TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
AKU MOHON, AMPUNI AKU


__ADS_3

Hari sudah berganti, saatnya memulai hari yang baru lagi. Ini adalah hari ke 3 dari perselisihan antara suami-istri. Helena yang masih memiliki jiwa petualangan mengajak Frayza menemui pemiliki gedung. Yang menawarkan penawaran menarik, lokasinya yang strategis dijangkau. Dan berada di jantung kota Seoul. Namun sayang sekali, harga yang ditawarkan sangat tinggi mengingat bangunan itu baru beberapa tahun berdiri. Pemiliknya menjual bangunan tersebut karena akan menetapa di luar negeri. Baik Helena, maupun Frayza yang notabenya pemain baru. Mereka merasa perlu merogoh koceknya amat dalam betul. Selain itu,mereka berdua harus kembali kerumah. Karena hari sudah menjelang siang. Awalnya Helena menyarankan Frayza memakai kartu milik Hikashi. Tapi ia menolaknya, karena ia menyesal sudah bersikap arogan menggunakan uang. Berbelanja gila-gilaan dan berfoya-foya bukanlah jiwanya. Ia hanya melampiaskan kemarahannya saja.


Akhirnya kedua wanita ini tiba juga, setelah semalam mereka tidak pulang. Tampaknya rumah ini sudah sepi, tidak ada suara penghuninya. Hanya beberapa pelayan yang menutup perabotan dengan kain putih.


“Karena urusan mereka sudah selesai maka Pangeran Takeshi mengajak kembali ke Jepang lebih awal.”


“Apakah Matsumoto juga?” tanya Helena.


“Maafkan saya, Nona Helena sepertinya hanya tinggal kalian berdua saja yang tertinggal.”


“Beraninya dia membawa pergi anak-anakku!” Frayza melepaskan syalnya dan menaiki tangga.


Ia membuka pintu kamar, tidak ada Jade maupun Seven. Ia pergi ke kamarnya, tidak ada Hikashi. Seluruh isi lemarinya sudah kosong. Hanya tinggal kopernya saja yang sudah dikemasi rapi. Tidak meninggalkan sepucuk surat atau pesan untuk dirinya. Frayza merajuk dan meminta pergi kembali ke Jepang. Namun sayang sekali, kali ini harus menundanya. Karena Andreas sudah tiba di Korea, menurut undangan Helena dan Bibi Fang.


Sekarang keduanya keluar dari rumah, lalu memutuskan untuk tinggal di Hotel. Yang letaknya tidak jauh dari Andreas dan Franda menginap. Mengetahui Frayza menginap didekar Hotelnya, Andreas memutuskan untuk pindah Hotel tanpa sepengetahuan Franda. Yang waktu bersamaan mengantar Jade di Bandara. Ia hanya mampu mengantarnya dari kejauhan putranya. Jika ia mendekat, maka Matsumoto tak segan-segan akan melukainya.


“Papa, apa kita tidak menunggumu Mama?”


“Hemmmbb.” Menggelengkan kepala.


“Papa.” Seven memanggil Hikashi.


“Iya Nak?”


“Bisakah aku dirawat di Rumah sakit saja, kepalaku pusing.”


“Tuan, sepertinya demam Seven semakin tinggi akibat cuaca yang dingin.” Bibi Fang memegang kening Seven yang panas.


“Baiklah kalau bagitu, aku akan menunda keberangkatan kita ke Jepang. Bagaimana dengan yang lainnya?”


“Aku setuju!” Takeshi.


“Aku juga, Mama masih belum ketemu soalnya.” Jade.


“Aku mau bagaimana lagi huh.” Matsumoto.


“Baiklah, kalau begitu aku antar Seven di Rumah Sakit. Karena dia lebih membutuhkan perawatan; Bibi Fang, kau ikutlah bersama Jade. Tolong urus keperluannya. Aku akan menjaga Seven selama ia dirawat.


Semuanya yang sudah bersiap terbang ke Jepang, membatalkan perjalanan kembalinya. Karena kondisi Seven yang tidak memungkinkan perjalanan.


Helena memberitahukan tempat ia menginapnya sekarang kepada Matsumoto. Kebetulan sekali dirinya dan rombongan mencari tempat penginapan juga. Akhirnya diputuskan semua menginap di Hotel yang sama.


“Kau mau kemana?”


“Aku?” sedang berdandan di kamar mandi.


“Bukannya kita sudah bertemu Andreas tadi. Sekarang kau mau bertemu siapa?”


“Matsumoto hihihi.”


“Sial, berarti Hikashi dan anak-anak ada disini kalau begitu!”


“Dia menginap sendirian disini.”


“Bohong, aku ikut denganmu menemuimu Matsumoto. Aku harus bertemu anak-anakku!” mengambil jaketnya juga.

__ADS_1


Dimeja makan duduklah Matsumoto memakai kemeja lengan pendek. Ia duduk santai menikmati hidangannya. Ia mengunyak makanannya dengan lahap, tanpa menunggu Helena datang.


“Kenapa kau makan lebih dulu?”


“Nyum... Nyum...” terus mengunyah.


“Matsumoto, dimana Tuanmu?”


“Uhukkk...” menyemburkan semua isi makanannya. Matanya melotot melihat rambutnya Frayza yang dicat lebih terang. Sedangkan Helena mengecat rambutnya gelap. Seperti warna rambut mereka tertukar.


“Dimana Tuanmu sekarang? Lalu kenapa kau bisa sendiri disini?”


“Nyonya, aku tidak mengenalimu. Maaf.”


“Dimana Suami dan anak-anakku sekarang?”


“Jade sedang tidur dikamarnya bersama Bibi Fang.”


“Oh syukurlah kalau begitu, berapa nomor kamarnya. Aku mau kesana!”


Ia langsung berlari bergegas mencari kamar Jade menginap. Pintu terbuka, Bibi Fang membukanya. Lalu Frayza memeluk Bibi Fang yang menyambutnya.


“Bibi Fang, terimakasih sudah menjaga Jade dan Seven.”


“Hmm iya, masuklah dan temui putramu.”


Jade yang mendengar suara ibunya langsung bangun. Beranjak dari ranjang memeluk ibunya juga. Ia menceritakan kalau Seven bersama ayahnya dirawat.


“Sebenarnya Papa bersikeras menyuruh kami mengemasi barang-barang. Tapi Seven demamnya semakin tinggi, jadi ia dirawat di Rumah Sakit. Papa menjaganya disana.”


“Mama, ayi kita temui Seven.”


“Mama takut Papa mu.”


“Mama...”


“Seven sedang sakit, keberadaan kalian adalah obat psikologis yang mempercepat kesembuhannya.”


“Bibi Fang, aku belum berani menunjukkan wajahku didepannya.”


“Mama, bukannya selama ini Papa sangat menurut kepadamu. Bahkan Papa sangat mencintaimu daripada kami.”


“Tidak Jade, Papa mu dia orangnya...”


“Fray, selain pertimbangan Sevem sakit. Tuan William pasti ingin lebih disini lebih lama. Semalaman ia berdiri didepan pintu gerbang.”


“Orang itu kenapa? Apa dia mau jajal ilmu kebal?”


“Dia menunggumu Mama!”


“Apa dia belum puas menyiksaku, tidak.”


“Frayza, aku temani kau kesana ya. Jika kau takut, ayo kita bawa Pengacara Andreas juga.”


“Bibi Fang,” Frayxa berat menyetujui ide ini.

__ADS_1


“Mama, jika Papa melukaimu dia pasti menahan sampai tidak ada orang yang melihatnya. Aku yakin, Papa sekarang menyesal.”


“Dia berdiri dibawah hujan salju, menunggumu. Jangan takut, dia adalah suamimu. Pria cemburu itu beda-beda cara meluapkannya. Mungkin ia bersikap kasar diluar batas kesabarannya.”


“Baiklah.”


Acara makan malam bersama dengan Matsumoto menjadi acara surat tagihan hutang. Helena melihat daftar belanjaannya yang sudah dicetak kertas.


“Aku sudah memeriksa dan memeriksa barang milik kalian berdua. Karena Tuan Hikashi bukan suamimu, maka tagihan belanjamu dimasukkan kedalam hutang.”


“Mustahil, banyak sekali.” Matanya melotot.


“Tuan Hikashi berpesan, carilah suami yang kaya. Jangan belanja uang suami temanmu. Apalagi kau sudah membawa istrinya tanpa mengenal waktu. Sekarang kau kehilangan jabatanmu sebagai Direktur utama Helena House.”


“Tolong katakan kepada Tuan William Hikashi, aku bisa jelaskan semuanya. Tapi jangan melorotkan jabatanku!”


“Percuma, aku berpihak kepada Tuanku. Semalaman kau dimana saja, dan membuat Nyonya Frayza menjadi pembangkang.”


“Aku menyesal Matsumoto, asal kau tahu aku melakukan ini semua untukmu. Dan Frayza begini karena Tuan William sudah keterlaluan.”


“Bukan kapasitasmu untuk meracuni Nyonyaku. Apakah kau lupa tujuanmu kemari yaitu menemani Nyonya mencari lokasi tempat baru. Tapi yang kau lakukan sudah membuat rumit. Helena, kau cantik. Tapi kau tidak wanita baik!”


Tidak ada yang bisa diperbaiki dalam situasi ini. Matsumoto mendapat pesan, jika Jade mau menjenguk adiknya. Ia segera mengambil mobil dan mengantarnya ke rumah sakit. Frayza yang ketakutan, tak melepaskan genggaman tangannya dengan Jade. Ia sangat takut bertemu suaminya. Seperti hendak menghadapi pengadilan tindakan buruknya yang tidak patuh.


“Silahkan Nyonya.”


“Ayo Mama.”


“Kau masuk dulu.”


“Fray, masuklah.”


“Jika terjadi sesuatu, aku ada diluar.” Sahut Andreas.


Didalam Hikashi berdiri melihat keluar jendela. Seharian ini dia diam, rahangnya mengeras. Pikirannya tengah berkecamuk.


Kriiett... Pintu didorong terbuka, orang yang datang memasuki ruangan. Seven tengah terbaring di bangsar, tertidur pulas. Suasana kamar ini menjadi kelam, karena Tuan besar sedang menahan amarahnya.


“Mama.” Jade meyakinkan ibunya.


“....” berjalan pelan.


“Saya, tutup pintunya dulu.” Matsumoto menutup pintu berjaga diluar.


Hikashi menoleh dan melihat istrinya sudah kembali, tapi apakah mengurasi amarahnya? Sepertinya Hikashi semakin murka melihat dandanan baru Frayza yang menyerupai idol wanita.


“Aku datang,” bicara pelan.


“Papa, Mama datang menjenguk Seven.”


Tap... Tap... Tap... Hikashi berjalan mendekati Frayza dan Jade berdiri. Kaki Frayza mundur ia takut bila hal buruk terjadi lagi. Ia tidak siap menerima perlakuan buruk itu lagi. Apalagi disaksikan kedua putranya.


“.....” Hikashi menekan kenip pintu mengunci


Matan Frayza terbelalak, ia semakin ketakutan dengan suaminya sekarang. Jade mencengkeram baju ibunya yang sudah bercucuran keringat dingin.

__ADS_1


“Aku...” Frayza tak melanjutkan bicaranya.


__ADS_2