata. Saat Nona muda mereka hilang, Ramon muncul dengan tiba-tiba.


“Kita ikuti saja kemana perginya Frank, baru kita cari tahu kegiatan Ramon. Kejar saja mobil Frank, jangan sampai lengah.”


“Baik Ketua!”


*


*


*


Seluruh bagian gudang ini sudah disirah bensin oleh Damora dan Franda. Mereka berdua merasa sangat senang kalau Frayza mati ditangan mereka. Kini mereka bersantai sejenak dan menikmati bir.


“Bersulang untuk kemenangan kita hahaha.”


“Bersulang untuk tujuan kita hahaha.”


Damora dan Franda sangat bahagia karena sebentar lagi Frayza akan lenhap dari dunia ini. Sedangkan Julian masuk kedalam lagi dan membuka perekat mulut.


“Sebelum kau mati, apa penyesalanmu sudah mencampakkan hatiku?”


“Julian, apa kau selama ini menaruh hati padaku?”


“I-iya, aku jatuh Cinta kepadamu. Tapinkau memilih William, lelaki yanh membeli rahim Kakakku!”


“Kau tidak boleh menyukaiku, tidak boleh!”


“Dasar wanita matrealistis, kau menolakku karena aku tidak sekaya William bukan!”


“KAU ADALAH ADIKKU, AKU ADALAH FRAYZA KAKAKMU!”


Julian seolah tersambar petir disiang hari, ini sungguh tidak mungkin. Orang yang terikat dan mandi bensin ini bilang kakaknya?


“Mustahil, kau hanya memiliki nama yang sama. Tapi kalian orang yang berbeda.”


“Aku adalah Frayza yang memasulkam kematianku di Batam karena........ “ Frayza mulai menceritakan awal sejarahnya hingga menjadi seperti ini.


“Tidak mungkin, Kak Fray sudah mati lama. Kau pembohonggg!”


“Gelang naga yang kau pakai ialah milikku yang akan aku berikan kepada Frank. Dan ini tanda lahir kita bahwa kau dan aku adalah saudara seibu.” Sebuah tanda lahir di lidah berwarna merah. Tanda lahir ini hanya dimiliki yang orang yang memiliki genetik yang sama.


“Aku melakukan operasi plastik untuk menghapus jejakku. Sekarang kau mau percaya padaku atau tidak itu terserah padamu. Sebelum Franda dan Damora membunuhku, lebih baik kau bawa pergi Franda dari sini. Karena aku tidak mau Jade memiliki ibu kandung seorang pembunuh. Julian adikku, seorang kakak yang kau anggap mati dia masih hidup. Aku ikhlas jika hari ini menjadi hari terakhirku menghirup udara. Tolong jaga ibu dan Franda dengan baik.”


Julian setengah yakin bila wanita yang menjadi sandra saat ini adalah kakak tersulungnya. Tapi dia sangat setuju membawa pergi Franda dari tempat penculikan. Dia tidak mau Franda menjadi pembunuh, dia tidak ingin melakukan kejahatan berat. Karena yang paling penting ialah Franda memperoleh Jade lagi.


“Kak, baru saja Ibu menelpon bahwa ayah resmi dijebloskan di penjara. Bisakah kita bicara sebentar?”


“Hah apa? Ayah masuk penjara?”


“Urus saja masalah keluargamu dulu, nanti pestanya bisa kita lanjutkan lagi.” Ucap Damora membiarkan Julian membawa pergi kakaknya.


Tanpa rasa curiga dan sudah mabuk, Franda digiring ke tempat yang agak jauh dari gedung tersebut. Frank yang datang tepat waktu itu menjemput Franda yang menolak untuk masuk mobil. Dan Julian akhirnya membuat Franda pingsan agar tidak berontak. Lalu Frank membawa pergi Franda itu pergi.


“Sepertinya Frank masih memiliki perasaan khusus terhadap mantan pacarnya, Ketua?”


“Hemmbb biar saja.”


“Tunggu, bukankah Itu mobil yanh dipakai Ramon baru saja. Nomor kendaraannya sama!”


“Hah sedang apa dia kemari?” Matsumoto membuka kacamatanya.


Ramon keluar dari mobil dan menyembunyikan pistolnya dari balik jaket kulit hitam. Matsumoto memilih mengikuti Ramon secara diam-diam. Dan Ramon menyadari jika dirinya dibuntuti.


“Hyahhhh mau apa kau!”


“Lepaskan aku, aku harus menyelamatkan nyawa seseorang!”


“Jangan berkelit Jendral,”


“Frayza ada didalam sana dalam bahaya!” alat pelacak Ramom terlempat dan mendeteksi target.


“Beritahukan ini kepada Tuan Hikashi cepat!”


“Baik Ketua!”


Matsumoto menodongkan pistol ke Ramon dan menyuruhnya berjalan mendekati gudang. Nampak penjaga sedang berpatroli menjadi situasi. Ramon dan Matsumoto mengambil pistol mereka masing-masing yang sudah dipasangi alat penyadap suara. Satu persatu anak buah Damora tumbang terkena tembakan.


“Aroma bensinya sangat kuat,”

__ADS_1


“Awas, jangan sampai tembakanmu meleset. Nanti tempat ini biaa terbakar!”


Anak buah Matsumoto berhasil memberitahukan Hikashi bila istrinya sudah ditemukan di sebuah gedung kosong. Hikashi tak mau ambil waktu lama lagi, dia naik helikopter agar cepat sampai kesana. Selama perjalanan menuju tempat penyekapan Hikashi terus berdoa agar istrinya dalam keadaan selamat.


“Ayo sekali lagi lawan aku hahaha.”


“huhhh huhhh,” Frayza terduduk dengan kaki yang lemas. Damora masih mengikat tubuh Frayza dengan tali, tubuhnya sudah basah karena bensin. Kesadarannya mulai berkurang karena keracunan bau gas yang menyengat.


“Ayo seorang aku, hahaha.” Damora mempermainkan Frayza yang sudah terkulai lemah.


“Bos, tubuhnya sudah remuk kita hajar tadi. Dia tidak akan bertahan hidup lagi, ayo kita hanguskan saja tempat ini!”


“Cih, padahal aku sedang menikmati penyiksaan ini. Hai Penggoda, tidurlah dalam keabadian dbersama teman-temanmu di neraka!”


Frayza ditinggalkan seorang diri didalam ruangan yang penuh tumpukan kayu yang basah oleh bensin. Dirinya sudah pasrah bila hari ini adalah hari terakhirnya. Matanya terpejam perlahan dan napasnha sudah mulai jarang berhembus.


Pintu keluar dan jedela semuanya sudah dikunci dan palang. Artinya tidak ada yang bisa menyelamatkan Frayza dari luar.


“Siapa yang melakukan ini?” Damora panik mendapati anak buahnya sudah tewas tertembak.


“Buka kuncinya!” perintah Matsumoto.


“Cuih, enak saja.” Tolak Damora.


“DIMANAN FRAYZA KAU SEKAPPP!!!” Ramon menodongkan pistol di kepala Damora.


“Dia ada di sana,” melemparkan korek api dan menyulut api dengan cepat.


Dorrr... Dorrrr... Tembakan mengenai kaki Matsumoto. Dorrr doorrr tembakan mengenai tangan tubuh Ramon. Keduanya tersungkur ketanah dengan luka tembakan, Matsumoto memegangi kakinya yang berdarah agar berhenti mengucur. Sedangkan Ramon beruntung memakai rompi anti peluru, dia melemparkan granat ditempat Damora dan anak buahnya berada. Buoomm ledakan terjadi, Hikashi melihat dari bawah ada ledakan dan kebakaran di gedung. Dia juga melihat Matsumoto yanh terluka. Dengan keterampilannya, dia meluncur dari tali kebawah.


“Tuan muda, Nona berada didalam gedung itu!”


“Pehang erat tali ini, mereka akan membawamu kerumah sakit!” Hikashi mengikatkan tubuh Matsumoto agar ditarik naik ke Helikopter.


“Tapi bagaimana dengan anda Tuan muda?” Matsumoto yang Setia itu enggan meluruskan perintah majikannya.


“Istriku ada disana, aku akan ikut bersamanya.”


“Tidakkkk... Tidakkkkk ...” Matsumoto tubuhnya mulai tertarik keatas. Sedangkan Hikashi mulai berjalan menuju kobaran api yang membara membakar. Dengan egoisnya, Matsumoto memasangkan besi pengait ditubuh Hikashi. Dan keduanya terangkat menjauhi lokasi peperangan yang mengerikan itu.


“Turunkan aku... Turunkan akuuuu... Jangan bawa aku, biarkan aku bersamanyaaaaaaaa!!” Hikashi tidak rela meninggalkan tempat berapi dan mematikan.


“Tuan muda, percuma kita kesana. Apinya sudah besar, melalap habis bagian gedung itu.”


“PEMBOHONGG ... Aku membencimu Matsumoto!!”


Helikopter sudah mengevakuasi Matsumoto dan Hikashi. Mereka tiba di rumah sakit lalu ditangani oleh Dokter. Matsumoto menjalani operasi pengangkatan peluru. Sedangkan Hikashi mengalami gonjangan kejiwaan. Dia meronta dan mengamuk kepada siapapun yang mendatanginya. Sampai akhirnya berita menyiarkan kejadian ini. Hiroshi yang berada di Paris langsung menjenguk sepupunya. Melihat keterpurukan Hikashi ditinggal mati istrinya membuat Hiroshi iba. Ini sama persih dengan kehilangan kedua orangtuanya. Akhirnya Hiroshi mengambil wewenang jika Hikashi harus dibawa ke Jepang saja. Tak butuh waktu lama bagi Hiroshi membawa pergi Hikashi pergi meninggalkan Kota yang menyakitkan ini.


“Berapa lama obat biusnya bekerja?”


“Sejam lagi Beliau akan siumana.” Kata Dokter.


“Dan kau, kakimu masih pincang kenapa tidak istirahat saja.”


“Saya akan tetap disini menjaga Pangeran Hikashi.” Mata Matsumoto masih sembab sebab dirinyalah yang paling berdosa dalam kejadian naas ini.


“Hemmb, terimakasih sudah menjaga sepupuku.”


“Hhhhhmmmmm,” menahan tangis sekuat mungkin melihat Hikashi yang terbellit kain agar tidak berontak.


*


*


*


Ditempat kejadian ini, Damora masih berusah berdiri dan mencari pistolnya. Dilihat sekitar tidak ada tanda-tanda kehidupan dari anak buahnya. Sedangkan suara sirine Polisi sudah terdengar. Dia berlari ke sembarang arah untuk bersembunyi, dan didepannya ada sebuah dermaga kecil. Dia merebahkan tubuhnya yang penuh luka akibat ledakan granat.


“Sial, tubuhku sakit semua huh.” Melihat sisi kanan-kirinya yang berdarah. Ia kemudian bercermin diatas air laut, wajahnya sudah berlumuran darah dan perih. Damora pingsan karena sudah kelelahan dari pelariannya.


Suara anjing pelacak mengendus keberadaanya. Dan Damora dimasukkan kedalam mobil. Dibawanya gadis yang terluka itu pergi.


“Tuan Robert, Nona Damora mengalami kerusakan parah pada wajahnya.”


“Segera hubungi Dokter bedah terbaik di Korea.”


Ternyata ayah Damora menjadi dalang dari rencana penculikan Frayza. Dialah yang menjadi otak untuk melenyapkan Frayza selamanya. Sekarang dia juga mengorbankan putrinya Damora demi ambisinya.


“Ayahhhh, aku sudah berhasil menyingkirkannya.”


“Kau hebat putriku, setelah ini kau akan menjadi wanita yang satu-satunya tidak bisa ditolak William.”

__ADS_1


“Hhhmmmb,” Damora tersenyum, tujuannya semakin dekat.


Hiks... Hikss.. Nyesek banget ya bettt ni kisahnya, ntar Abang lanjut lagi ya. Semangat ya puasanya, jangan lupa beribadah oke cuy.


__ADS_2