TANGKAP AKU,BOS

TANGKAP AKU,BOS
AKU TIDAK PULANG


__ADS_3

Usai kepergian Hikashi yang tanpa pamit itu, Frayza menjadi sedikit lega. Ia bisa dengan tenang merasakan kehidupannya. Seven yang demam usai bermain papan seluncur sekarang istirahat saja dirumah. Sedangkan Jade ikut kelas bela diri Taekwondo disebuah klub. Ia memotivasi dirinya agar kelak memiliki ilmu bela diri. Jika saja terjadi tindakan kriminal lagi, ia tidak akan lemah.


Ditengah suasana yang masih panas, Hikashi tidak pulang semalaman. Muncullah ide untuk memperbaiki suasana hatinya.


“Lalu aku sekarang bagaimana?”


“Kenapa kita tidak pergi bersenang-senang saja kalau begitu, ini Seoul!” teriak Helena.


“Tidak ah, aku tidak suka pesta atau pergi ke klub hiburan.”


“Kita pergi melakukan kesenangan layaknya wanita Fray!”


“Kesenangan macam apa, hidup sekarang sudah tenang tanpa suami yang arogan.”


“Dia sudah menyakitimu, saatnya membuat pembalasan. Mari kita habiskan uangnya, biar dia tahu rasa!”


“Habiskan uangnya?”


“Apa kau tidak memiliki kartu kredit?”


“Tentu saja aku punya, aku jarang memakainya. Karena Hikashi melarangku keluar selain urusan kerja ata menemaninya makan. Semua kebutuhanku dia yang mengurusnya.”


“Selagi suami mu itu pergi entah berantah, kenapa kau tidak mengajakku bersenang-senang disini.”


“Maafkan aku ya Helena, kau datang kemari melihat sesuatu hal yang tidak pantas. Aku merasa bersalah kepadamu.”


“Makanya ayo kita berkeliling ke semua tempat untuk menghambur-hamburkan uang suamimu. Kalau bisa sampai menyentuh batas akhir penggunaan hahaha.”


“Baiklah, kebetulan sekali ada kau. Ajari aku bagaimana cara menghabiskan uangnya. Sudah mencekik leherku hingga berbekas, aku harus meminta ganti rugi!”


“Mari kita berpesta dengan kartu di dompetnya ini hahaha.”


“Benar sekali!”


Hikashi keluar rumah tanpa membawa dompet dan ponsel. Tapi dia masih ada Matsumoto yang mengurusnya. Jadi Hikashi tidak akan terlantar hidupnya. Ia melakoni tugas hariannya bersama sepupunya. Karena tugas kenegaraan ini sangat berat dan butuh kesabaran mencapai kata sepakat.


Dijalanan ini Frayza dan Helena memulai petualangan belanjanya. Tangan mereka sudah penuh dengan tas belanjaan. Masih belum puas berbelanja, mereka memasuki tempat penjualan perhiasan dan barang mewah kebutuhan wanita.


“Aku ingin mengecat rambutku menjadi hitam, agar si botak tidak mengatai rambut es lagi.”


“Apa aku perlu mencoba mengubah gaya rambutku juga ya?”


“Menurutku sih perlu Frayza, idola wanita Korea sedang banyak digandrungi tatanannay. Kau bisa mencobanya.”


“Bagaimana kalau Hikashi tidak suka?”


“Pria itu sudah dijinakkan oleh si botak, kita tidak usah pikirkan suka atau tidak sukanya. Kau harus menentukan pilihanmu sendiri.”


“Baiklah, kalau begitu sudah ku putuskan. Aku ikut mengecat rambutku menjadi lebih terang, agar Hikashi silau?”


Suara pemberitahuan transaksi terus berdering di ponsel Hikashi. Matsumoto yang disuruh mengambil ponsel itu, bisa melihat sejarah transaksinya untuj apa saja. Ia tersenyum membayangkan majikannya berteriak kaget uangnya dihabiskan istrinya.


“Kenapa kau sumpringah begitu? Dapat idola pemian film biru baru?”


“Astaghfirullah Bos, tobat saya.” Mengusap dadanya ngenes.


“Lalu kenapa kau ketawa seperti orang mau gajian?”


“Kan emang hari ini saya gajian Bos.”


“Selamat, gajimu aku potong karena membelot mendukung Frayza.”


“Eh mana bisa begitu Bos, Anda semena-mena kepada pengikutmu yang Setia ini!”


“Tidak terima?”


“Iya, saya terima. Terimakasih hiks.” Nominal gaji yang masuk di rekeningnya benar-benar jauh dari bulan lalu.


“Kemarikan ponselku, aku ingin lihat sudah berapa kali ia menghubungi. Aku yakin dia sekarang mengirimiku pesan dan panggilan yang tak ku jawab. Dia pasti sekarang menderita hidup tanpaku.”


Padahal sekarang istrinya dibantu Helena menggesek kartunya terus menerus. Notifikasi transaksi terus masuk ke ponselnya sudah banyak.


“APAAAAAAAA!” syok.


“Pffftttt...” ketawa licik.


“Kenapa, kenapa dia berbelanja gila-gilaan?”


“Itulah wanita, apalagi ia pergi dengan Helena si Ratu belanja. Habislah anda!”


“Kali ini kalian yang menantangku, akan aku buat menyesal!”


“Oh aku tidak ikut-ikutan yeyeyee.”


“Awas saja, selesai rapat aku akan menangkapnya sendiri!”


Petualangan hari ini berakhir disebuah klinik kecantikan. Helena mengajak Frayza untuk melakukan paket perawatan tubuh karena ada promo besar. Kebetulan sekali melakukannya di Korea, jadi ia manfaatkan saja. Selain berlibur, mempercantik diri itu penting. Karena Helena juga ingin membuat kejutan untuk sang pujaan hati, Matsumoto. Ia bertekad untuk jadian disini, sebagai awal perjuangan hubungan sebagai kekasih resmi.


*


*


*


MALAM,


Hikashi akhirnya pulang, karena rindu kedua putranya. Terlebih lagi si bungsu Seven deman usai berlibur. Ini bisa menjadi senjata kuat untuk menyerang Frayza. Kalau ada perang adu mulut, setidaknya Hikashi ada peran dalam keluarga.


“Papa, bau.” Menutup hidungnya.


“Maaf, Papa baru pulang kerja. Setelah minum obat jangan langsung berbaring dulu ya. Minimal 1 jam duduk, sambil baca buku.”


“Baik Papa.”


“Anak pintar, seharian ini siapa yang mengurusmu?”


“Nyonya seharian pergi bersama Helena, katanya mau bersenang-senang Tuan.” Sahut Bibi Fang.

__ADS_1


“Wanita itu, membawa pengaruh yang buruk untuk Frayza!”


“Siapa?”


“Oh itu, nyamuk bawa efek buruk untuk Mama mu.”


Hikashi memberi pesan kepada Bibi Fang agar malam ini ia tidur bersama Seven saja. Karena ia akan menjemput Jade di tempat latihan Taekwondo.


“Kau sudah pulang anak muda?” sapa Takeshi yang berdiri didepan jendela besar.


“Aku sangat letih latihan, langsung masuk kamar saja ya.” Tinggalkan Hikashi yang berjalan di belakang menenteng tas olah raga.


“Hai duda hahaha.” Ejek Takeshi.


Brugh!


“Awh, hai!”


“Mulut kotor!”


“Kau kan sedang latihan menjadi duda, iyakan?”


“Matamu!”


“Hahaha, ku pikir-pikir kalau kalian jadi bercerai. Pasti banyak yang antri percayalah.”


“Dan kau barisan yang terdepan untuk ku tebas kepalanya kan?”


“Wowowowow horor.”


“Bicara duda-janda, kebiri menantimu.”ancam Hikashi.


Tiba-tiba suara mobil berhenti menurunkan penumpangnya. Hikashi sudah tidak sabar untuk memaki istrinya yang tidak tahu malu.


“BERANI-BERANINYA KAU PULANG TERLAMBAT SAAT ANAKMU SAKIT. AKU MENJEMPUT JADE PULANG LES, KAU INI TIDAK BECUA JADI IBU YA!”


“Hai, hai toleh kebelakang.”


“Jangan ikut campur ya kau!”


“Kau sepertinya harus mengoreksi kalimatmu.”


“Diam kau, aku sedang bicara dengan Frayza. Jangan membelanya, atau kau berencana mengincarnya hem!”


“Ti-tidak, itu tidak mungkin. Kau harus balikan badanmu, dan lihat siapa yang datang.”


“Selamat malam semua,”


Ia ragu-ragu untuk berbalik, dari bawah sampai atas ditatapnya teliti. Ternyata wanita cantik itu ialah Franda. Seperti perjanjian setahun sekali ia berhak menjenguk Jade. Ini adalah syarat yang diajukan oleh Franda kepada Hikashi yang sudah disepakati.


“Cantik.”


“Bekas selirku.”


“Lupakanlah, tapi ini benar-benar cantik.”


“Apakah kalian sudah selesai membicarakan aku? Sepertinya tidak sopan jika membiarkan tamu dari jauh berdiri saja.”


“Kau urus dia, aku mau menaruh tasnya Jade.”


“Beres.” Acungkan jempol.


Franda nekat menyusul ke Korea atas persetujuan Hikashi. Karena kebetulan Andreas juga diundang Frayza untuk menangani kasus kekerasan rumah tangga. Perjanjian lama itu masih berlaku, walaupun sampai sekarang Andreas belum bisa membuka hatinya kembali. Ia langsung menyiapkan tiket pesawat, saat tahu Frayza dicekik Hikashi. Rasanya ia ingin segera membuatkan surat cerai saja. Dan merebut status suami yang tidak layak disandang Hikashi. Pria kasar nan arogan itu, kenapa tidak dibuang saja. Pikirnya.


“Katanya kau dulunya artis ya?”


“Sampai sekarang pun masih, walaupun bukan peran utama hehehehe.” Menyerutul teh dalam cangkir.


“Apakah kau sudah menikah lagi?”


“Belum, tapi aku sedang dekat dengan seorang pria.”


“Aku sepupu Pangeran Hikashi, namaku Pangeran Takeshi.” Pamer gelar ceritanya yak.


“Aku Franda Xi Huang, satu ibu beda ayah dari Kak Frayza Lee.”


“Oh jadi kau adik tirinya Frayza ya?”


“Hihihi iya Pangeran Takeshi.” Menyelipkan anak rambut dibelakang telinga.


“Eh ada apa ini ditelingamu.”


“Apa?”


Kaduanya saling bertatapan Indra penglihatan, aroma napas Takeshi dan Franda bercampur diudara. Meraka sangat dekat dan saling mengagumi satu salain, kenapa baru sekarang bisa melihat ciptaan Tuhan begitu Indah? Jawabannya adalah, kalian berdua ini sama-sama petualang hati. Itu saja, selebihnya jalan hidup kalian memang sudah ditakdirkan bertemu sekarang.


“Eheemb.”


Mereka kembali duduk berjauhan, adegan yang seperti orang berciuman. Itu mengundang rasa penasaran Hikashi, masa iya dengan secepat itu menaklukan Franda. Padahal mereka lagi bertemu, kok bisa akrab ya. Tak apalah, tidak penting juga baginya. Karena Franda kemari ya juga atas persetujuannya juga.


“Andreas menginapa dimana?”


“Di Hotel yang sama denganku.”


“Berikan informasi pergerakannya, jika perlu kau harus menempel padanya.”


“Tidak masalah, selama dia nyaman dengan keberadaanku. Aku akan selalu mengikutinya.”


“Kenapa, kenapa kau menyuruhnya untuk mendekati Pengacara Andreas?”


“Karena aku tidak percaya pria itu, dia pasti akan mengambil keuntungan dari pertengkaran kami.”


“Tuan William, bagiku kau sudah keterlaluan. Rasanya aku ingin memakimu.”


“Ingat posisimu Selir!”


“Maafkan aku, Tuan William.”

__ADS_1


“Waktumu 15 menit melihatnya, tidak boleh bersuara atau meninggalkan apapun. Jika kau melanggarnya, seumur hidup ia akan membencimu.”


“Aku mohon jangan Tuan Hikashi.” Berlutut.


“Kau mengancam seorang wanita, keterlaluan sekali.” Membantu Franda berdiri.


“Sok pahlawan, lebih baik kau lanjutkan saja membuat proposalnya besok kita bertemu menteri perdagangan.”


“Dasar gila kerja!” gerutu Takeshi.


Franda bangkit, dan berjalan pergi mencari kamar Jade. Takeshi melihat Franda begitu patuh dengan Hikashi. Walaupun sudah dicabut haknya sebagai selirnya. Kok bisa-bisanya Hikashi memiliki selir-selir yang cantik. Dia saja memiliki selir ketika sudah bisa berjalan waktu duduk dikursi roda, wanita hanya menarik uangnya saja. Setelah itu dicampakkan dengan menyedihkan.


Langkah kakinya nyaris tanpa suara, ia masuk kedalam kamar Jade. Putranya sudah tumbuh menjadi seorang remaja putra. Ia diawasi pelayan didepan pintu, memastikan bahwa Franda tidak melanggar perjanjian. Ia menatap dekat wajah putranya yang dominan bule. Rasanya ia sangat menyesalinya, pernah ingin melempar bayinya dulu. Franda bahkan mengeluh dan mencaci setiap harinya. Ia sekarang melihat putranya tumbuh dengan baik. Dari keluarga yang sangat mencintainya, ia lihat foto keluarga yang diatas nakas. Jade memang selalu membawa foto keluarga kemanapun ia pergi. Terlebih ia sekarang tahu, jika ayahnya kemaren malam minggat tidak pulang. Serta ibunya yang entah kemana perginya bersama Helena. Sebenarnya Jade sudah paham kalau kedua orang tuanya bermasalah. Namun, ia yakin jika ayah dan ibunya akan berbaikan demi dirinya serta Seven adiknya.


“Sudah selesai, saya ijin pamit kembali ke Hotel.”


“Tidak menunggu Frayza?”


“Kemana ia pergi?


“Entahlah, mungkin cari brandalan dijalan.” Celetuk Hikashi.


“Kau ini, mencurigai tanpa bukti. Kau ini keterlaluan sekali, setres.”


“Apa kau ikut campur!”


“Aku sebagai sepupumu mengingatkan agar menghormati istri. Berpikirlah positif jika ia tak bisa kau jangkau. Ketika ia pulang, kau bisa menanyainya baik-baik.”


“Kotbah terus, bikin budeg!”


“Dasar keras kepala!”


Takeshi berhasil membujuk Franda, mereka duduk diteraa belakang rumah. Mereka melihat salju yang turun berdua. Takeshi mulai berbasa-basi dengan Franda yang dandanannya sangat cantik. Ia tidak menyangka jika Frayza memiliki adik yang begitu rupawan.


Sementara itu, Hikashi menunggu Frayza didepab pintu gerbang. Bahkan ia memberi tugas yang tidak masuk akal. Agar petugas penjaga gerbang tidak menyadari alibinya.


“Kalian ini, kalau musim dingin begini jangan minum arak dan daging bakar. Olah raga yang benar, bergerak itu baik untuk badan. Terus lakukan dengan benar, jongkok lagi.”


“Baik Tuan.”


Sudah tahu musim dingin, turun salju pula. Teganya menghukum pejaga gerbang utama. Suhunya semakin menurun, karena malam sudah larut. Hati Hikashi semakin mengecil, tidak ada tanda-tanda mobil akan belok. Semua mobil yang melintas, tidak membawa istrinya pulang.


“Jika kau pulang, awas!” padahal dalam hatinya ia meminta agar Frayza cepat kembali pulang. Ia sudah siap untuk mengakui kesalahannya. Namun, ia juga sudah menyiapkan amunisi perlawanan. Jika Frayza tidak mau mengalah, tapi sepertinya Hikashi harus kecewa. Karena ponselnya masih mengirimkan laporan transaksi keuangan. Sepertinya Frayza tengah berupaya keras menguras kartu geseknya.


*


*


*


Susah payah Frayza dan Helena mencari truk pengangkut barang memasukkan barang belanjaannya. Mereka memutuskan untuk bermalam saja di klinik kecantikan usai melakukan operasi kecil dibagian tubuh mereka.


“Aku tidak sabar, bersok Matsumoto akan terkejut melihatku.”


“Dia pasti akan senang dengan penampilanmu yang sekarang.”


“Terimakasih ya Frayza, berkat kartu ajaib milik suamimu. Sekarang aku percaya diri merebut simpati Matsumoto.”


“Iya, sama-sama.”


“Apa kau masih ingin melanjutkan gugatanmu?”


“Mengenai itu, sebenarnya aku tidak tega. Tapi isa sudah keterlaluan kepadaku, aku tidak mau ia menyesal, minta maaf tapi diulangi lagi. Aku tidak bisa mentolerirnya. Aku dituduh yang bukan-bukan saat bersama Dokter Thomas. Padahal di sana aku bersama kedua orang tuan Dokter Kelvin. Dan parahnya lagi Helena, ternyata Dokter Thomas itu adalah kakak kandung Dokter Kelvin.”


“Mengejutkan sekali.”


“Begitulah, aku merasa banyak hutang Budi dengan Dokter Kelvin. Ia meninggalnya saja sudah memprihatinkan. Dan kau tahu, ternyata Dokter Kelvin menjadikan obsesinya Dah Yee. Wanita yang ia dambakan dalam imajinasinya, menjelma ada di diriku.”


“Ini gila Fray, apakah mereka terpukul saat melihatmu?”


“Iya, mereka tidak bisa menutupi rasa sedihnya. Aku tidak bisa menolak keinginan orang tua mendiang Dokter Kelvin. Aku, aku....uh sudahlah.”


“Ayo kita tidur Fray, besok kita belanja lagi.”


“Sudah cukup Helena, aku punya anak yang harus aku urus.”


“Yah, besok berarti tidak bisa menguras kartu ajaib suami mu dong.”


“Belilah suami, agar kau bisa mendapatkan kartu.”


“Ah kenapa harus beli suami?”


“Lantas kau mau mengunduh suami pakai aplikasi?”


“Langsung ceduk saja gimana? Akan ada tuh Matsumoto yang masih lajang, bisalah kayaknya. Bisa kok diusahain hahahaha.”


“Dasar aneh hahaha.”


“Matsumoto kalau pakai rambut pasti manis.”


“Kalau dia manis, nanti banyak yang mengejar. Kau tahu, betapa pusingnya punya suami tampan?”


“Biasa sajakan?”


“Luar biasa cemburunya!”


“Hahaha kau payah, begitu saja kau cemburu.”


“Kau belum mengenal siapa Hikashi William itu seperti apa Helena.”


“Ceritakan kepadaku, aku ingin tahu kalau begitu.”


“Tidurlah, aku mulai mengantuk hoamb.” Memiringkan badannya membelakangi Helena.


Malam ini giliran Frayza yang tidak pulang. Ia ingin menjadi wanita bebas, ia juga lelah menjadi istri dan ibu. Ia juga ingin bersenang-senang dengan sahabatnya. Berbelanja dan menyenangkan dirinya tentunya. Padahal jika Frayza tahu, sekarang Hikaahu tengah berdiri sendirian didepan pintu gerbang. Dibawah hujan salju yang turun. Franda menurunkan kaca mobilnya, hendak turun memberikan payung. Tapi ia tahu, Hikashi tak akan sudi menerimanya. Karena sebelum ia bicara, Hikashi berjalan menjauhi mobil yang membawa dirinya. Akhirnya Franda membatalkan niatnya untuk memberikan payung. Ia akhirnya melihat Hikashi dari dalam mobil. Yang membawanya semakin menjauhi Hikashi berada.


“Sampai kapan kau terus mencintainya? Apakah aku harus memukul kepalamu, agar kau lupa ingatan?” Franda bicara sendiri.

__ADS_1


Dan si Sopir yang menyetir melirik lewat kaca spion tengah. Walaupun Franda bicaranya pelan suaranya, namun ekspresi wanita selalu jujur jika menyangkut perasaan.


__ADS_2