TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
AKHIR HAYAT MENGENASKAN


__ADS_3

Kastil megah ini mulai diselimuti kain putih agar tidak usang dan berdebu. Tampak pelayang dan staff rumah tangga merapikan beberapa benda seni bernilai tinggi. Langkah kakinya sedikit terhenti kala melihat foto sepasang lelaki dan perempuan.


“Siapa mereka?”


“Ini adalah mendiang ibunda dan ayahanda Tuan William Alexander.”


“Bolehkah aku melihatnya?”


“Maaf Nona, kami sedang bergegas. Pengurus Patrick memperingatkan kami agar selesai dalam 3 hari ini.”


“Oh baiklah kalau begitu, lanjutkan saja tugasmu. Aku mau menemui anak-anakku.”


“Silahkan Nona.”


Tampaknya isu kebangkrutan Hikashi bukan hisapan jempol semata.


“Mama,” memeluk ibunya yang datang.


“Anak pintar, kau sedang apa?”


“Aku sedang belajar bahasa Jepang.”


“Benarkah, coba Mama mau mendengarnya kau perkenalkan diri dengan baik?”


Mulut mungil Jade merapalkan kalimat perkenalan dirinya. Anak usia 5 tahun ini begitu cerdas seperti Hikashi. Tidak salah jika kadang lebih dewasa daripada anak seusianya.


“Jade, maukah kau bercerita sesuatu hal tentang Papa?”


“Papa?”


“Iya, Mama ingin kau menggambarkan seperti apa itu Papa.”


“Emmbb... Baiklah, Papa itu seperti komandan perang dan seorang ilmuwan. Ia sangat tegas dalam mengatur strategi. Dan ia pandai berbicara berbagai bahasa asing, Papa memberiku segalanya. Tapi Papa jarang dirumah, setiap kali aku nakal. Ia akan memukul bokongku. Apakah Mama akan menghukumku seperti Papa kalau aku nakal?”


“Hohoho tidak Sayangku Jade, kau adalah anak Mama. Sebisa mungkin Mama akan menasehatimu lebih dulu agar tidak melakukan hal yang dilarang. Mama sangat sayang padamu Nak,” memeluk putranya.


“Tapi aku benci Nathalie, dia masih saja disini.”


“Apa? Kapan?”


“Sebelum Mama datang dia kemari, katanya mau mengambil bajunya dikamar Papa.” Timbullah rasa cemburu yang memanas.


Pantas saja Hikashi menolak ia peluk dan memilih pergi darinya. Jadi ia ingin segera menemui Nathalie itu. Memang sudah tidak mungkin bagi dirinya lagi. Tapi ia juga harua lapang dada bila Hikashi berpaling darinya.


“Jade, kau lanjutkan saja pelajaranmu. Mama ingin ambil minum didapur.” Alasan agar ia bisa pergi menyelinap mencari tahu keberadaan Nathalie sekarang.


Berdasarkan dari informasi pelayan, Frayza menemukan kamar Hikashi yang tidak terkunci. Sempat meragu karena ini adalah ranah privasi mantan suaminya. Tapi tangannya sudah terlanjur memegang kenop pintu. Dan akhirnya ia mengintip sedikit demi sedikit.


Kamar ini berantakan, semuanya berserakan dilantai seperti telah terjadi kemalingan.


“Apa mereka telah melakukannya begitu binal. Hingga membuat kamar ini berantakan?” gumamnya.


Frayza berjongkok memungunti benda apapun yang dapat ia raih. Ada sepasang kaki berjalan dari belakangnya mengendap-endap. Perasaannya mulai berubah kala tangan itu menyentung pundaknya.


“Fray?” Sapa Bibi Fang.


“Astagah, aku kaget sekali.” Mengelus dadanya.


“Jade bilang kau haus, aku dari dapur tidak menemuimu. Jadi aku bertanya kepada pelayan yang kebetulan lewat.”


“Oh begitu ya,” salah tingkah.


“Apa yang kau lakukan disini?”


“Tidak ada, aku tanpa sengaja melihat kamar ini berantakan saja. Mungkin telah terjadi sesuatu hehehe.”


“Ayo ikut denganku, ada yang ingin aku bicarakan.”


“Baik Bi,”


Setelah Bibi Fang membawa keluar Frayza dari kamar Hikashi. Nathalie keluar dari lemari pakaian. Ia memasukkan beberapa file dokumen rahasia.


*


*


*


BELANDA,


Akhirnya Rose dan Julian memutuskan untuk menikah diluar negeri. Agar hak Cellin terpenuhi secara hukum yang sah. Turut serta Andreas dan Franda disana sebagai saksinya.


Pernikahan mereka ini dilakukan tidak atas dasar Cinta. Tapi demi tanggungjawab kepada anak semata wayang mereka. Kehidupan Rose sebagai janda Frank sangatlah kecukupan. Bahkan ia melakukan pelesir ini sebagai ajang mendekatkan dirinya kembali. Siapa tahu Dewi fortuna memihaknya.


Andreas duduk ditepian sungai, melihat beberapa burung yang beterbangan. Langit senja ini sangat Indah, tapi warnanya jingga. Warna kemurungan hati seorang pria yang bersedih.


“Apakah dia tidak mengubungimu?”

__ADS_1


“...” menggelengkan kepalanya.


“Apa kau sangat merindukannya?”


“Franda, aku sedang tidak selera membahas wanita itu. Aku sudah melupakannya, jadi diamlah jika dan nikmati senja ini.”


“Ups maaf Andreas.”


Franda menikmati kopi panasnya, sembari mengagumi Andreas yang memakai kacamata gelap. Ketampanan Andrea semakin terpancar kala kemejanya dilepas 3 kancingnya. Membuat Franda haus belaian pria yang sudah lama ia dambakan.


“Hai, kalian disini? Apakah kalian melihat Julian?”


“Tidak, memang kemana suami kontrakmu?”


“Ah~ mulutmu pedas sekali kakak ipar.”


“Ck, aku hanya bicara faktanya saja Rose. Kau pikir waktu 3 bulan cukup bagi dirimu menjadi Nyonya Xi Huang?”


“Tentu cukup!” percaya diri.


“Julian pergi menemui Meghan, mereka sedang menikmati waktu berdua.”melenggang pergi, ketenangannya terusik dua orang wanita yang menyusulnya.


“APA?! “ keduanya menjawab serentak.


Ternyata Julian tidak bisa membohongi perasaannya. Jika ia menikahi Rose demi masa depan putrinya Cellin. Awalnya Meghan menolak ikut ke Belanda. Karena sama-sama saling Cinta, akhirnya Meghan terbang menyusul Julian juga.


“Kenapa?”


“Aku belum percaya, ini adalah malam pengantinmu dengan Rose. Tapi kenapa kau tidur disini hmmm?”


“Kemarilah Sayang, aku masih punya sedikit tenaga untuk melakukannya lagi.”


“Hahaha Julian, lepaskan pelukanmu. Aku mau mandi, tubuhku penuh peluh dan keringat. Jangan nakal hahahaha.”


“Kau yang menggodaku lebih dahulu, jadi terima hukumannya.”


Mereka berdua mereguk manisnya gejolak diatas ranjang. Meghan yang membelit selimut tipis pada tubuhnya. Kini harus merelakannya tubuhnya untuk dicicipi oleh Julian lagi. Mereka berdua menghabiskan waktu untuk memadu kasih secara terus-menerus. Sampai membuat Meghan menjadi ketagihan seperti kecanduan.


Andreas pergi ke Bar hiburan malam, ingin mabuk dan melupakan masalahnya. Tapi dijalan ia melihat koran berisi berita tentang sosok William. Pria yang merebut tunangannya itu, dibacanya dengan jelas jika pria ini sedang mengalami surutnya kehidupan.


*


*


*


Penerbangan menuju Dubai akan segera berangkat. Hikashi mendorong troli kopernya dengan perlahan. Kakinya terasa berat untuk melangkah pergi. Namun ia tidak bisa terus-terusan melihat dirinya dipojokkan oleh berbagai macam pemberitaan dan skandal dirinya yang akhirnya mencuat.


“Selamat malam Tuan William, kami dari pihak kepolisian akan menahan anda atas tuduhan pembunuhan dan tindakan kekerasan seksual.”


“Apa?”


Klak! Kedua tangan Hikashi diborgol, dirinya lalu menjadi tontonan semua orang. Karena saat ini situasi bandara padat penumpang.


“Hehehe,” Nathalie tersenyum melihat Hikashi tertangkap oleh pihak kepolisian inggris.


Ternyata Nathalie datang ke Kastil untuk mencari informasi rahasia milik Hikashi. Ia memperoleh berkas kejahatan yang disimpan dalam lemari brangkasnya. Dibantu Ramon, ia berhasil membobol kode pintu brangkas.


Sebenarnya Nathalie ingin menjadikan Frayza kambing hitam. Tapi dilarang oleh Ramon, dengan alasan Frayza lupa ingatan.


Sekarang Hikashi menjalani introgasi dan dimasukkan kedalam sel tahanan. Ia tidur dilantai tak beralaskan apapun. Ia tak selera makan dan minum, tubuhnya pucat pasi. Polisi terus mengungkap kasus kematian Robet dan Damora yang ternyata menjadi kartu AS.


Tanpa didampingi pengacara kondang, tanpa dukungan orang terdekat. Hikashi mengalami guncangan jiwa yang hebat, karena ia takut. Jika sampai berita ini tersebar dan diketahui kedua anaknya. Ia tak bisa bayangkan betapa bencinya Jade dan Seven memiliki ayah pembunuh.


“Bibi Fang, aku mohon jangan menyalakan berita dan memberi akses keluar Jade. Aku titip mereka berdua kepadamu sekarang.”


“Fray, kau mau kemana?”


“Aku harus menemuinya Bi, dia pasti sendirian.”


“Fray, apakah kau mengkhawatirkan dirinya?”


Manik matanya mengkilat dan berair,” Hikss... Bibi Fang, aku mencintai Hikashi. Dia pria yang baik, sekarang ini dia pasti membutuhkan dukungan. Walaupun aku tahu, dia sekarang memiliki Nathalie.”


“Fray, katakan kepada Bibi jikalau kau masih mencintainya!”


“Tidak Bi! Aku aku hiks hiks hikssss.” Tak sanggup meneruskan perkataannya lagi, hanya sudah sesak. Bibirnya mengingkari tapi hatinya mengakui bila rasa itu tak bisa ia bendung lagi.


“Temuilah, ayah dari anak-anakmu. Aku akan menjaga Jade dan Seven disini.”


“Terimakasih Bi,” mengambil tas dan bergegas pergi.


Dengan menaiki taksi, Frayza lebih cepat tiba di kantor Polisi. Ia langsung meminta ijin besuk tahanan.


“...” tatapan mata kosong, pria itu terduduk dilantai dan bersandar ditembok.


“Hikashiiii!”

__ADS_1


Melihat Frayza, hatinya semakin hancur. Wanita yang amat ia kasihi datang membesuknya. “Pergi!” usir Hikashi.


“Hikashi, aku mohon bicaralah padaku.”


“Pergilah Fray, aku sudah katakan kau jangan mencariku. Kita sudah bercerai!”


“Aku tidak peduli Hikashi, apapun yang terjadi kau adalah ayah dari kedua putraku. Jangan tolak aku hiks hiks.” Wajah Frayza sudah merah karena terbakar empati.


Hikashi tidak bisa melihat air mata Frayza berjatuhan dipipinya. “Fray, pergilah. Aku tidak butuh belas kasihanmu!”


“Hikashi, aku mohon percayalah padaku. Aku akan membebaskanmu dari tuduhan keji itu. Kau orang yang baik, mereka salah paham!”


“Diamlah Fray! AKU MEMANG PEMBUNUH MEREKA! AKU ADALAH IBLIS! JADI JANGAN PERNAH DATANG LAGI KEPADAKU. LAKUKANLAH SEMUA YANG INGIN KAU PERBUAT. KITA SUDAH BERCERAI!”


Hati teriris-iris, perasaan tercabik-cabik, pikiran berkecamuk dan tubuh lunglai. Jauh-jauh ia datang tapi diusir secara hina. Apa maunya Hikashi sebenarnya, kenapa harus membentak-bentak Frayza. Wanita Malang itu meletakkan amplop putih sembari terisak-isak menahan tangisannya.


“Padahal aku mau memberitahukan kabar penting untukmu. Tap-tapi kahadiranku memang tidak pernah kau hargai hiks hiks. Jaga dirimu Hikashi.”


“PERGI, PERGILAH! KAU SELALU PERGI DAN MEMBUAT MASALAH. KALI INI AKU TIDAK AKAN PEDULI PADAMU!” jahat sekali kau Hikashi bicara begini. Padahal dulu kau mengejar-ngejarnya.


Frayza pergi dan menagis, bahkan Ramon menyapanya diabaikan. Dikantor polisi ini Nathalie memberikan kesaksiannya. Ia didampingi pengacaranya melaporkan Hikashi atas dugaan penganiayaan dan penyimpangan seksual. Hal ini diharapkan Nathalie dapat memberatkan masa hukuman Hikashi.


“Apa kau sudah gila!”


“Kenapa?”


“Kau tahu kalau ia sudah jatuh, kali ini kau ingin menguburnya hidup-hidup?”


“Aku tidak peduli!”


“Dasar kau!” Ramon pergi karena sudah tidak bisa menasehati Nathalie.


Perkiraan Ramon meleset, ternyata Nathalie menipunya. Jika saja yang diambil Nathalie adalah berkas rahasia kriminal Hikashi. Pasti ia tidak akan menyabotase kode brangkas Hikashi. Sekarang ia melihat wujud asli Nathalie yang sama gilanya dengan Damora.


*


*


*


Frayza terus menguatkan hatinya agar ia tetap tenang. Ia mengelap air matanya yang terus-terusan menetes. Dengan pengalamannya saat bersama Andreas. Frayza melakukan penyelidikan dikamar Hikashi. Ia yakin jika ini adalah jebakan, mulai dari runtuhnya bisnis. Sampai dimasukkannya kejeruji besi penjara.


“Tak akan kubiarkan ini terjadi, kau sudah menyelamatkan hidupku berkali-kali. Kau tidak boleh dipenjara, kau harus bebas.”


Frayza mengumpulkan barang bukti dan beberapa rekaman penting. Ia mengumpulkannya dan menyimpannya kembali ke brangkas Hikashi. Ia juga sudah tahu kalau satelit milik Ramon menyadap pergerakan di kastil ini.


Ketika Ramon sibuk dengan Nathalie bertengkar. Frayza memasukkan virus komputer kedalam ponsel Nathalie saat membuka pesan acak.


“Dapat!”


“Apa yang kau lakukan?”


“Dokter Kelvin ehhmmmbb.” Tubuhnya melemas dibekap kain.


Sebotol ampul cairan dimasukkan kedalam suntikan. Inilah suntikan vaksin terakhir untuk Frayza. Semoga ingatannya kembali pulih seperti sedia kala.


Setelah beberapa hari pingsan, ia mendapati dirinya sudah berada di kamar hotel seorang diri. Ia panik setengah mati, jangaj-jangan ia diculik atau hendak dijual.


“Tenanglah, kau aman disini.”


“Dimana barang-barangku?”


“Maksutmu ini?”


“...” mengambil dengan cepat.


“Jika kau ingin ia bebas kau masih memiliki 1 jam dari sekarang untuk melakukan pembelaan. Hukum disini tidak tebang pilih. Dan ini laporan medis Nathalie, kau bisa memberatkannya.”


“Kenapa kau memberikan ini? Apa kau menjebakku dengan hal sepele ini?”


“Mungkin aku belum memperkenalkan siapa Nathalie. Ia adalah adik dari Digna, sejak kecil mereka selalu bersaing. Karena memiliki berebut barang yang sama-sama disukai.”


“Simpan saja bualanmu itu!”


“Fray, jika kau ragu padaku itu hakmu. Sekarang waktu semakin berkurang. Naik kendaraan umum memakan waktu lama. Aku antar kau memakai ini.”


Membuka kain penutup ternyata sebuah sepeda motor balap, seperti kejadia dulu. Dokter Kelvin menyelamatkannya naik sepeda motor. Mereka memecah kemacetan dan ngebut dijalanan.


“Fray, semoga berhasil!” melempar berkas rekam jejak riwayat mental Nathalie.


“Terimakasih, tapi nanti!”


“Dasar!” menyeringai.


Dokter Kelvin melajukan motornya keluar dari pengadilan. Baru saja keluar dari pintu gerbang, sebuah timah panas bersarang didadanya. Doooorrrr... Dorrrr.... Dorrrrr.... Tidak tembakan tepat di jantungnya. Motor itu tergelincir dan terseret jauh. Lalu ada truk boks melintas melindas tubuh malang Dokter Kelvin. Frayza pun mendengar suara gemuruh itu, namun sekali lagi. Ia berpacu dengan waktu untuk memberikan kesaksian tambahan.


Sementara itu, seseorang meringkasi senapan laras panjangnya. Usai melakukan aksinya baru saja. Ia bersikap santai dan berjalan membaur dikeramaian membawa tas pancingan.

__ADS_1


__ADS_2