TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
RENCANA RAMON


__ADS_3

Lagi-lagi Frayza harus mengeringkan bajunya lagi. Sistem cuci-kering-pake ia terapkan dalam kondisi ini. Hingga pada kesempatan lain Digna datang mencarinya.


“Setelah ini kapal akan singgah di Pelabuhan Thailand Fred.” Frayza belum paham maksud omongan Digna.


“Apakah kita akan mendarat?”


“Iya, tapi kau saja dan Ramon. Aku mau berbelanja.”


“Dasar perempuan, kenapa tidak minta Ramon mengantarmu saja berkeliling?”


“karena Ramon akan mengantarmu ke Pos pelatihan militer.” Frayza baru sadar kalau Ramon tidak main-main dengan rencananya.


“Aku belum bilang setuju, kenapa kalian begitu?”


“Fred, ketahuilah pekerjaan kami ini sangat beresiko tinggi. Bahkan nyawa kami bisa menjadi taruhannya. Setidaknya kau turuti apa yang menjadi perintah Ramon. Karena dia ingin kau kelak menjadi orang yang kuat.


Frayza mengangkat jemuran bajunya lantas kembali ke dek kamarnya. Langkah kakinya lesu, seolah dirinya tak bersemangat lagi. Dan sekali lagi, ketika ia berdiri tepat di depan pintu masuk kapal. Seorang pemuda tampan tengah duduk sambil merokok. Kemejanya terbuka sampai dadanya yang putih itu kemerahan karena terpanggang sinar matahari. Pria tampan itu hanya terus memandangi langit luas. Suara klakson kapal yang sudah dekat dengan Pelabuhan. Tampak daratan Negara Gajah Putih sudah tampak.


“Fray, maafkan aku mengambil keputusan sepihak. Ini ambillah data dirimu yang baru, disana berlatihlah yang keras. Jangan sia-siakan kesempatanmu.”


Entah bagaimana caranya Ramon bisa memiliki data baru untuk dirinya. Frayza tak menyangka jika Ramon dan Digna memikirkan masa depannya. Sekarang Paspor dan dokumen lainnya sudah dia bawa. Hanya beberapa meter sebelum dirinya menuruni tangga kapal. Dirinya sempat menoleh lagi ke kapal pesiar mewah itu, dia akan berada di tanah asing. Dan memulai sejarah baru.


“Ayo Fred,” ajak Digna.


“Oh iya ayo kita berangkat.” Sahut Frayza.


“Ayo cepat kita bergegas mengantar Fred ke tempat pelatihan militer, aku ijin kepada pemimpin Matsumoto 3 jam saja.”


“Ya Tuhan sayang, kenapa hanya 3 jam. Waktu itu tidak cukupla untukku berbelanja!”

__ADS_1


“Pertama-tama aku akan mengantarmu di Mall. Lalu aku akan pergi bersama Fred, kau bisa berkeliling selama waktu itu. Aku tidak bisa menelantarkan Fred begitu saja bukan.”


“Tapi ini kan negara orang asing, aku takut tersasar.”


“Jangan cemburu karena aku mengantar Fred, kau lebih cerdik dari hanya ini. Ayolah kali ini saja mengerti, aku akan segera kembali menjemputmu.”


“Hemmmbb baiklah, pergilah kalian berdua. Tapi ingat jangan mampir tempat bordil, awas saja kalau berani. Ku lacak lewat satelit!”


“Baik, aku aktifkan saja lokasiku,” Frayza mengaktifkan posisinya.


“Apa kau tidak waras, dia hanya sedang mencari perhatian. Hemat datamu, kau disini untuk berlatih militer. Tempat itu rahasia, tidak boleh terdeteksi oleh alat apapun!” Ramon menggeplak topinya di wajah Frayza yang konyol.


Setelah menurunkan Digna di parkiran Mall yang besar, kini saatnya Ramon mengantar Frayza ke Pusat pelatihan Militer. Ramon memberikan sejumlah uang untuk bertahan hidup selama dua tahu di Thailand.


“Banyak sekali,” amplop coklat itu berisi uang semua.


“Makanya belajarlah yang rajin, karena selama dua tahun itu aku tidak akan menengokmu.”


“Setelah setahun masa kerjaku dengan Matsumoto berakhir, aku akan memasukkan Digna ke panti rehabilitasi kangker di Amerika. Kondisinya semakin memburuk, dan dia menolak segala rujukan Dokter. Selama setahun inilah aku akan memanjakan dirinya, kemudian memaksanya untuk berobat. Aku ingin Digna sembur Fray, hiks hiks hiks.


Beruntung sekali Digna dicintai seorang Ramon yang berhati tulus. Tiada lelaki yang bisa menggantikan besarnya pengorbanannya melebihi Ramkn kepada Digna. Lelaki yang rela melakukan apapun agar kekasih ya tetap hidup. Dari sinilah dia merasakan miris hidupnya yang tak pernah dihargai oleh Frank mantan kekasihnya.


*


*


*


Singkat cerita Frayza tiba di Pusat Pelatihan Militer Thailand. Disini dia ditempatkan di asrama pria. Setiap hari melihat lelaki tak berbusana berlalu lalang makanan sehari-hari bagi Frayza. Dirinya harus benar-benar menyembunyikan jati dirinya. Jika ada yang bertanya kenapa memakai kaos lebih besar ukurannya. Atau menyinggung bokong dan bagian dadanya yang agak montok. Frayza hanya menjawad dulu pernah suntik silikon mau menjadi transgender usai wajib militer. Dan alasan itu bisa diterima oleh rekan-rekannya.

__ADS_1


“SERAAAAANGGG!!!”


Duarrrr... Dum... Suara ledakan granat dan bom sudah jadi musik ditelinga Frayza. Dirinya memegang senjata yang beratnya separuh dari berat badannya. Serta mandi di kolam secara bersama-sama dengan para lelaki. Kebersamaan dengan para lelaki inilah yang membuka pengetahuan Frayza lebih dalam mengenal sosok pria. Perlahan dia mencari tahu kelemahan-kelemahan pria. Ternyata dulu dirinya hanya jadi korban tipu daya Frank untuk meraih cita-citanya.


“Saat akan menembak target, fokuskan matamu pada Satu titik. Bukan pada dua titik, bodoh!” ucap pelatih tembah.


“Siap! “


“Pelatih kalau fokus ke dua titik itu dada wanita hahaha.”salah seorang kawan Frayza iseng berkelakar


Suara tertawa mereka yang melucu itu mengundang hukuman. Yang tertawa saat dirinya memberikan pelatihan dihukum berdandan ala wanita. Setelah itu disuruh bernyanyi dan menari semenarik mungkin. Dan itu menjadi hiburan yang tak terlupakan bagi Frayza saat menjalani pelatihan militer.


*


*


*


Dikala malam hari, Frayza terbangun dari tidurnya. Dia teringat kepada keluarganya, tapi yang dia pertanyakan ialah. Apakah keluarganya merindukan dirinya kembali atau bukan. Dirinya masih menjalani masa pelatihan yang tergolong lama di Thailand.


*


*


*


NEW YORK,


Disebuah Bar malam tengah terjadi keributan karena pengunjung berebut wanita penghibur yang menjadi primadonanya. Saat pihak Kepolisian datang untuk melerai, Julian terpaksa ikut diamankan. Karena dia ikut berkelahi dengan kelompok orang yang berbeut gadis Bar.

__ADS_1


“Gadis Malang itu seperti mendiang kakakku yang sudah tiada. Aku lihat berandalan itu yang memegang anggota badannya belakang. Dan gadis itu menolak mencium pria bengis ini!” penuturan Julian saat dimintai keterangan oleh Polisi


Tidak mudah bagi Julian untuk menerima kematian Frayza. Walaupun kakak sulungnya sudah mati, tapi kebaikan Frayza semasa hidup terus menghantui dirinya. Julian memang pendiam dan tidak banyak bicara dengan anggota keluarganya. Namun, ia tahu dengan siapa harus berterimakasih. Karena selama ini, Frayza pula yang sayang kepada Julian.


__ADS_2