
“Semalam aku tidak bisa tidur.” Memilin kepalanya.
“Ibu terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini, ini minumlah obatnya.”
Yung Hee menyodorkan obat untuk ibunya. Kedua wanita itu tengah berada di teras rumah. Terdengar suara mobil masuk pekarangan rumah berhenti.
“Coba lihat, siapa yang datang.”
“Mungkin Ayah ketinggalan sesuatu.”
“Pergilah dan temui Ayahmu, Ibu tidak kuat berdiri.”
Yung Hee berjalan menuju pintu utama, saat pintu itu terbuka bukan ayahnya. Nemun, si sulung Thomas.
“Kak, kau darimana saja?”
“Aku sedang mencari pekerjaan yang cocok untukku.” Berjalan menaiki tangga.
“Apa Kakak sudah membuka pesanku?”
“Bateraiku habis, nanti akan ku buka setelah terisi.”
“Jangan abaikan aku ketika berbicara Kak!”
Thomas berhenti, berbalik badannya dan menuruni tangga.
“Yung Hee,” memegang kedua pundak adik gadisnya.
“Apa Kak?”
“Nanti aku akan mengantarmu ke Kampus, ada hal yang ingin aku ceritakan.”
“Apa itu?”
“Nanti saja, aku mau mandi. Bersiaplah, karena jalan pasti macet.”
Yung Hee senang mendengar Thomas mau mengantarnya ke Kampus. Ia juga punya cerita soal wasiat dari Kelvin untuk Frayza. Jika misinya sudah ia laksanakan dengan baik. Tak berapa lama kemudian, mereka didalam mobil yang sama.
“Maafkan aku, Yung Hee...”
“Jauhkam tanganmu dari tubuhku Kak!”
“Aku khilaf malam itu, semuanya terjadi begitu cepat.”
“KAU SUDAH MENGECAWAKANKU!”
“Tapi dia dalam keadaan mabuk, dan aku membantunya saja.”
“KAU MENJIJIKKAN!”
Yung Hee kecewa dengan Thomas, ia memutuskan untuk turun saat lampu merah. Ia menyeka air matanya dan berusaha tegar berdiri. Di halte bus sudah banyak orang yang menunggu. Yung Hee berjongkok seolah membenarkan tali sepatunya. Namun, itu hanya alibinya saja. Ia tak mampu menahan air matanya yang menetes. Selama ini ia menjaga kesuciannya agar bisa dipersembahkan untuk suaminya kelak. Justru, Thomaslah yang menghacurkan mimpi indahnya itu. Rasanya ia ingin mengeb gedung Hotel tempat bercumbunya Thomas. Tapi tak bisa, ia terlalu kecil. Bahkan hak marah pun ia tak punya.
“Apakah janjinya sewaktu kecil untuk menikah denganku hanya omong kosong?”
“Jika mudah berjanji, kenapa sulit untuk menepati. Kenapa pria memuakkan!”
Swing... Wing... Wing... Sepatu Yung Hee terbang kelangit. Ia hendak menendang botol minuman, tapi sepatunta yang melayang.
“Aduh!” mengusap tengkuknya.
“Tuan Takeshi, apa anda terluka?”
“Sepatu siapa ini, mengenai kepalaku!”
“Saya akan cari pemiliknya.”
“Nakal sekali, melempar sepatu hanya sebelah. Kenapa tidak sepasang sekalian gituloh.”
“Eh kok!”
“Lumayan dijual loakan hahaha.”
“Masak Pangeran kekurangan uang sih, ada-ada saja Pangeran Takeshi ini.”
__ADS_1
“Simpan saja sepatu ini di bagasi, mungkin pemiliknya sedang mengalami Cinta bertepuk sebelah tangan.”
“Karena hanya sebelah ya?”
“Iya, simpel kan.”
“Iya simpel.”
“Antarkan aku ketempat yang biasa orang kunjungi. Aku ingin memasangkan gembong Cinta ini disana.”
“Dengan siapa Anda akan mengukir namanya kali ini?”
“Franda, wanita cantik itu sudah merusak petualangan cintaku.”
“Jangan bilang kalau buaya mau tobat.”
“Hhssssss jangan sampai kau bicara itu lagi ketika di Jepang. Sebelum lidahmu ku potong!”
“Ups!”
“Cepat antar aku kesana, aku ingin ia melihat kesungguhanmu. Dia pasti akan tersentuh melihat perbuatanku yang manis ini.”
“Anda ahlinya ahli dalam hal perwanitaan Tuan.”
“Aku hanya seorang pria polos, tidak tahu begituan aku.”
“Merendah untuk menimbun alibi nakalmu kan, fiuh.”
“Aku yang dulu bukanlah aku yang sekarang. Dulu mencintai seorang wanita, hingga terluka. Sekarang aku bisa mencintai banyak wa ita agar bahagia. Tidak salah kan?”
“Tidak, anda selalu benar. Saya saja yang salah karena mencoba benar. Tapi alibi Anda lebih menekan saya agar mengalah.”
“Kau harus tahu, jabatan Bos itu selalu benar. Jika salah, pasti bawahan yang disalahkan. Bukan begitu?”
“Bukan begini.”
“Apanya yang bukan begini?”
“Berani lanjutkan omonganmu, ku potong kresss! “
“Ihikkkk, ampun Pangeran.”
Dan percakapan antara asisten pribadi dan majikan selesai.
Sampailah ditempat para pejuang Cinta mengaitkan gembok pasangan. Takeshi menunggu Franda yang sudah menyetujui pertemuan ini. Satu jama, dua jam, tiga jam dan akhirnya lima jam penantian Franda tak kunjung tiba juga.
“Dia tidak akan datang.”
“Dia mungkin sedang mandi.”
“Dia pasti hipotermia.”
“Dia ingkar janji.”
“Dia mungkin sedang dandan.”
“Dia tidak menghargai Anda.”
“Dia mungkin sedang mengalami kendala diperjalanan.”
“Dia tidak peduli dengan Anda.”
“Dia mungkin sedang ribet berdandan.”
“Dia... “
“CUKUP, AKU KITA PULANG!”
“Ah akhirnya menyerah juga.”
Gembok Cinta itu dimasukkan kembali kedalam jasnya lagi. Takeshi tetap akan kembali lagi, walaupun sekarang gagal.
*
__ADS_1
*
*
HOTEL,
Dimeja makan, suasana dingin tengah menyelimuti Andreas dan Franda. Mereka hanya menusuk-nusuk makanan diatas piring. Tak ada ***** makan sedikitpun terhadap hidangan lezat tersaji.
“Aku selesai.”
“Habiskan makananmu.”
“Aku tidak berselera.”
“Makanan yang sudah dipesan akan menjadi sampah. Apa kau tahu berapa banyak orang kelaparan yang ingin makan seperti kita?”
“kita?”
“Ya, kita.”
“Andreas, sejak kapan aku dan kamu menjadi kita?”
“Maksutnya?”
“Kita hahaha, aku rasanya mau muntah.”
“Muntahkan saja.”
“Kau bilang kita? Apa kau sadar jika selama ini hanya ada aku. Kau sedikitpun tak pernah pedulikan aku jika ada. Kenapa baru sekarang kau bilang ‘kita’?”
“Franda, tenanglah. Mari bicarakan ini baik-baik oke.”
“Aku sudah muak berusaha tampil sempurna dihadapanmu. Tapi tetap saja, hadirku tak lebih menjadi umpan agar kau bisa leluasa.”
“Kau kenapa Franda, bicaramu ngawur!”
“Aku ngawur? Kau yang memanfaatkan aku, jika bukan karena aku. Jangan harap Kak Frayza mau mempertimbangkan dirimu.”
“Aku bisa jelaskan ini.”
“STOP!”
“Franda, aku aku tindakanku salah.”
“Memang!”
“Maafkan aku yang belum bisa menghapus bayangan Cinta pertamaku. Ini sulit bagiku.”
“Apa kau pikir ini mudah bagiku?”
“Aku tidak tahu, dalam hal perasaan aku lemah.”
“Jika kau tidak bisa meraihnya, kenapa tidak terima aku saja!”
“Aku sudah berusaha, tap aku tak bisa Franda.”
“Akan aku ajari caranya belajar jatuh hati padaku.”
Kerah kemeja Andreas ditarik Franda, otomatis membuat akses bibir keduanya menjadi dekat. Bibir Andreas merasakan kecupan-kecupan hangat. Suasan yang tak pernah ia dapatkan saat bersama Frayza. Ia awalnya risih berciuman dengan Franda. Namun, akhirnya ia menjadi menikmatinya. Permainan bibir itu berimbang, dan mereka memutuskan untuk meminum segelas anggur. Dan melanjutkan ke adegan yang sudah bisa kalian tebak. Franda mendapatkan tubuh Andreas seutuhnya. Ia tahu tindakannya ini murahan dan rendahan. Tapi ia takut jika benih pria asing itu bersarang di rahimnya menjadi janin. Akhirnya ia menggunakan cara ini bersama Andreas. Bila terjadi kehamilan, biarlah terjadi. Tidak perlu pusing lagi menunjuk hidung siapa bapaknya kelak. Walaupun Andreas pria, tapi permainannya cukup payah. Itu karena Andreas masih perjaka, belum memiliki ketrampilan diatas ranjang bersama wanita. Franda memaklumi itu, ia tidak masalah. Pokoknya kalau dia hamil, sudah adalah nama si bapak terang.
“Apa kau lelah.”
“Hmmmmb.” Mendengus dibantal.
“Baiklah, kalau begitu aku mau mandi.”
“Hmmmmb.” Andreas yang baru pertamakalinya memilih tidur saja.
Franda tersenyum bahagia, ia sudah mendapatkan undian besar. Andreas akan merasa bersalah dan akan terikat dengannya sampai kapan pun. Dan semoga, dirinya dapat berdamai dengan hatinya sendiri. Berhenti mencintai Hikashi, dan membuka hati untuk Andreas. Walaupun awalnya mendekati Andreas hanya sebagai misi, mensabotase hubungan dengan Frayza.
“Aku sangat muak dengan diriku sendiri!” ucap Franda didepan cermin kamar mandi.
Muak yang ia maksud ialah, telah bercumbu dengam pria asing. Dan ia takut jika pria itu kotor atau miskin. Ia tidak mau mengandung benih pria miskin dan bermasa depan suram. Franda adalah wanita yang terbiasa hidup berkecukupan, tak bisalah ia hidup sengsara. Lebih baik ia menjebak Andreas saja begini, toh ibu Andreas secara terbuka mendukung dirinya. Jadi jalan meraih suami sudah terbuka lebar untuknya kali ini.
__ADS_1