TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
BUKTI YANG TERUNGKAP


__ADS_3

Prosesi pemakaman dilaksanakan sesuai kepercayaan yang dianut Hikashi, Islam. Ketika usai di azdankan, dirinyalah ya g mengumandangkannya. Terlalu dalam perasaan bersalahnya. Hingga akhirnya Hikashi ingin ikut bersama kekasih hatinya. Ia sadar jika umur manusia tidak dapat ditawar jika sudah ajal. Namun, ajal yang menjemput Frayza sangat tragis. Bahkan Hikashi tidak mau mencari tahu apa penyebab kematian istrinya.


“Papa, ayo kita pergi.” Ajak Jade.


“Hmmm,” jawab Hikashi menggelengkan kepalanya.


Ia bahkan memeluk pusara istrinya yang penuh dengan bunga. Hikashi tak mau meninggalkan makam Frayza.


“Nanti kalau Papa pergi, Mama mu kesepian Nak. Dia pasti ketakutan, semasa hidupnya dia selalu sendirian. Bahkan inilah hutang waktu yang harus Papa tebus.” Ucap Hikashi beruraikan air mata.


“Hiks.. Hiks.. Pa... “ rengek Jade.


“Papa mencintaimu Mama mu, Nak. Biarkan Papa disini berdua saja dengannya, pergilah.” Usir Hikashi yang tak mau diganggu.


“Papa sudah sakit, nanti kesehatannya terganggu. Ayo Pa, besok kita datang lagi kemari.”


“Hmm... Tidak mau.”


“Papa, kita akan sering-sering kemari.”


“Tidak, Papa mau disini saja.” Tegas Hikashi.


Pemakaman ini berada di taman bunga yang Indah. Yang dulu dipersembahkan khusus untuk Frayza. Sekarang Frayza dimakamkan di taman yang begitu cantik dan indah. Pelayan mengurusi Hikashi yang masih Setia di pusara istrinya. Hingga hari ke 7 kematian Frayza, tim medis khusus datang. Membopong tubuh Hikashi yang sudah berbalut tulang. Tiada lagi tubuh kekar dan berotot. Pria itu masuk di ruang gawat darurat, mengalami komplikasi. Beruntungnya, nyawa Hikashi masih bisa diselamatkan.

__ADS_1


*


*


*


Karena kondisi berduka dan ayahnya yang sakit keras, maka pendidikan Jade ditunda dulu selama 1 tahun penuh. Ia terpaksa terjun ke dunia bisnis milik Alexander. Selain mengelola bisnis dan menjalin kerjasama. Jade juga memiliki hubungan baik dibidang politik. Serta memiliki kolega politik yang berpengaruh.


Awalnya Jade sangat setres dengan tekanan pekerjaan yang ia jalankan. Beruntung ada Kenzo yang menjadi sekertaris pribadinya. Walaupun Jade tidak menyukai Kenzo sedari kecil. Untuk masalah pekerjaan ia tahan-tahan saja untuk bersama Kenzo. Jade tahu bahwa Kenzo lah pengasuhnya sejak bayi. Tapi ia merasa cocok saja dengan Matsumoto untuk bertukar pikiran dan keluh kesah.


Sampai suatu ketika, Jade menguping Kenzo yang bicara dengan Matsumoto. Dari percakapan mereka bahwa Matsumoto masih di Singapura. Dan melakukan penyelidikan kasus meninggalnya Frayza. Jade mengepalkan tangannya geram, hingga ingin menghacurkan kaca.


“Keparat Kau, apa yang kalian rahasiakan dibelakangku!”


“Aku sudah mendengar semuanya Bodoh!”


Kenzo tertunduk lemas, Jade mengulang kalimat yang Kenzo lontarkan saat berkomunikasi. Kenzi tak bisa mengelak bahwa yang diucapkan Jade semuanya benar. Kini Kenzo dihukum untuk mengambil alih tugas selama Jade pergi. Jade berniat pergi sendiri ke Singapura menemui Matsumoto. Ada titik terang yang ingin ia ketahui sendiri tentang penyebab meninggalnya Frayza.


*


*


*

__ADS_1


Putra sulung Alexander ini tiba di Singapura membawa banyak pengawal. Mereka sudah ahli dan amat terlatih dalam hal tindak kriminal. Sisi gelap Jade sedang ditampakkan, seperti yang Hikashi miliki. Ia sangat kejam dan beringas, bahkan siapa pun tak bisa menghentikannya.


Matsumoto yang selesai bertemu dengan Detektif langsung terciduk oleh Jade.


“Ambil benda itu, jika tidak diberikan. Potong saja tangannya!” titah Jade.


“Tuan muda Jade?” ucap Matsumoto yang terkejut.


“Kenapa? Kau tidak suka ya Aku datang.”


Sembari mengambil benda yang dibawa Detektif. Jade membuka isi formulir tentang data medis dan foto saat Frayza ditemukan.


Tangannya bergetar melihat fakta-fakta yang berada ditangannya. Dengan tubuh yang gemetaran Jade berkata, “Jadi Mama ku tidak mengalami kecelakaan, namun dibunuh?”


“Iya Tuan muda.”


“Kenapa Kau menyembunyikan ini semua dariku Matsumoto! Apa kau pikir Aku masih bocah hah!” membentak Matsumoto yang lesu.


“Bukan, bukan begitu Tuan muda. Saat ini Anda dan Tuan besar sedang berkabung. Mana berani Saya menambahkan luka dengan temuan bukti ini.”


“Percuma kau hidup Matsumoto!”


“Tuan muda Jade, maafkan Saya.”

__ADS_1


Jade pergi dengan langkah cepatnya, sedangkan Matsumoto berusaha menahan kepergian Tuan mudanya. Jade sudah tersakiti dengan kejadian ayahnya yang koma, sekarang bukti pembunuhan ibunya hendak ditutupi darinya. Jade merasa dunia sedang mengajaknya berperang. Bahkan orang kepercayaannya Matsumoto, lebih memilih menutupi bukti-bukti. Alasan agar Jade tidak semakin terluka, kini muncul dendam untuk memberi ganjaran pelaku kejahatan. Orang yang berani merenggut nyawa wanita kesayangan Alexander harus merasakan hidup segan, dan mati tak mau.


__ADS_2