TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
INDAHNYA HATI JULIAN


__ADS_3

Julian yang tak puas dengan kenyataan bahwa Frayza telah tiada kini semakin nekat. Dia mengambil sejumlah uang yang rencanya akan dipergunakan selama kepergiannya ke Batam. Dalam pesawat, Julian terua memikirkan bagaimana bentuk kuburan kakak tertuanya.


“Aku ingin memindahkan jenazah yang berada dalam makam ini, apakah boleh?”


“Tuan, seluruh jenazah yang sudah di makamkan disini harua mendapatkan persetujuan terlebih dahulu oleh pihak Rumah Sakit. Karena lahan pemakaman ini milik Rumah Sakit, yang di kelola oleh Yayasan.” Jelas penggali kuburan.


“Bagaimana prosedurnya akan aku lakukan asal bisa membawa jenasah kakakku.” Julian melihat batu nisan yang tak memiliki nama yang diyakini makam Frayza.


“Tapi...”


“Jangan masalahkan tentang uang, aku membawa cukup uang untuk biaya pengurusannya.”


“Aku tidak begitu yakin, tapi lebih baik anda menemui Direktur Rumah Sakit ini. Tapi beliau jarang berada disini.”


“Bukannya tugas seorang Direktur itu harus berada di tempat yang dinaunginya. Lantas dimana direktur Rumah Sakit biasanya berada? Bisakah kau memberitahukan alamatnya.”


“Maaf tuan, tapi sepertinya anda sangat berambisi dengan makam ini. Apakah kau memiliki hubungan yang kekerabatan dengannya?”


“Aku...” Julian memejamkan matanya mengingat mimpinya kembali saat kembali dari Amerika.


MIMPI JULIAN:


Tangan yang berlumuran darah menyeret rantai besi berjalan di lorong yang gelap. Beberapa sel dihuni tahanan yang ingin dibebaskan meneriakinya. Tapi orang bengis itu tetap lurus berjalan menuju sel yang paling gelap dan ujung. Temaram cahaya yang masuk memecah kegelapan sel bawah tanah itu.


“LEPASKAN AKU___” pinta wanita dengan suara parau.


Seorang wanita memakai baju tahanan hitam dan compang-camping bekas cambukan dan siksaan penjara.


“Hehhh tidak semudah itu, “ jawab sinis jawaban pria yang menutup kepalanya.


“LEPASKAN AKU, BERIKAN AKU HIDUP.” Pinta Frayza dengan wajah sembab dan tirus.


“Jikalau kau mati, aku akan tetap memenjarakan ragamu. Aku awetkan dan menyiksanya sampai matimu pun ragamu masih menderita.”


“Cuiihhhh...” meludahi pria yang menjambak rambut Frayza.


Selanjutnya hanya suara teriakan kesakitan dan jeritan yang terdengar. Entah siksaan apa yang kini diterima kakaknya dalam penjara yang mengerikan itu. Sontak Julian seperti melihat sisi gelap yang lain dari kehidupan kakak sulungnya yang sudah tiada.


PEMAKAMAN, BATAM.


Bersama penggali kuburan itu, Julian nekat menemui Direktur Rumah sakit. Yang kebetulan berada di kantornya, karena Julian ingin bertemu maka dia ikuti aturan yang berlaku. Dirinya berjalan-jalan di sebuah taman, dia melihat seoarang kakak perempuan yang sedang menyuapi adiknya yang duduk di kursi roda.


“Hai adik kecil, dimana orang tua kalian?”


“Maaf, kakak ini siapa ya?”


“Eh,” Julian salah tingkah karena bersikap akrab terhadap orang asing.

__ADS_1


“Tenang, aku orang baik bukan orang jahat atau yang menculik anak-anak. Untuk dimintai tebusan orang tuanya hehehe.”


“Kak, jika kau serius menculik kami. Maka jangan kembalikan pada orang tua kami.” Gadis yang menyuapi adiknya berhenti dan memegang tangan Julian.


“Bukankah kalian akan lebih aman kalau tinggal bersama orang tua kalian.”


“Aku dan adikku adalah gelandangan yang dipekerjakan paksa dijalanan. Awalnya kami diadopsi dari Panti Asuhan saat masih bayi, namun kami dijadikan alat mengemis dijalanan. Sampai pada akhirnya adikku ini lumpuh kakinya karena ditabrak mobil. Harus diamputasi kakinya, karena tidak segera diobati. Melainkan dimanfaatkan untuk memperoleh simpati dermawan hiks hiks hiks. Kami menjual rasa sakit dan malu demi makan nasi bungkus sehari dengan air putih hiks hiks. Tolong jangan kembalikan kami pada orang tua asuhku hiks hiks hiks.” Julian seperti mendengar cerita bohong dari anak kecil yang pandai bersandiwara.


“Tunggulah disini, aku mau terima telepon dulu.” Ponsel Julian berdering karena ibunya memanggilnya.


Ketika berbicara dengan Ibunya, Julian mengaku akan ke Bali untuk berlibur tapi transit di Batam dulu. Sekalian membeli baju ganti, begitulah alasan Julian agar ibunya tidak curiga dirinya tengah misi memindahkan makam Frayza. Dia menolah kembali dimana kedua kakak beradik itu berada. Saat hendak menyuapi adiknya, datanglah seorang wanita yang gemuk dan memakai baju Bagus. Ketika baru datang, wanita itu langsung melayangkan stempel lima jari di pipi kakak perempuannya. Adiknya yang lumpuh di kursi roda, didorong hingga terbalik dan jatuh. Tak berhenti disitu saja, wanita yang sepertinya sedang kerasukan setan kredit semakin menggila dengan menginjak kaki bekas operasi yang masih terbalut perban. Mata Julian terus melihatnya dengan tatapan nanar dan memerah. Kakak perempuannya memelas memohon ampunan agar wanita bulet, bantet, hitam dan dekil itu berhenti berulah. Setelah puas memukuli keduanya dia pergi sambil membetulkan sanggul rambutnya yang sedikit mirin, macam otaknya yang miring.


“Ya Tuhan,” Julian menutup mulutnya melihat kejadian naas itu.


Kedua bocah itu saling berpelukan untuk saling menguatkan satu sama lain. Mereka sepertinya kesusahan dan kewalahan untuk memindahkan adiknya kembali ke kursi roda.


“Tidak usah kau lakukan, biar aku saja.” Julian memondong adik lelakinya yang sudah meronta-ronta kesakitan.


“Terimaksih Kakakkk,” gadis itu mewek melihat kebaikan Julian.


“Sekarang aku percaya kalian, ikutlah denganku.”


“Kemana?” tanya gadis Malang itu.


“Aku akan membayar seluruh biaya pengobatan kalian selama disini.”


“Kak,” Gadis itu bertanya kembali kepada Julian.


“Kenapa?”


“Kenapa kau baik?”


“Aku orang kaya, aku bisa beli apapun. Mulai sekarang kalian sudah aku beli, jadi kalian harus ikut denganku?”


“Tolong jangan siksa kami,” mata gadis itu berkaca-kaca takut traumanya terulang kembali.


“Aku janji akan membawa kalian ketempat yang jauh.”


Hari ini Julian membatalkan niatnya untuk menemui Direktur untuk mengurus pemindahan makan Frayza. Dia ingin menyelesaikan masalah anak yang baru ia jumpai di taman.


“Aku akan membawa kalian ketempat yang tidak bisa dijangkau wanita jahat itu lagi.” Sembari memamerkan tiga tiket kapal.


“Kita mau dibawa kemana kak? Aku takut.” Tanya Adiknya.


“Adik kecil, percayalah padaku kalian akan menemukan tempat terbaik untuk kelangsungan hidup kalian. Tinggalkanlah luka dan kenangan buruk kalian disini, jauhi orang yang berpotensi menyakiti kalian.”


Petualangan Julian dimulai dengan naik kapal menuju Jakarta, memerlukan waktu yang cukup lama. Karena ditempub melalui jalur laut, semenjak Julian bersama kakak beradik itu. Dia tahu bahwa mereka bukanlah saudara kandung, melainkan sesama anak panti. Tapi kasih sayang kakak perempuannya sama perlakuannya seperti Frayza pada Julian dahulu.

__ADS_1


“Dengan uangku, akan bisa menggunakannya untuk membalas Budi Kak Frayza yang sudah tiada.” Julian melihat kerlip kota Jakarta dari atas kapal yang hendak berlabuh.


Malam ini langit Jakarta sangat bersahabat, dan semilir angin malam semakin menambah suasana pelabuhan yang sibuk. Dengan bekal uang yang cukup, Julian pergi mencari penginapan untuk mereka bertiga. Akhirnya Julian memperoleh hotel kelas Melati yang tidak menimbulkan banyak kecurigaan petugas hotelnya.


“Pertama-tama aku harus mencari tempat yang tempat untuk kalian tumbuh dan berkembang.”


“Kak...” ucap gadis memelas kepada Julian.


“Kenapa?” Julian merasa kalau seolah mereka trauma di Panti Asuhan.


Meski Julian tidak fasih berbahasa Indonesia, tapi dia bisa memakai bahasa melayu dicampu bahasa inggris untuk komunikasi dengan petugas Hotel. Salah satu petugas Hotel menyarankan agar anak-anak itu di taruh di Pondok pesantren khusus anak-anak terlantar. Karena Julian tidak ingin anak itu masuk ke Panti dan salah diadopsi orang yang salah.


“Kenapa Kakak baik kepada kami?”


“Karena umur kalian hampir sama dengan dua calon ponakanku yang gagal dilahirkan.”


“Berarti calon keponakanmu berada disurga Kak.”


“Benarkah? “


“Iya, karena calon bayi dan bayi yang telah meninggal lebih beruntung merasakan surga. Sedangkan kami yang dilahirkan saja jika salah asuhan seperti hidup sengsara. Jika kami tidak diharapkan kelahirannya, setidaknya kami tidak pernah minta dilahirkan dari orang yang salah.” Julian terdiam mendengar ucapan dewasa seorang anak-anak yang terluka masa kecilnya.


Adiknya yang mengalami pendarahan dilarikan ke sebuah klinik untuk dibersihkan bekas lukanya. Dan harus dirawat disana, selama masa perawarn. Julian pergi ke Kedutaan Singapura di Jakarta untuk meminta pendampingan selamat di Indonesia. Hal ini dilakukan agar rencananya berjalan lancar. Hingga hari dimana adik gadis terlantar itu keluar klinik. Julian bersama pembimbing dari kedutaan sebut saja namanya Rose menjemput mereka.


“Apa kalian siap tinggal ditempat baru kalian?”


“Huum,” kedua bocah itu saling bertatapan mata pasrah.


“Tenang saja, Rose akan membawa kalian ditempat yang baik. Dimana kalian akan mendapatkan Cinta dan kasih sayang yang baik.”


Sepanjang perjalanan Rose menceritakan riwayat tempat yang akan dihuni keduanya nanti. Sebuah Pondok pesantren yang berlokasi di Bogor, disana banyak anak yang bernasib tidak beruntung. Bocah-bocah dilingkungan ini berlarian dan bermain dengan ceria.


“Dek?” tanya pada adiknya yang duduk di kursi roda.


“Kita punya rumah kakkk,” jawab adiknya yang terharu.


Seorang wanita yang santun menyambut kehadiran tamu dan saling berdiskusi panjang lebar.


“Bu, kali ini tuan Julian yang akan menjadi wali mereka. Jadi tuan Julian pula lah yang akan menyumbang untuk Pondok Pesantren ini, selama kedua anak ini dalam keadaan yang baik. Itu saja syarat yang diajukan tuan Julian.” Tambah Rose kepada Ibu wali.


“Baiklah, saya terima mereka berdua. Kapanpun tuan Julian mau mengecak atau membesuk mereka silahkan.”


“Terimakasih atas ketulusannya, saya titip kedua anak ini ya Bu.” Sambil menyelipkan segepok uang dalam amplop coklat.


Seharusnya Julian memiliki keponakan jika saja Frank tidak menggugurkan paksa kandungan Frayza. Sebagai beban moral, Julian merasa jika Tuhan sudah mengatur pertemuannya dengan kedua anak yang Malang ini.


Setelah urusannya selesai, Julian berencana pergi ke Bali untuk berlibur beberapa hari dan kembali ke Singapura. Dirinya kini semangat mencari uang, karena sudah ada tanggungjawab baru. Yaitu menjadi wali dari dua anak Malang yang belum ia ketahui namanya. Dan harus mampu menyisihkan uangnya untuk disetorkan ditempat anak itu dititipkan.

__ADS_1


__ADS_2