
SINGAPURA,
Keadaan sudah jauh berbeda, tak lagi sama. Ia tiba di Singapura seorang diri, ia tak punya sanak saudara. Ia mencari hunian untuk ia singgahi. Bahkan Frayza tak memiliki kontak telepon lagi. Ia seperti tersasar, padahal inilah tanah kelahirannya.
“Tuhan, terik sekali mataharinya.”
Frayza menyeka keringatnya yang bercucuran basah. Ia berjongkok di trotoar, seharian penuh ia berkeliling. Bahkan Frayza menahan lapar dan haus, untuk menghemat uang. Ia berjalan menyusuri jalanan Kota, dan duduk disebuak toko besar.
Sampai malam pun tiba, Frayza ketiduran dikursi tersebut. Ia panik mencari kopernya yang raib entah kemana.
“Tolong... Tolong...,” teriaknya.
Frayza meminta bantuan atas musibah yang terjadi pada dirinya. Ia akhirnya menyerah, dan tumbang ditengah keramaian.
__ADS_1
Berita ini cepat menyebar, dan sampai ditelinga Matsumoto. Bahwa Nyonya Alexander pingsan di trotoar. Ia mencari rumah sakit dimana ia dirawat. Namun, sekali lagi Matsumoto gagal menemukan Frayza. Karena kehilangan jejak Frayza, maka Matsumoto mengerahkan anak buahnya lebih banyak. Bahkan tak tanggung-tanggung juga, ia meminta bantuan polisi setempat.
Hilangnya Frayza ini membuat Matsumoto kalanh kabut. Ia tidak bisa tidur, setiap hari pekerjaannya memantau monitor. Menunggu kabar baik keberadaan Nyonya Alexander yang terusir.
Wanita yang tidak barnasib baik sepanjang sejarah hidupnya. Kali ini Matsumoto harus menemukan Frayza secepatnya. Kini hari sudah berganti, tak terasa sudah 2 hari Frayza belum ketemu juga. Dan sekarang statusnya dinaiikan menjadi orang hilang.
Berkat bantuan polisi, koper milik Frayza ditemukan. Tetapi dompet dan surat-surat milik Frayza belum juga ditemukan. Secercah harapan terus diyakini, supaya Frayza lekas ditemukan. Yang menyakitkan lagi, seorang pria tua yang memancing di tepian pantai menemukan sepatu wanita. Yang tak lain milik Frayza, tim SAR dikerahkan untuk menyisir lokasi kejadian. Dan akhirnya, Hikashi Alexander tiba ditempat ditemukannya sepatu milik Frayza. Ia merain benda yang sudah kotor penuh pasir. Ia memeluk erat sepatu milik Frayza, yang terakhir dipakainya. Hikashi seolah memeluk penuh kerinduan terdalam.
“Ada mayat!”
“Ketemu.”
Hati siapa yang tidak hancur mendengar kalimat yang menakutkan ini. Hikashi belum siap melihat jasad wanita terkasihnya. Iya, dia bersalah atas hal yang terjadi pada Frayza. Ialah yang sudah memblokir seluruh akses Frayza. Hingga wanita yang berakhir tragis itu kembali ke Singapura lagi. Tempat ia mengalami penyiksaan berkepanjangan.
__ADS_1
“CEPAT PANGGILKAN AMBULANS,” teriak Matsumoto.
“Dimana wanitaku?”
“Tuan, Anda sebaiknya jangan melihatnya.”
“Tunjukan jasadnya padaku Begundal!”
“Tidak Tuan,” isak Matsumoto.
“Frayza...”
Jatuh dan berlututlah Hikashi mendengar hal buruk menimpa Frayza. Ia tak mampu membayangkan beberapa hari ini hal apa saja yang sudah dilalui Frayza. Ya Tuhan, berikanlah Frayza hidup sekali lagi. Maka, Hikashi akan berjanji memperbaiki segalanya. Ia terlalu kejam dalam menghukum Frayza, beberapa tahun ini ia abaikan. Ternyata dunia ini sangat kejam terhadap wanitanya. Seharusnya ia menjaga Frayza selalu, sekalipun Hikashi ditolak keberadaannya. Dan kini ia hanya bisa meminta kepada Matsumoto untuk melihat jasad Frayza untuk terkahir kalinya. Hikashi meraung-raung mengiba, agar ia melihat langsung. Tapi anak buah Matsumoto memaksanya menjauh dari kejadian. Dan akhirnya Hikashi mengalami depresi atas musibah ini.
__ADS_1