TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
MENJADI KENYATAAN


__ADS_3

Pagi ini Frayza memandang sinar matahari dari tengah hamparan sawah yang sudah menguning, sebentar lagi musim panen.


“Nona Frayza, sudah selesai waktunya berjemur. Sarapan sudah saya siapkan.” Tiara datang membawa payung untuk berteduh Frayza dari sengatan panas.


“Kenapa kau bawa payung segala, aku tidak selemah itu juga hehehe.” Sambil mengusap perutnya yang menonjol.


“Karenaaa... Aku sayang Nona Frayza hehehe.”


“Terimaksih Tiara kau sudah menjagaku dengan baik, tapi aku ingin membeli perlengkapan bayi.”


“Aku bisa mengantarmu Nona, nanti aku beritahu Ben. Soalnya dia lebih tahu dimana tempat yang lengkap dan murah.”


“Oh begitu ya,” sesak dada Frayza mendengarnya. Bila saja dia masih bersama Hikashi, pasti calon bayinya akan mendapatkan hal lebih baik.


Memang tak bisa dipungkiri, keadaan ekonomi Frayza di Bali ini bergantung pada hasil kebun pertanian dan kolam ikan. Dirinya juga harus membayar karyawan dan mengelola modal usahanya. Pernah suatu ketika Frayza mengalami kerugian, terpaksa ia memakai kartu premium milik Hikashi. Dia sangat bersalah kepada Hikashi yang sudah kabur. Tetapi masih memakai uangnya, Frayza berjanji suatu saat dia akan mengembalikan uang tersebut bila mendapat keuntungan. Namun, dia harus mempersiapkan kelahirannya ini. Biaya membesarkan anak sangat tinggi bagi seorang Frayza.


“Ya Tuhan, terimakasih sudah memberikanku kesempatan untuk merasakan kehamilan lagi. Aku berjanji akan merawat anak ini dengan baik.” Ucap frayza ketika keluar dari ruang Dokter yang memeriksanya. Ia memegang kertas foto hasil pemeriksaan janinnya.


Perasaannya semakin bertambah terharu, karena janinnya sehat. Tiba-tiba ada boneka beruang berwarna putih yang muncul. Takeshi membawakan hadiah tersebut untuk Frayza. Sebelumnya Takeshi sudah menghubungi Frayza jika ia akan memberikan kejutan padanya. Sekarang Takesho sudah bisa berjalan tanpa bantuan tongkat.


“Calon ibu bayi, selamat ya.”


“Pangeran Takeshi,” decak Frayza kagum melihat Takeshi yang sudah sembuh.


“Calon Paman!”


“Oh iya, aku hampir lupa kalau akan menjadi Paman.”


“Oiya Fray, maafkan aku yang batal bertamu kerumahmu. Apakah nanti malam kau tidak sibuk?”


“Nanti malam aku tidak tahu, tapi setelah ini aku mau mencari perlengkapan bayi di Pasar.”


“Apa Pasar?”


“Iya, Tiara dan ben menyarankan aku belanja di sana. Selain lengkap, harganya juga murah. Aku bisa menekan biaya hehehe.”


“Jangan pura-pura tegar Fray, menghidupi diri sendiri saja berat. Dia adalah calon penerus Hikashi. Aku harus beritahu dia jika kau kesulitan keuangan.”


“Aku mohon jangan, kami sebenarnya sudah berpisah. Tolong, jangan beritahukan keadaanku sekarang. Nanti aku sendiri akan memberitahukannya.”


“Fray,”


“Pangeran Takeshi jika kau menolakku, maka aku akan pergi dari Bali. Dan kita tidak akan bertemu lagi.”


“Baiklah Fray, jika kau tidak nyaman aku beritahu Hikashi. Tapi jangan melarangku untuk menjengukmu.”


“Aku akan mengirimkan lokasiku, sampai bertemu lagi nanti malam.”


Mereka berpisah, Takeshi masih di Rumah Sakit. Selama ini dialah yang mengelola Rumah Sakit yang dibangun oleh Hikashi. Dia menjadi komisaris utama yang memegang kendali bisnis Hikashi di Indonesia. Setiap Frayza selesai memeriksakan kandungannya, Takeshi mengirimkan salinannga kepada Hikashi. Si calon ayah itu riang tak terhingga. Semangatnya menjadi calon ayah memompanya menjadi lebih baik dan giat. Dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya secepatnya.


Di Pasar ini, yang terik dan panas. Orang-orang bejubel membeli barang yang mereka cari. Frayza dan Tiara terpaksa berdesak-desakan, tak jarang juga perut Frayza kram.


“Nona, apa kita beli perlengkapannya secara daring saja?”


“Tidak, kita sudah sampai disini. Aku masih bisa kok.” Menaham kram dan mual karena udara yang engap.


“Kalau begitu, kita makan di warung saja ya.”


Mereka makan disebuah warung pinggiran, tiba-tiba Frayza merasa mual dan muntah. Dirinya keletihan berjalan mengelilingi beberapa los toko penjualan perlengkapan bayi. “Ben tolong bawakan belanjaan ini, aku mau memapah Nona Frayza.” Tiara memapah Frayza yang sudah pucat wajahnya.


“Baik,” sahut Ben memasukkan barang belanjaan.


Didalam mobil, Frayza membuka jendelanya. Dia merasa agak baik kondisinya sekarang. Hari sudah masuk senja, dia ingat kalau nanti malam Takeshi mau bertandang kerumahnya.

__ADS_1


“Tiara, bisakah aku meminta tolong kepadamu. Nanti ada tamu istimewa datang, dia masih sepupu suamiku. Tolong masakan hidangan yang biasa kita makan, jangan pedas-pedas.”


“Sepupu suami Nona?”


“Iya, namanya Tuan Takeshi Imamura. Tolong jamu ia dengan hidangan yang baik ya. Karena aku tidak sempat membeli bahan masakan makanan Jepang.”


“Waw, seperti apa ya wajahnya?”


“Dia sangat tampan dan masih lajang. Tapi kai kan sudah punya Ben, iya kan Ben.”


“Uhukkk... Uhukkk,” Ben terbatuk saat menyetir konsentrasinya terganggu.


“Ben, apa kau sakit batuk?”


“Tidak Nona Frayza, jangan bahas aku.”


“Hehehe kau cemburu ya?”


“Aku tidak berhak cemburu, cemburu hanya untuk orang yang tak tahu diri.”


“Hhhaaa apa maksutmu woi!” cecar Tiara.


“Tiara, apa kau sudah kehilangan sopan santunmu membentak suamimu?”


“Cih, suami.”


“Sudah... Sudahh... Kalian jangan berkelahi.”


Mobil mereka sudah masuk pekarangan rumah mungil mereka. Sepertinya Takehsi sudah datang terlebih dahulu. “Nona, apa kau mengundang seluruh saudara sepupu suamimu?” banyak mobil terparkir panjang.


“Aku tidak tahu juga sih, tapi ini mobil siapa. “


“Kalian masuklah, lihat siapa tamunya. Aku akan masukkan belanjaan ini.” Perintah Ben. Tiara memapah Frayza yang masih sempoyongan berjalan.


“Waw, tamuku sudah datang tapi aku baru pulang. Sudah lama menunggunya?”


“Tidak lama, baru dua jam saja kok.”


Mereka masuk, mata Tiara tak berkedip melihat langsung Pangeran Takehsi yang tampan. Yang ketampanannya masih jauh dari Hikashi. Sampai-sampai Tiara tidak fokus memasak karena matanya tertuju pada Tekashi. Karena dia memberantakan olahan makanannya, alhasil pesanlah makanan antar.


“Tidakkah sikapmu itu memalukan, melihat pria seperti kucing kelaparan.”


“Ben, sadar dirilah jika kita hanya pasangan palsu. Kita disini untuk menjaga Nona Frayza dari penjahat. Kenapa kau seolah mengkritikku?”


“Aku hanya tidak mau kau lupa siapa jati dirimu, sadarlah dia itu Pangeran dari Jepang. Sedangkan kau dan aku adalah gengsters.”


“Selama kau menjaga mulutmu dan membantuku menyajikan hidangan ini semua aman. Setelah tugas ini selesai mari kita berduel di lapangan sepak bola!”


“Aku tidak selevel itu, lebuh baik aku berjaga dan berpatroli. Kau saja di lapangan, makan rumput sana!”


Pranggg ( piring terjatuh dan pecah) tangan Tiara melemah dan gemetar melihat pria berpakaian serba hitam. Ben kemudian menarik pistol dari belakang tubuhnya dan menodongkannya. Tapi pria berbaju hitam itu dihadang oleh pengawalnya yang berkepala plontos. Dengan sigap, pistol Ben sudah beralih ditangan Matsumoto. Mata Tiara tak bisa berkedip melihat wujud asli Hikashi. Yang tampannya lebih tampan dari Takeshi. “Sssssiii-siapa anda,” gadis itu berjalan mundur ketakutan melihat sorot mata sangar.


Hikashi berjalan terus memasuki ruangan rumah Frayza. Dia melihat pintu yang tertutup, kemudian anak buahnya menggeledah. Dari kamarnya dilantai dua, turunlah Frayza. Sembari memegangi tembok, ia juga memegangi perutnya. Berjalan dengan perlahan dan hati-hati. “Ada apa?” Frayza terganggu dengan suara gaduh. Dari belakang muncullah Takeshi yang menuruni tangga juga. Mata Hikashi melotot dan wajahnya memerah murka.


“Kami sedang merapikan bakal kamar calon bayi,” Takeshi mengantasipasi jika Hikashi berpikiran aneh-aneh.


Frayza yang ketakutan suaminya yang murka itu mendapatinya bersama sepupunya. “Itu benar, kau bisa menyuruh Katua Matsumoto memeriksanya.” Lanjut Frayza.


Jari Hikashi mengatung, pasukannya naik kelantai dua. Mereka melihat bila ada anak buah Takeshi juga membantu merapikan kamar calon bayi. “Mereka berkata jujur Tuan muda, diatas hanya ada kamar bayi dan ruang kerja Nona Frayza.” Pengawal membisiskkan ditelinganya Hikashi.


Barulah wakah Hikashi memudar tak semerah tadi. Dia berjalan mendekati Frayza, lalu memegang tengkuk Frayza. “Ekhh,” rintih Frayza kesakitan dengan cengkraman tangan Hikashi. Dia dibawa masuk kedalam kamar bayi itu. Didalam sana mereka dijaga ketat oleh Pengawal. Tak seorang pun diijinkan masuk. Takeshi, Tiara dan Ben mereka bertiga duduk di sofa dalam pengawasan Matsumoto. Saat ini Tiara dan Ben tak bisa melindungi Frayza. Jika ia melawan, sudah pasti kalah jumlah dengan pengawal yang Hikashi bawa.


“Memohonlah ampunan dan katakan penyesalanmu!” Hikashi menyuruh Frayza untuk melakukannya.

__ADS_1


Dirinya berlutut dan menundukkan kepalanya, tangannya berada dikakai Hikashi. Pria itu melepaskan dasinya, kemudian mengikat tangan Frayza. Setelah itu tubuh Frayza dibuat berjongkok, lalu terjadilah hal itu. Hikashi membuat Frayza tak berdaya lagi, dia melakukannya dengan hati-hati. Beginilah Hikashi menghukum Frayza, dan akhirnya dia kelelahan setelah bermain-main sebentar.


“Kepalamu panas, apa kau sakit?” melihat wajah Frayza yang nanar kemerahan.


“Hemmmb, tidak.” Lemah menjawabnya sembari bergeleng.


“Malam ini aku menginap disini, besok tinggakan tempat ini.”


“Apakah aku sudah dimaafkan?”


“Sudah, berpaa usia kehamilan mu?”


“Sudah...” meraih tangan Hikashi dan mengucapkannya diperutnya. Agar dia tahu bila bayinya bergerak.


“Ah apa ini?” Hikashi kaget merasakan tendangan ucapan selamat datang dari perut.


“Kau pria pertama yang menyentuh perutku, dia merindukan ayahnya.”


“Fray, aku mencintaimu hiks hiks.” Hikashi terharu dengan ucapan Frayza jika dirinyalah yang pertama kalu menyentuh perutnya.Berarti kecurigaan dan ketakutannya sudah terpatahkan, Frayza bisa menjaga diri dengan baik.


Sekarang Tiara dan Ben diusir pergi dari kediaman Frayza. Mereka sudah tidak diperlukan lagi, karena Hikashi akan melindungi Frayza dengan kemampuannya sendiri. Takeshi yang masih tingga disana terpaksa melakukan undur diri. Karena ia tidak ingin mengganggu pertemuan suami dan istri.


Didalam kamar Frayza, ada sebuah ranjang yang kecil ukurannya. Hikashi terjaga tidur dikursi dan menjaga Frayza. Sampai pagi tiba, semua barang-barang milik Frayza selesai dikemas. Kemudian di bawalah ke Villa milik Hikashi.


“Apakah kau membuang barang-barang yang kemarin aku beli?”


“Tidak, aku menyingkirkannya di Panti Asuhan. Mana mungkin aku membuang barang yang kau belanjakan dari uangku? Calon bayiku lebih layak mendapatkan barang terbaik dan Bagus. Dann sssttt, jangan ulangi lagi membeli barang murahan untuk anakku. Kau hanya perlu mengatakan apa yang kau butuhkan, nanti aku berikan semuanya.


“Sudah aku tebak,”


“Hehehe, ayo kita pulang ke Villa. Rumah ini sempit seperti gudang, pengab dan reot.”


“Hassss, sudahhh sudahh kau jangan menghinanya terus-terusan. Bahkan aku berencana untuk melahirkan dan membesarkannya disini. Bila kau tidak berhasil menemukanku.”


“Kau pikir aku akan mudah menyerah apa? Enak saja, apalagi kau sekarang mengandung anakku. Anak yang sudah lama aku harapkan lahir.” Menempelkan telinganya di perut Frayza.


“Suamiku, bagaimana dengan Jade?”


“Jangan khawatir, aku juga menyayanginya. Tapi aku akan lebih sayang pada anakmu, karena Jade adalah anak pancingan.”


“Sayang, apakah kau tidak pilih kasih?”


“Adil itu tidak harus sama takarannya, tapi porsinya disesuaikan dengan kadarnya. Itu baru dinamakan adil, kalau adil di samaratakan. Pasti ada yang merasa kekurang dan diuntungkan.”


“Bahasamu berat sekali,”


“Hehehe, kau hamil ya hamil sajalah. Tidak usah banyak berpikir, eh tapi kata Dokter kandungan kita sudah bisa main aman kan?”


“Kenapa baru bicara sekarang, setelah semalam kau melakukannya!”


“Aku tidak tahan Sayang, kau sudah lama meninggalkanku. Kan aku pria normal, jadi kalau ketemu kamu jadi harus begituan.”


“Kau mesum Hikashiiii!”


“Sssttt,”


“Hissss benar-benar ya kau ini”


“Sayang, kata Dokter kalau sering berhubungan itu Bagus. Ayo kita begituan lagi yuk, aku janji akan bermain lembut. Pokoknya tak jamin bayi aman, ibu nyaman. Yuk kita begituan lagi ya sayangg.”


“Kau ini ya, benar-benar tidak bisa lihat kondisikunyang hamil besar.”


“Aku pangku ya, sini. “ menepuk pahanya.

__ADS_1


“Hikashiii, kau ini hemmppsss...” mereka berciuman penuh gairah. Dan melakukannya dengan penuh rasa Cinta.


__ADS_2