TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
SEKALIAN MAU BAGI INFO PENTING


__ADS_3

Hari ini Hikashi pulang lebih awal, ia ingin melihat jam berapa istrinya pupang biasanya. Jarum jam terus berputar-putar melawan rotasi bumi. Hikashi sudah berpakaian santai, lebih tepatnya agar ia tampak lebih muda menyaingi Ryul. Si kurir makanan yang katanya keren dan masih muda. Ia harus tampil se energik mungkin tidak mau kalah.


“Tuan sedang menunggu siapa?”


“Menunggu Nyonya rumah ini.” Kepalanya seperti radar mencari sinyal, clinguk kanan. Lalu clinguk kiri, dan begitu seterusnya.


“Cih kenapa lama sekali dia pulang, apa jangan-jangan dia sering pulang terlambat kerumah?”


“Nyonya selalu pulang lebih awal sejak Seven sakit, Tuan.”


“Kau lihat, sekarang sudah pukul 6 sore!”


“Tuan apakah anda akan menunggu Nyonya diluar saja?”


“Memang biasanya dia kalau tiba lewat mana?”


“Pada saat Tuan tiba dan masuk kamar. Sebenarnya Nyonya datang tidak berselang lama. Saat anda minum teh dan baca berita. Nyonya menengok keadaan Seven.”


“KENAPA TIDAK BILANG DARITADI PATRICK!”


“Anda sibuk mondar-mandir sok sibuk sendiri. Dan ngomel-ngomel melihat jarum jam. Padahal mobil jemputan Nyonya sudah terparkir dihalaman, bukan?”


Seorang sopir pribadi tengah mengelap mobil usai dicuci. Memberi hormat kepada tuan besar rumah ini.


“Lain kali langsung bilang, jadi waktuku tidak terbuang sia-sia.”


“Fiusshhh,” menyeka keningnya yang tidak berkeringat, namun pusing menjadi sasaran amukan Hikashi.


Ia bergegas menuju kamar Seven, sakin antusiasnya ia membuka pintu dengan frontal. Brakkkk!! Sontak orang yang berada didalam kamar itu terjerembab kaku. Wajah Hikashi seperti menangkap buronan yang kabur.


“Bibi Fang.” Seven masuk kedepankan pengasuhnya.


“Tenang Seven, Papamu sedang mencari kelinci kecilnya yang kabur.”


“Papa tidak piara hewan kecil Bibi Fang.”


“Oh maaf, mungkin kau tidak tahu ya hehehe. Itu hanya perumpamaan.”


Sudah barang hapalan bagi penghuni rumah ini. Jika Hikashi lebih rewel dan super manja daripada anaknya. Penyakit paranoidnya sempat sembuh saat anaknya sakit. Tapi kini setelah keadaan mulai pulih. Ia malah kembali kambuh menjadi orang yang tak bisa jauh dari istrinya.


“Tuan William, Nyonya sudah kembali ke kamarnya baru saja.”


“Oh baiklah.” Pria itu bergegas pergi tanpa menutup pintu kamar lagi.


“Bibi Fang, apakah Papa ku begitu sejak dulu?”


“Entahlah Seven, Bibi tidak begitu paham bagaimana karakter Papamu. Hanya saja ia sedikit berbeda dari pria pada umumnya.”


“Sepertinya Papa ku banyak bedanya dan mungkin orang yang langka. Dia bahkan lebih sering menyita waktu Mama. Sebagai anak, kadang aku kurang perhatian.”


“Seven... “ menangkup wajah bocah yang wajahnya pucat pasi.


Seven kecil belum tahu bagaimana menderitanya sebagai pria dewasa yang sudah memiliki naluri lelaki. Saat ini ia merasa jika Papanya orang yang maunya menang sendiri. Sejak bayi dirinya sudah terbiasa tidur dalam pelukan Frayza. Jujur saja, muncullah rasa cemburu dari seorang anak yang kehilangan kasih sayang itu.


Ia memiliki kamar yang luas seukuran apartemen huniannya dulu. Dari sekian barang yang ada didalamnya, semuanya mati dan tidak bernyawa.


“Bibi Fang, apakah aku boleh menempatkan Xirion di kamarku?”


“Singa besar itu? Oh jangan Seven, kau lebih baik piara hewan yang menggemaskan. Xirion ketika mengaung suaranya membuat jantungku tidak stabil.”


“Hehehe Bibi Fang terlalu berlebihan.”


“Aku tidak bercanda Seven, Xirion lebih baik tinggal di kebun binatang saja. Disana dia akan bertemu keluarganya yang baru. Dan bahagia mungkin.”


“Tapi aku rindu Mamaku yang dulu.”


“Oh Seven yang malang, kemarilah biar Bibi Fang memelukmu. Besok Dokter Thomas datang untuk memeriksamu.”


“Dokter baik itu?”


“Iya Dokter yang memberimu robot Ultraman.”


“Ku harap dia besok mau bermain denganku lebih lama.”


“Kau harus sekolah Seven, selama kau sakit sudah banyak ketinggalan materi pelajaran. Tuan William tidak suka dan akan berkata...”


“Aku sudah membawa Xirion untukmu, makan kau harus menurut perintahku!” menirukan perkataan ayahnya.


“Baguslah kalau kau ingat Seven, kita disini semuanya tidak berdaya menghadapi Papa mu. Disini dialah hukum dan yang paling berkuasa. Hanya Mama mu lah yang bisa menjinakkan pria itu.”


“Kasihan Mama pasti ia sangat kewalahan.”


“Begitulah pria dewasa, sikapnya tidak berubah walaupun sudah tumbuh uban.”


“Tapi Mamaku masih cantik dan awet muda. Sedangkan Papa, huftt sudahlah jangan bahas pria diktator itu.” Merebahkan tubuhnya. Dibantu Bibi Fang menaikkan selimutnya sampai dada.

__ADS_1


“Selamat malam Seven, jangan lupa berdoa dan mimpi Indah ya.”


“Terimakasih Bibi Fang sudah menjagaku hehehe.”


“Sama-sama.” Mematikan lampu utama, sisanya lampu temaram dinyalakan.


Makan malam sudah lewat, sepertinya Frayza melewatkan makan malamnya. Wanita itu sepertinya sudah mandi dan memakai baju dinas istri.


“Kenapa berdiri dibalkon dan menatap langit? “ tangannya menggerayap masuk kedalam perut.


“Kau rupanya hmmmbbhhh.” Lenguhnya pelan.


“Kenapa? Tidak suka?” meletakkan kepalanya dibahu Frayza.


“Aku baru saja menerima pesan dari orang penting. Ia membuatku senang sekaligus galau.”


“Kenapa?” masih asik meletakkan kepalanya dibahu Frayza.


Sambil memutarkan tubuhnya, sekarang wajah mereka saling beradu.


“Sial!” umpat Hikashi.


“Kenapa?” tampaknya Hikashi sedang gemas menggigit bibirnya.


“Kau semakin cantik memakai baju minim bahan ini.” Mendorong tubuhnya maju, hingga menempel sudah bagian depan milik mereka.


Wajah Frayza menjadi ranum salah tingkah, ia tak berani menatap sorot mata suaminya. Hikashi benar-benar berpenampilan lebih santai seperti anak muda.


“Aku frustasi, karena kesibukan kita yang padat. Apakah malam ini aku bisa menyatukan tubub kita?”


“Hi-Hikashi kau bicara apa?” memalingkan wajahnya.


“Aku mau tubuhmu Fray!” memegang erat pinggang ramping didepannya.


“Tapi aku banyak pikiran.”


“Aku setres tidak memperoleh jatah darimu!”


“Hah?”


“Hah, itu katamu? Kau kejam sekali!” berjalan menuju ranjang.


Hikashi melemparkan tubuhnya terkurap, ia membenamkan wajahnya kedalam bantal. Frayza kembali menatap langit lagi dengan wajah yang sendu. Sepertinya wanita itu tengah memikirkan hal yang berat menyita perhatiannya. Bukan soal anak atau masalah keluarga.


“Suamiku...” ia meraba dari ujung kaki hingga paha.


“Apa yang akan kau lakukan bila aku mati?”


“Jika mati aku akan bersedih, tapi tidak menangis histeris tentunya. Karena aku lelaki, pantang menangis!”


“Begitu ya?”


“Iyalah, yang mati ragamu. Tapi dirimu selalu hidup dalam sanubariku. Mengerti!”


“Manis sekali, tapi kesannya biasa saja.” Tidak puas.


“Jadi kau mau aku bagaimana?” tiba-tiba ia membanting tubuh Frayza dibawahnya.


“Aku bertanya dan kau sudah menjawabnya.” Menepis lengan Hikashi yang menopang diatas tubuhnya.


“Jika hal itu terjadi, maka aku lebih memilih mati lebih dulu daripada dirimu. Aku tidak mau dirimu menjadi Laura si hantu penasaran yang bergentayangan.”


“Jangan samakan aku dengan Laura!” cemberut.


“Kau pasti tidak akan tenang di alam baka sana. Setelah kematianmu, siapa yang akan melewatkan kesempatan emas untuk menjadi istriku. Mereka akan berlomba-lomba mencuri perhatianku dengan segala cara. Dan kau pasti tidak akan bisa tenang melihatku dikelilingi wanita cantik hihihi.”


“Hikashi, ini tidak lucu!”


“Baiklah, tadi aku hanya asal menjawab kok. Ini jawabanku yang sebenarnya, kau siap?”


“Hu’um, aku sudah siap.” Mengangguk.


“Menua dan matilah bersama-sama.” Meletakkan tangannya tepat didada kiri Hikashi.


“Bagaimana bisa kau meminta ajal kita bersama-sama dicabut?”


“Tuhan sudah menggariskan takdir hidupmu, kalau kita berjodoh. Di dunia ini, sejauh dan sesering apapun kau pergi dariku. Akhirnya kembali lagi kan?”


“Iya, kau benar.”


“Bukannya aku menyombongkan diriku ini Fray, memangnya ada pria lain yang rela berkorban habis-habisan melebihi aku?”


“Tidak ada, kau sangat luar biasa.”


“Tentu saja, aku tahu itu kok. Dan akulah yang paling cemburu ketika orang lain dekat denganmu. Jangan pesan makanan apapun di restoran lagi.”

__ADS_1


“Eh kok!” tercenganh kaget.


“Mulai sekarang kau hanya boleh makan apapun dari juru masak.”


“Ayolah Hikashi, jangan mulai aneh-aneh lagi. Sesekali aku juga mau jajan lah.”


“Kau bukan wanita biasa istriku, tolong hargai dan hormati martabat suamimu. Aku mau kau terlalu sering bertemu orang asing. Itu bisa membuatku berburuk sangka, pikiranku tidak fokua seharian.”


“Hikashi, aku sudah menjadi milikmu seutuhnya.”


“Memiliki dirimu seutuhnya bukan karena menjamahi tubuhmu saja. Melainkan kau ingat batasan yang tidak aku sukai.”


“Maksutmu apa?”


“Maksutku jelas, kau harua menempatkan posisimu sebagai wanita yang bersuami. Lalu memiliki dua orang anak laki-laki yang beranjak dewasa.”


“Baiklah, kau benar Suamiku.” Membelakangi Hikashi.


“Baiklah kalau begitu, aku akan mendukungnya. Semoga cerita Hansen dan Diandra berakhir dengan mengesankan.”


“Nah gini dong baru bener, istirku yang pintar. Yuk nambah satu ronde lagi yuk, mumpung aku habis minum obat kuat hehehe.”


“Dasar orang tua!”


“Eitsss, patuhilah orang tua dan sayangi yang muda hahaha.” Dasar tukang gombal Hikashi.


Ronde kedua meraka lakukan dengan gaya yang lebih ekstrem. Hikashi sudah kepalanya konak dengan kebutuhan biologisnya. Malam ini semuanya aman terkendali, sesuai mandat.


“Kau tadi memikirkan apa waktu dibalkon, sepertinya itu hal tidak baik?”


Diam-diam Hikashi menggeser tubuhnya tepat dibelakang istrinya. Ia menurunkan celananya yang sedianya tak memakai ****** *****. Buat Pembaca yang masih lajang, harap baca Istighfar banyak-banyak ya. Kalian sedang memasuki adegan 21+.


“Aaahhhh...” mendesah.


Tanpa pemanasan terlebih dahulu, ia sudah menerjang masuk jalan keindahan milik istrinya. Tangannya yang begitu terampil menyibak rok tipis sepaha. Menurunkan celana g-string agar memudahkan penetrasi.


“Sshiittt sempit sekali!” Hikashi meracau.


“Aaagghhh kenapa tidak pakai aba-aba dulu sih.” Mencengkram ujung sprei.


“Kelamaan, keburu habis waktunya Saaayaangg. Uuhhh uhhh uhhh.” Ia maju mundur dibelakang. Merasakan sensasi lain bercinta dari belakang dengan posisi miring.


“Pelaannn... Pelaann...”


“Oke Honey, aku perlambat temponya.” Tangannya menangkup tangkuban mangkok yang bulat.


“Ohhh... Ohhh... Kau menggila Hikashi, membuatku ingin meledakkk.”


“Keluarkan semuanya padaku Saayaangg, berikan semuanya sampai habissss...” mempercepat temponya dan akhirnya mendapatkan Puncak penyatuan ronde pertama.


Kali ini Hikashi menidih tubuh istrinya, dari atas ia memandangi wajah yang penuh peluh.


“Kau menggairahkan sepanjang waktu, aku bisa gila saat kau menghilang dari pandanganku Fray. Cupphh muaachh.”


Memejamkan matanya dan merasakan setiap kecupan dan belaian dari suaminya.


“Hikashi, tadi aku menerima pemberitahuan jika Author kita akan meneruskan salah satu novel terbaiknya.”


“Maksutnya si jomblo ngenes tukang halu bakal ending-in kisah kita?” mengerutkan dahinya.


“Bukan begitu Sayang, kau jangan berpikiran buruk tentang Author kita. Buktinya gembok tamat kita sudah dibuka. Dan novel kita akan bersambung lagi kisahnya. Artinya cerita novel kita ini akan digarap maksimal lagi. Hehehe.”


“Oh aku pikir mau dibuat tamat dan selesai begitu saja.”


“Bukanlah Sayang, kamu mah gitu. Begini ya tadi, ceritanya Author mau melanjutkan kisah Hansen dan Diandra di novel yang berjudul ‘LEPASKAN AKU, BOS 2’. Kan itu novel dulunya kurang berkesan tamatnya. Nah, sekarang Authornya sadar kalau terburu-buru menutup alur ceritanya. Author sangat menyesal karena dulu menutupnya dengan datar.”


“Lalu apakah up date harian kita akan terhambat?”


“Semoga saja lancar ya Sayang, karena dulu demi menggarap novel kita ini. Dia sudah bekerja keras memikirkan konsep cerita. Sampai menjadi novel dengan jumlah bah terbanyak dari karyanya.”


“Hemmmbb baiklah, aku mencoba memahaminya. Kisah Hansen dan Diandra memang fenomenal sejak awal pembuatannya. Karakter tokohnya kuat setiap perannya. Mari kita dukun Author untuk menemukan ide-idenya.”


“Kali ini aku tidak setuju dengan ide kelanjutan ceritanya. Masak Diandra dibikin mati!”


“Hah mati? Jadi Hansen akan jadi duda dong. Amit-amit jabang bayi, jangan ah.”


“Makanya, aku kepikiran tadi. Kok bisa-bisanya sih Diandra dibikin mati, apa hujat saja dia?”


“Itu tidak etis Sayang, seorang Author juga memiliki hak membangun cerita sesuai kemauannya. Jika memang tidak suka Diandra mati ya sudah terima saja. Karena novel happy ending sudah biasa, dan berada di zona nyaman.”


“Tapi aku tidak mau kalau Diandra dibikin mati lo ya!”


“Terserah Author lah Sayang, kan dia Tuhan dalam novel. Mari berpikir terbuka jika tidak semua kisah mesti ngikut kemauan Pembaca. Kita harus menghargai keputusan Author. Siapa tahu alur ceritanya lain dari novel yang ada. Memanjakan Pembaca tidak harus menuruti kemauan mereka. Karena Author ingin memberikan atmosfer baru.”


“Oh jadi begitu ya.”

__ADS_1


“He’em.”



__ADS_2