TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
KODE RAHASIA


__ADS_3

“Julian, apa yang kau lakukan ditempat seperti ini? Bukankah kau seorang atlit, manjaga stamina dan kesehatan adalah modal utama.” Tegus Frank yang datang ditempat yang sama.


“Heh, kakaaakk iparku!” menapar kecil pipi Frank.


“Haisss lebih sopanlah kepadaku! Aku bukan sepantaranmu, jangan nakal seperti ini hah!” menghempaskan tangan Julian dengan kasar.


“Hehehehe jadi seperti ini yaaa dirimu, hikkk.” Meracau mabuk.


“Bartender, kenapa dia tampak kacau. Minuman apa yang kau berikan padanya.” Bartender itu mengernyitkan alisnya dan melototi gelas kosong depan Julian.


“Heemmm pantas saja dia semabuk ini, dasar amatiran.” Mencium aroma minuman Julian.


“Sedari tadi dia datang sudah frustasi dan menyakan beberapa hal mengenai dirimu soal kakak perempuannya.”


“Dia bertanya soal apa?”


“Entahlah, kau bisa langsung bertanya padanya ketika sadar. Tempat ini mau buka, lebih baik kau bawa pulang saja. Daripada mengganggu tamu yang lain akan datang.” Perintah bartender yang memang sudah akrab dengan Frank.


“Baiklah, aku pergi dulu. Katakan kepada Cerry kalau malam ini aku tidak datang ada urusan penting.”


“Oke, nanti aku sampaikan pada Cerry.”


Tubuh Julian yang tinggi besar itu terhuyung-huyung sambil dipapah Frank. Dalam keadaan tidak sadarkan diri itulah Julian mengatai Frank tidak becus menjaga kedua kakak perempuannya. Frank yang malu dikatai oleh Julian menahan emosinya karena ada banyak orang yang melihatnya memapah Julian.


Di Kondominium mewah milik Frank inilah, dia melemparkan tubuh Julian diatas sofa hitam besar. Kediaman Frank yang mewah ini nampaknya dia dapatkan sangat mudah. Karena uangnya yang melimpah serta dukungan keluarganya yang memang dari pebisnis handal. Namun sayangnya, Frank tidak pernah memberikan apapun selain ucapan terimakasih kepada Frayza saat mereka masih bersama.


Keesokan harinya Julian tersadar dari mabuknya, dan seorang pelayan wanita menyiapkan sarapan. Ada Frank yang selesai sarapan, kemudian mengelap tepian mulutnya.


“Sarapan dulu, baru pulang.” Frank melihat Julian hendak meninggalkan Kondominium miliknya.

__ADS_1


“Aku sudah merepotkanmu semalaman, tak usah mengkasihani aku. Terimakasih atas tumpangannya.”


“Aku akan menjawab semua pertanyaanmu.” Tegas Frank lantang.


Pria berambut klimis dan memakai kacamata itu mendekati Julian yang masih memalingkan wajahnya.


“Kau pasti ingin tahu jawaban dari semua alasanku bukan?” Julian terperanjat mendengar ucapan Frank yang berterus-terang seperti ini. Dia tidak menyangka kalau Frank lebih agresif.


“Apakah benar, dulu kakakku pernah mengandung benihmu sebanyak dua kali?” wajah Frank tertunduk lesu dan merunduk malu.


“Itu masa lalu kelamku, saat ini aku ingin memiliki masa depan yang cerah. Aku sudah menguburnya bersama jasad Frayza.”


“TEGANYA KAU BICARA SEPERTI ITU TERHADAP MENDIANG KAKAK SULUNGKU! APA KAU PIKIR SUDAH HEBAT HAH, KAU MEMBANTU AYAHKU MENJADI POLITISI UNTUK RASA BERSALAHMU BUKAN. SEKARANG KAU MENGENCANI FRANDA, APA KAU PIKIR WANITA DIRUMAHKU ITU MAINAN HAH!” cecar Julian kesetanan.


Dengan luapan emosi yang menjadi-jadi dia mendorong tubuh Frank hingga terhuyung menghantam meja kaca. Lalu menjatuhkan vas bunga, hingga pecah.


“Sudah puas marahnya?” gertak Frank.


Pelayan dikediamam Frank keluar dan dengan sigat membereskan sisa-sisa puing-puing kekacauan pagi hari ini.


“Ros, aku akan terbang ke Batam katakan kepada siapapun kalau aku pergi ko Makau bermain mahyong. Termasuk ibuku, jangan sampai dia tahu kalau aku pergi ke Batam!” pelayan setianya mengangguk.


Tanpa pikir panjang lagi, Frank terbang ke Batam dan pergi menuju pemakaman umum tempat dikuburkannya Frayza palsu.


*


*


*

__ADS_1


TOKYO, JEPANG.


Garasi mobil Hikashi terdapat banyak koleksi mobil yang jarang dipakai. Satu persatu mobil tersebut dipanasi mesinya dan dicek mesin-mesinnya agar tetap normal. Kegiatan ini rutin Frayza lakukan, karena sudah jadi bagian tugasnya sebagai sopir cadangan di kediaman Hikashi.


“Heh apa ini?” mengorek jog mobil yang mengganjal dipunggungnya.


Sebuah stopmap berwarna coklat yang isinya beberapa lembar kertas dengan tulisan braille.


“Ya ampun, semakin kaya orang kok semakin pintar saja sih. Aku mana bisa baca tulisan tunanetra. Kalau huruf Thailand aku masih bisa, lebih baik aku serahkan saja pada Ramon. Siapa tahu dia juga sama bodohnya seperti aku hehehehe.”


Dari kamera pengawas yang mengawasi gerak geriknya, pegawai itu memberitahu Matsumoto kalau ada yang menemukan berkas rahasia dari dalam mobil Hikashi. Tak lama kemudian Matsumoto menemui Frayza yang masih sibuk dengan puluhan koleksi kendaraan milik Hikashi.


“Berikan Stopmap itu!” Matsumoto mengulurkan tangannya.


“Hhheeee darimana ketua tahu aku menemukan barang itu?” dia melihat sudut tembok terpasang kamera pemantau.


“Segera berikan dan lanjutkan pekerjaanmu!”


“Iyayaya ketua, aku ambilkan dulu dari tempatku menyimpannya hih.” Frayza jengkel dengan sikap kaku Matsumoto.


Setelah berhasil menyabet temuan Frayza, Matsumoto dan beberapa pengawal setianya pergi.


“Huuu dasar ketua Matsu judes, pantas saja jomblo sampai tua!” ejek Frayza yang kesal.


Dia mengatai ketua Matsumoto ketika pergi dan tidak menyadari kalau tingkahnya sedang diawasi juga oleh orang lain. Sementara itu Ramon datang dan bilang kepada Frayza kalau akan ada pesta kecil.


“Ha... pesta lagi, kenapa setiap akhir pekan mesti harus ada pesta sih.” Frayza mengeluhkan hobi Hikashi yang buruk.


“Sudahlah ayo ikut denganku menjemput para gadis-gadis. Waktu kita tidak banyak, kau tahu bukan kalau tuan muda Hikashi orang yang temperamental.” Ramon yang gugup membenarkan dasinya yang terpasang miring.

__ADS_1


“Tapi aku belum selesai mengecek kendaraan lainnya, nanti kalau ketua Matsumoto murka habis aku jadi sarden.” Kenang Frayza kalau dihukum Matsumoto.


“Dia yang memerintahkannya, kita harus cepat menjemput gadis-gadis penghiburnya. Karena setelah itu kau akan ikut denganku menagih hutang di tempat judi.” Tutue Ramon yang sudah mengencangkan sabuk pengaman.


__ADS_2