TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
OTAKKU YANG MESUM PARAH


__ADS_3

“Selamat pagi Suamiku,” menyapa Hikashi di meja kerjanya.


“Pagi Sayang, bagaimana tidurmu?”


“Lelap sekali, ranjangnya sangat nyaman dan hangat.”


“Aku meminta Kenzo mencarikan perabot secara dadakan agar kita segera pindah ke rumah baru kita. Jika ada yang tidak kau sukai, beli saja yang baru hehe.”


“Sayang, kau tidak sedang marah kepadaku kan? Karena ranjang kita baru sekali kita pakai. Dan diluar perabotan baru masih terbungkus kardus belum sempat dibuka.”


“Tidak Sayang, aku hanya kau nyaman saja. Aku tidak tahu seleramu gaya apa. Jadi kalau kau tidak cocok, ganti saja.”


“Semua barang dirumah ini mahal bukan, kenapa aku tidak bersyukur dengan berterimakasih karena memiliki suami yang.”


“Kemarilah (Frayza berjalan mendakri Hikashi duduk). Pagi ini aku haus berangkat keluar Negeri,salah satunya ke India dan Afrika Selatan. Mungkin aku tidak ada disampingmu untuk waktu yang lama. Aku mohon kepadamu jaga dirimu, seperti saat ini aku ada.”


“Sayang, bawalah aku ikut bersamamu. Jika kau khawatir denganku, aku bisa ikut bersamamu.”


“Tidak Fray, ini terlalu beresiko. Aku berada di Negara yang rawan konflik. Dan aku tidak bisa membawamu dalam kondisi sakit. Sembuhlah dahulu ya Sayang, doakam saja semua pekerjaanku agar beres. Jika aku sulit dihubungi, kau tidak boleh berpikir macam-macam ya. Lingkunganku tidak jauh dari wanita dan pesta. Karena relasi kerjaku dan tuntutan pergaulan.”


“Kau punya wajah yang tampan dan kaya, wanita manapun pasti rela menyerahkan dirinya secara sukarela.”


“Ck, Istriku kau sepertinya kecewa ya karena beberapa hari ini aku tidak menyentuhmu. Tenang saja, ketika aku kembali nanti aku akan memuaskanmu. Bahkan kalau perlu kita tidak usah turun ranjang.”


“Hikashiiii,” menggigit pundak suaminya.


“Aisshh galak sekali,” mengusap pundaknya.


Frayza meninggalkan Hikashi yang masih sibuk mempersiapkan materi pekerjaannya. Dia mandi dan merias dirinya seperti wanita anggun kalangan atas. Mulai dari riasan wajah, tatanan rambut yang bergelombang dan baju selutut dipenuhi renda bunga. Frayza mulai memakai sepatu berhak 5 cm yang tidak tinggi. Sembari berjalan pelan menuruni anak tangga. Dia berpegangan erat dengan teralis tangga. Pelayan dirumahnya tidak ada satupun yang melintas. Rumah ini seolah diisin dirinya dan Hikashi.


Sampai terdengar suara mobil berhenti di halaman utama. Beberapa staff datang bersama Kenzo masuk kediaman Hikashi. Mereka tampak sangar memakai setelan ala eksekutif muda yang bersiap mengawali harinya. Aroma parfum mereka yang energik dan segar membuat semangat siapa saja yang menghirupnya.


“Selamat pagi Nona, kami datang menjemput Tuan Hikashi.”


“Dia berada di ruang kerjanya.” Mereka menuju ruangan Hikashi berada.


Frayza melihat anak buah suaminya begitu kaku dan dingin, hanya ramah saat menyapa saja. Itu adalah aturan wajib yang dikeluarkan oleh Hikashi. Dia duduk di meja makan, menunggu Hikashi sarapan bersamanya. Roti panggang diolesi slai coklat dan madu. Sudah ada seduhan teh lemon panas untuk menghangatkan badan.


“Teh lemon bagus untuk perutmu, habiskam ya.” Hikashi ikut bergabung di meja maka. Ia mengendurkan dasinya dan meletakkan sapu tangan dipahanya.


“Hehehe,” melempar senyum canggung kepada suaminya yang sudah klemis tatanan rambutnya. Sejak menikah poni Hikashi tak lagi menjadi gayanya, sekarang ia memamerkan jidatnya yang mempesona. Katanya agar aura bijaksanya semakin terpancar.


Sebernarnya Frayza sangat ingin bercengkrama dan bercerita dengan Hikashi seperti pasangan suami-istri. Tapi Hikashi diam dan mengunyah makanannya. Dan Frayza harus berhenti makan, ketika Hikashi sudah selesai sarapan.

__ADS_1


“Sayang, aku sudah selesai sarapannya. Ayo kita ke kamar!” tiba-tiba Hikashi mengajak ke kamar? Yang benar saja, ini kan masih lagi. Dan katanya mau pergi ke luar Negeri juga. Tapi kok ngajak di kamar? Wah ajakan Hikashi ini mengisyaratkan mengajak sesuatu hal baru ia bahas.


“Tapi inikan masih lagi Sayang, dan sebentar lagi kau akan pergi. Kenzo sudah menjemputmu bukan?”


“Ayo kita ke kamar,” menarik jari Frayza dan menariknya untuk masuk ke kamar.


Pikiran Frayza sudah tidak bisa diajak polos lagi, saat ini dia takut kalau lukanya nanti robek lagi. Dadanya bergetar dan keringatnya mulai dingin. Hingga akhirnya Hikashi menempelkan jempolnya di kunci kamar. Frayza mengambil napas dalam-dalam, dirinya tidak boleh menolak keinginan Hikashi. Karena suaminya sedang ingin bercinta pagi ini. Setelah pintu terkunci, Hikashi melepaskan dasinya. Dan Frayza mulai membuka resleting bajunya hingga setengah terbuka.


“Kau mau apa?”


“Melayanimu?”


“Aku minta kau pasangkan dasi untukku, apakah harus dengan buka baju?”


“Sayang, kau bilang apaaaa?”


“Aku memintamu untuk memakaikan dasiku, tadi kotor das remahan roti yang menempel. Tolong pakaikan dasi baru,”


Ya Tuhan, Frayza kau ini sungguh memalukan. Makanya kalau ada apa-apa jangan langsung ditancap gas. Dengarkan dulu perintah suamimu, jangan ambil inisiatif yang salah. Jatuhnya malu sendiri bukan, Hikashi menahan tawanya bila kau teringat Frayza melucuti bajunya. Benar-benar memalukan kejadian pagi ini, tidak mungkin juga kan Hikashi bermain sebentar untuk hal itu. Dan Frayza juga sudah mesum pikirannya.


“Su~~~~dah, berhenti menertawakan aku.”


“Pffffftttt,” Hikashi menahan rasa gelinya.


“Eh mana ara, aku kan tidak minta kau buka baju. Benarkan dasiku Sayang, bukan lepas baju. Pelayanan suami itu tidak diatas ranjang saja, kau harus tahu. Kalau kewajibanmu yaitu melayaniku mempersiapkan penampilanku. Hahahahaha kau membuatku sakit perut hahaha.”


“Sayang!”


“Iyaya pakaikan saja yang benar dasinya, aku akan mendongak keatas.”


Dasi baru sudah terpakai rapi, sekarang Hikashi sudah bersiap memantaskan penampilannya di depan cermin besar. “Wah tampan sekali pria ini, tubuhnya luar biasa seperti model pakaian kelas dunia.” Gumam Frayza menelan salivanya.


“Sayang, apakah jam tanganku ini sudah cocok dengan jasku?”


“Sangat serasi, tapi tunggu apa ini?”


“Oh ini berlian, setiap jam tangan mahal terbuat dari lapisan emas dan butiran berlian. Oleh karena itu harganya sangat mahal, kau suka?”


“Tidak, itu mahal. Bahkan seumur gajiku menjadi pengawal tidak akan mampu membelinya. Kenapa kau sering memakai barang mahal?”


“Kau salah, aku membeli kwalitas barang yang terbaik. Harga mahal belum tentu terjamin mutunya, tapi kalau barang berkwalitas sudah pasti bahan bakunya mahal.”


“Owh, apalah dayaku yang memakai barang Bagus dari seragam saja.”

__ADS_1


“Aku berikan kartu tanpa batas ini untuk memenuhi keperluanmu. Gunakan dengam bijaksana, aku lihat kau sangat cocok berpenampilan feminin seperti ini. Seperi istri konglomerat Sayang, kau sangat cantik pagi ini Istriku.” Hikashi memuji penampilan Frayza yang baru.


“Sayang, selesaikan pekerjaanmu ya.”


“Iya Sayang, aku akan segera membereskan pekerjaanku. Jangan manja begini ya, nanti aku mundur dari jadwal berangkat ku. Biasanya kalau suami mau pergi berdinas apa yang mereka lakukan?”


“Haaa maksutnya? “


“Sejak aku menikah, aku harus memiliki kebiasaan baru bersama istriku. Kita harus saling memiliki andil dalam perjalanan hidup pasangan masing-masing. Karena dulu semuanya Matsumoto yang menyiapkan dan merapikan keperluanku.”


“Oh begitu ya sayang, kau mau membawa apa dari rumah?”


“Tidak tahu, semuanya sudah ada disana. Aku sendiri bingung harus membawa apa untuk ku bawa.”


“Kalau begitu bagaimana kalau kita membuat kebiasaan baru.”


“Apa? “


“Kita berfoto bersama sebagai kenang-kenangan obat rindu. Jadi, Sayang kita akan memiliki kisah sendiri.”


“Aku tidak suka beswafoto Sayang, itu norak.”


“Oh begitu ya, padahal aku tidak punya foto berdua denganmu. Apa kau tidak mau melihat kebersamaan kita, misalnya.”


“Baik-baik ayolah, aku turuti kemauan. Istriku ini.”


Sejak dahulu Hikashi paling benci dengan foto-foto. Karena dirinya selalu dikejar-kejar oleh paparazi. Tapi demi keinginan istrinya, akhirnya dia mau juga. Walaupun wajahnya kaku tanpa senyuman. Tapi itu tidak masalah bagi Frayza, Hikashi sudah berusaha.


“Sayang, sudah saatnya aku berangkat.”melihat jam tangannya.


Frayza memeluk suaminya dan menghirup wangi aroma khas Hikashi. Rasanya Frayza tidak rela melepaskan burungnya ini terbang keluar dari sangkarnya. Dunia yang akan diarungi suaminya begitu luas. Frayza memiliki kecemasan seperti layaknya wanita yang sudah menikah. Takut suaminya tergoda wanita yang lebih mempesona darinya.


“Jangan nakal ya!”


“Hehehe kau ini bicara apa sih, aku sebelum bersamamu sudah memiliki banyak selir. Kenapa, kau taku ya?”


“Jangan memancing emosiku atau aku kabur lagi!”


“Kau mau kabur? Ku pastikan kakimu sudah menjadi sirip ikan. Awas saja kalau kau berani meninggalkanku!”


“Menakutkan sekali ancamanmu, dasar!”


“Makanya, aku sudah serius denganmu. Jangan sepelekan pengorbananku, aku ingin menjadi lelaki yang menjadi cintamu. Akan ku berikan karma yang buruk kalau kau berani melanggar sumpah dan janji pernikahan kita. Bahkan neraka sekalipun aku tidak takut.”

__ADS_1


Bukan main ancaman Hikashi, tapi inilah yang menjadi keistimewaan Frayza. Bisa menaklukan hati seorang Hikashi dan menjadi Setia. Seorang istri yang mengantar suaminya sampai pintu rumahnya. Melambaikan tangan dengan mata berkaca-kaca mengiringi Hikashi. Padahal di dalam mobil Hikashi tersenyum sembari melihat foto Frayza ngiler ketika tertidur semalam. Keisengan suami yang patut diapresiasi karena mengambil gambar aibnya.


__ADS_2