TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
BERPISAH DENGAN TERPAKSA, ITU MENYAKITKAN


__ADS_3

Pada hari ini juga Julian mengambil uang yang menjadi simpanannya terakhir. Dia harus menanggung kerugian akibat barang yang dikembalikan. Sedangkan dirinya juga harus membiayai Nimas dan bayinya yang sudah lahir. Julian merasa hidupnya sempit dan frustasi. Akhirnya dia menjenguk Nimas dengam membawakan bunga Mawar merah sebagai hadiah.


“Kenapa kau membuang bunga Mawar ini ke tempat sampah?”


“Aku tidak butuh bunga, aku hanya butuh hadiah baju-baju bayi dan perlengkapan ibu menyusui. Apakah kau tidak paham bahwa aku ini sudah menjadi seorang ibu bagi anakmu hah!”


“Aku hanya ingin memberikan kado bunga, karena kau sudah melahirkan bayi untukku. Jika kau mau itu semua baiklah akan aku turuti kemauanmu. Tapi jangan membuang barang yang aku beri ini. Ini sangat menyakitkan batin, kau adalah wanita yang aku istimewakan. Bila ingin barang katakanlah, jangan langsung marah.” Namira tidak menggubris omongan Julian yang memungut bunga.


Setelah melihat bayi perempuannya sehat, Julian bertambah semangat untuk bekerja. Dia berpamitan dengan Namira untuk kembali bekerja di Toko.


“Bekerjalah, dan bawakan aku uang yang banyak. Jangan hanya modal tampang untuk datang. Kita juga harus menikah, beritahu orang tuamu yang seoarang politikus itu.”


“Darimana kau tahu latar belakang keluargaku?”


“Kau seorang anak bungsu dari politikus Singapura. Dan ibumu memiliki butik baju yang besar, lalu kejutan apalagi yang ingin kau tahu? Ahhha, biaya persalinanku juga sudah tanggung orang yang memberikan informasi ini. Mintalah uang kepada orang tuamu yanh banyak. Aku sudah memberikan cucu yang manis.” Ketus namira terus-menerus.


“Aku pergi dulu, lekas sembuh. Aku sayang kalian berdua.” Pamit Julian.


Begitu tulus sayangnya kepada Namira, Julian merelakan surat kepemilikan Toko yang dikelolanya untuk digadaikan. Dia membeli segala keperluan yang Namira minta. Dan masih ada uang yang tersisa, ia gunakan untuk pegangan sewaktu-waktu.


“Adikmu benar-benar buta, masa dia menggadaikan tempat usahanya hanya karena wanita itu!”


“Sepertinya dia bukan orang yang mudah ditekan, aku harus segera memukul kepala adikku. Siapa tahu otaknya yang pindah di dengkul bisa balik di kepala.”


“Itu benar, lelaki harus memakai otaknya bukan hatinya bukan?”


“Aku tidak setuju denganmu, adikku hanya terpengaruh wanita itu. Dia begitu dominan menguasai adikku, aku harus bisa mengacaukan dominasinya mempengaruhi Julian. Kalau begitu kau lunasi hutangnya, dan ambil surar Toko itu.”


“Pake uangmu ya, aku lagi pelit.”


“Pakai kartuku saja, ini sudah cukup. Ingat jangan korupsi sepeser uangku, atau ku tendang kau dari Villa!”


“Iyayaya, kau sekarang tidak ada sungkan-sungkannya denganku. Dasar wanita kalau cantik, seenaknya saja menyuruh-nyuruh.”


Seperti yang Frayza minta tadi, Ramon melunasi seluruh hutang Julian. Dan jaminan itu sudah dibawa Ramon. Dan transaksi keuangan itu terbaca lagi oleh Matsumoto, lalu diserahkan kepada Hikashi untuk menyelidiki lebih lanjut.


*


*


*


Karena jabatannya di Rumah Sakit ditolak, Dokter Kelvin pergi berlibur untuk menenangkan pikiran ya di Kepaluan Maldives. Disana dia bersantai dan berjemur menikmati hidup sebagai pengangguran. Dan di Maldives juga dia bertemu dengan Hiroshi yang merayakan ulang tahunnya disana bersama teman dekatnya saja.


“Waw, suatu kebetulan yang menarik. Putra mahkota berada disini. Kebetulan aku sedang butuh pekerjaan, mungkin ada hal yang bisa aku lakukan hehehehe.”


Tamu undangan Hiroshi sedang menikmati wahana hiburan yang ada. Dan pelayan sibuk menyajikan hidangan dan sibuk melayani tamu istimewa. Tiba-tiba saja saat meminum Hiroshi merasakan sesak nafas dan dia kejang-kejang mulutnya mengeluarkan busa. Para petugas sibuk mencari bantuan. Mendatangkan para medis atau membawa keluar Hiroshi dari Pulau juga mustahil. Dan berita ini cepat menyebar karena pihak keamanan mengumumkan siapa saja yang berprofesi sebagai tenaga medis diharapkan mendekat untuk menolong Hikashi yang keracunan. Berita ini sampai di telinga Dokter Kelvin. Dia menjelaskan kalau dirinya adalah seorang Dokter, dengan membawa peralatan medis dia mendiagnosa Hiroshi keracunan makanan. Lalu dia menyuntikkan vaksin agar trauma itu mereda. Kondisi yang awal mulanya sangat genting berangsur mereda. Setelah dinyatakan Dokter Kelvin kalau keadaan Hiroshi akan membaik usai melewati masa kritisnya. Dia mejada Hiroshi di kamar sambil memantau dan mencatat rekam medisnya. Dia begitu teliti, sampai-sampai petugas keamanan merasa jika Dokter Kelvin sangat direkomendasikan menjadi tenaga ahli medis khusus.


“Tuan muda ingin bicara dengan anda Dokter.”


“Oh iya,” dia mengucek matanya yang terlelap sejenak.


Didalam kamar, Hiroshi sudah makan dengan baik dan minum obat juga. Pria muda itu sudah bisa melanjutkan hidupnya yang hampir terenggut.


“Dokter, kau telah menyelamatkan nyawaku. Entah bagaimana bisa aku membalas budi baikmu, tulislah permintaanmu di kertas ini.”


“Sudah menjadi kewajiban kami sebagai tenaga medis untuk menolong pasien. Anda tidak perlu sungkan-sungkan lagi Tuan, tolong patuhi resep ini. Karena anda memiliki riwayat alergi serta kesehatan yang lemah sistem imunnya. Akan lebih baik jika anda banyak beristirahat saat ini.”


“Katakan apa permintaanmu?”

__ADS_1


“Saya hanya seorang Dokter yang tidak direkrut di Rumah sakit manapun. Saat ini saya menganggur dan berlibur untuk menenangkan diri.”


“Oh begitu rupanya, aku berikan kau kartu nama. Kau bisa menemui orang ini untuk meminta bantuanku. Jangan sungkan-sungkan untuk menerima balas budiku.”


“Terimakasih Tuan.” Dokter Kelvin mengambil kartu nama yang disebut-sebut sebagai tangan kanan Pangeran Hiroshi.


Dia sekarang sudah mendapat tiket emas untuk karirnya kedepan. Usahanya untuk mendekati Hiroshi memang menghasilkan tangkapan yang bagus. Lalu dia segera mencari tahu pekerjaan mana yang akan dipilihnya usai dari liburannya ini. Karena Dokter Kelvin sedang tidak enak hatinya. Dia selalu merindukan gadis dalam lukisannya yang sudah menjelma menjadi Frayza. Namun, keinginannya harus ia tahan dulu. Karena Frayza adalah manusia, sedangkan wanita dalam imajinasinya hanyalah khayalan konyolnya.


*


*


*


Setelah mendapat perintah dari Hikashi, Matsumoto langsung terbang menuju Bali. Guna menangkap gadis yang disangka sebagai pacar Fred. Matsumoto menelusuri rangkaian belanja dari rekam kartu yang digunakan. Hingga akhirnya Matsumoto dan pasukan tiba di Bali. Tempat sekarang Ramon dan Frayza berada.


“Sisir seluruh Pulau ini sampai dapat, kalau perlu gunakan uang untuk menyogok Pemerintah setempat! “ perintah Matsumoto kepada anak buahnya yang bersiap menangkap buruannya.


“Baik Ketua, siap laksanakan!” mereka membubarkan diri dan berpencar.


“Heeesss, merepotkan saja kalau Tuan Muda ini meminta sesuatu hal yanh seharusnya mudah. Dulu waktu Fred sakit dan buta dia campakkam begitu saja. Sedangkan tahu Fred sehat dan memiliki kekasih wanita dia cemburu buta. Untuk apa dia menyukai Fred kalau masih mendatangkan para selir-selir untuk menghiburnya. Bukankah lebih baik dia fokus mencari harta karun saja, kalau mencari manusia yang bergerak itu susah.”Matsumoto mengomel dengan merokok, sambil sesekali mengusap kepalanya yang plontos.


*


*


*


Tanpa ada angin dan hujan, Ramon datang mengunjungi Nimas yang hendak kabur dari rumah sakit menggendong bayinya.


“Ckckckckck...sudah aku katakan, lebih baik kau menyerah saja. Kau tak bisa kabur dariku, ingat bekas jahitanmu masih basah. Apa kau tidak berpikir kalau bisa berakibat infeksi?”


“Belum cukup, enak saja bilang cukup. Kau pikir aku sedang memberi wejangan kepadamu, aku hanya memperingatkan kepadamu agar kau menuruti kemauanku.”


“Aku tidak akan bertekuk lutut kepada pria macam dirimu, lebih baik kau cari orang lain yang bisa diperdayai.”


“Ckckckck begitu naif dirimu menafsirkan diriku ini yang tinggi. Kau adalah wanita rendahan yang menjual diri di tamu. Dan kekasihmu lah yang menjualmu, setelah kau hamil dan mengeruk harta banyak. Dengan entengnya kau membuat pria polos menggadaikan yang dia miliki. Padahal kau tidak tahu bukan, dia sudah menerima bayi yang bukan darah dagingnya dengan penuh jiwa raganya. Sekarang dia jatuh miskin kepamu. Lihat ini, aku yang menebus seluruh hutangnya.” Menunjukkan surat kepemilikan Toko.


“Berikan padaku! Kau hanya pembual omong kosong!” Nimas berusaha merebut berkas.


“O’o tidak semudah itu Wanita, setelah kau mempercayainya habis-habisan kini kau mencoba memperdayaiku? Aku tidak tertarik dengan tubuh dan riwayat hidupmu. Lebih baik, kau menyerah dan bekerja sama denganku.”


“Tidak mungkin, bagaimanapun caranya. Akan aku buktikan kepadamu bahwa aku bukan wanita yang lemah. Kau menyuruhku untuk melepaskan Julian? Mimpilah dahulu sebelum bangun tidurmu. Aku, akan pastikan menjadi istri sahnya. Dan kau hanya akan terlewari seperti batu kerikil. Kelak, ambil saja uang yang telah kau keluarkan untukku.”


“Hei, tunggu Wanita ada yang akan aku perjelas lagi. James adalah pria kesepian dan lajang, jika dia tahu kau melahirkan anaknya. Kupastikan kau akan kehilangan predikat calon istri Julian. Karena James pasti akan menyeretmu menyerahkan bayinya.”


“Dari mana kau tahu tentang James?”


“Aku tahu semuanya tentangmu, bahkan uang rekeningmu saat ini mengendap dimana aku juga tahu.”


“BEDEBUAAHHHH!!!”


Begitulah cara kerja Ramon untuk menekan Nimas pergi dari Julian. Ketika dia menemui Wayan yang masih bekerja di Villa. Dia menitipkan pesan untuk James. Ternyata isinyata berupa laporan DNA dan RNA bayi Nimas, sontak James menjadi kesal. Karena selama ini Nimas berhasil memperdayainya. Padahal dirinya sangat menginginkan anak untuk meneruskan garis keturunan. Seandainya Nimas tidak terobsesi dengan Julian yang lebih muda darinya. Mungkin dia tak segan menikahi gadis yang ia pakai selama ini. Namun sayang, bagi Nimas lebih memilih hidup bersama Julian. Hingga saat ini Julian berhutang budi karena Nimaslah yang menemukan gelang naga. Dan kisah hidupnya yang berat seperti Frayza. Yang membuat Julian ingin membahagiakan gadis kamuflase tersebut.


“Selama gelang ini masih aku bawa, Julian tidak akan meninggalkanku.”


Dan benar, Nimas kembali menemui Julian yang tengah sibuk menjual isi dagangnya. Julian mendapat kabar bahwa pemilik Toko baru ini mengusir dirinya. Jadi tidak ada alasan lain untuk mengosongkan tempat ini.


“Benar-benar bedebah tengik, berani-beraninya dia bertindak arogan seperti ini!”

__ADS_1


“Siapa?”


“Orang yang membayar biaya persalinanku. Ternyata dia adalah dalang dari segalanya ini, tadi dia datang menemuiku dan mengancamku. Dia pamerkan surat Toko ini untuk menjegalku bersamamu. Tapi aku memilihmu, aku tidak ingin kita berpisah.”


“Kenapa kau tidak ceritakan ini dari awal?”


“Itu karena aku takut kau tak percaya padaku, dia mengancamku. Dan aku takutttt... “


“Baiklah tak apa, kalau begitu kau naiklah keatas dan bawa bayi kita istirahat. Aku akan mengosongkan tempat ini.”


Gertakan Ramon bukan lagi isapan jempol belaka, tapi dia tak segan-segan untuk melakukan tindakan yang lebih mengejutkan lagi. Nimas mencoba menghubungi nomor Wayan. Berharap dia dapat membantu kesulitannya saat ini. Namun sayang, Frayza sedang bersama Wayang. Membuat sibuk pria itu dengan tingkahnya yang lucu. Wayan dibuat kewalahan karena Frayza sengaja membuatnya sibuk sebagai tamu hotel yang banyak maunya. Akhirnya Wayan memilih mengabaikan panggilan Nimas, dan tetap melayani Frayza.


Dari bawah tampak mobil sedan parkir dibelakang truk muatan. Ketika Nimas mengintip dari tirai jendela. Yang datang adalah kejutan yang menakutkan. Yah, dialah ayah biologis dari bayi perempuan Nimas. Yaitu James, dia membawa Pengacara dan Polisi untuk menggerebek Ruko yang sedang sibuk itu.


“Ada apa ini?”


“Maaf Tuan, kami menjalankan tugas bahwa Mr. James sedang mencari istri dan anaknya, dari laporan yang saya terima. Bahwa anda membawa kabur Nyonya James beberapa bulan ini.” Polisi melampirkan surat penggeledahan.


“Tidak mungkin, Nimas belum terikat pernikahan dengan siapapun. Bisa kalian buktikan mana surat nikahnya.”


“Apakah ini belum cukup untukmu?” James menunjukkan surat nikah yang terpasang foto Nimas dan James.


Lutut Julian lemas, hatinya terkoyak. Dirinya hancur menerima kenyataan bahwa Nimas selama ini membohonginya mentah-mentah. Bahkan Julian rela menyerahkan sisa hidupnya untuk Nimas, namun nyatanya dia harus dikecewakan.


James dan Polisi naik keatas dan menggerebek kamar Nimas. Wanita itu hendak kabur dari jendela, namun berhasil digagalnya. Nimas menolak untuk ikut bersama James, namu James tidak peduli. Dia lalu menggendong bayi perempuannya yang memiliki ciri fisik sama seperti dirinya.


“Teganya kau menjadikan putriku sebagai anak pria lain, dasar perempuan rendahan!”


“Benar, aku memang rendahan. Jadi sesuka hatiku lah kau tak usah berkomentar, lebih baik kau pergi dan biarkan kami hidup bahagia.”


“Sure, aku akan pergi tapi membawamu juga. Karena bayiku membutuhkanmu, setelah dia besar, maka kau akan aku depak jauh-jauh!!


Kesepakatan ini diambil karena bayi James memerlukan Nimas. Saat Nimas dibawa pergi, Julian terduduk lemas dengan tatapan kosong. Bahkan dia tak sudi melihat Nimas yanh dibawa pergi James. Hari ini Julian kalah atas perjuangan cintanya yang terpaksa kandas. Dari jauh Ramon bersama Frayza memantau keadaan yang terjadi.


“Bolehkan aku bertanya?”


“Apa?”


“Kenapa kau berdandan seperti ini, kalau tidak salah ini seperti artis dandananmu ini?”


“Oh ternyata kau memperhatikannya ya, aku berdandan sebagai adikku Franda yang memang dia artis. Aku tidak mau Nimas mengenaliku, makanya aku menyamar menjadi Franda. Agar kelak dia menaruh dendam dengan Franda.”


“Bukannya Franda itu adikmu, kenapa kau kejam. Hai Frayza, apa kau pembunuh berdarah dingin. Jangan kejam kepada adikmu.”


“Aku hanya menyamar saja, dan yang aku lakukan ini seharusnya dia lakukan juga bukan. Melindungi Julian dari perempuan seperti Nimas. Untuk apa dia menikmati hidup yang nyaman dengan kekasih hasil rebutan.”


“Kekasih rebutan, tidak ada kekasih yang terebut atau dicuri. Melainkan kau tak paham bahwa dia tidak benar-benar mencintaimu.”


“Jadi itu ya anggapanmu, tapi aku akan menjadi Franda sampai Nimas membayar semuanya.”


“Terserah, mau ngapain aja terserah maumu saja. Aku tak pernah kau anggap, selalu adik-adikmu yang kau pikirkan. Sedangkan aku yang membuat rekayasa ini tak sedikitpun kau singgung. Kau menyebalkan!”


“Kenapa kau menggerutu terus sih. Lebih baik kau selesaikan tugasmu, aku sudah bilang kalau kau tak perlu ikut campur.”


“Bagaimana aku tidak terlibat, kau yang bertindak gegabah terlebih dahulu. Seharusnya kita liburan dan bermalas-malasan. Eh tahunya begini, yah sudahlah mau gimana lagi. Sebel!” Ramon mengambek lagi.


#SEBELUMNYA,


Dengan menyamar sebagai Franda, Frayza berhasil menghasut Wayan mengenai kejadian yang terjadi di Ruko. James yang tahu putrinya lahir, ingin mengasuhnya. Dan Frayza jugalah yang membuat buku nikah palsu antara James dan Nimas. Serta Polisi bayaran yang di sewa untuk mendatangi Julian.

__ADS_1


__ADS_2