
Karir Franda melesat sangat cepat bak batu meteor, hampir seluruh iklan terpampang wajahnya wara-wiri.
“Kau lihat sayang, betapa mengagumkannya aku ini.” Pamer kepada Frank.
“Iya, kau sangat luar biasa. Tapi, _”
“Tapi apa?”
“Aku merasa kita sudah lama menjalin hubungan, apa kau tidak ingin membicarakan hal yang lebih serius lagi denganku?”
“Serius? Apa selama ini kau pikir aku bermain-main saja denganmu?”
“Aku merasa, semakin lama hubungan maka semakin erat ikatan pertalian kita. Apa karena sudah terbiasa denganmu, sehingga aku merasa biasa?”
“FRANK!” bentak Franda geram.
“Jangan emosi dulu, tenangkan pikiranmu. Aku hanya merasa saat ini sedang dititik terendah emosiku.”
“Awas saja kalau kau macam-macam dibelakangku, kuperingatkan kepadamu. Kau bisa sukses itu karena bantuan mendiang Frayza kakakku. Selama ini dialah yang sudah berjasa, termasuk mengurusmu juga.”
“Jangan ucapkan nama orang yang sudah mati itu, dia sudah tenang di alam sana.” Frank beranjak pergi meninggalkan Franda.
Apartemen ini sudah menjadi tempat tinggal bersama keduanya sejak resmi diumumkan sebagai pasangan tunangan resmi. Selain memperluas jaringan bisnisnya, Frank kini mampu mendirikan Perusahaannya sendiri. Tentut saja dengan bantuan orang tua Frayza juga.
Selama masa skorsing, Julian sesekali bermain basket di taman. Akhir-akhir ini dia sering rindu dengan Frayza, padahal jelas dulu dia tidak peduli keberadaan sulung di keluarganya.
Plung... Klak, bola basket itu berhasil masuk kedalam keranjang. Dirinya hanya bermain solo, mulai merasa jenuh dan hendak mengakhiri permainannya.
__ADS_1
“Sedang apa kau kemari?” Franda menghampiri Julian di lapangan basket.
“Ibu menyuruhku untuk memasukkanmu di klub basket Nasional. Jadi bersiaplah kita kesana!”
“Terserah, jika ayah dan ibu murka. Rasakan sendiri resikonya, aku mau pergi berbelanja. Sangat menguras waktuku yang berharga.” Julian melirik tingkah pongah kakaknya.
Disebuah Bar langganannya Julian mengambil kursi untuk mengabiskan gelas bir. Dirinya sedang berpikir keras mengenai masa depannya. Hanya bartender yang berada disana dengan mengelap gelas. Karena hari baru sore, sebetulnya belum jam buka saja. Bar ini adalah milik Frank, jadi Julian bisa memiliki akses bebas.
“Kemana?”
“Dasar adik bodoh, Ibu memintaku memasukanmu sebagai calon atlit Nasional. Sebentar lagi ada Olimpiade, apa kau mau melewatkan ajang besar ini?”
“Aku hanya minat berkarir di Amerika, selain itu lupakanlah.”
“Jangan menyia-nyiakan kesempatanmu. Kau tahu, karirmu sebagai atlit hanya sebagai batu loncatan karirmu selanjutnya. Ayah dan ibu susah payah merancang masa depanmu, karena kau anak pria tunggal dikeluarga kita.”
“Apa kau masih meragukan masa depanku,” mengayunkan tangannya yang penuh perhiasan.
“Aku hanya ingin bermain basket di Amerika, dan menjadi pelatih. Aku tidak punya bakat selain olah raga, jadi lupakan saja hal yang mustahil.”
“Dasar anak tidak tahu diuntung, selain dirimu ini. Kesempatan emas tidak akan dilewatkan begitu saja, kau akan menyesal Julian.”
“Iya, aku akan menyesal karena membangkan orang tua dan tidak menjadi kebanggann seperti kakak. Tapi, aku punya jalan pikiranku sendiri. Lelaki memiliki kebebasan mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya, aku ingin menjalani hidupku seperti kemauanku.
Disebuah Bar, Julian tengah menikmati bir yang tersaji. Hanya seorang bartender yang sedang mengelap gelas.
“Kenapa datang sore hari, kan waku buka kami sejam lagi?”
__ADS_1
“Aku merasa suntuk saja.”
“Akhir-akhir ini, orang-orang sedang merasa suntuk saja. Padahal mereka memiliki banyak uang untuk melepaskan penatnya.” Ucap Bartender lawan bicara Julian.
“Mungkin mereka sedang galau juga,” sahut Julian.
“Sepertinya iya, beberapa hari terakhir tuan Frank kemari saat kami mau tutup.”
“Apa? Kak Frank calon kakak iparku?”
“Iya siapa lagi, diakan sering kemari.”
“Dengan siapa?”
“Sendirian, lalu ditemani gadis penghibur sih.”
“Apakah gadisnya sama?”
“Tidak, setiap harinya gadisnya berbeda-beda. Awal mulanya tuan Frank menolak kehadiran mereka, tapi ketika dia mulai mabuk berat akhirnya pasrah saja. Bahkan sekarang gadis-gadis yang usai menemaninya minum bercerita kalau Frank sering menyebut nama seorang wanita.”
“Franda?”
“Emmm, hampir mirip sih tapi aku lupa.”
“Apakah Frayza?”
“Emmmbbb, entahlah. Dia mengucapkannya sembari mengigau.”
__ADS_1
Dalam hati kecilnya Julian berkata bahwa Frank merasa dirinya dikejar karma. Selama hidupnya Frayza hanya Frank lah satu-satunya pria yang paling dekat dengan kakaknya. Suatu ketika,Julian menemukan tes kehamilan di kamar mandi. Dan itu ia temukan usai, Frayza memakai kamar mandi. Julian yang tahu kegunaan alat itu sangat takut dan membenci Frayza. Karena dia berpikir kalau kakaknya yang dianggap baik ternyata tak lebih dari seorang wanita murahan. Namun, sebenarnya Franklah yang berkhianat dari Frayza. Kemudian, Franda dan Frank mengakui mereka berpacaran. Julian, berpikir kalau Frayzalah perebut kekasih orang. Tapi bagaimana bisa menjadi perebut kekasih orang, secara Frank berpacaran dengan Frayza lebih dulu. Apakah Franda wanita yang dicintai Frank? Atau Frayza hanya sebagai kain lap pel saja? Julian semakin pusing memikirkan kisah Cinta kakak-kakak perempuannya.