TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
MISI PERDANA


__ADS_3

“Aku benar-benar bangga dengan kegigihanmu berlatih Fred.”


“KAPTEN...” matanya terasa pedih mendengar ucapan langsung Kapten pelatihnya.


“Aku yakin kau akan lulus lebih cepat, cepat ganti bajumu. Esok pagi kita akan berlatih menembak.”


“Baik Kapten,”


Mulailah kesibukan mengantri mandi dan persiapan pagi, seluruh Prajurit sudah berbaris rapi. Mendengarkan arahan dan teori cara menjadi penembak jitu yang handal.


“Fokuskan target kalian pada titik yang terpusat. Ingat, mata pelurumu adalah tanganmu. Jadi dia mewakili segenap kekuatanmu. Jangan terkecoh oleh keterbatasan kemampuan diri. Menembak target yang diam itu mudah, maka dari itu. Aku akan melepaskan burung sebagai targetnya, ini akan menjadi sulit. Mengingat kelak kalian akan berperang melawan pasukan yang lebih hebat. Tapi kalian tidak boleh takut karena keterbatasan, yakinlah semua targetmu bisa dilumpuhkan.”


“Siap Kapten!” dijawab serempak.


Darrr... Derrr...dorrr, suara pistol dan alat tembak yang bersahutan memecahkan pendengaran.


*


*


*


“Haduuuhh badanku sakit semua,”


“Rasanya tubuhku mulai demam karena terforsir untuk latihan militer ini.”


“Bayangkan saja, waktu aku gagal memutus kabel bomnya. Untuk ledakannya palsu, coba kalau meledak asli pastu aku sudah jadi daging kaleng pasta.”


“Hehehe, kalian mengeluh pada ujian akhir militer. Apa kalian tidak ingin melihat hasil ujian kelulusannya?” ungkap Frayza dengan wajah ceria.


“Fred, apa hasil pengumuman ujiannya sudah keluar?”


“Lihat saja di papan pengumuman, sudah keluar daftar nama-nama yang lulus.”

__ADS_1


Teman-temannya yang berada dalam satu kompi keluar dari asrama berhamburan keluar. Sorak sorai mereka riuh terdengar, karena dinyatakan lulus. Frayza tersenyum dari balik jendela menyaksikan suka cita teman-temannya. Dan hari ini dia akan mengemasi barang-barangnya. Karena Kapten sudah memerintahkannya untuk bertugas di lapangan sebagai mata-mata untuk tugas Negara.


“Apakah kau sudah mengemasi barangmu Fred?”


“Siap, sudah Kapten!”


“Kau berangkatlah ke sebuah bangunan kuno. Tunggulah disana, nanti ada orangku yang akan menjemputmu.”


“Baik, siap laksanakan Kapten!”


Dirinya ingin sekali mengucapkan selamat dan berpamitan dengan rekan sejawatnya. Namun, harus diurungkan karena tugas Negara sudah menanti. Diperjalanan menuju tempat yang disepakati, tampak bangunan kuno yang dipenuhi semak belukar.


“Kami hanya bisa mengantarkanmu sampai sini Fred, selanjutnya kau harus berjuang bertahan hidup.”


“Baik Kapten!”


Mobil yang mengantarnya sudah pergi, selama dua jam dia sendirian disana. Cuaca yang terik ini sangat menguras cairan dalam tubuhnya, ketika dia mulai lelah. Ada bayangan dari belakang yang menyergapnya. Dengan sigap siap memutar tangan hingga pergelangan lengan orang tersebut terkunci.


“Akhhh... Akh... Ini aku!” aku pria yang dari arah belakang.


“Le... Lepaskan dulu kuncianmu.” Rintih Ramon kesakitan.


“Oh maaf,” Frayza melemparkan tubuh gontai Ramon.


“Kau sekarang sudah menjadi pria sungguhan ya. Tenagamu sangat kuat, hingga aku merasakan sakit. Makan apa saja kau disana?”


“Batu, besi kadang aku minum sup baja untuk menguatkan otot dan tulangku.”


“Asal jawabnya saja!” protes Ramon.


“Kenapa kau datangnya lama sekali?”


“Apa? Aku sejam datang lebih awal dari kedatanganmu kemari, aku sengaja bersembunyi di mobil boxs itu. Untuk mengawasi gerak gerikmu, ternyata kau sudah berwujud pria saja. Tidak ada unsur wanita-wanitanya.”

__ADS_1


Dugh, Frayza menendang kaki Ramon yang kesal sudah mengerjainya lama.


“Aduuuuhhhh, hai kau main kekerasan ya!”


“Itu imbalan untuk orang telat,”


“Ini adalah kekerasan, aku hanya memantaumu di dalam mobil.”


“Iya, dan kau membiarkanku kehausan dan kepanasan diluar sini. Sungguh kau teman yang tidak ada manis-manisnya.


Dari atas gedung kosong itu, ada sosok lelaki yang diam-diam mengamati pergerakan mereka berdua. Percakapan keduanya juga terdengar jelas ditelinganya. Namun, keberadaan pria misterius itu tidak disadari oleh Ramon dan Frayza.


*


*


*


Di sebuah pusat perbelanjaan terlengkap kota Bangkok. Ramon membawa Frayza untuk menyempurnakan penampilannya.


“Sebelum kita terbang, kau harus merapikan dulu penampilanmu.”


“Apa kau bilang, terbang?” terkejut.


“Iya, kita akan terbang malam ini.”


“Kenapa secepat ini, aku belum merasakan liburan dan tidur nyenyak selama 4 jam. Kau sudah mau merenggut kebebasanku?”


“Jangan bawel, aku sudah menyiapkan segalanya. Kau bisa tidur diatas pesawat. Karena pestanya akan berlangsung ketika kita sudah mendarat. “


“Pesta? Pesta apa yang kau maksutkan?”


“Hehehe sebuah pertunjukan yang spektakuler untuk tugas perdanamu. Bersiaplah!”

__ADS_1


Entah pesta yang menghibur atau pesta yang dimaksut Ramon adalah misi tersembunyi. Yang jelas, Frayza bingung dengan situasinya yang serba mendadak. Dan anehnya lagi, Ramon tidak menceritakan kabar mengenai Digna kekasihnya. Ada apa yang sebenarnya terjadi selama ini. Dunia seolah sudah berubah begituan cepat, untuk Frayza yang berada di Pelatihan Militer.


__ADS_2