
• RAPAT,
Dewan Direksi dan penanggung jawab sudah memasuki ruangan guna melakukan audisi siapa yang akan menjadi duta produk.
“Aku yakin diriku pasti menang.” Memoleskan pemerah bibir.
“Pandangan mereka pertama kali adalah dada yang sempurna tidak kendor. Dan aku memilikinya.” Unjuk dada depan cermin.
“Hasil operasi tidak perlu dibanggakan.” Memerahkan pipinya dengan kuas.
“Percuma tubuhmu Bagus, tapi olahan banyak tangan pria. Dannis San hehehe.”
“Cih tahu apa kau tentang pekerjaanku. Itu adalah seni untuk orang dewasa. Aku yakin pacar dan suami kalian membayangkan wajahku saat kalian dibawahnya.”
“Sombong sekali dia, baru jadi artis film dewasa. Merasa lebih dari segalanya.”
“Biarkan saja dia sombong, dia kemari bukan untuk teken kontrak. Melainkan menjadi pengacau. Fokus saja dengan kasting ini.”
“Ku harap para juri memilihku ini.”
“Wajah imut sekarang tidak digemari para lelaki karena Citra gadis nakal.”
“Lalu?”
“Wanita matang dan pintar, memiliki aura penguasa dan bijaksana.”
Sekumpulan wanita cantik tengah berada diruangan tunggu. Selanjutnya dari mereka menunggu giliran untuk di audisi.
Sementara itu Hikashi sibuk berbalas pesan dengan istrinya. Ia duduk dengan malas-malasan enggan memberikan tanggapan dengan peserta. Padahal ia paling banyak dibicarakan oleh peserta. Karena ia tampak tampak dan berkarisma. Terutama Dannis yang muncul saat sesi tanya jawab ini. Ia sempat mencurahkan isi hatinya. Tapi orang yanh dimaksut tidak sedikitpun bergeming atau menoleh. Menatap layar ponselnya. Terakhir ia menelepon istrinya.
“Sayaaang, tidakkah kau bisa minta meninggalkan pekerjaanmu sebentar saja?”
“....” Frayza menjawab yang hanya mampu didengar oleh Hikashi saja.
“Oh begitu ya, besok rekrut asisten untukmu. Katakan pada Helena, jika aku yang menyuruhnya.”
“....”
“Aku yakin dia akan setuju, jika kau sungkan biar Matsumoto yang urus.”
“Maafkan saya jika mengganggumu Tuan, sekarang anda harus fokus dengan audisi ini.”
“Hhhhaaah! Kau ini apaan sih, ketularan Jade ya. Kenapa sih orang-orang disekitarku ini usilnya minta ampun.”
“Bicaranya nanti saja sama Nyonya kalau begitu. Pesertanya sedang menceritakan kisah anda.”
“Apa!” Hikashi menutup sambungan teleponnya secara tiba-tiba. Ia bangkit dan berdirilah Danis didepannya.
Gadis itu menangis berurai airmata, betapa ia sangat mencintai Hikashi. Ia bahkan dengan gamblang menceritakan kebersamaan yang telah dilewati. Sampai-sampai para dewa direksi saling berbisik. Tatapan mereka seolah membenarkan anggapan jika Hikashi terlibat hubungan terlarang.
“Aku mengerti jika kau bosan dengan kehidupanmu yang berarti. Oleh karena itu kau pergi mencari sesuatu yang hilang dari hidupmu sebelumnya. Sampai pada akhirnya Tuhan mempertemukan kita. Dan mengikat perasaan yang Indah ini Tuan Hikashi.”
“Baiklah Danisa, karena kau telah banyak bicara tentang hubungan kita sebelumnya. Maka aku akan mengakui bahwa kita dekat, iya. Aku tertarik denganmu, tentu. Jika timbul perasaan, maka aku tidak akan membohonginya. Aku lelaki yang masih normal dan memiliki naluri alami.”
Senyum dari bibir Dannis terukir mengambang. Ia puas diakui oleh Hikashi didepan orang. Persetan anggapan orang-orang jika dirinya merendahkan martabat wanita. Pada dasarnya Hikashi memang layak diperjuangkan. Bahkan kalau perlu direbut paksa dari pemilik sahnya. Termasuk memisahkannya dari anak dan istrinya.
“Jangan bangga dulu, karena aku berniat menjodohkanmu dengan Matsumoto.”
“Astaghfirullah...” mengelus dada.
“Dia!” pria berkepala botak dan berkumis tipis yang bukan tipe Dannis.
“Ya, aku berniat menjadi comblang kalian. Waktu dan tempat sudah aku persiapkan.”
“Gila!” meggertakkan giginya geram.
“Astagfirullah... Bos!” Matsumoto menutup kedua daun telinganya.
Ocehan Hikashi baru saja membuatnya malu dan tak berkutik. Sekarang para dewan direksi menatap tajam dirinya. Mereka merasa bersalah sudah menilai buruk Hikashi. Yang benar saja Hikashi mau selingkuh. Secara sejak lajang Hikashi sudah bertemu wanita dari belahan dunia. Tapi belahan jiwanya hanya Frayza seorang. Dia Cinta mati dengan istrinya sekarang.
__ADS_1
“Seharusnya aku memberitahukan ini sejak awal dengan niatku ini. Karena aku sangat mengenal Matsumoto sudah lama. Dia sudah sepeti saudaraku sendiri. Ketika aku sudah berkeluarga, tapi dia masih melajang aku pikir dia bukan tidak normal.”
“Jangan lanjutkan lagi!” menutup telinganya rapat-rapat.
“Dengarkan aku, saat ini aku sudah terikat dengan 1 wanita dan 2 pria yang akan dewasa. Aku tidak bisa dimusuhi oleh ketiga orang ini. Ialah istri dan anakku, bahkan seribu wanita didunia sekalipun.”
“Kenapa kau melibatkan perasaanku jika akhirnya aku kecewa.”
“Ini diluar skenario sebenarnya, kau yang memberikan respon yang baik. Jadi tidak ada salahnya jika aku menelisik lebih dalam lagi. Karena Matsumoto sudah lama menyimpan poster dan koleksi filmu. Dan itu membuatku agak risih, kau wajib mempertimbangkannya.”
“Tapi aku mencintaimu.”
“Terimakasih sudah mencintaiku, aku akan menerima cintamu secara utuh tanpa kurang. Dan, aku berikan semuanya untuk Matsumoto. Semoga kau bisa mencintai pria baik ini.”
“Astagfirullah Bos....” mengelus dadanya berulang-ulang.
“Hallo Istriku, aku sudah selesai rapat. Aku jemput sekarang ya.” Hikashi menelepon Frayza lagi. Pria itu keluar dengan santainya, ia tidak peduli dengan kekacauan yang terjadi.
Dannis menangis sejadi-jadinya bila selama ini ia hanya melihat Hikashi saja. Ternyata ada sosok pria lain yang menyukai dirinya.
“Seka airmatamu, aku tidak mau kau terlihat buruk.”
“Terimakasih, tapi aku tetap cantik walaupun menangis.”
“Tapi tinta dimatamu meluber ke pipi.”
“Hah? Tidakkkkk!” Dannis syok bukan main melihat riasannya yang sudah rusak. Malunya, inimah bukan cantik lagi. Mengerikan iya!
*
*
*
BUTIK,
Frayza mulai mengemasi tasnya, termasuk ponselnya yang terus berdering. Sepertinya orang dalam panggilan itu tidak sabaran sekali. Terlebih jika suaminya sudah dekat dengan Butiknya sekarang.
“Iya,” mencoba mengingat seorang wanita yang menyebut namanya.
“Aku ingin kau buatkan baju untukku juga.”
“Tapi maaf, aku harus segera pergi ada urusan penting.”
“Aku adalah calon Ratu di Negara ini.”
“Putri Ayako?”
“Hmm benar, ku dengar tunanganku Hiroshi kemari membuat tuksedonya. Jadi aku ingin kau membuat setelan kami sepasang.”
“Oh itu, karyawan lain bisa mengukur badanmu. Orang yang bekerja disini sangat kompeten.”
“Frayza Lee, tidakkah kau juga seharusnya menjadi Ratu. Jika mertuamu tidak meninggal?”
“....” berhenti mendengar ucapan Ayako.
“Aku adalah calon Ratu, setidaknya tunjukkan rasa hormatmu di Negaraku.”
“Hufftttt baiklah,” menyunggingkan senyumnya terpaksa.
Ia mulai mengukur detail tubuh Ayako. Serta menulis rincian apa saja yang perlu ditambahkan. Frayza memberikan gambaran sketsa tapi Ayako menolaknya dengan alasan jelek. Lama juga Frayza menghabiskan waktu bersama Ayako. Padahal. Dibawah sudah ada pria tidak sabaran mondar-mandir menunggunya keluar.
“Apa kau sengaja mempermainkanku, kalau kau tidak niat tidur bersamaku jangan memancingku dengan makan siang!”
Semua orang termasuk pengawal Ayako menelan saliva. Hikashi masuk mengomel-ngomel seperti tidak ada orang selain istrinya.
“Pangeran Hikashi.” Ayako berbinar bola matanya.
“Frayza, kau sudah menguras stok sabarku!” meraih tangan istrinya.
__ADS_1
“Awh,” tersentak kaget.
“Kenapa kau tidak turun, kau sudah mengabiskan waktu 30 menit!”
“Aku sedang mengukur Putri Ayako.”
“Persetan! Aku suamimu!” Ya Tuhan mulutmu Hikashi, apa kek gini sih modelan laki lagi sagne!
“Sayang, tenanglah.”
“TIDAK BISA TENANG, AKU RESAH!”
“Sabar dulu Sayang.”
“TIDAK BISA SABAR, AKU INGIN CEPAT!”
“Ya Tuhan, Suamiku apakah kau tidak melihat orang-orang sedang melihat kita.”
“KEBANYAKAN ALASAN” membopong Frayza dan menampol bokong kenyal.
“Awh sakit Hikashi, turunkan aku!”
“TIDAK! KITA BANYAK MENYIA-NYIAKAN WAKTU BERHARGA KITA. HARI INI JUGA KITA AKAN TERBANG KE AFRIKA SELATAN!”
“Jangan bercanda hahaha, ayo turunkan aku. Malu dilihat orang!”
“TIDAK URUSAN AH, CONGKEL SAJA MATANYA BIAR BUTA!” Gusti ni mulut laki napa kagak ada akhlaknya ya Alloh.
Setelah urusan dengan Dannis dapat dihindari, sekarang ada Ayako yang memiliki maksut lain dari kedatangannya di Butik. Rumor Hikashi berada di Jepang sudah sampai ditelinga Ayako. Bahkan ia mengerahkan Detektif khusus mengawasi kehidupan rumah tangga Hikashi. Ternyata rumoh mereka jatuh miskin dan akan pisah hanya isapan jempol.
“Pangeran Hikashi, kenapa kau tidak pernah melihatku. Apakah kenangan waktu kecil kita sudah hilang dari bagian penting hidupmu?” Ayako menitikan air mata yang seharusnya ia tahan. Jika orang-orang tahu dia menangisi suami orang, ini merupakan aib.
Sementara itu, di Hotel Jade dan Seven tengah menikmati hidangan makan siang. Mereka berdua meloncat-loncat diatas kasur empuk. Jade memanfaatkan momen romantis orang tuanya untuk mengerjai ayahnya lagi.
“Seven ayo kita perang bantal!”
“Oke Jade.” Peperangan tak bisa terelakan, dan kamar bertabur bunga dan balon ini berantakan.
Dari dalam lift Frayza sekuat tenaga menahan birashi suaminya. Pria itu terus menciumi sekujur tubuhnya. Tak segan-segan mengusir orang yang hendak naik lift bersamanya.
“Sabar sebentarlah, kita bisa melakukannya didalam kamar.”
“Uhh aku hanya menciumi istriku, kenapa kau protes sih!
“Bukan begitu Suamiku, lihatlah disana ada kamera pengawas.”
“Benarkah?”
“Kebetulan sekali kalau begitu.”
“Kita akan menjadi tontonan banyak orang Sayang.”
“Aku melakukannya dengan pasangan sahku, aku kemari dengan istriku. Ini sudah benar Sayang, ayolah julurkan lidahmu. Aku mau ********** uhhh.”
“Sayang, kita sudah sampai ayo cepat keluar lift.”
Entah kenapa Hikashi akhir-akhir ini sangat birahi. Ia ingin selalu bercinta dengan Frayza. Bahkan ia tak segan-segan berselisih dengan siapa pun.
“Aku sudah kembali ke sifat asliku Frayza, nantu kau akan aku hukum sampai pingsan.”
“Nyalimu besar sekali Tuan Hikashi!” membuka pintu kamar Hotel yang dipesan.
Alangkah kagetnya Hikashi dan Frayza melihat kamar yang dia pesan sudah porak poranda.
“Hai Papa, makanannya enak sekali.” Jade tidur santai diatas kasur.
“Papa ayo perang bantal fiuuu fiuuu...”
Wajah Hikashi berubah kelam dan ingin pingsan saja. Kenapa ingin berduaan dengan istrinya amatlah sulit sekali?
__ADS_1
“TTTIDAAAKKKKKKKK!!!”
Sabar ya Hikashi, emang kalo udah ada anak suka kurang waktu sama istri buat seneng-seneng. Semalam ini Hikashi tidur terpisah, ia memilih tidur dan mengasingkan diri dikamar anak-anak. Sedangkan Frayza tidur bersama kedua putranya. Esok harinya mereka akan terbang ke Afrika Selatan. Semoga malam ini Hikashi bisa bobo’ tenang. Tidak dikeloni Frayza, sabar ya Bos hihihi.