
LONDON, INGGRIS.
Musim panas akan tiba, sekarang masih berada di musim semi yang Indah. Udara yang segar, serta aroma bunga yang bermekaran. Menyejukkan jiwa yang usai terjaga dimalam hari. Lima tahun sudah sejak tragedi kematian Franda. Hubungan Hikashi dan Frayza bak orang asing, mereka saling memblokade diri masing-masing.
Di Jepang, Frayza bekerja di sebuah galeri kesenian milik keluarga istana. Berkat bantuan Takeshi, sepupu yang masih peduli keadaannya. Mengenai pengelolaan Butik, sudah diserahkan sepenuhnya kepada Helena. Artinya, Frayza tidak mau lagi bekerja disana lagi.
“Jadi Paman Takeshi yang menjaga Mama dan Seven selama ini?”
“Benar Tuan Muda.” Jawab Patrick, pengurus keluarga Alexander yang sudah menunjukkan tanda penuaan umur.
Rambutnya sudah memutih, tubuhnya mulai menyusut otot-otot kekarnya. Suaranya sudah berat dan serak basah, karena faktor gangguan kesehatan pula. Didepannya duduklah pria muda nan tampan. Dengan kimono terbuka lebar bagian dadanya. Jade sudah menjelma menjadi eksekutif muda di Perusahaan. Serta menjadi mahasiswa di Perguruan tinggi terbaik di Inggris. Ia sengaja mengambil beberapa kelas yang disesuaikan jadwalnya masing-masing. Ini karena tuntutan Hikashi yang ingin Jade ikut turun tangan mengambil andil dalam pendidikan & meneruskan kerajaan bisnis ayahnya.
Sejak sekolah, Jade tidak memiliki waktu untuk bersantai. Seluruh waktunya digunakan untuk belajar dan mendampingi Hikashi. Tak jarang juga, kolega bisnis & hobinya menyebutnya Pangeran Alexander. Karena mirip dengan Hikashi muda. Jade sangat ramah dan penyayang, dibeberapa yayasan ia menjadi donatur tetap. Namanya semakin mentereng di jajaran anak muda berpengaruh dalam negeri. Tak jarang, banyak gadis-gadis ingin berkencan dengan Jade. Namun, pengawalan super ketat tak akan mudah menjangkaunya.
Jade sangat tampan, memiliki mata yang tajan berwarna kehijauan mirip seperti Hikashi, warna rambut kemerahan, serta kulit kuning bersih khas Asia Timur. Bibir tipisnya yang merah mereka, ditumbuhi kumis tipis membuatnya menjadi pria jantan diusianya. Pakaian terbaik yang ia kenakan menandakan kasta keluarga yang tinggi setiap hari dilayani para Pelayan pria. Yang bertugas untuk mengerjakan segala perintahnya. Hobi memelihara satwa dan tumbuhan masih ia lakoni, untuk menghilangkan setres. Walaupun ia hidup berlebihan materi, namun Jade tidak serta merta buta membeli kendaraan mewah. Ia nyaman mengendarai mobil milik Hikashi. Menurutnya, akan lebih bijak jika uang untuk berfoya-foya. Dipergunakan untuk amal & beasiswa pendidikan.
“Nyonya tidak mau menerima kado, Tuan Muda.”
“Baiklah, jangan kirimkan apapun lagi kepadanya. Mungkin, sudah saatnya Mama harus dipaksa!” Jade berdiri dan menyudahi acara sarapan ditaman.
“Lalu kado apa yang akan Tuan Muda Jade berikan di ulang tahunnya ini?”
“Tentu saja, aku yang akan menjadi kado ulang tahunnya.”
“Tapi Paspor Anda disita Tuan besar?”
Sambil menepuk bahu Patrick “Tenanglah, kedua orang tuaku akan berdamai dengan caraku.”
“Apakah Tuan Muda memiliki rencana?”
__ADS_1
“Pagi ini temanku berjanji mengajariku naik mobil super cepat di sirkuit. Kau ikutlah bersamaku,” mengernyingkan bibir tipisnya. Ya Tuhan, kenapa anggota keluarga Alexander ini tampan semua sih.
Lampu diruang operasi masih menyala, Hikashi berlari hingga depan pintu. Patrick menjelaskan kronologi kecelakaan yang menimpa Jade. Ia menolak memakai helm keselamatan. Akhirnya kepalanya mengalami benturan dan mengenai pecahan beling.
Hati Hikashi seolah tersayat-sayat, di Inggris ini. Hanya Jade satu-satunya keluarga yang bersamanya. Jika nyawa Jade tidak terselamatkan, maka ia akan menyusul putranya itu pergi. Namun, Dokter memberikan saran yang baik. Agar Jade melakukan rekonstruksi wajah ulang. Mereka menyarankan ke negara Korea atau Jepang. Jelas, Hikashi memilih Korea. Ia bersumpah tidak akan menginjakkan kakinya lagi di Jepang. Usai perselisihan dengan Frayza, atas kematian Franda. Ia juga sudah menghapus rasa Cinta kepada wanita itu. Menurutnya, Frayza sudah tiada didunia ini. Memang kejam, tapi inilah bentuk rasa sakit Hikashi yang dimentahkan Frayza.
Sesuai saran Dokter, keadaan Jade cepat stabil dan memungkinkan segera diterbangkan ke Korea. Hikashi menyanggupinya, ia meminta Kevin mengambil alih urusan Perusahaan selama beberapa hari. Karena Hikashi ingin berkonsultasi dengan Dokter bedah plastik terbaik di Negeri Raja Seojon tersebut.
“Tuan Hikashi, semua laporan akan saya kirim secara berkala setiap jam nya.”
“Bagus.”
“Dan beberapa staf ahli akan turun kelapangan untuk meninjau proyek yang sedang dibangun.”
“Kerjakan!” sambil berjalan menuju pesawat pribadinya.
Kevin mengantar sampai tangga naik pesawat, ia melihat mobil ambulan sudah diangkut naik juga. Artinya ia harus meninggalkan landasan pacu ini secepatnya. Semoga Jade memperoleh keajaiban dan lekas sembuh.
KOREA SELATAN,
Tuhan memang Sutradara terbaik bagi manusia, disaat yang bersamaan. Pesawat dari Jepang mendarat di Bandara, dan pesawat pribadi Hikashi juga tiba. Walaupun mereka melewati jalur pintu yang berbeda. Namun, perasaan yang ada di hati membuatnya merasakan hal yang sama. Disini, diatas bumi yang dipijak ini pula. Hikashi dan Frayza seolah dipertemukan ulang oleh Tuhan. Mereka berpapasan saling tak mengenali. Diantara kerumunan umat manusia ini, masing-masing sibuk dengan dirinya sendiri. Dan keduanya naik mobil yang membawanya ketempat tujuan yang berbeda. Entah hati siapa yang masih merasakan degub jantung yang kerasa. Tapi, keduanya seolah merasakan kegelisahan yang tak bisa dijelaskan lagi.
Rencananya Frayza tinggal di rumah Helena, selama mengunjungi Seven. Saat ini Seven menjadi duta pertukaran pelajar antar dua negara. Karena rindu, makan Frayza menyusul putranya ini. Kebetulan sekali akhir pekan akan tiba saatnya untuk pergi keluar bersama menghabiskan waktu dan rindu.
“Tuan Alexander?” ucap lirih Helena yang matanya terbelalak. Wanita itu mengikuti Hikashi yang baru saja keluar dari Apotek.
Mobil pribadi yang dikendarai Hikashi sudah menjauh. Ia tidak salah lihat, karena ia sempat meminta info dari petugas Apotek. Jika benar nama orang yang menebus obat itu Hikashi. Berarti saat ini, kuasa Tuhan sedang turun tangan. Helena kembali masuk kedalam mobilnya, tak habis pikir jika kedatangannya di Korea tak diliput media. Bahkan tak terendus oleh media gosip sekalipun. Apakah Hikashi memiliki wanita yang dikencani secara diam-diam? Ah, pikiran Helena ini kotor sekali.
“Kau pulang?” tegur Frayza yang berada didapur memasak.
__ADS_1
“Iya,” jawabnya lemas.
“Kenapa kau loyo?”
“Tidak,” menggelengkan kepalanya.
“Ayolah, kau tidak seperti ini biasanya.”
“Ayo cerita padaku, slruuuuup... Ah.” Menyesap kopi panas.
“Frayza, apakah kau percaya tentang kesetiaan seorang pria?”
“Tidak,”
“Dengan Tuan Hikashi juga?!”
“Hu’um, kami sudah selesai Helena. Sudah tidak ada yang perlu di sang ku tp pautkan lagi. Hidupku sudah nyaman dan bahagia, tidak ada prahara pelik.”
“Jika suatu hari diberita ada artikel Tuan Hikashi berkencan, bagaimana?”
“Ha-ha-ha-ha biarkan saja, itu hal normal.”
“Kau ini, bukan wanita normal.” Protesnya.
“Aku sangat paham jika pria tak bisa hidup tanpa wanita, tapi tanpa pria pun. Wanita bisa menjalani hidupnya dengan baik, bukan?”
“Hembb... Tapi semoga hal itu tidak akan pernah terjadi.”
“Aku tidak peduli, jangan pernah bahas nama orang itu lagi. Dadaku sehat saat turun dari Bandara, sejak kejadian pembunuhan itu. Dadaku rasanya sakit setiap hari di Jepang. Jadi, biarkan aku memaksa Tuhan. Kali ini saja agar bisa bahagia disini.”
__ADS_1
“Semoga ucapanmu ini dikabulkan Tuhan Frayza, sudahlah kalian makan malam saja berdua. Aku mau tidur lebih awal karena besok peresmian Butik baru lagi.”
Helena merasa jika Frayza terlalu membenci Hikashi atas kematian Franda. Jika dikatakan perbandingan takaran berat Cinta & benci, sangatlah tipis. Bahkan bila emosi dan ego ikut andil, sudah dipastikan hubungan akan berakhir.