TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
AKU DATANG MENYAPA KALIAN


__ADS_3

Patrick datang mengetuk pintu kamar Helena, ia bergegaa membukanya. Dibelakang Patrick sudah berdiri Steven dengan memakai setelan jas warna gading.


“Saatnya jamuan makam malam, mari Nona Helena.” Sambut Patrick sopan.


Helena merapikan anakan rambutnya sembari memberikan jawaban. “baiklah,” ia agak sedikit canggung. Karena acara makan malam memakai busana formal ala bangsawan.


Bersama Steven ia menuruni anak tangga yang jumlahnya puluhan pijakan. Mungkin ia tidak akan pegal bila memakai sepatu alas rata. Ia harus menghormati tuan rumah yang mengundangnya. Yang secara khusus menyiapkan pakaian feminim untuk ia kenakan.


Acara makan malam ini dimulai dengan menghadirkan makanan pembuka, utam dan penutup. Selama prosesi ini matanya terus melirik Steven. Keduanya sangat kikuk dan awam soal etika diatas meja makan. Tapi Hikashi memakluminya, berbeda dengan Jade. Ia beberapa kali melipat bibirnya sembari menahan ketawa geli. Steven tidak tahu bagaimana cara makan ala bangsawan Inggris. Ia hanya memakai sendok dan garpu yang sama, yang seharusnya setiap menu makanan harus diganti.


Hikashi menyuruh koki menyiapkan hidangan spesial untuk menyambut putra bungsunya. Namun, seluruh makanan mewah nan mahal itu tidak ramah dilidah Steven. Yang hasilnya, ia hanya minum air putih dan makan potongan buah saja. Steven yang takut dimarahi Hikashi memutuskan untuk masuk kedalam kamarnya, ia malu. Karena sudah melakukan hal konyol dan memalukan. Tapi Hikashi memahami tabiat putra bungsunya itu, ia mangakak Jade untuk berdiskusi diruang keluarga. Dan tak ketinggalan Helena ikut bergabung disana.


“Ehemmb,” Hikashi berdehem melegakan tenggorokannya terlebih dahulu.


Jade datang membawa anggur ditangannya, dan kemudian duduk.”Kemana Steven?” tanyanya tak mendapati adiknya.


“Biarkan saja ia dikamarnya, kau duduklah. Papa ingin menyampaikan beberapa hal penting.”


“Hemmm...Baiklah.” lalu menyesap anggur untuk merilekskan diri.


“Helena, pertama-tama Aku secara pribadi ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepadamu. Karena sudah membawa kembali pulang Seven kemari. Sekarang anggota keluarga kami sudah utuh sempurna.” Lalu menghela napas panjang, mencoba melanjutkan bicaranya.


“Terimakasih kembali Tuan Hikashi,” balas Helena.

__ADS_1


“Seven itu Steven?” potong Jade.


“Seven adalah nama kecil Tuan muda Steven. Ketika itu Nyonya Frayza hendak melahirkan...” Helena berhenti.


“Kenapa berhenti, lanjutkan ceritamu. Aku penasaran sekali dengan kisahnya.”


Helena menatap ke Hikashi sembari meminta ijin untuk menceritakan kisah kelahiran Steven d Amerika. Dan Hikashi mengangguk memberi isyarat untuknya meneruskan kisahnya.


“Saat itu Frayza tiba di Amerika dalam keadaan tidak baik. Setibanya di Amerika ada mendiang Dokter Kelvin yang menjaga Frayza.”


“Lanjutkan terus,” perintah Hikashi.


“Setelah beberapa kali mengalami hal buruk yang menimpanya, nyawa Frayza terselamatkan. Kata Dokter Kelvin saat itu, Frayza seperti kucing yang memiliki 7 nyawa. Berkali-kali ia celaka, namun nyawanya masih tertolong. Oleh sebab itu kami sering memanggil Steven dengan Seven. Yang artinya putra dari wanita yang memiliki banyak nyawa.%


“Maafkan Aku, tapi aku baru percaya berita itu benar saat kami hendak terbang ke Tokyo. Karena di Tokyo tidak ada keluarga sedarah, lebih baik kami pergi kemari.”


“Tindakanmu sudah benar Helena, akan lebih baik jika kedua putraku berada dalam asuhanku. Lagipula kami bisa mengunjungi makam Frayza setiap saat.”


“Se-setiap saat?” terkejut.


“Aku memberikan peristirahatan yang layak untuk wanita tercintaku. Seharusnya aku ikut bersamanya dalam situasi terburuk apapun. Sehingga ia meregang nyawa sendirian, walaupun jasadnya yang saja. Itu jauh berharga bagi kami yang kehilangan Frayza untuk selama-lamanya.”


“Tuan Hikashi, sedalam itukah perasaanmu padanya?”

__ADS_1


“Aku tidak pernah bisa menukar atau mengganti Frayza dalam hidupku. Bahkan hatiku masih mencintainya, sekalipun ia telah pergi mendahuluiku. Jujur aku tidak akan bisa mati dengan tenang, bila ia menjadi janda. Aku akan meminta iblis untuk membangkitkan Ku lagi. Jika hal demikian terjadi, tapi Frayza dipanggil oleh Tuhan. Meninggalkan kedua putra yang kini harus ku asuh & dirawat.” Hikashi berdiri disebelah Jade, dimana mereka menatap taman yang terang.


Helena ikut berdiri dan melihat beberapa penjaga tengah berdiri ditaman. Ternyata setelah di perhatian secara seksama, ada nisan warna putih. Berukir nama Frayza Lee jelas, dan foto mendiang Frayza. Sesak napas Helena melihat makam Frayza yang berada disana. Belum sempat ia mengucapkan salam perpisana untuk yang terakhir kalinya, kini sahabat baiknya sudah pergi tanpa pamit.


Pagi hari, tepatnya setelah ibadah subuh Hikashi mendatangi makan istri tercintanya. Ia mengusap nisan dan menyiramkan air bunga, diatas pusara Frayza ada bunga-bunga cantik yang selalu mekar.


“I LOVE YOU CINTAKU, SAYANGKU FRAYZA MUACHHH.” Itulah ucapan Hikashi ketika mencium pucuk nisan berwarna putih bersih. Pria itu memperlakukan dengan baik makam istrinya, ada beberapa suara burung yang berkicau. Dan datanglah seekor kupu-kupu besar berwarna putih hinggap menyentuh kulit putih bersih Hikashi. Seolah pertanda bila Frayza hadir menyapa suaminya. Hikashi mengajak bicara kupu-kupu tersebut yang hinggap “Sayang, sekarang keluarga kita sudah utuh lengkap. Tahu kah kau bahwa kepergianmu adalah luka batin yang dalam? Jangan tinggalkan aku lagi ya, biarkan jasadmu disini. Temui aku dalam mimpi saja, aku sangat merindukanmu. Sungguh hatiku sangat sakit saat kehilangan dirimu untuk selamanya.” Lagi-lagi Hikashi meratap akan kegundahan hatinya yang mendalam. Ia melinangkan airmata yang sempat ia tahan.


“Papa, pagi sekali datang kemari? Udaranya sangat dingin, pakailah selimut agar tubuhmu hangat.” Jade menyelimuti dari belakang tubuh ayahnya.


Hikashi cepat menyeka air matanya agar tak terlihat rapuh oleh putranya. “Apa kau pikir Papa ini lanjut usia, singkirkan selimut ini!” Hikashi menyisihkan selimut di badannya.


“Papa baru sembuh, jangan sakit.” Jade memakaikan selimut itu lagi.


“Sembuh apa, Papa orang yang sehat tahu!”


“Baiklah, setidaknya Aku sudah perhatian; Mama lihatlah betapa keras kepalanya Papa. Apakah ini sifat yang kau benci?” mencoba mengadu dipusara ibunya.


“Anak nakal Kau! Berani sekali kau mengadu kepada Mama mu. Mau aku pukul!” ancam Hikashi sudah mengangkat tangannya.


Ditengah-tengah pergulatan ayah dan anak datanglah Patrick membawa Helena dan Steven. Keduanya menziarahi makan Frayza, tak diduga ternyata Steven bisa membaca huruf arab. Yang artinya tengah mendoakan mendiang Frayza. Ternyata Steven sudah memeluk islam beberapa tahun terkahir. Hanya Jade yang belum memiliki agama yang pas, dia masih bersenang-senang dengan usia muda nya.


Hikashi terperangah melihat putra bungsunya yang berhasil dididik agama mendiang Frayza. Tak disangka, Frayza sampai akhir hayatnya memegang Teguh keimanan yang sama dengannya. Hikashi berjanji akan menjadi Imam yang baik seterusnya. Tugasnya beratnya akan dipikulnya seorang diri tanpa pendamping. Tampak kupu-kupu itu terbang meninggalkan taman yang Indah itu. Dan setelah berada dibalik pohon besar, wujud Frayza yang berubah.

__ADS_1


“Maafkan aku, Sayang. Sampai napas terakhirku, belum sempat memohon maaf sudah durhaka kepadamu. Aku titip kedua putra kita, tolong didik dan jaga mereka sebaik kau menjagaku hiks hiks hiks.” Ucap batin Frayza menyaksikan peristiwa pagi ini.


__ADS_2