
Rose menjelaskan kepada Frayza bahwa ia hanya ingin memberitahu Julian jika adiknya adalah ayah biologis anaknya. Dan Julian tidak percaya jika anak itu hasil hubungan terlarangnya dengan Rose. Mau atau tidak jika Rose memang hamil anaknya, lantas mengambil keputusan sendiri. Sekarang anak itu sudah resmi tercatat sebagai anak dari pernikahannya bersama Frank. Julian tentu tidak mudah percaya, walaupun Rose memaksanya untuk tes.
“Rose, aku bisa menganggap anakmu sebagai anakku. Tapi maaf, untuk mengakuinya kalau dia adalah darah dagingku tidak bisa. Kau sudah menikah dan memiliki keluarga yang bahagia. Apa gunanya jika anak itu adalah darah dagingku, tidak akan mempengaruhinya bukan?”
“Lalu aku harus bagaimana?” Rose kebingungan mengambil langkah selanjutnya.
“Aku sarankan kau kembali kepada keluargamu. Tidakkah kau pikir tindakanmu ini keterlaluan. Jika suamimu tahu, dia pasti akan kecewa. Seharusnya kau bisa melupakan keinginanmu yang tidak berdasar. Jika kau ingin aku bertanggungjawab atas perbuatanku. Jujur sekali aku harus mengatakan, kau sudah terlambat!”
“Apa yang dikatakan oleh Julian bisa jadi benar. Karena dia memikirkan perasaan keluarga besar suamimu. Bagaimana jika mereka tahu kau menipu mereka. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kekecewaan orang-orang yang sudah terlanjur menyayangi Cecilia. Belum tentu juga Julian dan Cecilia akan nyaman satu sama lain. Rose, sebenarnya yang ingin aku katakan kepadamu adalah tujuanmu apa?”
“Aku-akuuu aku hanya ingin memberitahukan kebenaran jika Cecilia adalah anak biologisnya Julian. Itu saja tidak lebih,” Rose menunduk kepalanya.
“Kalau aku sudah tahu apa kau sudah selesai dengan urusanmu?” tanya Julian.
“Belum, aku ingin Cecilia mengenalmu lebih jauh lagi.” Jawab Rose dengan mata berkaca-kaca.
“Kau!” geram Julian dengan mengepal kedua tangannya. Keinginan Rose begitu sukar dipahami.
“Rose-Julian, kalian jalani saja hidup kalian sekarang masing-masing dengan baik. Kedepan jika memang ada kendala, maka sebaiknya didiskusikan terlebih dahulu jangan pergi dan menghilang. Sekarang Julian sedang meniti karirnya dengan baik. Aku akan mendukung adikku agar me jadi pria yang lebih baik. Soal masa lalunya, biar menjadi tanggungjawab Julian. Rose, kau sudah menikah dan memiliki keluarga yang utuh. Terimakasih atas keberanianmu datang kemari. Soal Cecilia itu anak Julian atau bukan biarkan saja mengalir. Kalau kelak kemudian hari terjadi masalah dikeluarga kalian, ku harap nama Julian tidak diseret-seret lagi. Karena apa, kau sendiri yang sudah mengambil keputusan untuk pergi dari tanggungjawab Julian. Aku tahu betul siapa adikku ini, jika ia membuat kesalahan sefatal apapun pasti bersedia bertanggung jawab. Sekarang jika Julian enggan mengakui anakmu, bukan sepenuhnya kesalahan pada Julian. Aku bukannya membelanya karena ia adikku. Tapi sebagai wanita, ketika memutuskan melakukan sesuatu, harus mempertimbangkan dampak yang akan dia terima konsekuensinya. Sekarang aku mau istirahat, jika masih ada yang ingin kalian sampaikan kepada Julian lanjutkan saja.” Frayza dibantu Bibi Fang masuk kedalam kamarnya. Didalam kamar ini, Frayza memandangi wajah putranya. Kenapa tidak pernah terbesit di ingatannya seperti apa wajah ayah Seven.
“Fray, Bibi pamit pulang dulu ya.”
“Iya Bi, maaf ya sudah merepotkanmu. Aku akan minta Julian untuk mengantarmu pulang.
“Tidak usah, aku bisa pulang naik bis.”
Julian tampak masih bersitegang dengan kedua tamu datang. Mereka belum mendapatkan kesepakan yang mutlak. Bibi Fang langsung pulang dan menunggu bis di halte. Mungkin ini sudah malam jadi agak susah memperoleh bis.
Sebuah mobil sedan mewah berhenti agak jauh dari halte, ternyata yang muncul adalah Andreas.
“Kau bibi yang bekerja dirumah Julian tadi bukan?”
“Iya Tuan,”
“Naiklah, aku antar sampai kerumahmu. Sebentar lagi turun hujan dan tidak baik untuk kesehatanmu. Mari, masuk kedalam mobilku.”
“Tapi bagaimana dengan Nona yang tadi?” Bibi Fang tidak mau semobil dengan Rose.
“Oh tadi dia dijemput sopir pribadinya kok, ayo Bi aku antar kau pulang.”
Tampaknya Andreas pria yang baik, tidak ada tanda-tanda arogansi saat bicara dirumah. Dan Bibi Fang akhirnya mau diantar Andreas sampai dirumahnya.
Karena Andreas orang yang tidak bisa penasaran, ia bertanya siapa Frayza dan statusnya sekarang.
“Dia masih lajang, baru kembali dari Amerika.” Kata Bibi Fang yang seolah memberi lampu hijau.
“Bi, kalau begit maukah kau membantuku meminta maaf dan bertanggungjawab kepadanya?”
“Soal apa?”
“Akulah yang menyebabkan kakinya terluka, pada malam itu. Akulah yang sudah mencelakainya hingga terluka. Oleh karena itu Bi, bantulah aku untuk bertanggungjawab.”
Andreas memberikan kartu namanya, Bibi Fang terkejut bila ternyata Andreas adalah anak hakim tinggi di pengadilan. Marga ayahnya dibelakang namanya, dan Andreas mengakuinya akan hal itu. Ternyata latar belakang Andreas bukan main-main. Bibi Fang tentu senang bila Frayza memiliki teman baik seperti Andreas.
__ADS_1
Pagi-pagi sekali Andreas datang ke apartemen Frayza. Sekalian mengantar Bibi Fang untuk bekerja. Mereka nampaknya sudah akrab dan saling terbuka. Andreas adalah tipe pria yang ramah dan hangat.
“Bibi Fang, kenapa kau datang bersama Tuan Andreas?”
“Hehehe dia datang kemari dengan tujuan lain.” Melirik Andreas yang berdiri disamping bibi Fang.
“Ehemmb, aku datang kemari untuk mengakui kesalahanku tempo hari lalu. Maafkan aku yang baru memiliki keberanian untuk mengakuinya. Sebenarnya akulah orang yang menyebabkan kau kecelakaan pada malam itu. Jadi biarkan aku merawatmu hingga sembuh, dan jangan menolaknya. Karena aku sudah bersalah kepadamu.”
“A-apaaaa?” Frayza terperangah dengan ucapan Andreas yang langsung pada pokoknya.
“Hari ini aku akan membawa berobat akupuntur terbaik. Pergilah bersamaku!”
Andreas membungkuk seraya permintaanya tidak ditolak oleh Frayza. Dengan dorongan dan kedipan mata dari bibi Fang akhirnya Frayza mau juga. Awalnya Frayza menolak untuk dipapah Andreas, tapi Andreas membawakannya kursi roda. Atas saran bibi Fang semalam, sepulang mengantar bibi Fang ia membeli kursi roda. Dan ternyata benar, Frayza mau naik kursi roda. Dengan senang hati Andreas membawa pergi Frayza ke klinik pengobatan tulang.
Setelah Frayza pergi, sekarang bibi Fang memandikan Seven lalu memberikan sarapan pagi. Wujud Julian belum ia lihat sedari kedatangannya. Apakah Julian masih butuh waktu untuk berpikir lagi?”
“Pagi Bibi Fang,” tiba-tiba Julian keluar dari kamarnya dengan berpakaian kemaren.
“Kau belum mandi ya dari kemaren?”
“Oh iyakah?”
“Fiuhh aroma alkohol begitu menyengat, semalam pasti kau mabuk-mabukan lagi bukan!” mencium aroma alkohol yabg kuat dari mulut Julian.
Julian menimum air dari lemari pendingin, kemudian mencomot roti. Sepertinya Julian belum bisa menerima kenyataan kemarin.
“Kau tidak pergi ke Butik?”
“Dia sudah mendapatkan jawaban darimu, mau apalagi dia?”
“Sepertinya dia ingin aku menjadi ayah yang sah dimata hukum untuk putrinya. Hissshhh Bi, aku belum siap menjadi ayah ada anak seusia Seven!” Seven yang kaget lalu meleyot bibirnya ketakutan.
Plakkkk! Bibi Fang mengemplang kepala Julian yang sudah menakuti Seven. “Kau ini mau cari mati ya, ada bayi bicaranya keras sekali.”
“Memang dimana Kak Fray sekarang?”
“Dia sedang pergi berobat dengan Pengacara Andreas.”
“Bibi!” kembali berteriak dengan nada yang tinggi.
“Hoeeekkkkk oeekkkkk oeeekkkk,” Seven akhirnya menangis kaget dengan teriakan paman mudanya.
“Julian lebih baik kau kubuang lewat jendelaaaaaaa!”
Habislah Julian dimarahi bibi Fang karena membuat Seven menangis. Dia dipukuli oleh bibi Fang yang marah.
*
*
*
Tiba di klinik, Andreas dipersilahkan masuk keruangan khusus yang sudah disiapkan sebelumnya. Andreas ingin mengobati kaki Frayza agar lekas sembuh dan beraktifitas kembali lagi.
__ADS_1
“Tuan Andreas, berapa biaya yang sudah kau habiskan untuk pengobatanku?”
“Fray, aku yang sudah mencelakaimu. Jadi sudah tanggungjawabku mengobatimu sampai pulih. Ingat selama 3 hari ini aku akan rutin mengunjungimu.”
“Tuan Andreas, aku tidak mau berhutang Budi kepadamu.”
“Baiklah, kalau begitu kau bisa membayarnya dengan membuatkan setelan khusus untuk acara penting ku.”
“Haaa? Acara apa?”
“Aku ingin membawa seorang wanita kepada keluargaku. Apakah kau bisa menjadikannya dalam waktu singkat?”
“Aku butub waktu yang cukup lama dengan kondisi seperti ini.”
“Aku tidak memintamu membuatnya sekarang, kalau kau sudah sembuh barulah buatkan untukku.”
“Begitu ya, baiklah.
Frayza mulai bisa akrab cepat dengan Andreas yang baru saja ia kenal. Ini adalah kesempatan yang bagus untuk Andreas usahanya berjalan lancar. Usai mengantar Frayza, ia berangkat di kantornya. Para karyawan yang menyapanya kini diberikan senyuman bahagia.
“Kenapa kau terlambat tiba di kantor?” seorang pria berumur menghitung jarum jam yang berputar.
“Ayah, kenapa ayah tidak beritahu aku jika datang ke kantorku?”Andreas tidak enak hati karena ayahnya menunggunya di kantor.
“Ayah diminta ibumu untuk mengajakmu pulang makan siang bersama. Tapi sepertinya kau sudah kenyang ya?”
“Oh itu anu, aku akan bilang pada sekertarisku untuk jadwalku hari ini.” Andreas mengalihkan pembicaraan.
“Pagi ini teman ibumu yang menjadi pemilik klinik pengobatan memberi kabar jika kau datang bersama wanita?”
“Oh itu wanita yang baru aku kenal, dia terluka karena ulahku. Jadi aku berniat untuk mengobatkannya sampai sembuh.” Andreas masih berusaha berkelit.
“Tapi dengan menyewa klinik untuk seorang wanita apa tidak berlebihan? “
Sial, ayahnya juga tahu kalau ia menyewa seluruh klinik agar Frayza dapat nyaman berobata. “Ayah, aku baru mengenalnya beberapa waktu ini. Dan hubungan kami masih awal, begitu sepertinya hehehe.”
“Ayah tunggu didalam mobil, ibumu ingin kau pulang siang ini.”
“Baik ayah, aku akan menemui sekertarisku dulu.”
Sekertaris Andreas yang memang berada ditempatnya kini ia hampiri.
“Megan! Kenapa kau tidak menghubungiku ketika ayahku datang kemari?”
“Andreas, aku mana tahu kalau Paman akan kemari. Aku hanya mengatakan sejak pagi kau belum tiba dikantor. Dan kau sendiri kenapa tidak merespon panggilanku?”
“Benarkah?” Andreas lupa menyalakan ponselnya sejak semalam. Saking antusiasnya akan bertemu Frayza.
“Hemmbb, aku mau makan siang dulu. Jangan memarahiku ya, karena kau sendiri yang tidak teliti.”
“Ya Tuhan, sepertinya kehidupanku sudah berubah. Kenapa kepalaku memikirkannya terus.” Andreas berjalan keluar kantor menuju mobil ayahnya.
Sepanjang perjalanan ayah Andreas terus menanyai wanita yang dibawa oleh putranya ini. Dan Andreas mau tidak mau akhirnya mengakui kalau ia jatuh cinta pada Frayza.
__ADS_1