
Dengan pelan Hikashi menutup pintu kamarnya kembali. Ia sudah segar usai mandi lalu melanjutkan pekerjaannya. Tumpukan hasil laporan dan rapat menunggu ditanda tangani oleh Hikashi. Di dalam ruangan ini sudah ada Matsumoto yang merevisi ulang dokumen yang penting. Malam ini seperti biasanya Hikashi akan lembur sampai pagi ditemani Matsumoto.
Sedangkan di dalam kamar, Frayza merasa tubuhnya sangat lemah dan letih akibat pergulatan sengit. Tulangnya serasa mau rontok, untuk berjalan saja kepalanya sempoyongan tak karuan. Hingga dia merasakan mual dan sakit kepalanya pening. Rasanya berkunang-kunang. Dan akhirnya ia mengeluarkan isi perutnya yang sudah menjadi encer. Lidahnya terasa pahit dan getir, dipandangi wajahnya yang sayu. Ia mencoba menelaah kondisinya ini persis ketika hamil dulu.
“Jangan-jangan aku,” terka Frayza bercermin.
Hikashi melihat wajah panik istrinya yang serius menatap cermin. Ia mengusap perut Frayza dan menanyakan kenapa begitu pucat. “Sebaiknya Dokter Kelvin memeriksamu saja, aku takut kesehatanmu memburuk.”
“Tidak, mungkin aku masuk angin. Terlalu memaksakan diri Sayang, aku akan baik-baik saja. Oiya, bukannya malam ini kau sibuk. Ada apa kembali ke kamar?”
“Ada yang ketinggalan disini.”
“Biar aku ambilkan kalau begitu, dimana kau menaruhnya?”
“Hatiku.” Frayza terperangah Hikashi bicara konyol lagi didepannya.
“Sayang, apa maksutmu?”
“Frayza, aku tidak akan memaksakan kehamilan untukmu. Asalkan kau berada disisiku, itu sudah cukup.”
“Sayang, apa kau sedang berpikir kalau aku sedang hamil?”
“Jujur, aku sangat berharap bisa membuahimu.” Tampak wajah putus asa Hikashi yang tak bisa ditutupi lagi.
“Hiksss, hiksss Sayang mohon maafkan aku yang tak sempurna ini hik hik hikssss.” Frayza merasa bersalah karena tak bisa memberikan keturunan sesuai keinginan Hikashi.
“Sudah ada Jade juga kok, kamu jangan sakit. Melihatmu tersiksa seperti tadi rasanya aku tidak rela membuatmu hamil.”
“Sayangggg,” meraih tubuh suaminya yang berdiri setengah menunduk. Ia menenangkan emosi suaminya yang benar-benar kacau
Frayza sedang masuk angin dan kekurangan darah, karena setres dan pola tidurnya yang tidak teratur oleh karena itu ia disarankan untuk santai.
“Aku sudah memberikan cuti kepada guru les privatmu. Dan aku akan bekerja di rumah sambil sesekali berada dikantor untuk urusan rapat saja. Lekas sembuh ya Sayang, muaaaccchh.” Mencium kening Frayza yang mulai kantuk akibat obat penenang.
Diluar kamar sudah menunggu Dokter Kelvin yang akan memberikan laporan diagnosa istrinya. Hikashi mengerti bila kepergiannya yang begitu lama juga berdampak pada kesehatan Frayza.
“Tuan Hikashi, sebelumnya aku minta maaf. Karena temanku di Korea meminta salinan contah sketsa wajah Nona Frayza. Katanya dia sedang mencari referensi wajah tiruan untuk pasiennya.”
“Lalu apa hubungannya denganku?”
“Ini jelas ada kaitannya, karena pasien tersebut ialah Nona Damora. Oleh karena itu, saya berniat mengembalikan sketsa asli yang sudah pernah anda berikan kepada saya. Dan yang sudah saya kirim ke rekan Dokter saya adalah duplikatnya. Karena Tuan Muda Hikashi pernah berpesan agar wajah Nona Frayza, dibuat secara khusus. Dan benar, obsesi Nona Damora kepada anda sangat besar. Hingga ia rela menyogok rekan saya ini.”
Hikashi menerima dokumen itu kemudian membawanya ke tungku perapian. Ia membuang sketsa asli wajah Frayza didalam kobaran api. Dokter Kenzo sangat kaget, karena maha karyanya dibakar oleh Bos besarnya.
“Mulai sekarang, wajah Frayza hanya aku yang bisa memilikinya. Baik Damora maupun siapapun tidak akan pernah ada yang bisa menirunya.” Dengan jengkel ia mengumpat.
“Baiklah Tuan Hikashi, saya mengerti. Saya pamit undur diri dulu kalau begitu.”
“Hhheemmb, pergilah. Dan jangan lupa, kau masih memiliki hutang penelitian kepadaku.”
“Saya sedang usahakan yang terbaik Tuan Hikashi.”
Ternyata Damora masih penasaran ingin melenyapkan Frayza. Dia pikir Frayza sudah mati dalam kebakaran besar itu. Sayangnya, Damora belum tahu bila Frayza masih hidup. Sebelum Damora tahu jika Frayza hidup, ia bergegas untuk membawa Frayza pergi ketempat jauh. Tapi, keadaannya Frayza sekarang sedang terkulai tak berdaya. Jadi, Hikashi harus menahan dulu keinginannya. Malam ini Matsumoto diijinkan pulang. Karena Hikashi mengurungkan niatnya lembur, dia lebih memilih bersama istri tercintanya. Mereka tidur dalam selimut yang hangat. Tangan mereka saling mencengkram erat, napas mereka juga sudah seirama. Romantis sekali pasangan ini. Semoga kedamaian ini manjadi awal hubungan mereka yanh baik, setelah sebelum sbelumnya saling menjauh dan mengejar.
*
*
*
Paginya Frayza ingin melayani suaminya yang masih tidur dia sengaja bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan pagi. Tapi para Pelayan yang seperti hantu sudah beres menyajikan semuanya tinggal santap.
“Kau mau apa?” Hikashi sudah menyender di tembok sambil bersilang tangannya.
“Memasak hehehe.” Jawab cengengesan.
“Mandikan aku!” perintah Hikashi meminta.
“Mandi?”
__ADS_1
“Iya, aku mau kau mandikan. Kau juga mau aku mandikan, tidurmu seperti sapi. Air liurmu mengotoro lenganku, hiiiwwweeeehh bau!”
“Siapa suruh menjadikan lenganmu sebagai bantal. Aku kan tidak meminta, huft.”
“1-2-...” Hitungan maju jika Frayza belum menyadari kesalahannya.
“Eh aku salah ya, salahnya dimana?”
“Masih ingat peraturan menjadi istriku? Apa perlu aku buat kau menurut ddiruangb hukuman?”
“Eh iya Suamiku, aku salah sudah tidak peka dan membangkang. Baiklah suamiku, mari ku mandikan dirimu. Ayo Sayang, saatnya membersihkan dirimu dari kotoran he-he-he.” Senyum terpaksa ala tawanan perang.
“Bagus, nah kalau menurut begitu aku kan tidak perlu repot. Yang tulus senyumnya jangan seperti tukang daging!”
“Sayang, ayo kita mandi bersama. Sepertinya cuaca hari ini tidak baik jika kau marah-marah melulu. Aku gosok ya punggungmu, begini kan... “ mencoba merayu suaminya yang cemberut.
“Kau ini menjamahku ya! Jangan disini, ayo segera pindah ke kamar mandi, membuatku repot saja!” membopong Frayza dan membawanya pergi untuk mandi.
Didalam kamar mandi Hikashi tampaknya tidak puas dengan pelayanan Frayza. “Gosok yang benar, lebih lembut lagi. Kau pikir aku ini kulit badak apa, lembut lagi! “
Mungkin sudah habis kesabaran Frayza dibentak dan diomeli Hikashi inilah yang membuat Frayza melempar sikat busa ke lantai.” Basuh sendiri! Kau banyak mengomel seperti wanita yang mau datang bulan, malas aku melayanimu!”
“Berani keluar kamar mandi, kau tidak akan keluar kamar ini selamanya.” Kaki frayza berhenti beranjak, dia mundur kebelakang dan terpeleset. Hikashi menakap tubuhnya yang terayung gontai.
“Nah hampir kan, mau terjatuh kan. Makanya biar aku ajari saja cara memandikanku!”
“Ahh tidakk, kau pemaksaan Hikashi. Janjinya kan tidak menindasku, tapi kenapa bajuku kau bikin koyakk. Ahhh tidaaakkk tolong aku sedang ditindas suamiku dinkamar mandi.
Ternyata akal-akalan dimandikan hanya alibi Hikashi untuk memandikan Frayza. Dan terjadilan proses pembuahan lagi disana. Frayza keluar dengan kaki yang bergetar, lalu dibantu Hikashi berjalan.
“Hati-hati, tadi kau banyak bergerak jadinya sakit kan hemmmb.”
“Tidak melakukan hal aneh2 kenapa sih, dikamat mandi juga. Aduhhhh hissss.” Merintih kesakitan.
“Heheheh hukuman untuk istri yang nakal.”
Saat makan pun Hikashi terus menatap istrinya yang sedang mengunyah daging. Dia tersenyum melihat istrinya menemani ia makan.
“Sekalian suapi aaaaaakkkk,” membuka mulutnya.
“Manja, makan sendiri. Memalukan!”
“Suamiku sayang, jika memanjakan istri jangan setengah-setengah ya.” Mengedipkan mata berulang kali supaya Hikashi menurut.
“Aisshhh... Genit sekali kau ini ya, apa kau tidak bisa membiarkan suamimu ini makan dengan tenang?”
“Sayang, setiapppp hari aku makan sendiri. Tangan-tanganku ini lelah belajar dan menggambar. Tidakkah kau mau memperlakukanku seperti calon anakmu kemudian hari? “
“Oh jadi sekarang aku berperan sebagai Ayah, dan kau bayiku begitu.”
“Iya hahahah.”
“Nakal, padahal kau berbuat tidak senonoh denganku berani mengaku bayi. Dasar wanita menipulatif!”
“Sayang, satu suapan yaaa aakkkkkk.”
Hikashi mencium Frayza lagi dengan cepat, dia merasakan Cinta yang begitu kuat dan hangat. Ciuman itu membuat Frayza malu dan pergi berlalu.
“Hai anak manja, kau belum menghabiskan makananmu!”
“Aku kenyang!” jawabnya sambil berlari.
Ternyata Frayza ingat bahwa hari ini akan ada pengumuman pemenang kontes menggambar terbuka baju rancangan tahunan untuk pemula. Dia mengambil buku catatannya yang memang sudah ia siapkan.
“Kenapa kau mau pergi?” Hikashi menanyai Frayza yang sudah menenteng tas di bahu.
“Sayang, ijinkan aku menghadiri pameran baju tahunan yang diadakan di Universitas Tokyo.”
“Kapan?”
__ADS_1
“Tiga jam dari sekarang. Aku tidak mau terlambat tiba disana. Aku bisa naik kereta atau taksi.”
“Event ini ya?” Hikashi menunjukkan kertas undangan tamu yang dimilikinya.
“Kenapa kau punya undangan resminya?”
“Aku siapa?”
“Anggota Kerajaan Jepang,”
“Selain itu apalagi?”
“Pengusaha multinasional.”
“Lalu apalagi?”
“Bangsawan Inggris yang menjadi donatur aktif di beberapa Negara.”
“Dan terakhir?”
“Suamiku?” wajah Hikashi tidak senang dan cemberut.
“Kau pria tertampan saat ini, begitu kan.”
“Benar, makanya nasib pria tampan itu menyedihkan. Memiliki istri yang pendek, bodoh, miskin dan cerewet. Selain itu manja lagi, ya ampun. Kenapa pria seistimewa ini hanya terpaku dengan wanita sepertimu ya ckckckck.”
“Baiklah, aku memang tidak seideal dirimu yang mendekati sempurna. Apalah dayaku ini yang merupakan butiran debu di kaca mobilmu. Yang mudah diseka hiks.”
“Mulai lagi, ngambek lagi, cemberut lagi hemmmb (memeluk Frayza dari belakang). Sayangku tetap dirimu kok, kau semakin lucu jika ku buat kesal. Percayalah kau cantik jika memakai gaun dan sedikit riasan. Sana dandanlah, aku akan membawamu ke acara tersebut.” Mendorong Frayza masuk ke ruangan ganti pakaian.
Hikashi menjadi pembicara di Universitas Tokyo sebagai Sponsor tahunan. Tahun ini dia didapuk untuk berpidato. Setelah beberapa kali tawaran yang sama ia tolak. Hikashi ingin menunjukkan karismanya dihadapan Frayza. Bila suaminya adalah pria hebat, dengan demikian kepercayaan dirinya akan tumbuh.
“Frayza, kau dandan apa pingsan kok lama sekali?”
“Sebentar, aku susah jalannya hiiiaaakkk.” Dia tidak terbiasa memakai sepatu hak tinggi.
Kako kecil Frayza tampak imut ketika memakai sepatu warna merah hati. Serta gaun yang senada dengan sepatu tersebut. Riasan alami dan sedikit polesan dibibirnya seperti buah plum yang matang. Hikashi menahan diri agar tidak menciumnya, takut merusak riasan wajah Frayza.
“Dandan begitu saja lama sekali, dasar wanita.”
“Maaf Sayang, besok-besok aku akan menyisir rambutku saja agar cepat.”
“Eh mana boleh, tidak-tidak. Kau harus tetap berdandan, enak saja mau tampil alami. Aku bakar semua isi lemarimu itu kalau kau tidak memakainya!”
“Maunya apasih ini, berdandan salah. Tidak dandan malah jadi masalah. Sayang, tolong jangan menambah beban pikiranku ya. Suamiku yang baik, biarkan istrimu ini tetap waras ya.”
“Cih, bukannya aku yang tekanan batin. Pria tampan, bergandengan tengan dengan wanita yang pas-pasan.”
“Iyaya Sayangku, aku adalah wanita yang pas-pasan kau temukan dijalan. Pungutlah aku menjadi istrimu, aku mohooonnnn.”
“Apaan sih kok gitu banget bicaranya, ngawur. Ayo gandeng tanganku seperti ini terus, tidak boleh lepas kecuali seijinku. Paham?”
“Iya Sayang, aku paham hemmmmb.”
Acara tahunan yang diselenggarakan ini dihadiri dari peserta mancanegara. Tak ayal suasana Kampus ini begitu ramai dan padat. Andaikan tadi Frayza jadi naio kendaraan umum, mungkin ia sudah tidak mungkin masuk.
“Wahhh, bagusnya.” Mengagumi Kampus yang Indah nadan megah.
“Eheeemmmb,” berdehem.
“Eh kenapa nih? Sakit tenggorokan ya Sayang? Apa aku salah bicara lagi?”
“Tadi waktu dirumah kau sudah mengatakan apa? Apa sudah lupa?”
“Oh itu, Sayangku kau yang paling Indah dimataku melebihi apapun yang ku lihat. Begitukan? Benarkan?”
“Hehehehe cupphh.” Mencium kening Frayza.
Semua mata memandang Hikashnyang turun dari mobil, sedangkan Frayza enggan turun dari mobil. Karena tidak terbiasa menjadi sorotan, setelah itu datanglah mobil iringan dari Pangeran Hiroshi yang datang. Didampingi oleh Aiko yang masih berstatus calon tunangan Hiroshi. Mereka memamerkan kemesraan palsu agar rumor baik menjadi berita. Aiko melihat Hikashi yang datang seorang diri. Sepertinya peluangnya semakin besar, karena tidak ada saingan untuk mendekati Hikashi.
__ADS_1
“Jaga matamu, aku tahu kau sedang mengawasi Hikashi. Sekarang kau menjadi sorotan jangan berbuat kesalahn sekecil apapun! “ Bisik Hiroshi memperingatkan Aiko yang curi-curi pandang.
“Tenang saja Pangeran, aku hanya meliriknya sebentar saja. Tidak ada yang curiga.” Masih melempar senyum dihadapan wartawan dan reporter berita.