TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
MEREGANG NYAWA


__ADS_3

Kenzo yang sedari pagi sudah sibuk mengurus jadwal penerbangan pontang-panting kelawahan. Sesampainya dirumah, ia juga harus membantu mengepak barang bawaan majikannya yang lumayan tidak sedikit.


“Fiuhhh lelahnya.” Menyeka keringatnya.


“Kau terlihat keren saat menjadi tukang panggul Kenzo.” Menyodorkan jus lemon segar.


Dalam hatinya, Kenzo ingin mengatai tuan muda kecilnya yang sialan ini. Tapi ia harus ingat, setinggi-tingginya jabatan di perusahaan. Ketika melayani keluarga Alexander, tetaplah ia seorang pelayan selebor.


“Terimakasih sudah repot-repot mau membawakan jus ini. Glukk... Glukk... Glukk brrrooooooosshhhh!” menyemburkan seluruh isi mulutnya.


“Hahahaha maaf Kenzo itu jus tanpa gula, sengaja agar kau memandangku yang manis ini tuing-tuing.” Pose genit mengedipkan kelopak matanya.


“Jadeeee kau!” mengangkat gelas itu naik.


“Jika kau berani menyentuh Jade, hadapi duku Xirion.” Seven menarik tali kekang Xirion.


“Jiaaaaattttt singa masaaiiiii!!!” kabur kelimpungan.


“Hahahaha, dasar penakut.” Pekik Seven.


“Krrrrttttt krrrttttt.” Jade berdiri mematung mrnggertakkan giginya.


“Kau, kau ngompol dicelana jade?”


“Ppppeeeerrrrgiiii!!!!” getar suaranya.


“Oh kau takut juga, tenanglah ini hanya kucing besar dengan bulu gimbal; Benarkan Xirion?” mengusap kepala singa yang sudah bisa dijinakkan.


Hal ini diketahui oleh Hikashi, ia marah karena Seven dapat membahayakan orang-orang. Ia mengambil senapannya yang diisi jarum bius.


Doooorrrrr... Suara tembakan itu menggema, tepat mengenai sasaran paha belakang Xirion.


“Xirion bangun, Papa kenapa kau membunuh Xirion!” memukul Hikashi yang berjalan mendekat.


Hikashi mengabaikan Seven dan menyuruh petugas memindahkan singa ke atas bak truk terbuka. Ternyata Hikashi sudah menyiapkan skenario pelepasan Xirion ke alam bebas.


“Angkat Jade ke dalam kamarnya!” memerintah Kenzo.


“Papa, aku bicara padamu! Kenapa kau menembak Xirion!”


“Jade, apa kau anak yang dibesarkan dikeluarga yang tidak beradab!”


“Maaf Papa.” Menunduk.


“Xirion akan kembali ke habitatnya, dan hari ini pertemuan terakhirmu.”


“Tidakkk Papa huaaaa huaaaaa.” Seven histeris bukan main.


“Satu Dua Ti...”


“Hiks hiks hiks.” Berhenti menangis seketika.


“Cepat mandi dan bersiaplah. Hari ini kita akan pulang.”


“Tapi Papa...” ucapnya lirih.


“No... No... No!” mengangkat jari telunjuknya yang artinya tidak boleh ada bantahan.


Sementara ini Hikashi mengawasi petugas satwa liat yang ia datangkan khusus kerumahnya. Ia tidak ingin hewan buas itu membahayakan anaknya. Walaupun harus ia akui, keberanian Seven diatas anak diusianya.


Jade masih gemetaran di kamar, dibantu Kenzo memandikannya. Ia seperti bocah sawan melihat bala dedemit. Yah siapa sih yang tidak syok melihat singa besar masuk kedalam rumah.


Kenzo begitu telaten membasuh tubuhnya, bahkan Kenzo hapal betul tubuh Jade. Karena Kenzo lah perawat bayi yang handal kala ia diasingkan di Swiss.


Seven mengadu kepada ibunya, bahwa ayahnya sudah berperilaku jahat. Dia mengutuk perbuatan ayahnya yang sepihak.


“Berikan Xirion kepadaku Mamaaaa.... Huaaaa...”


“Seven, Xirion itu singa betina yang sudah remaja sayang. Dia sudah masuk fase bereproduksi. Jadi ia harus dilepas di alam liar sana.”


“Tapi Xirion sudah terbiasa makan daging dari dapur kita Maamaaaaa.” Rengeknya lagi.

__ADS_1


“Seven, Papa memelihara Xirion karena dulu dia masih bayi. Jika dibiarkan mungkin dia sudah tiada.”


“Bawa aku ketempat Xirion Mamaaaa.”


“Hanya Papa mu yang tahu Nak, ku mohon jangan meminta hal yang aneh-aneh ya Nak.” Memeluk anaknya yang merajuk.


Seven tak berhenti menangisi hewan kesayangannya. Hanya Xirion lah yang mencuri perhatiannya. Karena sejak kedatangannya orang-orang sibuk dengan dunianya masing-masing. Untuk pertama kalinya Seven merasakan patah hati yang amat dalam. Dia bahkan mengacuhkan ayahnya ketika berpapasan. Tidak mau makan dan duduk menyendiri bersebelahan dengan Matsumoto. Pria berkepala plontos ini tak kalah sedihnya lagi karena hewan unta miliknya berakhir tragis. Jadi hewan qurban, dan sekarang ia tak punya teman curhat lagi.


“Paman Matsumoto kenapa menangis.”


“Oh ini air keringat yang nyasar masuk mata. Kau sendiri kenapa?”


“Aku sebal dengan pria bernama William virus!” mengutuk ayahnya sendiri.


“Hihihihihi kau mengatai Papa mu sendiri?” terpingkal-pingkal.


“Yah, aku benci sekali dengan pria itu. Setelah mencuri Mamaku, sekarang dia membuang singaku!” melotot tajam ke arah Hikashi yang duduk disebelah Frayza.


“Mereka orang tua kandungmu Seven.”


“Tapi Mama yang melahirkanku. Papa hanya memberikan uangnya saja, bukan kasih sayang huh!” memalingkan matanya wajahnya saat berbicara dengan si botak sadboys.


“Datang tak bisa dimiliki, pergi harus ditangisi.” Menerawang langit-langit pesawat.


“Pokoknya, aku akan mencuri uangnya Papa dan datang kemari lagi!”


“Waw kau tahu dimana Papa mu menyimpan uangnya?” mengulik Seven yang polos.


“Tentu aku tahu, uang Papa ada di kulkas.”


“Benarkah!” kini wajah Matsumoto berubah serius menanggapinya.


“Yah, jika kau mau membantuku. Akan ku beri separo uangnya untukmu. Bagaimana Paman? “


“Bagaimana caranya?”


“Sjsiendhkdl*#&@+jeheoxnaumdj” membisikkan ditelinga Matsumoto. Anehnya lagi, si Matsumoto ya mangut-mangut saja seperti boneka dasbor mobil.


Perjalanan masih lama, tentu saja aksi mogok makan Seven terpaksa ditunda dulu. Ia tak bisa melewatkan spegeti yang nikmat. Karena perutnya yang kosong sudah penuh. Akhirnya ia tertidur pulas dipangkuan Matsumoto yang masih berkawan sedih. Usai pernyataan cintanya ditolak. Eh teman curhatnya sudah diolah jadi makanan lezat. Ngenes dan ngilu nasibmu Matsumot...


“Papa, kau mengusik tidurku!” protes Jade.


“Tutupi saja dengan bantalmu Nak, Papamu sedang mendengar cerita lucu tentang adikmu.”


“Hah serius, apa itu Ma?”


“Seven bilang mau mencuri uang Papa yang disimpan di kulkas.”


“Jadi selama ini uang Papa disimpat di kulkas?”


“Hahahah tentu saja bukan Jade. Melainkan uang Papa mu dipikir Seven masih didalam cangkang telur. Jadi dia berencana membawa telur-telur itu ke Bank untuk ditetaskan disana. Dia masih percaya bualanmu Jade hahahaha.” Frayxa tak bisa menahan gelak tawanya juga.


Jade begitu kasihan dengan adiknya, begitu sayangnya dengan singa. Sampai-sampai berpikir untuk kembali ke Afrika lagi. Kalaupun dirinya menjadi Seven, lebih baik biarkan saja Xirion berkeliaran di alam terbuka.


Ketika Seven bangun dari tidurnya, semuanya kembali tenang dan diam. Matsumoto kembali duduk didekat Seven, seolah menjadi sekutunya. Padahal Matsumoto sudah bocorkan rahasianya. Sungguh Matsumoto yang tak bisa menjaga rahasia, dia maunya ditutup rapat. Eh malah bongkar rahasianya si Seven. Benar-benar orang tidak bisa dipercaya kau ini Botak!”


*


*


*


Dua minggu sudah berlalu, Jade dan Seven sudah tinggal di sekolah asrama. Mereka hanya diijinkan pulang di akhir pekan sebulan sekali. Rasa rindu Seven kepada Xirion sudah tak bisa ditahan lagi. Beberapa kali anak ini dilarikan ke UGD karena mimisan dan pingsan.


“Bagaimana keadaannya?”


“Demamnya masih tinggi dan menggigil. Bagaimana ini Suamiku?”


“Aku sudah meminta Dokter anak terbaik untuk memeriksa Seven. Kau tenanglah.” Menguatkan istrinya.


“Apa kita datangkan saja kemari?”

__ADS_1


“Tidak! Keputusanku tidak akan berubah!”


“Tapi Seven terus memanggil namanya, aku rasa dia sudah terikat batinnya.”


“Manusia dan binatang tidak memiliki tautan hati.”


“Hikashi, ini tentang anak kita. Kalau sampai terjadi sesuatu kepada Seven darah dagingku. Maka aku akan...”


“Jangan kau teruskan itu Fray!”


“Hiks hiks aku mohon sembuhkan putraku, Hikashi hiks hiks hiks.”


Sekarang Frayza harus meyakinkan suaminya, bahwa putranya mengalami depresi berat. Ia mengalami trauma tekanan batin berpisah dengan Xirion.


Sampai suatu malam ketika ia giliran menjaga Seven, dia mendengar putranya memanggil nama Xirion tanpa henti. Bahkan tak jarang menjerit ditengah malam meminta tolong. Hal ini membuat tubuhnya semakin kurus dan rambutnya rontok. Untuk makan, Seven harus diselang karena indra perasanya menolak makanan.


Frayza selalu meminta dan memohon kepada suaminya, agar mendatangkan singa ke Jepang. Tapi Hikashi sudah terlanjur menyerahkan kepada pihak berwenang. Ia tidak bisa seenaknya menarik janjinya sendiri.


“Jika sampai nyawa putraku tak terselamatkan, maka aku akan pergi bersamanya!” kalimat itu terngiang-ngiang ditelinga Hikashi.


Ternyata itu hanya mimpi, sekarang Seven sudah tidur dengan bantuan obat penenang. Ia mencari kemana perginya istrinya. Seharusnya kan ada disebelahnya. Ia mencari keberadaan Frayza, ternyata sedang berdoa. Hikashi melihat istrinya menangis sejadi-jadinya.


“Tuhan, ketika kau mempercayakan banih suamiku tertanam dirahimku. Saat itu aku sangat bersyukur dan hampir tidak percaya kalau aku bisa hamil hiks hiks. Tapi Tuhan, keadaan putraku sedang sekarat. Aku mohon lunakkan hati Suamiku agar ia mau memenuhi keinginan terakhir Steven darah dagingnya hiks hiks...” berurai air mata ketika berimpuh.


Wanita mana yang tega melihat putranya hidup dalam pesakitan. Dipasangi alat penunjang kehidupan dan disuntik beberapa kali. Itu lebih menyayat hati, bahkan merobek jiwa. Memang tubuhnya sudah berpisah, tapi mereka pernah sebadan kala di kandungan.


Hikashi ikut menitikkan airmatanya mendengar doa istrinya tercinta. Jadi ia sudah menjadi sosok monster bagi Steven. Darah dagingnya sendiri dengan Frayza yang ia harapkan hadir. Sekarang anak itu seperti tengkorak diatas bangsar. Rambutnya sudah banyak yang rontok karena setres berat dan tekanan batin.


“Seven, Nak. Ini Papa, maafkan Papa ya Nak sudah jahat kepadamu. Kamu adalah anak Papa yang penurut. Papa tidak mau terjadi hal buruk kepadamu. Engkau adalah ikatan darah yang menautkan Papa dan Mama. Jadi Papa akan turuti kemauanmu membawa Xirion kemari hikss.”


Sekarang Hikashi duduk disebelah putranya dan memeluk tubuh ringkih. Ia menyadari bahwa terlalu egois dan keras terhadap Seven. Sehingga ia membuat luka batin yang tak tampak oleh mata.


“Kenapa tidak tidur, besok kan berangkat kerja?”


“Oh tadi aku terbangun, kau darimana? “


“Aku mencari udara segar, maaf tidak membangunkanmu.”


“Hemmb,” menggenggam jemari istrinya.


“Ada apa?”


“Aku akan pergi keluar Negeri selama satu minggu bersama Matsumoto. Nanti Bibi Fang akan menemanimu merawat Seven.”


“Kenapa mendadak sekali? Kita sedang merawat Seven, dia sedang terbaring disini. Apakah pekerjaan lebih penting daripada anak semata wayangku?”


Lagi-lagi hati Hikashi tertusuk sembilu yang tajam. Ia mencoba sekuat mungkin agar air matanya tidak tumpah.


“Aku pergi menjemput Xirion ke Afrika.”


“Apa?”


“Aku akan bawa kemari singa itu seperti pintamu dalam doamu tadi Sayang. Maafkan aku yang membiarkan putra kita menderita huhuhuhu.”


“Hikashiii.” Memeluk suaminya.


Akhirnya keputusan Hikashi dirubah, ia menyiapkan skenario penangkapan Xirion. Selama dikarantina Xirion mendapatkan pengobatan dari Dokter hewan. Karena di alam liarnya ia mengalami luka-luka akibat kalah perkelahian. Keadaannya tak beda jauh dengan Seven. Bulu badannya rontok, hanya tinggal kulit membalut tulangnya. Singa itu bahkan tidak makan apapun. Sesekali ia minum air untuk dahaganya.


“Apakah singa ingin bisa bertahan hidup sampai ke Jepang?”


“Saya harap Tuan William, tapi singa ini sangat kritis keadaannya. Jadi saya sarankan untuk menyertakan Dokter hewan juga. Agar bisa mengontrol keadaannya selama dalam perjalanan.”


“Lakukan saja, aku mau singa inin tetap hidup sampai ke Jepang.”


Mata Xirion mengeluarkan air mata, yah seoarang hewan bisa menangis. Hikashi mendekati hewan piaraannya tersebut. Ia meminta maaf sudah mencampakkannya. Tiba-tiba Frayza melakukan panggilan video. Ia memperlihatkan jika Seven menitikan air matanya.


“Roaaaarrrgghhh.” Auman singa betina itu bergema.


“Sayang, sepertinya Xirion sedang memanggil Seven. Coba kau arahkan kameranya.”


Ternyata benar, singa itu seolah memanggil bocah kecil yang terbaring lemah. Frayza menangis karena Seven menunjukkan respon motoriknya lagi.

__ADS_1


“Aku akan tiba sebentar lagi di Jepang, Istriku. Semoga ini menjadi harapan yang baik untuk putra kita.” Ucap Hikashi penuh haru.


Tiba-tiba Frayza panik, karena detak jantung Seven melemah. Ia memanggil staff medif melalui interkom. Melihat kegentingan itu, Hikashi menjadi panik dan risau. Ia tak bisa kehilangan putranya, ini bisa berakibat fatal. Bukan hanya Frayza dan Jade, dirinya tidak akan memaafkan tindakannya bila Seven tiada. Penyesalan selalu terjadi dikemudian hari, andai waktu itu Hikashi mempermudah situasinya. Mungkin tidak akan terjadi hal seperti ini. Lekaslah tiba di Jepang, Hikashi. Jangan sampai kau menyesal nantinya.


__ADS_2