
Hikashi bosan berada didalam kamarnya, ia memutuskan untuk berolahraga. Menjaga kebugaran dan bentuk tubuhnya agar terawat. Alat yang dipakainya ini terbilang lengkap dan keluaran terbaru. Kepalanya tak bisa berkonsentrasi dengan baik membayangkan percintaan panas semalam.
“Kenapa anda tersenyum Tuan?” Matsumoto membawakan handuk.
“Dia semakin cantik dan aku suka.”
“Apanya?”
“Makanya menikahlah, kau terlalu sibuk bekerja. Merawat istri dan mengurus anak adalah yang menyenangkan.”
“Merepotkan, iya.”
“Cih, kau sudah berani menyelaku ya.”
“Bicara fakta, anda meninggalkan tanggungjawab yang begitu besar kepadaku.”
“Kepadaku juga!” timpal Kenzo.
“Sejak kapan kau datang ke Jepang?”
“Sejak anda ikut ujian, wajah anda terpampang disalah satu stasiun TV.”
“Benarkah? Kenapa aku tidak melihat? Pasti aku sangat tampan hehehe.”
“Anda sudah tua dan berumur Tuan Hikashi.”
“Anda juga memiliki 2 anak yang beranjak dewasa?”
“Jade dan Seven masih anak-anak, waktu mereka masih lamaaaa... “
“Lebih lama masa lajangnya Matsumoto! “
“Aku melajang karena orang-orang berpikir kita pacaran!”
“Aku pikir selama ini kalian memang berpacaran. Jadi kedekatan emosional kalian apa coba?”
“SAUDARA BUKAN SEDARAH!” jawab keduanya rada kesal.
“Hahahaha kalian sepertinya dendam sekali kepadaku ya. Padahal aku cuti belum setahun juga. Glllekkkk glekkk glekkk...” menenggak air segar.
Pagi ini Hikashi tidak ingin melupakan kadua buah hatinya. Walaupun dia berada dirumah mewahnya untuk menghukum istrinya. Ia tetap memperhatikan kedua buah hatinya yang dirumah kecil. Ada sosok Bibi Fang yang merawatnya disana selama beberapa hari kedepan. Selanjutnya mereka akan pindah sekolah yang lebih menunjang karir keduanya dimasa depan.
Hikashi meninjau kamar Jade yang aktif dalam atletik. Sedangkan Seven yang kalem diberikan ruangan kosong ntag digunakan untuk apa nantinya terserah. Sekarang ia sudah paham dan mengerti karakter masing-masing buah hatinya.
“Berikan yang terbaik untuk putra-putraku. Dan segera urus kepindahan sekolah mereka secepatnya!”
“Baik Tuan.” Jawab Patrick.
Tak lupa juga si pengurus keluarga itu ikut diboyong ke Jepang pula. Karena apa, Hikashi berencana menetap di Jepang usai rumot negatif tentang dirinya.
Didalam kamar ini, Frayza kepalanya sangat pusing dan mual. Ia tak menemukan makanan apapun untuk dirinya. Hanya minum air keran karena tubuhnya sangat lemah. Lalu duduk ditempat cuci muka. Kepalanya bersandar dikaca besar, jadi ia bisa melihat tubuhnya sekarang dipenuhi tanda kepemilikan Hikashi.
“Brutal sekali!”
__ADS_1
“Jangan dihitung nanti tambah banyak, cuph.” Menciumi leher jenjang yg tidak mulus lagi.
“Sejak kapan kau disini?”
“Sejak kau melepaskan handuk lagi menggosok.”
“Ya Tuhan cabul sekali anda Tuan Hikashi!” memicingkan mata.
Oh Tuhannn kenapa istrinya begitu menggemaskan begini sih. Kalau marah karena cemburu jadi lebih imut hehehe.
“Aku akam keluar, silahkan pakai kamar mandinya.”
Grab, meraih tangan istrinya “Mau diperkosa lagi apa menyerahkan diri secara sukarela?”
“Intinya sama saja kan!”
“Mau terus ngambek apa berdamai?”
“Aku tidak ngambek ya Hikashi! “
“Hai aku ini suamimu, tunjukkan sopan santunmu. Apa itu tadi panggil Tuan, kau pikir aku senang apa!”
“Suamiku...”
“Kurang lengkap!”
“Suamiku Hikashi...”
“Kurang panjang, kau ingin aku menghukummu lagi hah!”
“Kau pikir aku tuli? Sebut dengan nada yang sensual, aku tidak butuh wanita kasar!”
“Kalau tidak mau ya sudah!”
“Kau menantangku ya!”
“Eh apa ini kok main lepas-lepas! Ini handukku, kembalikan hai!”
“Menurut tidak! Kau suka keterlaluan kalau dibiarkan nakal. Aku harus menertibkanmu!”
“Auhhh kasar sekali kau memasukkannya!”
“Tidak peduli, kalau kau masih berontak aku yakin kau akan lumpuh beberapa hari!”
“Auuhhh tolonggg siapapun diluar!”
“Percuma, ruangan kita kedap suara!”
“Hooooossshhh hooosssshhh.” Peluhnya bercucuran lagi mengulang percintaan panas semalam.
“Aakkuu sudah sampaiii ahhh...”terbaring dibathcup kamar mandi.
Membelai rambut yang masih basah usai mandi, kini keduanya memutuskan untuk mandi bersama-sama. Sudah berapa kali suaminya menerjang bebas dirinya tanpa ampun. Ditambah perutnya yang keroncongan.
__ADS_1
“Fray? Hai bangun jangan tidur disini!”
“Hhuuuuuhhh...” melenguh pelan.
“Sayang, kau sakit?”terasa panas tubuh yang terbaring diatas tubuhnya.
“Hrggghhhh.” Menggerakkan giginya.
Setelah memeriksakan keadaannya secara seksama. Frayza mengalami kelelahan dan kurang asupan makanan. Selama dikurung dikamar Hikashi lupa menyediakan makanan. Saat ia keluar kamar masih bisa makan. Tapi ia lupa bahwa Frayza susah berjalan akibat gempuran yang memborbardir.
“Anda benar-benar monster Tuan!”
“Dosisnya tidak normal, dia wanita biasa bukan seorang maniak.”
“Kenapa kalian memarahiku! Melotot tak terima.
“Anda kesurupan atau minum obat penguat?”
“Apa anda pikir wanita staminanya imbang dengan pria?”
“Jangan bicara lagi, kalian lebih cerewet dari Jade dan Seven.” Memijit pelipisnya.
“Anda sebaiknya minta maaf.”
“Anda terlalu egois!”
“Aku hanya berteman dengan seseorang yang nyambung ketika bicara dan bertukar pikiran. Bahkan aku tidak menganggapnya seorang wanita!”
“Apa anda lupa kalau Nona dulu menyamar menjadi Fred!”
“Bahkan anda mengakui bila orientasi seksual menyimpang. Menyukai sesama jenis hah!”
“Haiisss sudah-sudah! Kalian tidak mengerti bedanya Frayza dengan mantan Bintang film panas!”
“Pantas tergoda, orang gaulnya sama pawang buaya!”
“Lubang buaya yang membuka sarang untuk buaya jantan. Cocok!”
Brakkk! Kedua tangannya menggebrak meja kerja. “Kalian berdua malam ini lembur, besok pagi gantikan ku rapat!”
“Selalu kacung yang jadi sasaran.”
“Bos tetaplah Bos yang semena-mena melimpahkan kekesalannya huft.”
“Aku mau merawat istriku, kalian jangan rewel!”
“Kenzo lebih baik kita bekerja saja daripada menikah. Lihatlah Bos kita emosinya naik turun secepat kilat.”
“Ia merekomendasikan kita untuk menikah, pfffftttt.” Terkikik.
“Aku saja geli bagaimana jadinya nanti hahaha.” Tawa Matsumoto menggelegar.
“Dan kau tahu, karena percintaan terlalu menggairahkan membuat istrinya pingsan hahahaha.” Kenzo tertawa sampai perutnya sakit.
__ADS_1
“Kacung sialan!” Hikashi pergi daripada mendengarkan hinaan dari Matsumoto dan Kenzo.