
Perhatian Simon kepada Frayza semakin mencolok kala ia menjemput pulang kerja. Dan Simon dengan baiknya membelanjakan semua keperluan Frayza.
“Jangan pakai celana dan kaos oblong, kamu wanita. Pakailah baju yang anggun dan bagus.”
“Tapi ini nyaman Tuan, sesuai dengan kemampuan keuanganku hehehe.”
“Terimakasih, karena sejak kau datang ke rumahku. Julian yang pendiam dan hidup di dunianya sendiri sudah mau banyak bicara. Entah kejadian apa yang menimpanya di Bali ketika liburan. Sepertinya membuat jiwanya terguncang. Julian, adalah putraku satu-satunya. Saat aku menjemputnya dari Bandara. Dia tidak mau tinggal di rumah kami yang baru. Dia lebih memilih tinggal di rumah lama kami. Rumah yang menyimpan banyak cerita kelam dimasa lalu.”
Frayza paham masa kelam apa yang dimaksud ayahnya tersebut, dia lebih memilih diam dan merunduk.
“Berapa usiamu sekarang?”
“Sekarang 29 tahun Tuan, hehehe.”
“Hemmbb usia yang matang untuk seorang gadis. Apakah kau sudah punya teman kencan?”
“Aku sibuk bekerja, jadi tidak ada waktu untuk berkencan hehehehe.” Menggaruk kepalanya.
“Jangan bohong, kamu ini cantik. Putraku Julian saja sering tersenyum bila bersamamu, apakah kau tidak menyadarinya?”
“Aku pikir Julian bersikap demikian karena dulunya aku pernah membeli barang antik di Tokonya. Makanya sikapnya baii terhadapku, Tuan jangan salah. Kan ada Rose juga teman wanitanya.”
“Oh iya Rose, aku hampir lupa kepadanya. Dia datang bersama putraku dari Bali. Aku dengar dia bekerja di Kantor Kedutaan untuk Singapura. Tapi dia cuti kerja, pasti Julian tidak akan kesepian. Karena sudah ada kamu dirumah. Tolong bantu Julian agar mau fokus meraih masa depannya. Aku semakin tua, dan Franda putriku sudah mapan kehidupannya. Aku takut kelak Julian tidak bisa bertahan di persaingan hidup. Kau bisa kan Frayza?” memohon kepada anaknya sendiri yang menjadi orang asing didepannya.
“Hah aku? Kenapa aku Tuan, Tuan adalah keluarganya. Orang terdekat Julian, sedangkan aku orang luar. Jadi, aku tidak punya wewenang untuk ikut campur. Terlebih lagi istri anda Tuan, aku tidak mau berurusan dengannya.”
“Aku tahu, kau pasti merasa benci dengan sikap istriku yang lancang menamparmu. Itulah istriku, sikapnya semakin arogan dan kasar. Memang harus aku akui bahwa aku pernah berselingkuh darinya. Bukan karena aku tidak mencintainya. Karena aku tidak tahan dengan sikapnya yang semena-mena itu. Dia hanya peduli dengan bisnis dan anak-anaknya. Sampai lupa ada aku suaminya yang butuh perhatian.”
Frayza tak menyangka bila Simon begitu gamblang menceritakan kisah hidupnya. Ternyata ayahnya tak sesetia yang ia bayangkan. Ayahnya justru lebih terbuka dengan dirinya yang baru. Kala Frayza bersama mereka, ayahnya selalu mengacuhkan keberadaannya. Bahkan untuk bicara santai seperti ini saja, ayahnya beralasan sibuk. Setelah menjadi Walikota, sikapnya menjadi berubah.
“Tuan kenapa menceritakan rahasia penting hidup anda, apakah anda tidak takut kalau saya akan membocorkannya?”
“Namamu Frayza, dan aku sudah mengawasimu baik dirumah maupun di Butik. Kau anak yang rajin, tapi sayangnya. Dirimu mengingatkanku pada seseorang yang telah tiada dalam kehidupanku. Hiks... Hiksss... (Menyeka airmatanya) aku memiliki anak selain Franda dan Julian. Dia memiliki nama dan usia yang sama denganmu, dulu dia kabur dari rumah. Ini semua kesalahanku yang tidak pernah menyayanginya. Aku tidak pernah memberikan uang dan selalu menyuruhnya membantu perekonomian keluarga. Aku sungguh ayah yang egois.”
“Lalu dimana dia sekarang, kenapa Tuan Simon tidak menjemputnya saja.” Frayza berpura-pura tidak tahu.
“Dia sudah berada di langit itu.” Menatap awan kelam.
“Berarti dia sudah tiada?”
“Benar, dia tewas dengan cara yang mengenaskan. Bahkan aku sampai saat ini belum melihat pusaranya. Putriku sulung yang malang, harusnya aku dulu lebih memperhatikannya dengan baik hiksss...hiksss...”
Baru kali ini Frayza melihat ayahnya menangis dengan penuh penyesalan hidup. Seadainya bisa kembali ke wujud semuanya, pasti ayahnya tak berpikiran putrinya telah tiada.
“Tuan Simon, anda akan mendapat pesan dari surga. Bahwa Putri sulung anda sudah tenang disana. Anda boleh menyalahkan diri sendiri, tapi sebagai hukumannya jadilah ayah yang baik untuk Franda dan Julian sekarang. Tak apa Putri sulungmu menderita, asalkan Tuan sudah mau mengakui kesalahan dimasa lalu itu suatu keajaiban.”
“Pakailah baju ini, aku ingin kau memakai baju yang aku beli ini. Dulu aku tidak pernah membelikan baju untuknya semasa hidup. Putri sulungku selalu memakai baju bekas dari Franda. Karena jarak usia mereka hanya satu tahun saja. Kami sangat menyayangi Franda, karena Franda sejak bayi selalu menang kontes hingga dewasa. Sedangkan aku tidak melihat bakat dari Putri sulungku itu, kecuali dia mengerjakan pekerjaan rumah dan bekerja di Butik istriku.”
“Putri anda memang luar biasa, Tuhan sayang kepadanya. Makanya dia dipanggil lebih awal.”
“Terimakasih Frayza, aku mungkin keterlaluan memaksamu memakai ini semua semata-mata untuk menggantikan putriku yang tiada.”
Dengan polosnya Frayza mengambil tas belanjaan yang diberikan kepadanya itu. Tanpa dia sadari, didalam mobil Simon menyeka air matanya dan menyeringai. Ternyata Simon berpura-pura rapuh. Menjadikan cerita kelam Frayza sebagai senjata untuk merebut simpati gadis cantik yang kini tinggal dirumahnya.
Jam makan malam sudah tidak, istrinya masih sibuk bekerja dan Julian tidur dikamarnya. Hanya Simon yang duduk sendirian tiada yang menemani. Dia merasa kesepian dan berpikir untuk mengajak Frayza menemaninya makan. Dia berjalan menuju kamar Frayza. Saat dia membuka pintu, ternyata Frayza tengah menaikkan resletiny gaun yang diberikan olehnya. Simon yang terpesona dengan lekuk tubuh Indah Frayza ini muncul niat jahat untuk menggagahi gadis polos ini.
__ADS_1
“Kau sangat cantik, ayo layani aku!”
“Tuan Simon, apa yang kau lakukan padaku!” tangan Frayza menangkus wajah Simoj yang hendak menciumnya.
“Layani aku gadis murahan, aku sudah menampungmu. Jadi berikan balas budimu padaku!” Simon mengekang erat pinggang Frayza yang berontak.
“Tidakkk!!! Kau pria yang menjijikan, lepaskan aku atau aku akan berteriak.” Tidak mungkin Frayza memakai kekerasan fisik untuk melawan ayahnya.
“Ayolah sayang, kau pasti lama mendambakan sentuhan pria bukan? Jangan munafik, aku akan berikan apapun asal kau mau menyenangkan ku.”
“TIDAKKKKK TOLONGGG!!!!” teriak Frayza memohon bantuan.
Bug! Suara pantulan bola basket mengenai kepala Simon. Ternyata Julian yang melemparkan bola itu.
“Sudah aku duga, ayah pasti punya niatan buruk kepadanya. Jangan sentuh dia, mulai saat ini aku akan mengangkat kaki dari rumah terkutuk ini!”
“Hahaha bocah tengik, lalu kenapa bila aku mau mencicipinya terlebih dahulu. Memang kau tidak tergiur dengannya, ayolah Nak. Ayah tahu apa yang kau lakukan di Bali. Kau tinggal bersama wanita bayaran yang hamil dengan pria lain. Apa kau tidak bodoh, sekarang kita punya mangsa cantik. Ayah bisa membaginya denganmu jika kau mau?” otak Simon memang tidak waras.
“Ayah! Jika kau bukan ayah kandungku, sudah aku robek mulutmy pakai gunting. Ingat satu hal, aku tidak akan meniru perilaku binatang mu.”
“Julian oh Julian, kenapa kau tidak seperti ibumu yang membiarkanku sesuka hatiku. Dia tahu aku berselingkuh dengan banyak wanita. Tetapi kau lihat, dia bertahan denganku dan kami tidak bercerai.”
“Aku muak dengan ayah, kau sangat kotor dan menjijikan!”
“Apa kau bilang, dasar anak tengik tidak tahu diri. Beraninya kau bicara kotor kepada ayahmu!”
Simon memukuli Julian dengan benda-benda disekitarnya. Frayza yang melihat Julian menahan sakit akibat benda-benda mendarat di tubuhnya bertubi-tubi. Klek (mengunci tangan ayahnya agar berhenti menghujani pukulan) “Julian cepat pergi!” perintah Frayza.
“Tidak! Aku akan membawamu pergi.” Tak disangka ternyata Julian ingin menyelamatkan Frayza. Dia tidak peduli tubuhnya dipukuli ayahnya.
“Kau masuk kedalam mobil warna kuning. Aku mau ambil beberapa barang dikamarku, lalu jangan lupa cepat kunci mobil itu dari dalam. Dan kau diam bersembunyi!”
“Tapi kau jangan lama, aku takut ajundan ayahmu menangkapku.”
“Aku akan cepat kembali, kita akan pergi bersama. Percaya padaku ya, aku tidak akan berbuat jahat kepadamu.” Julian bergegas naik tangga menuju kamarnya.
Didalam kamarnya Julian mengambil beberapa barang mahal koleksinya. Dia juga masuk kedalam kamar tidur ayahnya, dibalik foto keluarga ada brangkas rahasia. Julian yang masih ingat kodenya, berhasil membukanya dan mengambil beberapa bindel uang. Dia menggasak isinya sebagian dan memasukkannya kedalam tas ransel besar. Ajudan ayahnya mencoba mendobrak kamar tamu. Julian mulai panik karena pintu sudah mulai auh karena ditendang paksa. Dia berbalik arah untuk mengambil jalur evakuasi. Dia meloncat dari jendelanya, dan berlari ke mobil kuning.
Brakkk... Brakkk... Menggedor kaca mobil. Frayza yang kaget melihat Julian menggebrak kaca.
“Pakai sabuk pengamanmu!” Frayza memakainya segera.
Para ajudan keluar melihat mobil kuning menyala mesinnya.
“Itu mereka!” teriak Ajudan yang memergoki Julian.
“Sial! Kita terciduk.” Julian panik gagal menyalakan mesin.
Saat genting ini ajudan ayahnya sudah berhasil mengepung mobil. Julian yang gugup sekaligus ketakutan ini panik. Dan Frayza melepaskan sabuk pengaman dan pindah di bagian kemudi. Dia duduk diatas pangkuan Julian yang gemetara.
“Hissss biar aku saja yang mengemudi!”
Frayza memutar tuas dan menginjak Gas. Dia membuat kepulan asap lewat knalpot, kebisingan terjadi karena Frayza membuat efek asap dari knalpot. Setelah ajudan lengah dan batuk-batuk, Frayza tancap gas mobil.
“Tangkap mereka, dia sudah mencuri uang dari brangkasku!” Simon memerintahkan ajudannya untuk mengejar Julian dan Frayza. Aksi kejar-kejaran di jalan Raya pun tak terhelakkan juga. Mereka meminta bantuan Polisi untuk menangkap mobil kuning itu. Saat masuk terowongan, mobil mereka dibelakang truk petikemas. Dan tiba-tiba pintunya terbuka otomatis. Frayza tak tahu apa maksutnya.
__ADS_1
“CEPAT NAIK!” ternyata Kenzo mengarahkan agar mobil yang dikendarai Frayza untuk masuk kedalam mobil petikemas.
Tak pikir panjang, dia menginjak gas dan berhasil masuk kedalam kontainer. Dan pintunya kembali tertutup rapat lagi.
“Kenzo, kau teman baikku.” Frayza memeluk Kenzo.
“Jangan berlebihan Nona, kita akan ke pelabuhan dan meninggalkan Negara ini.”
“Tidak bisa, aku akan tetap tinggal disini bersamanya. Kau ini siapa memangsanya main bawa pergi orang seperti paket barang!” Julian tidak terima dengan ucapan Kenzo.
“Kau akan kami turunkan di ujung jalan ini. Kami tidak butuh dirimu, jadi jangan ganggu urusan kami!”
“sombong sekali kau!”
Bugh (Kenzo meninju perut Julian) dan itu membuat Julian tersungkur kesakitan.
“Kenzo, aku tidak akan memaafkanmu!” frayza mendekap adiknya.
“Maaf-maafan pas Lebaran saja, anggap saja aku latihan senam jari Nona.”
Tiba-tiba mobil ini berhenti, kemudian Kenzo mengintip ternyata anak buah Simon berhasil menghadang mereka. Dan mereka menyuruh sopir untuk membuka isi kontainer tersebut.
“Hai Pak Tua cepat buka muatanmu sekarang!”
“Fluuuh... (Membuang permen loli yang dikenyotnya selagi menyetir)”
“Hai cepat buka, kami mau memeriksa barang apa yang kau bawa?”
“Kau pikir aku membawa apa?”
“Hais berisik orang tua botak, lebih baik kita hajar saja dia!”
Kenzo tidak bisa keluar untuk membantu Matsumoto yang diroyok ajudan Simon.
“Siallll, Ketua Matsumoto dalam bahaya. Dia dikeroyok, tapi pintunya dikunciiiiii!”
“Apa?” Frayza kaget ternyata sopr truk muatan kontainer ini ternyata Matsumoto.
Suara pukulan dan rintih kesakitan itu mulai reda, dan mobil truk ini kembali berjalan. Kenzo lemas, mungkin Ketua Matsumoto sudah habis dikeroyok massa. Kini nasib ketiganya pasrah hendak dibawa ke Simon untuk diadili.
“Hai, kalian bertiga cepat keluar!” ternyata Matsumoto masih hidup, mulutnya mengenyot permen loli. Dengan membuka pintu bak kontainer, membuktikan bahwa Matsumoto berhasil melumpuhkan ajudan Simon.
“Ketuaaaaaaaaa,” haru Kenzo melihat Matsumoto baik-baik saja.
“Hentikan bodoh, kau pikir aku ini apa? Aku bukan pria sakit, tapi aku masih normal!” menoyor jidat Kenzo.
Apapun itu, ajudan yang mengkeroyok Matsumoto dihajar habis-habisan oleh ketua geng agen keamanan. Mereka tak bisa menganggap enteng seorang Matsumoto. Walaupun seorang diri, dia bisa menang dengan ketrampilan bela dirinya yang sudah mumpuni. Mobil sudah berada di Pelabuhan, dan kapal sudah disiapkan. Mobil kontainer itu masuk, dan orangnya tidak ikut naik. Ternyata ini digunakan sebagai alibi saja, untuk mengalihkan pengejaran. Ternyata mereka pergi ke Kondominium The Golden Royal lagi.
*
*
*
Kejadian ini membuat Simon marah dan murka. Dia membuat alibi untuk membuat berita palsu perampokan dirumahnya. Dia juga menyebarkan sketsa wajah Frayza didaftar pencarian orang. Padahal yang mencuri barangnya ialah putranya sendiri, Julian.
__ADS_1
“Dasarrr kaporitttt, akan aku menghancurkanmu sampai habis!” geram Simon.