
“Rose, terimaksih kau sudah banyak membantuku.”
“Sudah tugasku Julian, sekarang saatnya kau pergi berlibur di Pulau Dewata.”
“Rose, tanpamu aku mungkin tidak bisa mengambil keputusan besar dalam hidup ini.” Julian memeluk staff Kedutaannya.
“Sama-sama Julian, kau sudah memberikan masa depan yang baik untuk anak Indonesia yang terlantar. Terimaksih telah memperhatikan nasib anak-anak.”
Hari itu mungkin menjadi pertemuan terakhir Julian dengan Rose. Saatnya melanjutkan perjalanan menuju Bali menggunakan pesawat terbang. Angan-angan Julian tentang keindahan alam Bali sudah terbayang di khayalannya.
Sementara itu Frayza yang sedang menunggu Ramon menjemput wanita penghibur mulai bosan. Karena banyak lelaki kelas atas yang menjemput wanita pesanannya.
“Ciiih, kalau aku punya lelaki hidung belang seperti mereka sudah pasti aku potong dadu dan keberi makan pada ikan piranha.” Ramon yang berjalan dari belakang mendengar umpatan Frayza yang kesal dengan perilaku menyimpang pria.
“Apa kau lupa kalau dirimu sekarang adalah pria, berhenti menghujat kebutuhan biologis mereka.” Nampak dua orang gadis cantik mengekor dibelakang Ramon.
“Wanita dari mana lagi ini?” yang dimaksud asal wanita penghibur yang dibawa mereka.
“Mereka berasal dari Rusia dan Uzbekistan, cantik bukan dan masih muda ckkk.” Goda Ramon.
“Apa dulu kau sering memesan wanita?”
“Yang benar saja, sampai saat ini aku belum pernah menyentuh wanita. Sekalipun Digna itu kekasihku.”
“Hummbbbsss, apa?” terkejut.
“Sudahlah, kau pasti akan mengejekku bukan. Ayo kita antar tamu Tuan Hikashi, sebelum ketua Matsumoto menghukum kita.”
Hampir seminggu ini Hikashi sering memesan wanita penghibur untuk melayani dirinya. Wanita yang ketika dijemput berwajah cerah dengan balutan baju terbuka. Namun, saat kembali sudah murung dengan tatapan kosong. Tak jarang mereka keluar dengan rambut acak-acakan, serta tubuhnya terbalut selimut yang menutupi tubuhnya.
Setelah tiba di kediaman mewah Hikashi, gadis itu sudah dijemput pelayan wanita yang sudah paruh baya. Disinilah tugas Ramon dan Frayza berhenti. Selanjutnya wanita penghibur itu akan menemani Hikasi hingga diijinkan untuk keluar dari kamarnya.
“Hai bodoh!” kejut Ramon yang memperhatikan wajah mengekerut Frayza.
“Heeeehhhh penggangguan ya, orang lagi melamun kau rusak hih.” Tepis tangan Ramon yang menggangumu pandangan Frayza.
__ADS_1
“Sebaiknya kau jangan memperdulikan hobi majikanmu tahu, ayo kita bermain Hanggar. Sudah lama ototku kaku karena kurang berkelahi.” Meraih leher Frayza.
“Ettttssss eiittssss... Tunggu... Tunggu kau menarik keras leherku!” Frayza terhuyung-huyung mengikuti Ramon membawa tubuhnya pergi.
Dari dalam kamarnya, Hikasi menyibak tirai kamarnya melihat keakraban pesuruhnya. Dan Matsumoto yang berdiri di sekitar Hikashi tengah menunggu aba-aba dari tuan mudanya.
“Siapa yang bersama Ramon?”
“Dia berkata kalau masih sepupunya.”
“Siapa namanya?”
“Fred, Fred namanya Tuan Muda.”
“Hemmmb menarik sekali.” Mengusap bibir bawahnya yang basah.
Mata Matsumoto sedikit menyincing untuk mengintip pandangan mata Hikashi. Tentang hal yang menarik perhatian tuan mudanya yang dingin. Pintu kamar diketuk, tanda pertunjukan menarik akan segera dimulai.
“Tuan muda, pesanan anda sudah siap.”
Kedua gadis yang cantik-cantik seperti model kelas dunia mulai melancarkan aksinya dengan mencumbu Hikashi yang masih memegangi tirai warna hitam. Sedangkan Matsumoto mencampurkan serbuk kapsul obat dalam minuman. Dan menyuguhkannya kepada kedua gadis itu, agar menenggakannya sampai terminum habis. Alhasil kedua gadis itu sangat bergairah dan memuncak birahinya. Ketika mereka hendak menggerayangi tubuh Hikashi, Matsumoto menghalanginya dengan pedang Katana yang tajam.
“Jika kalian menginginkan tubuh Tuanku yang sangat berharga, maka kalian harus saling menyiksa satu sama lain.” Kedua gadis itu saling menatap penuh hasrat yang bergejolak.
Tanpa pikir panjang, keduanya saling Serang, mencakar tubuh satu sama lain, gigi mereka digunakan untuk saling mengigit karena sudah terpengaruh obat perangsang dosis tinggi. Sampai akhirnya salah satu diantaranya pingsan karena tak kuat disiksa oleh lawan mainnya. Dan pemenangnya mendekati Hikashi, dan menciumi bibir merah merekah lelaki bangsawan dengan penuh nafsu.
*
*
*
Di aula olah raga ini yang biasanya digunakan latihan, Ramon terus menyerang Frayza dengan kekuatan penuh. Frayza yang kewalahan dengan serangan Ramon yang bertubi-tubi harus kalah pada beberapa ronde pertamanya. Bahkan ketika hendak istirahat Ramon melaranganya.
“Hai, aku juga lelah dan capek! Apakah minum saja aku tidak boleh hossshhh hoosssshhh hosshhh.” Nafasnya beradu cepat dengan bercucuran keringat.
__ADS_1
“Hooossshhh...hossshh sekali lagi Fred, ayo ambil pedangmu.” Melemparkan pedang ke lantai dekat kaki.
“Hhhhaaaa aku capekkkk, mau istirahat sebentarrrrr.” Teriak frayza minta rehat.
“Payah kau payahhhhh, huuuu.” Ejek Ramon supaya Frayza tersulut emosinya lagi.
Sluuttt, melempar botol minumannya. Ramon berhasil menepis botol tersebut dan tiba-tiba hap. Tangan milik orang lain menangkap botol bekas minuman Frayza.
“Tutututut-an Hisashi?” Frayza takut setengah mati. Alih-alih melempar ke Ramon malah nyasar ke Hikashi majikannya.
Krepeess...botol itu diremas dan gepeng, Frayza dan Ramon dalam cengkeraman orang terkejam. Dan muncullah pengawal dari belakang yang menyusul Hikashi sekarang.
“Sssssttt... Kita dalam bahaya,” bisik Ramon.
“Kau sih yang pancing-pancing aku, jadinya begini bukan.”
Hikashi duduk dan menarik jarinya agar kedua pesuruhnya yang usil itu mendekat.
“Kalian berdua kemari dan berlutut.” Perintah itu dituruti Ramon dan Frayza.
“Milik siapa?” tanya Hikashi memainkan remahan botol minuman.
“Ssssaaassssaaaayya tututtuuuuuuaaannn,” jawab Frayza ketakutan..
“Kau boleh pergi, dan hanya dia yang diijinkan tetap disini.” Matsumoto memerintahkan agar segera mengosongkan hanggar dengan segera.
Saat semuanya pergi, Frayza ketakutan karena hanya ada Hikashi dan Matsumoto bersama dengan dirinya. Hendak meminta belas kasihan untuk kabur adalah jalan keluar yang sedang ia pikirkan caranya.
“Ambil pedangmu dan berdiri lagi disana!” perintah Matsumoto kepada Frayza.
Gadis itu mengangguk dan menuruti perintah ketua pengawal dengan cekatan. Setelah dia selesai memakai helm pelindung wajahnya, Frayza baru menyadari bahwa Hikashi sudah memakai baju zirah yang sama kini ia kenakan.
“Jika kau bisa mengalahkan tuan Hikashi, kau boleh mengambil salah satu mobil koleksinya.” Sebuah penawaran yang sangat menarik tapi sekaligus berat.
Keduanya mulai beradu pedang dan strategi pertahanan diri dari serangan lawan. Hikashi yang sudah bermain dengan wanita tenaganya seolah tak habis-habis. Frayza yang sisa-sisa tenaganya usai berlatih dengan Ramon setengah mati mempertahankan pertahannya. Namun sayang, berkali-kali dia harua kalah dan terbanting di lantai.
__ADS_1